Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 75 - Menyusuri Terowongan


__ADS_3

"Qian, ini beneran nggak apa-apa? Kalau ketahuan ayahmu gimana?" Mikko sedikit gelisah.


"Nggak apa-apa. Penjaga depan udah aku amankan. Kalau papa tiba-tiba datang, mereka akan segera memberitahuku. Pelayan lantai satu juga udah aku kuasai," jawab Qiandra dengan santai.


"Wah, bisa gitu ya? Level sultan emang beda," gumam Mikko.


Seperti anak ayam sama induknya, Mikko pun mengikuti Qiandra menyusuri lorong hingga di depan dinding putih yang disebut Qiandra pintu rahasia.


Tap! Tap! Tap!


Kali ini Qiandra dapat dengan mudah membukanya.


"Wah... Aku seperti lihat film empat dimensi." Lagi-lagi Mikko takjub.


"Jangan puas dulu," sahut Qiandra.


"Polanya membentuk huruf R?" tebak Mikko. "Apa artinya?" lanjutnya lagi.


"Entahlah," ucap Qiandra sambil mengangkat bahu.


Ceklek!


Qiandra membuka pintu kamar tersebut dengan kunci yang sudah ia pesan khusus ke ahli kunci. Jadi ia tidak perlu susah payah mencungkil-cungkil pintu seperti sebelumnya.


"Ini... Kamar biasa?" Mikko meneliti setiap sudut ruangan tersebut dengan indra penglihatannya.


"Iya, semua memang biasa saja. Kecuali di sini."


Qiandra membuka lemari.


Sebuah terowongan gelap dengan tangga berundak ke bawah berada tepat di depan mereka.


"Gimana? Berani nggak?" tanya Qiandra. Ia lalu menatap remaja cowok di sebelahnya.


"Ayo, siapa takut. Aku sudah siapkan ini."


Mikko membuka tas ransel yang dibawanya dari rumah. Isinya ada tali, headlamp, power bank, pemantik api, air minum dan beberapa benda aneh lainnya.


"Buset! Kita mau ke ruang bawah tanah atau goa?" Qiandra tertawa cekikikan.


"Yah... Namanya juga persiapan," jawab Mikko.


"Lah, itu sunblock untuk apaan? Di bawah sana kan gelap? Terus itu kembang apa lagi yang di bawa?" Qiandra terus berkomentar.


"Ya ini juga buat persiapan. Mana tahu di bawah ketemu Nyai sama Teteh Kun, kan?" ucap Mikko. Ia mengenakan kaos kaki dan sepatu karet untuk melindungi kakinya.


"Lu sebenarnya berani apa kagak, sih?" tawa Qiandra. "Kenapa nggak sekalian bawa helm proyek?"


"Wah, iya juga. Kenapa nggak kepikiran ya?" celetuk Mikko dengan wajah serius.


"Udah ih cepetan. Keburu papa dan mama pulang, nih."


Tap! Tap! Tap!

__ADS_1


Satu per satu anak tangga mereka jejaki. Lantai yang terbuat dari batu coran tanpa plester ini cukup berdebu, tandanya jarang dilalui orang. Lebar tangga yang tidak lebih dari satu meter ini membuat Mikko dan Qiandra tidak bisa berjalan berdampingan.


Bau menyengat dari spora jamur dan lumut yang tumbuh subur menyeruak ke indra penciuman, yang mampu membuat napas sedikit sesak dan halusinasi.


Sesekali mereka harus membuang jaring laba-laba yang menutupi jalan.


Kini mereka sudah berada di bawah lantai sekitar lima belas meter.


Kedua remaja itu masih belum menemukan apa pun. Kanan kiri mereka masih berupa dinding bata yang kokoh.


"Kamu bisa lihat ke bawah sana, nggak?" Suara Qiandra terdengar bergema.


"Lumayan. Sepertinya kita hampir sampai ke dasar," jawab Mikko.


Benar kata Mikko. Sekitar dua meter kemudian, mereka menemukan ruangan yang agak luas.


Tidak berbeda dari tangga yang mereka lalui tadi, ruangan tersebut juga dikelilingi dinding batu yang tidak diplester. Lantainya berdebu dan juga dipenuhi jaring laba-laba.


"Kosong?" celetuk Mikko.


"Rasanya ini berbeda dengan yang kulihat waktu itu. Ruangan ini terlihat lebih kecil dan lantainya juga nggak basah," komentar Qiandra.


"Maksudmu, ada banyak ruangan lainnya?" tanya Mikko.


"Aku juga nggak tahu."


Tanpa aba-aba, mereka lalu mencari jalan rahasia lainnya.


"Gimana? Ketemu?" tanya Mikko.


"Kamu yakin dulu itu bukan ruangan ini?"


"Hmm... Sepertinya memang bukan. Ruangan ini terlalu bersih. Maksudku, pada saat itu sepertinya aku banyak menginjak sesuatu yang keras seperti kayu atau... kepingan batu." Qiandra mengingat-ingat.


"Hmm... Gimana kalau kita kembali ke tangga. Aku melihat ada yang mencurigakan di sana," ajak Mikko.


Mereka berdua lalu kembali ke tangga dan menaiki beberapa anak tangga. Mikko berhenti di anak tangga ke sepuluh.


"Apa kamu dengar? Suara anak tangga ini berbeda dengan anak tangga lainnya," kata Mikko.


"Hmm... Apa iya?" Qiandra mencoba menginjaknya berkali-kali.


"Benar. Suaranya lebih nyaring. Seperti ada ruangan di bawahnya," ucap gadis pirang itu.


"Menurutku bukan itu," kata Mikko pula.


"Terus apa?"


Mikko tidak menjawab. Dia hanya meraba permukaan anak tangga tersebut dengan wajah serius.


"Kau ngapain, sih?" tanya Qiandra.


"Ulang tahunmu tanggal berapa?" Mikko balik bertanya.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba kamu tanyakan ulang tahunku?" ujar Qiandra.


"Ah, bukan. Itu pasti terlalu mudah. Hmm..." Mikko kembali berpikir.


"Hei, kau ngapain? Udah hampir lima menit kita hanya diam di sini," ujar Qiandra mulai kesal.


"Kau tunggu di sini, ya. Aku akan naik sebentar," kata Mikko.


"Kau gila? Untuk apa? Mau meninggalkanku di sini?" pekik Qiandra. Siapa yang berani ditinggal sendirian di tengah kegelapan gini?


"Yaudah. Kalau begitu, kita naik sama-sama untuk menghitung jumlah anak tangga. Kita harus memecahkan misteri ini sebelum ayahmu pulang," kata Mikko kemudian.


Meski masih bingung dengan rencana Mikko, ia tetap mengikuti remaja itu tanpa protes.


"Delapan puluh delapan. Sama seperti dugaanku tadi. Jumlah ini sama persis dengan jumlah tuts yang dimiliki piano," gumam Mikko.


"Kalau tadi anak tangga ini berbunyi pada anak tangga ke sepuluh dari bawah. Maka artinya sama dengan nada "Mi" pada oktaf kedua," pikir Mikko lagi.


"Oh, aku tahu... Jadi maksudmu, anak tangga ini diibaratkan dengan tuts piano dan jika kita bisa menemukan pola ritme atau iramanya, maka kita bisa membuka pintu rahasia lainnya, kan?" kata Qiandra.


"Benar. Jadi anak tangga ke sepuluh hanyalah sebuah clue. Selebihnya kita harus pecahkan sendiri," kata Mikko.


"Tapi gimana cara kita memainkan tutsnya? Apa kita melompat-lompat dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya?"


"Hmm... Iya juga ya?" pikir Mikko baru menyadarinya.


"Kira-kira mama dan papa suka lagu apa, ya?" Qiandra mengingat-ingat.


"Kurasa bukan lagu, karena lagu itu terlalu panjang, dan kita nggak tahu bait sebelah mana yang dikutip," ujar Mikko.


"Hmm... Benar juga. Apa, ya? Ah, apa mungkin ini?"


Tak! Tak! Tak!


Baru saja Qiandra aja akan mengeluarkan idenya, terdengar suara berisik dari atas.


"Sembunyi," bisik Mikko sambil menarik tangan Qiandra.


Mereka merunduk ke anak tangga yang lebih rendah.


"Bagaimana keadaan di depan?" Qiandra mengirim pesan pada para penjaga depan.


"Aman, Nona. Tuan dan Nyonya belum pulang," balas mereka.


Mikko dan Qiandra pun saling berpandangan, "Lalu suara apa tadi?"


Tak! Tak! Tak!


Suara itu kembali terdengar dan semakin mendekat.


"Qian, cepat katakan idemu tadi. Kita coba," desak Mikko.


"Kau gila? Kita bisa tertangkap nanti?" bisik Qiandra.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima Kasih sudah belajar. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2