
"Gila! Aku pasti benar-benar udah gila!"
Rania mondar mandir di depan pohon kelapa. Kalau lah pohon kelapa itu bisa bicara, pasti dia bilang sudah bosan melihat tingkah remaja itu.
"Ckk... Gara-gara mendengar ucapan Kak Wilda kemarin, aku malah langsung ke sini tanpa pikir panjang. Sekarang aku harus apa? Masuk hutan sendirian? Yang ada aku malah ditangkap petugas danau."
Rania mengacak rambutnya sendiri. Rasanya sungguh sulit nggak punya teman untuk diajak diskusi gini.
Alvi sedang sibuk kursus akting, Anjani masih mengikuti olimpiade. Sedangkan Ringga dan Wilda, tentu saja mereka sibuk bekerja. Bagaimana dengan Mikko?
"Lah, kenapa aku malah mikirin cowok pengkhianat itu?" Rania menghentakkan kakinya ke rerumputan beberapa kali.
Udara sore hari di danau lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena sudah mulai memasuki musim hujan. Rania pun merapatkan jaket ke tubuhnya.
Jemarinya memainkan layar ponselnya. Kelopak mata ia buka lebar-lebar memperhatikan setiap sudut foto benda mewah berkilau itu. Barangkali dengan begitu, ia bisa menemukan hal tersembunyi dan memecahkan misteri.
Setelah mendengar cerita Wilda tentang tumbal dan entitas lain, Rania ssmakin yakin kalau ada hal supranatural di balik kejadian aneh yang menimpanya selama ini.
Jika dikaitkan dengan mimpinya selama ini, dan juga cerita yang ia dengar dari Mikko maupun Qiandra, maka semua ini akan menjadi sedikit ada titik terang.
Ia pun merasa, bahwa gelang bukti yang ditinggalkan oleh Rania Putri adalah salah satu petunjuknya.
Tetapi masalahnya, ia sama sekali belum bisa membaca simbol-simbol unik yang terukir di sepanjang gelang cantik itu.
Makanya tanpa pikir panjang, sepulang sekolah ia langsung menuju ke danau, hendak ke hutan dan menemui Nenek Ester.
Rania berpikir, mungkin saja Nenek Ester bisa membaca kode tersembunyi tersebut. Terlebih lagi, setelah Mikko menunjukkan foto neneknya bersama Nenek Ester.
Tidak menutup kemungkinan jika Nenek Ester juga mengetahui lebih banyak tentang masa lalu neneknya dan juga misteri mimpi-mimpi yang dialami Rania.
Tetapi sampai di TKP, Rania memikirkan ulang keputusan bodohnya tersebut. Bagaimana caranya ia menemukan Nenek Ester seorang diri?
Pada saat itu ia hanya berlari mengikuti wanita itu dan pulang dengan mengikuti arah matahari. Tetapi sekarang? Mau ke mana ia berjalan? Kalau pun lolos dari petugas, itu sih sama aja dengan menyerahkan diri sama hewan buas di dalam hutan.
Tetapi kenapa Nenek Ester bisa tinggal di sana sendirian, ya? Benar-benar nggak habis pikir.
__ADS_1
Maka di sinilah Rania berakhir. Duduk di bawah pohon rambutan yang sudah tua sambil memakan siomay yang tadi dibelinya di depan sekolah.
"Sepi banget ya danau ini sekarang."
Beberapa orang penjaga danau duduk di bawah pohon ketapang yang tumbuh di tepi danau. Rania bisa mendengar dengan jelas ucapannya.
Wanita dengan berambut sebahu itu sebahu itu duduk di atas sebuah kayu tumbang. Rambutnya terurai cantik terkena angin sore dari danau.
"Gimana nggak sepi? Sejak kerusuhan pramuka waktu itu kan pengunjung danau memang dibatasi," balas petugas lainnya. Wanita satu ini terlihat lebih dewasa dan juga rambut lebih terang.
"Bukannya bagus? Danau jadi nggak banyak sampah dan terlihat lebih indah," kata petugas cowok yang memiliki tubuh besar dan berkulit gelap.
"Iya juga, sih. Tetapi yang bikin aku senang, kita nggak perlu jaga malam lagi," ujar petugas cowok satu lagi. Sepertinya ia paling muda di antara merek semua.
Ya, meskipun dahulu danau hanya dibuka sampai jam enam sore untuk wisata, para petugas tetap berjaga sampai malam untuk menghindari para penyusup yang berbuat tak senonoh di area danau.
"Kenapa? Masa jadi cowok penakut?" tanya petugas berambut pendek.
"Di sini tuh kalau malam horor banget, tahu. Apalagi sejak kejadian pramuka waktu itu. Kakak sih, gak pernah jaga malam."
"Eh, mana pula. Kalau udah menjelang tengah malam itu, sering terdengar suara tangisan perempuan dari sebelah utara danau," ujar pria muda itu.
"Ah, masa sih? Seram banget," kata cewek kedua.
"Iya. Aku sering mendengarnya. Suaranya kadang-kadang terdengar seperti menjerit, tetapi juga pernah terdengar seperti rintihan. Anehnya, di saat hujan, suara tangisan itu justru semakin terdengar jelas," lanjut pria muda itu.
"Arah utara itu perbatasan danau dengan hutan lindung, kan?" kata cowok bertubuh kekar.
"Iya, benar. Dan itu juga dekat dengan jalan memotong menuju kota sebelah," lanjut wanita kedua yang berambut cokelat tersebut.
"Apa jangan-jangan itu arwah gentayangan?" kata cowok berotot itu.
"Arwah gentayangan siapa? Jangan nakut-nakutin, deh," kata cowok yang lebih muda dan juga cewek berambut cokelat hampir bersamaan.
"Apa kalian ingat? Di saat malam pramuka itu, kabarnya ada tabrak lari. Salah seorang petugas sempat melihat sebuah mobil melaju dan menabrak sesuatu. Suaranya juga keras banget," ujar petugas kekar itu.
__ADS_1
"Lalu, apa yang terjadi? Kenapa nggak ada yang menemukan korbannya? Gak ada juga yang melihat bekas kecelakaan itu," tanya cewek berambut pendek.
"Itulah anehnya. Karena semua orang sibuk mencari anggota pramuka yang menghilang, jadi mengabaikan informasi kecelakaan itu."
"Hmm... Aku memang pernah mendengar cerita itu, sih. Tapi sayangnya gak bisa dipertanggung jawabkan omongannya itu. Pertama, dia melihatnya dari jauh dan saat itu malam hari. Jadi udah pasti penglihatannya gak jelas."
Petugas cewek berambut cokelat mengeluarkan pendapatnya. Rania menunggu lanjutan pembicaraan itu dengan tidak sabar.
"Kedua, sama sekali tidak ada bekas kecelakaan. Sebersih apa pun mereka menghilangkan jejak di tempat kejadian perkara, tetap saja mereka nggak bisa menuntaskan semuanya, kan? Apalagi saat itu kondisi cuaca sedang tidak bagus," lanjut cewek itu.
"Yah, memang benar sih. Tetapi masa petugas itu berbohong? Kalau dia dijadikan saksi dengan kebohongannya itu gimana?" ujar cowok yang lebih muda.
"Atau jangan-jangan, mereka menabrak hewan dan meninggalkan bangkainya di sekitar situ," ucap wanita berambut pendek.
"Tetapi petugas hutan lindung juga nggak menemukan bangkai hewan. Kan mereka setiap hari memberikan laporan satwa liar dan keadaan hutan," sanggah pria bertubuh kekar.
Rania semakin menegakkan telinganya. Pembicaraan semakin panas dan masing-masing dari mereka mempertahankan pendapat masing-masing.
"Sebenarnya masih ada dua cara lagi membersihkan TKP," ungkap pria muda.
"Caranya?"
"Pertama, mereka membawa pergi korban itu lalu meninggalkannya di tempat lain yang jauh dari sini. Kedua, mereka membuang jasad korban tersebut ke dalam danau," pria muda itu mengungkapkan pendapatnya.
"Apa gak gegabah membuang mayat itu ke danau?" batin Rania.
"Ternyata benar kamu di sini."
Pikiran Rania buyar, setelah mendengar suara pria yang sangat dikenalnya.
"Ayo, pulang," ujar pria itu lagi.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1