Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 60 - Hubungan Mereka Dulu


__ADS_3

Dua hari berlalu, tapi Rania masih jalan ditempat. Ia masih belum menemukan bukti apa pun selain dari kesaksian Nek Ester dan juga gelang emas.


Rania pun masih belum berani untuk kembali bertanya pada ibu. Jelas sekali, jika malam itu ibu menyimpan rapat sesuatu.


"Haaah... Kalau saja aku masih berteman dengan Mikko, apa aku bisa memperoleh sidik jari di gelang tersebut? Andai saja hidup ini semudah komik detektif Canon..." ucap Rania pada dirinya sendiri.


"Apaan, nih? Masih mengharapkan Mikko kembali padamu?" tanya Qiandra dengan wajah sinis. Ia tiba-tiba muncul bagai ninja.


"Kamu tahu nggak, kalau menguping pembicaraan orang itu termasuk melanggar privasi?" sindir Rania dengan hati panas.


"Berarti kamu juga tahu, dong, kalau menguping dan merekam pembicaraan orang itu pelanggaran privasi juga?" balas Qiandra.


Gigi Rania menggeretak. Ternyata musuh bebuyutannya ini juga tahu kalau obrolannya di telepon dengan Mikko dulu di rekam.


"Terus gimana dengan orang yang menipu, sampai datang ke rumah dan mengobrak abrik rumah orang hanya untuk mencari bukti? Gimana? Ketemu?" balas Rania gak mau kalah.


Rania masih merasa kesal karena dibohongi oleh Mikko beberapa hari yang lalu. Dengan polosnya ia percaya kalau bukunya tertinggal di rumah majikannya. Ia pun percaya bahwa esok harinya akan ada ulangan.


Untung saja Alvi meneleponnya malam itu, menanyakan PR untuk esok hari.


"Hah, itu sih kamunya aja yang gampang ditipu. Masa jadwal pelajaran aja gak ingat," Qiandra menyunggingkan senyum tipis. Alis matanya naik sebelah.


"Wah, asyik nih... Gelut.. Gelut..." seru Ryan, teman sekelas mereka.


"Kacang goreng, kacang rebus, kacang kedele, kacang-kacangan, dikacangin," seru Faisal pula.


"Lu mau nonton bioskop atau layar tancap, jualnya gituan? Lagian menu apa tuh dikacangin?" seru Melinda pula.


Seketika kelas menjadi heboh dan panas. Bahkan lebih panas dari dua kubu yang berseteru tadi.


Qiandra menghentakkan sepatunya ke lantai, "Diam! Enak ya nonton orang berantem?" serunya kesal.


"Emang enak. Apalagi kalau berantemnya rebutan cowok kayak gini," jawab yang lain. Mereka sama sekali tidak takut dengan gertakan Nona Muda Kaya Raya yang terkenal sombong itu.


"Huh... Dasar orang-orang udik. Kayak gak ada hiburan lain aja," gerutu Qiandra sambil berlalu pergi.


"Mau ke mana kamu?"


"Eh, B-bu..." Qiandra mengurungkan langkahnya ke luar kelas.


"Masuk! Kita pre-test hari ini," seru guru Geografi.


Seperti yang bisa ditebak, kelas pun langsung riuh dengan penolakan. Dalam sekejab, mereka pun melupakan pertengkaran kedua cewek tadi.


"Simpan semua ponsel kalian. Kalau ketahuan akan ibu jual," perintah Bu Guru.


"Oke. Nanti malam pukul 07.30 di Kafe ..." Rania membaca pesan dari seseorang sambil tersenyum.

__ADS_1


"Rania! HP bututmu itu tidak laku untuk dijual. Tapi bukan berarti nggak ibu sita," seru guru killer itu. Ia sudah berdiri tepat di sisi kiri meja remaja tersebut.


"M-maaf, Bu." Rania segera menyimpan ponselnya di dalam tas.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Bu, nanti malam aku pergi ya," ucap Rania meminta izin.


Rania sengaja bicara saat mereka di dalam bus menuju ke rumah. Kalau ia minta izin saat di rumah Mikko bisa bahaya. Bisa-bisa entar dibuntuti pula.


"Pergi ke mana? Sama siapa? Cowok atau cewek?" tanya ibu.


"Ke kafe di jalan Ratulangi, Bu. Sama Kak Ringga," jawab Rania.


"Ringga? Wah, udah lama banget dia nggak ke rumah. Apa kabarnya?" jawab ibu dengan sumringah, di luar dugaan Rania.


"Emm... Kabarnya baik kok, Bu. Nanti Kak Ringga datang ke rumah menjemputku."


"Baguslah kalau begitu. Kamu boleh pergi. Tetapi pulang sebelum jam sembilan, ya." Ibu memberi izin.


"Yah... Ibu... Perginya aja jam setengah delapan. Masa pulangnya jam sembilan?" ucap Rania dengan manja. Ia melingkarkan lengannya di pinggang sang ibu.


"Kamu pikir lagi beli baju nawar-nawar?" ucap jbu diiringi gelak tawa. "Jam setengah sepuluh paling lambat. Gak ada nego lagi," lanjut wanita paruh baya itu.


"Ya udah, deh."


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Hai, udah lama?"


"Eh, udah datang? Baru sampai, kok."


Tanpa di sadari, senyum Qiandra merekah saat melihat Mikko datang. Entah kenapa cowok remaja itu terlihat lebih tampan malam, ini dengan kaos hitam dan celana jeans warna senada.


"Nih, aku pesankan hazelnut hot chocolate. Kamu suka coklat, kan?" ucap Qiandra.


"Wah, tanks banget. Lihat nih, apa yang ku bawa," sahut Mikko. Ia mengeluarkan sesuatu dari dompetny.


"Ini... Mama?" gumam Qiandra ragu.


Gadis cantik itu menyipitkan matanya, mencermati sebuah foto berwarna yang sudah agak pudar itu. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Di dalam foto tersebut terdapat dua orang perempuan. Salah satunya sangat mirip dengan foto Chloe saat muda. Tapi....


"Hu'um."


"Sepertinya ini di rumah sakit. Lalu di belakangnya... Apa ini kakek?" Qiandra bergumam-gumam sendiri.

__ADS_1


Seorang pria yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit itu sedikit mirip sang kakek, Nico.


"Apa kamu tahu hal mengejutkan lainnya?" tanya Mikko. Qiandra menggeleng.


"Ini adalah ibu Rania," tunjuk Mikko.


"Nggak mungkin! Wanita cantik ini?" Qiandra menggeleng tak percaya.


"Iya. Gak mungkin aku salah mengenali ibu, em... Maksudku Tante Jennia."


"Jadi maksudmu, wanita berpakaian rapi ini ibu Rania, sedangkan remaja yang lusuh dan miskin ini Mamaku? Kamu bercanda?" Qiandra masih berusaha menyangkalnya.


"Ya sudah kalau kamu nggak percaya." Mikko merebut lembaran foto itu.


"Tu-tunggu, dulu. Biarkan aku memfotonya dulu," ucap Qiandra.


"Boleh saja. Tapi jangan sampai disebarkan ke mana-mana." Mikko kembali meletakkan foto itu di meja.


"Oke... Aku janji," ucap Qiandra tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


"Tapi kenapa fotonya dilipat-lipat, ya? Seakan-akan sengaja disembunyikan," gumam Mikko.


"Apa jangan-jangan mereka berniat balas dendam, karena mamaku jadi kaya, sementara mereka jatuh miskin?" celetuk Qiandra.


"Bisa jadi." Mikko mengangguk-anggukan kepalanya. "Atau, mungkin mereka ingin menjadi benalu di keluargamu, dengan mengatakan bahwa dulu mereka berteman. Tapi mamamu membantahnya," ujar Mikko.


"Ih, ogah banget kalau beneran kayak gitu." Qiandra menarik gelasnya.


"Eh, tunggu dulu. Kenapa kamu sepertinya kenal baik dengan ibu Rania? Apa kamu udah kenal mereka dari lama?" selidik Qiandra.


"Iya. Mendiang mamaku udah kenal mereka sejak lama," jawab Mikko. "Keluarga mereka bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahku," lanjutnya lagi.


"Oh... Ku pikir hanya karena kamu berteman dekat dengannya," gumam Qiandra lega.


"Sial*n. Mereka malah menjelek-jelekkan keluargaku," gerutu Rania.


"Emang mereka siapa, sih?" bisik Ringga. Ia bingung, sedari tadi diajak menguping meja belakang tanpa boleh bicara.


"Cowok itu temanku. Sedangkan cewek disampingnya orang yang bertukar tempat denganku," bisik Rania pula.


"Ha?" Ringga menggaruk kepalanya.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


Jangan lupa like dan vote ya...

__ADS_1


__ADS_2