
“Jadi sudah bisa jelaskan, kalian berdua dari mana saja?” tanya Tuan Ganendra tegas.
“I… itu…” Mikko tak bisa mengatakan sepatah kata apa pun. Jika orang tua mereka tahu, mereka berdua pergi ke danau, Mikko pasti akan dimarahi habis-habisan.
“Maaf, Pa. Aku mengajaknya pergi ke hutan kota. Tetapi sepertinya ia kelelahan saat berkeliling,” ucap Mikko kemudian. Ini pertama kalinya ia berbohong pada ayahnya.
“Haah… kamu ini. Pak Gelfara mengizinkanmu membawa putrinya pergi, dengan harapan kamu bisa menjaganya. Tetapi kamu malah membuat mereka kecewa dan khawatir,” marah Tuan Ganendra.
“Maaf,” ucap Mikko menyesal.
Dua jam yang lalu….
“Rania… Rania…” Mikko mengguncang tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu. Hidungnya terus mengeluarkan darah. Wajahnya yang pucat membuat teman cowoknya itu semakin panik.
“Siapa lagi itu di sana?” tanya petugas keamanan.
“Pak, tolong kami,” seru Mikko. Ia terpaksa mengambil resiko tinggi demi menyelamatkan Rania.
“Wah, dari SMA mana kalian? Habis ngapain di dalam semak-semak?” tanya petugas keamanan itu lagi.
“Pak, kami ke sini untuk mencari sesuatu. Dan teman saya kelelahan sampai pingsan,” kata Mikko. Ia merangkul Rania yang semakin pucat dan lemah.
“O-oh, begitu? Ayo cepat ke klinik.” Petugas keamanan itu menggendong Rania di punggungnya. Dan berlari menuju ke klinik, disusul Mikko di belakang.
“Kondisi teman kamu cukup lemah. Sepertinya ia mendapat cedera serius di kepala. Kalau bisa segera di rontgen, untuk mengetahui penyebabnya,” jelas dokter di klinik kesehatan danau wisata tersebut.
“Memangnya apa yang kalian cari tadi? Apa ia baru saja terjatuh?” tanya petugas keamanan itu.
“Hmm… baru-baru ini dia memang mengalami cidera, ketika sekolah kami mengadakan kegiatan pramuka di sini. Tetapi karena suatu hal, kami terpaksa ke sini lagi untuk menemukan beberapa benda miliknya yang hilang,” jawa Mikko.
Kedua petugas dari danau itu saling berpandangan, “Memangnya baru-baru ini ada kegiatan pramuka, ya? Kenapa pihak pengelola danau tidak ada yang tahu? Atau mereka berbohong?” pikir mereka berdua.
“Begini saja. Hubungi keluarga kalian, agar adik perempuan ini segera ditangani medis di rumah sakit,” ucap dokter.
“Ya, sebaiknya segera hubungi orang tua kalian. Kami juga meminta fotokopi kartu pelajar kalian untuk jaga-jaga. Lalu, apa benda yang hilang itu? Barangkali kami bisa memantu. Lain kali kalau ada hal seperti ini lagi kalian harus menghubungi pengelola danau,” jelas petugas keamanan.
“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap Mikko pasrah. Dari sisi mana pun, mereka berdua memang salah.
Mulanya Mikko ingin menghubungi Bang Arka atau pun Papanya, tetapi kemudian ia urungkan. Rania pasti memiliki alasan sendiri sampai minta dirahasiakan. Akhirnya siswa SMA itu menelpon Om Radi, salah seorang anak buah papanya, dan memintanya untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit yang cukup jauh dari danau.
Tentu saja, ia meminta Om Radi untuk merahasiakan jika mereka baru saja dari danau. Dan di sinilah mereka sekarang, Rumah Sakit Beta.
__ADS_1
“Permisi, boleh saya bicara dengan wali dari Rania Putri?” tanya seorang dokter.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Bagaimana hasilnya, Pak?” tanya Tuan Ganendra ketika ayah Rania kembali ke ruang perawatan.
“Menurut dokter, Rania mengalami cedera ringan di kepala. Memang cukup berbahaya, dan namun segera disembuhkan. Akan tetapi, ini bukanlah cedera baru. Terdapat beberapa gumpalan darah di sekitar otak depan,” kata Pak Gelfara.
“Yang benar? Apa ini luka yang dia peroleh ketika ia terjatuh ke dalam selokan waktu itu?” gumam Tuan Ganendra.
“Mungkin saja. Dan dokter bilang, keadaan Rania yang memburuk ini juga ada kaitannya dengan impuls atau ingatan dalam kepalanya. Seperti sebuah pemicu yang membuatnya sangat trauma,” cerita Pak Gelfara.
“Apa mungkin kejadian waktu itu bukan kecelakaan biasa? Bisa saja seseorang sengaja melukai Rania, lalu menutupi jejak perbuatannya. Tetapi siapa yang berniat buruk seperti itu?” sahut Tuan Gandendra.
Rania yang mulai sadar dan mendengar semua obroan itu, juga memiliki pendapat yang sama. Tetapi apa bayangan yang muncul sesaat sebelum ia tak sadarkan diri itu? Apakah itu bayangan sebelum seseorang melukainya? Rasanya sangat nyata. Tetapi ia benar-benar tak dapat mengingatnya sedikit pun, selain dua wajah samar yang cukup dikenalnya.
Mikko yang duduk di sudut ruang perawatan itu sangat merasa bersalah. Ia sempat menuduh Rania pura-pura lupa. Ternyata gadis remaja itu benar-benar melalui keadaan yang sangat sulit. Pasti sangat berat bagi wanita itu melalui semua hal ini sendirian.
“Mikko, apa yang kalian lihat atau temui tadi, sebelum Rania pingsan?” tanya Tuan Ganendra.
“Kami tadi sedang…” Mikko menghentikan kalimatnya.
“Apa? Jangan ada yang kamu sembunyikan,” tegas Tuan Ganendra pada putranya.
“Kami se-sedang duduk di dekat tanaman perdu, dan melihat seorang lelaki berjalan-jalan sore sambil membawa anjing,” jawab Mikko. Itu bukan bohong, kan?
“Siapa lelaki itu?” Apa kamu mengenalnya?” tanya Papanya lagi.
“Aku tidak kenal. Tapi kata petugas da-, maksudku petugas di taman, pria itu pengunjung biasa,” kata Mikko. “Hmm mungkin bisa ditanya langsung dengan Rania jika ia sudah sedikit membaik,” lanjutnya.
“Apa? Kenapa aku? Duh, cowok ini,” gerutu Rania dalam hati. Ia masih berdiam diri pura-pura pingsan.
Sementara itu, Mikko merasa tak tenang. Ia mencium sesuatu yang aneh dari kejadian tadi. Apa ada hubungannya dengan pria menyamar di danau tadi? Atau petugas keamanan? Karena Rania pingdan setelah melihat mereka berdua.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Rania… Bagaimana keadaanmu?” seru Alvi dan Anjani di depan rumah Rania.
“Kami kaget sekali waktu Bu Elya bilang kamu lagi sakit sampai di rawat semalam,” kata Anjani.
Hari ini, Rania izin sekolah. Ia disuruh istirahat di rumah oleh dokter sampai keadaannya membaik. Wah, tetapi apa ini? Bukannya istirahat dengan tenang, ia malah kedatangan duo keong racun di rumahnya.
__ADS_1
“Ssttt… Aduh… Suara kalian berapa desibell, sih? Sakit telinga nih dengarnya,” kata Rania sambil membukakan pintu. “Kalian tahu dari mana alamat rumahku?” tanya Rania kemudian.
“Lah, kita kan emang sering ke sini untuk belajar bareng. Aduh, sepertinya benturan di kepala kamu benar-benar parah, ya,” kata Alvi.
“Yang sering kalian kunjungi dulu itu kan rumahku yang lama. Luas dan lengkap. Apa mereka tidak risih dengan rumahku yang sekarang?” pikir Rania.
“Hei, kenapa bengong? Kami bawa buku catatan pelajaran untukmu. Aku juga bawa martabak mesir special nih untuk kamu. Kamu boleh makan pedas dan berminyak, kan?” kata Anjani.
“Boleh… Aku kan bukan sakit pencernaan atau kolesterol. Yuk, masuk,” jawab Rania.
“Yah, padahal kalau kamu gak bisa makan, aku siap membantu,” ujar Alvi kecewa.
“Apaan sih, Vi? Siapa yang sakit, siapa yang makan?” kata Anjani sebal.
Rania tertawa melihat tingkah kedua temannya. Memang, sepertinya hidup Rania tidak akan pernah sepi jika berada di dekat Alvi dan Anjani.
“Rania… kamu sendirian aja di rumah?” tanya Alvi ketika mereka telah di dalam rumah.
“Iya. Semua pada kerja dan sekolah.”
“Wah, sayang sekali, ya. Padahal tadi katanya ada yang mau sambil menyelam cari duyung, tuh,” kata Anjani tersenyum jahil.
“Hah, maksudnya?” Rania tak mengerti.
“Ada yang mau jumpa sama abang kamu,” jelas Anjani. Pinggangnya panas karena cubitan Alvi.
“Wah, jadi menjenguk aku itu hanya modus?” ujar Rania pura-pura merajuk.
“Ehm… Siapa bilang. Ngomong-ngomong rumah kamu unik dan artistik, ya. Lihat, perabotannya antik semua,” ujar Alvi polos.
“Itu bukan antik, tetapi udah tua,” ucap Rania dalam hati.
“Iya, nih. Ada mesin jahit manual juga. Padahal dulu kayaknya gak ada, deh,” ujar Anjani seraya memandang seluruh ruang keluarga yang sangat sederhana ini.
“Emm… Rania… ini kamu waktu kecil? Kok warna matanya beda dengan sekarang? Apa kamu pakai lensa kontak?” tanya Anjani kemudian.
“Eh?” Rania turut memperhatikan warna kornea gadis dalam foto itu. Cokelat? Padahal warna mata Rania sedari kecil itu biru. Kenapa ia baru menyadarinya? Apakah itu karena editan fotonya?
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1