
"Astaga. Kenapa Nona ada di bawah? Nona kan harus istirahat?"
"Felix, apa kau tahu gimana rasanya berbaring di kamar selama dua hari? Yah... Mungkin beberapa hari yang lalu aku memang pengen banget tidur panjang. Tapi... bukan yang seperti ini," ujar Qiandra.
"Aku tahu Nona bosan. Aku akan meminta para pelayan untuk menemani Nona berjalan di taman belakang," kata Felix.
"Tidak. Aku tidak bisa bersantai. Masih banyak hal yang harus diselesaikan. Lagian dari tadi aku dengar suara ribut di bawah. Ada apa?"
"Hmmm... Itu... Aku tidak tahu harus mengatakan ini atau tidak," gumam Felix ragu.
"Bilang aja. Dari pada aku cari tahu sendiri nanti," kata Qiandra.
"Oh... Baiklah..." kata Felix setengah terpaksa. "Jadi, hasil tes DNA orang tua Rania sudah keluar."
"Oh, ya? Gimana hasilnya?" tanya Qiandra antusias.
"Yah... Seperti yang sudah kita duga," Felix membisikkan sesuatu pada nona muda itu.
"Hmmm... Jadi begitu?" komentar Qiandra. Ia berusaha mengendalikan ekspresinya.
"Dan... Hasil tes DNA nona juga sudah keluar. Nanti berkas hasilnya saya antar ke kamar Nona, beserta surat panggilan sidang besok," kata Felix.
Dada Qiandra tiba-tiba sesak mendengar kalimat Felix. Tapi ia berusaha tetap kuat.
"Ya. Aku tunggu," jawab Qiandra kemudian.
"Apa Nona akan hadir di sidang besok? Kalau tidak sanggup, biar tim kuasa hukum saja yang mewakilinya. Percayakan dengan mereka," kata Felix.
"Aku percaya pada tim kuasa hukum yang telah dipilih oleh wakil CEO. Tapi aku harus tetap hadir, untuk menyaksikan jalannya sidang," jawab Qiandra.
"Kalau begitu saya memohon satu hal pada Nona," pinta Felix.
"Apa itu? Bilang aja. Aku akan menyanggupinya selagi bisa," kata Qiandra.
"Nona jaga kesehatan. Hari ini, tolong beristidahat saja dulu. Kalau Nona bosan aku akan meminta beberapa pelayan menemani Nona di taman atau ruang baca," ujar Felix.
"Sebagai balasannya, saya akan melaporkan setiap hal pada Nona," lanjut Felix lagi.
"Baiklah. Aku juga akan meminta satu hal. Aku menginginkan kue yang waktu itu aku makan di rumah Bu Rohaya," balas Qiandra.
"Maksud Nona... bakwan dan ubi goreng?" tebak Felix ragu.
"Ya... semacam itu lah..."
"Baik. Saya akan menghubungi Bu Rohaya."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
__ADS_1
Setelah mengunjungi sang kakek yang terbaring lemah di kamar, Qiandra lalu kembali ke kamar.
Ia melihat dua buah amplop coklat di atas meja belajar. Amplop pertama berisi panggilan sidang untuk besok. Ia lalu membuka amplop kedua dengan napas tertahan.
"Ah... Sudah kuduga. Aku bukan anak kandung Chloe dan Geffie. Aku juga bukan anak kandung Tuan Gregory dan istrinya. Lalu aku anak siapa?"
Air mata membasahi lembaran kertas yang berisi hasil tes DNA. Berulang kali matanya melihat ketikan yang berada di sudut kanan bawah. "100% tidak cocok".
Sebaliknya di lembaran kertas satu lagi, ia malah menemukan tulisan "99,999% cocok." Itu artinya, Rania benar anak kandung dari Chloe dan Geffie.
"Rania selama ini tidak bohong. Ia pasti sangat kesulitan, karena harus menjalani kehidupan yang berbeda 180 derajat dari kehidupan sebelumnya," batin Qiandra.
Beberapa waktu yang lalu, diam-diam ia mengambil sampel rambut dan beberapa helai sikat gigi milik rania untuk tes DNA. Bukan ia tak percaya pada Rania, tapi nantinya sebagai bukti pada Chloe dan Geffie, siapa sebenarnya anak mereka.
"Sudahlah, jangan terus bersedih. Aku tidak mati dan masih ada di sini, pasti ada alasannya sendiri," bisik Qiandra menguatkan dirinya sendiri.
Dengan semangat penuh, ia pun mengumpulkan dokumen penting dan menelitinya. Tak hanya itu, ia pun semakin rajin membaca buku-buku tua peninggalan Freya, sang nenek.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Sudah tiga hari. Aku masih nggak bisa menghubungi Qiandra. Aku juga nggak bisa menghubungi kakek. Apa ini semua rencana Qiandra? Mungkin saja secara perlahan, dia mengatur agar aku semakin menjauh dari kehidupannya yang serba mewah," batin Rania.
Rasa iri, dengki dan juga pikiran negatif lainnya memenuhi kepala Rania.
Beberapa hari terakhir, Rania tidak diprrbolehkan mengunjungi dan menghubungi Qiandra. Ia hanya diminta melaporkan setiap kegiatan perusahaan melalui Felix atau Wilson.
Tapi anehnya, dalam dua hari ia menerima gaji double. Apa ini maksudnya sogokan? Rania tidak bisa menebak apa yang sedang direncanakan Qiandra.
"Huh, Mikko juga nggak bisa dihubungi. Selama dua minggu ini, ayah dan ibu juga diliburkan kerja di rumahnya. Apa segitunya dia gak boleh ketemu orang lain?" gerutu Rania.
"Kalau sampai besok Qiandra masih nggak ada kabar, maka aku akan datang dan masuk ke rumahnya dengan cara apa pun," tekad Rania.
Tuk! Rania mematikan lampunya untuk tidur.
"Kenapa kamu ingkar janji? Bukankah kamu bilang akan menolongku dari bawah sana?"
"Gyaaah... Siapa kamu?"
Arwah seram penuh darah dan tubuh luka, serta mata berlubang dan hitam berdiri tepat di samping Rania.
"Aku adalah kamu. Kalau kamu ingkar janji, maka aku harus membawamu untuk merasakan sakitnya ini."
"Si-siapa?" Rania menggigil ketakutan.
Sruk! Hah....!
Rania membuka matanya, "Syukurlah. Rupanya cuma mimpi."
__ADS_1
Rania lalu menyalakan lampu kamar.
"Aaaakk.. Ak....." Rania tidak mampu berbicara dan bergerak.
Arwah seram itu ternyata bukan mimpi. Ia benar-benar ada dalam bayangan cermin lemari miliknya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Keesokan paginya...
"Huh, aku bangun kesiangan. Untung aja sekarang hari sabtu," kata Rania.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Semua pekerjaan rumah telah beres. Rumah juga sangat sepi.
"Duh, aku nggak sanggup melihat cermin." Rania menghindari cermin. Ia masih sangat ingat sosok yang datang tadi malam.
"Itu pasti Rania Putri," pikirnya sedih.
"Bang Arka ke mana, Vy?"
"Abang ke rumah Bang Mikko mengantar sarapan dan beberapa komik. Ia merara bersalah padanya," jawab Livy.
"Kalau Ayah dan Ibu?"
"Nggak tahu. Tadi pagi-pagi udah rapi pergi pakai batik," sahut Livy tanpa menoleh.
"Oh... Btw kamu lagi nonton apa sih?"
"Barbie."
"Astaga! Kamu masih nonton barbie?"
"Filmnya bagus tahu. Mengajarkan kita kalau hati yang jujur dan baik itu sangat perlu dalam kehidupan. Dengan hati yang murni, bisa mengalahkan kejahatan."
"Itu cuma di film doang, kali," kata Rania. "Kakak pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah."
"Oce!"
Tanpa membuang waktu, Rania melangkah ke lusr rumah. Tujuannya adalah rumah Qiandra.
"Felix? Kok di sini?" Rania terkejut melihat pria tampan berkaus putih berdiri di rumahnya.
"Ada hal penting yang harus saya beritahu. Tapi, Nona Qiandra jangan sampai tahu hal ini," kata Felix. lalu membisikkan sesuatu.
"Astaga! Sudah kuduga. Qiandra pasti merencanakan sesuatu," gumam Rania dengan nada kesal dan kecewa.
(Bersambung)
__ADS_1