Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 15 – Hanya Dua Belas Langkah


__ADS_3

“Kak, hari minggu besok mau menemani aku ke Mall Mahabarata, nggak?” ajak Livy.


“Mall? Boleh Saja. Mau cari apa?” tanya Rania.


“Aku ingin lihat-lihat pameran seni, fasion show, dan kalau bisa aku juga ingin ikut lomba design,” kata Livy dengan mata berbinar.


Rania tersenyum melihatnya. Ini kali keduanya melihat adik perempuannya begitu ceria, setelah mencicipi ayam lada hitam tempo hari. Bagaimana bisa ia menolak senyuman manis itu?


“Baiklah. Tetapi, jika pulang sedikit cepat, apakah kamu mau menemani kakak ke danau?” tanya Rania.


“Aku tidak yakin ibu akan mengizinkan kita berdua ke sana. Terutama setelah kakak masuk parit waktu itu,” ujar Livy.


Ah, Rania sedikit kecewa mendengarnya. Tetapi rupanya apa yang dikatakan Livy itu benar. Ibu tidak mengizinkan mereka ke danau berdua saja.


“Jika ingin pergi ke danau, sebaiknya bersama dengan ayah atau abang kalian. Jadi kalau ada sesuatu, ada yang bisa segera menolong,” kata ibu ketika Rania meminta izin waktu itu.


Yah, meski kecewa tetapi itu bukan berarti Rania batal menemani Livy. Ke mall berdua dengan sang adik, sepertinya menyenangkan juga.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


“Kak, apa kakak tahu apa berita hangat pagi ini?” ujar Livy minggu pagi.


“Hmm… Dagangan ayah laku semua?” tebak Rania asal.


“Uh, bukan. Ini tentang artis. Coba tebak lagi,” kata Livy.


“Hmm… Apa, ya? Vandi Gunawan meluncurkan produk baru?” Rania semakin ngasal.


“Duh, kakakku ini benar-benar kudet, ya. Chloe… Chloe Austeen katanya hadir di acara fashion show siang nanti. Dia juga jadi juri tamu daam lomba design,” kata Livy.


“Chl- Chloe?” ulang Rania.


“Iya. Hebat, kan? Aku jadi semakin semangat untuk ikut lomba. Kalau aku menang, kali aja design baju aku bakal diproduksi dan menjadi tren baru di kalangan remaja,” ucap Livy sambil berharap.


“Benar juga. Aku juga sudah tidak sabar ingin jumpa dengan mama,” bisik Rania. Betapa harapan di hatinya yang sempat pupus, kini kembali muncul.

__ADS_1


“Eeee… Mama?” cibir Livy. “Iya juga. Dari beberapa hari yang lalu kan kakak selalu menyebut Rania Austeen atau Chloe Austeen gitulah…” lanjutnya dengan nada sedikit menyindir.


“Huss… Jangan ejek kakak seperti itu, dong,” ucap Rania sambil tertawa. Ia tahu Livy hanya bercanda. Duh, sepertinya ia yang semakin tak sabar untuk ke mall.


“Aku harus siapkan apa ya, untuk bertemu mama nanti siang?” pikir Rania.


Pukul sembilan lebih, mereka sudah selesai bersiap untuk ke mall. Pada akhirnya, mereka hanya menggunakan dress sederhana dan beberapa aksesories yang dibuat oleh Livy sendiri. Serta sepatu olahraga agar lebih mudah bergerak. Tak lupa, Livy juga membawa alat gambarnya dengan lengkap.


Sepertinya ia benar-benar serius untuk menjadi seorang designer. Di usia yang masih sangat muda dan segala keterbatasan, ia tetap rajin mengasah kemampuannya dalam membuat design, memilih bahan dan warna, serta mengikuti berbagai lomba dan event. Dan semua itu, ia lakukan seorang diri tanpa seorang guru.


Rania takjub melihat semangatnya. Ia perlu waktu belajar sekitar tiga tahun pada guru khusus, untuk mendesign baju anak-anak rancangannya kala itu.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Perjalanan menuju ke mall ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Karena berita kehadiran Chloe, setiap sudut jalan dijaga dengan ketat. Semua pengunjung diwajibkan menunjukkan kartu tanda pengenal dan kartu pelajar. Belum lagi para pengunjung yang saling berdesak-desakan. Wah, Rania baru tahu jika mamanya seterkenal itu.


“Livy…” panggil Rania panik. Livy yang tadi berjalan di sisinya, kini telah hilang dari pandangan matanya.


“Kak, sini,” teriak Livy dari booth pameran batik paling ujung.


“Sesak banget, ya,” kata Rania. Baru sebentar saja, punggungnya sudah basah kuyup.


“Ya, namanya juga lagi ada event. Apalagi ada artis yang bakal datang,” ujar Livy.


Satu per satu rangkaian acara pun berjalan. Akan tetapi belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran Chloe Eilaria Austeen. Rania mulai gelisah. Benarkah mamanya akan hadir di sini?


“Kak, jagain tas aku, ya. Sebentar lagi lomba design akan segera dimulai,” kata Livy sambil menyerahkan tasnya. Ia hanya mengambil peralatan gambar.


“Oke,” jawab Rania singkat.


“Oh, iya. Hati-hati dengan copet. Dulu kakak pernah kehilangan dompet di sini, kan?” kata Livy lagi.


Glek! Inilah yang dikhawatirkan Rania sejak tadi. Di tengah pengunjung yang penuh sesak, ia hanya seorang diri saja saat adiknya mengikuti lomba. Jika dahulu, ia mana pernah berpikir takut copet atau hilang di mall.


Tak berapa lama kemudian, para pengunjung berkerumun di dekat pint utama. Beberapa kameramen juga berlarian. Rania yang penasaran memilih tempat agak tinggi untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


“Astaga. Itu mama. Benar-benar mama,” ucap Rania.


Matanya berkaca-kaca. Ia melambaikan tangan, berharap wanita cantik itu memandangnya. Tetapi sepertinya mustahil. Di tengah keramaian seperti ini, tubuh Rania seperti batang lidi yang terikat dalam sapu. Sulit dibedakan dengan pengunjung lainnya.


Satu jam kemudian, lomba design pun berjalan dengan lancar. Dilanjutkan dengan fashion show. Akan tetapi Rania belum ada kemajuan sedikit pun dengan mamanya. Jangankan mendekat, berubah dari posisinya sekarang saja cukup sulit. Belum lagi petugas keamanan yang berjaga.


“Oh, Tuhan. Seperti inikah orang-orang yang ingin menyapa mama dan diriku dahulu?” tangis Rania. Padahl dulu ia sangat akrab dengan para bodyguard itu, sekarang mereka hidup di dunia yang berbeda.


“Kak, kita beli minum dulu, yuk. Sambil menunggu pengumuman lomba tadi,” ajak Livy ketika menemui Rania.


“Boleh.”


Tanpa bersusah payah, mereka berhasil menembus kerumunan. Ternyata jika dilakukan bersama Livy tidak terlalu sulit. Mereka pun membeli minum dan jajanan ringan yang murah meriah.


“Livy. Aku ingin berfoto bersama ma-... maksudku Chloe nanti. Minimal aku harus melihatnya dari dekat,” bisik Rania sambil menyeruput es tebu.


“Hah… Susah banget itu. Kakak nggak lihat bodyguardnya yang berjejer kayak pagar itu?” komentar Livy.


“Yah… benar juga sih. Tetapi rasanya sayang banget sudah sampai sini tetapi nggak bisa ketemu,” ujar Rania sambil memasang wajah memelas.


“Ya… Ya… Nanti setelah fashion show, kita mendekat ke panggung,” kata Livy menyerah.


Lagi-lagi, melakukannya tak semudah mengatakannya. Livy dan Rania berusaha terus maju membelah kerumunan. Tetapi di saat yang sama, para pengunjung juga semakin memadati depan panggung. Kaki Rania mulai lemah. Livy juga terlihat kelelahan. Apa ia terlalu memaksakan diri untuk menemui ibunya?


“Kak, tunggu apa lagi? Ayo, jalan. Selagi orang tidak terlalu padat. Sudah sampai sini jangan menyerah begitu saja,” ajak Livy.


Ah, semangat Rania kembali membara, melihat adiknya begitu bersemangat untuk membantu. Dalam waktu singkat, mereka semakin mendekati panggung. Hanya tinggal tiga barisan lagi, maka mereka akan berhadapan langsung dengan para petugas keamanan.


Sayangnya, keadaan kembali tidak memihak mereka. Waktu pengumuman pemenang pun tiba. Para pengunjung diminta menjauh dari panggung utama.


“Nyonya Chloe. Kami fans sejatimu. Semangatlah!” teriak Livy tiba-tiba. Tak hanya Rania, sekeliling mereka pun terkejut.


Suara yang terbenam oleh riuh redamnya pembawa acara itu, ternyata didengar oleh wanita yang diserukan tadi. Dia menoleh ke arah Livy dan Rania sambil melambaikan tangan. Waduh, air mata tiba-tiba Rania mengalir tanpa seizinnya.


Hanya sekitar dua belas langkah lagi, ia sampai ke tepi panggung. Namun takdir belum mengizinkan mereka untuk bertemu langsung. Setidaknya usaha Livy tidak sia-sia. Wanita itu membalas senyum sang putri yang semakin menghiang ditengah kerumunan massa.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2