
"Dari mana kamu berfikir kalau aku Rania Austeen?” tanya Rania. Wajar saja jika aku banyak melupakan sesuatu setelah cidera itu,” ucap gadis itu lagi.
“Oh, begitu… Terus bagaimana dengan ini?" Mikko menunjukkan selembar foto berlatarkan perbukitan indah.
Rania hampir saja menjerit saat melihatnya, " bagaimana dia bisa punya foto ini?" batin gadis itu.
“Kenapa diam saja? Jawab, dong. Aku udah susah payah cari buktinya, nih,” ucap Mikko.
“Mikko, kamu kenapa sih? Nggak kayak yang aku kenal selama ini,” ucap Rania. Otaknya masih berputar untuk mencari jawaban yang tepat.
“Kita kan emang gak terlalu kenal. Aku kenalnya sama Rania Putri,” jawab Mikko tegas.
“Ew… Itu lagi… Bagaimana ya jelaskannya? Tapi aku gak paham soal foto yang kamu tunjukkan itu. Rania Putri ya Rania Putri,” jawab Rania. Melihat gelagat Mikko, untuk saat ini Rania masih belum bisa jujur.
“Tapi mata kamu mengatakan sebaliknya,” balas Mikko.
“Duh, dasar anak polisi. Kenapa kamu peka banget sih soal beginian?” batin Rania.
“Sara Rasa.”
“Apa?” Rania tidak mengerti apa yang diucapkan Rania barusan.
“Sara Rasa. Itu judul novel Rania Putri di NovelToon. Dan Rania Putri adalah salah satu penulis kontrak terbaik. Ia juga penulis yang sangat bertanggung jawab. Tetapi kamu? Sudah berbulan-bulan tidak update, sepertinya santai-santai saja. Bahkan alamat email saja kamu tidak tahu,” ucap Mikko.
“Duh… sudah berapa kali aku bilang, aku tuh habis kecelakaan… cidera kepala… Jadi wajar ong kalau aku melupakan banyak hal,” tegas Rania.
“Hahhh… Kalau terus seperti ini, bisa-bisa nanti aku bikin pengumuman di madding sekolah,” ucap Mikko pura-pura frustrasi.
Sehari sebelumnya, Mikko kembali ke rumah sakit dan menemui dokter yang merawat Rania kala itu. Hasil interview Mikko, Rania memang memang mengalami cidera di kepala dan cukup serius. Tetapi hal itu tidak sampai membuat ingatannya hilang.
“Memangnya kamu gak takut? Keluarga Austeen itu bukan orang sembarangan. Kalau kamu nanti menyebarkan berita bohong, bisa jadi ancaman sendiri sama diri kamu,” ancam Rania.
“Kamu mengancamku?” balas Mikko.
“Kamu gak mungkin pakai kekuatan ayahmu kan, untuk membungkam masalah ini jika muncul ke public?” ucap Rania.
“Tentu tidak. Aku bukan orang yang seperti itu. Tapi sepertinya kamu salah tanggap. Aku bukannya ingin mengungkap jati dirimu di sekolah secara langsung,” kata Mikko.
Kening Rania berkerut, “Apa lagi rencana mereka? Kok makin bikin khawatir?” pikir Rania.
“Jangan takut. Aku tak akan ungkap fakta tanpa bukti. Tapi kalau kamu mau bekerja sama, ini semua akan lebih mudah,” bisik Mikko di telinga Rania.
__ADS_1
Sesaat, Rania mulai goyah. Apa sebaiknya ia beritahukan saja masalahnya pada Mikko?
“Aku ingin begini… Aku ingin begitu… Ingin ini ingin itu…*”
“Ah, sebentar. Aku angkat telepon dulu. Awas jangan kabur,” ucap Mikko. Dalam sedetik ia menghilang dari tempat mereka berdiri selama hampir setengah jam.
“Ha! Itu suara nada deringnya?” gumam Rania setengah tertawa.
“Jangan tertawa! Aku bisa mendengarmu!” seru Mikko.
Beberapa menit berlalu. Mikko terdengar serius menelepon dengan seseorang. Rania mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Bagaimana dia bisa mendapatkan foto aku bersama Mama? Padahal bukti lain lenyap seketika tanpa jejak? Aku harus selangkah lebih maju dari pada mereka,” pikir Rania.
“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Mikko.
“Aku belum menyapu perpustakaan ini. Aku juga… belum menyeterika,” kata Rania ragu-ragu.
“Perpustakaan ini sudah dibersihkan Livy kemarin. Biasaya hanya dibersihkan tiga kali dalam satu minggu. Dan kalau menyeterika, sepertinya aku lebih jago darimu,” kata Mikko.
“Hngghh,” dengus Rania kesal.
“Gak percaya? Mau ku buktikan?”
“Bang Arka baru saja menelepon. Katanya kamu harus pulang bersamaku. Jadi sekalian saja, aku mau ke rumah Valen,” kata Mikko.
“Nggak usah. Aku pulang sendiri saja,”tolak Rania tegas.
“Ini permintaan abang kamu, lho,” ujar Mikko setengah memaksa.
“Nggak perlu. Aku sudah terbiasa pulang sendiri.” Rania masih tetap pada pendiriannya.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Mikko dengan kesal.
“Kamu yang kenapa? Aku nggak ngerti, deh. Kok jadi dituduh-tuduh gini,” ucap Rania.
“Hahhh…” Mikko mengembuskan napasnya sambil mengacak-acak rambut. Ia mulai frustrasi menghadapi cewek di depannya, “Ya udah. Kalau kamu gak mau ku antar ke rumah, aku antar aja sampai gerbang perumahan ini,” bujuk Mikko.
“Nggak, deh. Aku gak percaya sama kamu.”
“Astaga… Ya udah. Terserah kamu. Aku tungguin kamu sampai pulang. Setelah itu baru aku pergi ke rumah Valen,” kata Mikko. “Tapi jangan lama-lama, ya. Sepuluh menit lagi. Jangan ngaret,” lanjut cowok yang sering disebut mirip boyband itu.
__ADS_1
“Iya… iya… Bawel banget, sih? Kaya ibu-ibu lagi julid sama tetangga,” seru Rania sambil menapak anak tangga. Iya harus segera berbenah dan bersiap pulang. Sebelum Mikko berubah pikiran dan kembali menginterogasinya.
Ting! Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Rania.
“Fyuh… Syukurlah. Dia mengizinkanku bekerja di sana,” batin Rania.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Cih, lihat. Mau ke mana dia? Ini kan bukan jalan menuju ke rumahnya,” gumam Mikko.
Cowok keturunan Sulawesi itu menyetir mobil dengan kecepatan rendah, sambil menguntit sepeda motor milik salah seorang pengemudi ojek online. Ia sengaja meminjam mobil salah seorang tetangga, dan menunggu Rania di dekat gerbang kompleks.
Ya, Rania tadi akhirnya mengikhlaskan uang jajannya, memesan ojek online. Bukan karena menghindari jalan kaki menuju gerbang kompleks, tetapi menghindari Mikko yang kini bagaikan musuh dalam seimut baginya.
“Kamu pikir aku nggak tahu, kalau waktu itu kamu merekam pembicaraanku dengan Qiandra di telepon?” gumam Mikko. “ Sekarang kamu pasti lagi cari cara lain untuk melenyapkan Qiandra, bukan?”
Satu hal yang Mikko sadari. Menguntit adalah suatu pekerjaan yang sangat sulit. Beberapa kali ia hampir kehilangan jejak sepeda motor bernuansa hijau itu. Lima belas menit pun berlalu. Aroma khas yang menyeruak ke seantero jalanan membuat hati Mikko semakin bertanya-tanya.
“Ini kan restoran milik keluarga Anjani? Apa dia memlakukan ritual ilmu hitamnya di sini?” Lagi-lagi Mikko memperhatikan gerak-gerik asisten rumah tangganya itu dengan curiga.
“Aku ingin begini… Aku ingin begitu… Ingin ini ingin itu…*”
“Ha-“
“Woiii!!! Di mana lu? Katanya udah OTW? Jadi mabar gak nih?” seru Valen tanpa membiarkan Mikko menjawab teleponnya.
“Iye… iye.. aku tadi lagi ada urusan bentar. AKu nyusul deh sekarang ke sana,” balas Mikko.
“Tinggal aja deh si Rania itu. Lagian juga gak ada yang mencurigakan di sini. Paling Cuma girl’s time aja,” batin Mikko.
Sementara itu di dalam restoran…
“Thanks banget ya Anjani, udah bolehin aku kerja di sini,” ucap Rania.
“Eits, siapa bilang kamu boleh kerja di restoran aku,” jawab Anjani. Ia memasang wajah sangar.
“Loh, tapi isi We-A kamu?” Hati Rania sedikit ciut, “Apa lagi ini? Aku dikerjain lagi?” pikirnya.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1
*Disclaimer:Ost Doraem*n