Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 22 – Perdebatan Sengit


__ADS_3

“Nona… sudah pukul 07.10. Anda harus segera bersiap-siap agar tidak terlambat,” ujar Sonia.


“Ugh… Aku hanya ingin bermesraan sebentar dengan kasurku. Apa segitu susahnya?” keluh Qiandra. Apa segitu beratnya kehidupan seorang super model?


“Saya tahu ini berat bagi Nona yang masih pelajar. Tetapi bukankah Nona sendiri yang mengatakan, berikan contoh yang baik. Jangan pernah terlambat,” bujuk Sonia.


“Bodo amat sama prinsip atau apalah itu namanya. Biarkan aku tidur sejenak,” Qiandra menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


“Apa Nona benar-benar mau melepas jabatan sebagai ketua tim?” kata Sania.


“Biarin aja orang-orang sok hebat itu yang mengurusnya.” Qiandra tetap bergeming.


“Tetapi, katanya hari ini aktor tampan Kim Seung Hoo dari Korea Selatan juga bakal hadir, lho,” ucap Sonia tak menyerah.


“Duuuhh… iya… iya… aku segera siap-siap. Hari ini aku mau pakai mini dress warna cerah. Tolong siapkan, ya,” kata Qiandra.


“Baik, Nona,” kata Sonia. Ia menahan tawa melihat tingkah remaja di hadapannya. Sonia tahu betul, Qiandra selalu lemah jika dihadapkan dengan pria tampan mana pun.


“Oh iya. Mama ada di rumah?” tanya Qiandra. Sejak pulang sekolah tadi, ia sama sekali belum melihat mamanya.


“Nyonya sekarang sedang ada di yayasan panti asuhan, Nona,” jawab Sonia.


“Sighh… Sering banget sih ke sana. Mau aja di repotin anak-anak panti itu,” ujar Qiandra.


Sonia mengerutkan keningnya. Sifat nona muda yang dilayaninya sejak umur dua belas tahun, semakin lama semakin tidak dikenalinya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


“Haduhh… Kamu mau membuat acara summer fashion atau parade anak TK? Summer itu gak melulu identik dengan pantai dan bunga-bunga,” keluh Tuan Gunawan.


“Nah, benar. Saya sependapat dengan Gunawan. Lagian, dari awal kita kan suah memilih membuat pakaian unisex, kenapa semakin ke sini jadi cenderung pakaian untuk wanita? Saya kecewa telah mengajukan kamu sebagai ketua tim,” sahut Nyonya Magda.


“Hanya segini level siswa terbaik Anne Valentino?” sindir Fania Ansley.

__ADS_1


Qiandra menunduk sambil menggigit bibirnya. Jika di sekolah ia bisa berkuasa dan berbicara sesuka hati, maka jika di sini ia tak bisa berbuat hal yang sama. Mereka adalah orang-orang penting dengan posisi penting yang sama sekali tidak mudah di setir.


“Bagaimana kalau kita dengarkan lagi pendapat dari Nona Qiandra. Barangkali ia masih memiliki beberapa rencana yang belum sempat ia sampaikan,” ucap Kim Seung Hoo dengan Bahasa Inggris yang sangat lancar.


“Apa benar begitu?” tanya Tuan Alberto sambil menyesap kopi Sidikalang yang di pesannya.


Qiandra tersenyum pahit. Ia harus mengeluarkan argumen yang tepat sebelum citranya di dunia fashion benar-benar hancur. Tiba-tiba ia teringat kata-kata Rania ketika di sekolah saat itu. Tidak ada salahnya kan untuk dicoba?


“Sebenarnya… saya ingin sekali membawa contoh design pakaian yang akan kita produksi di musim kali ini. Tetapi, ternyata tidak cukup waktu. Hal itu disebabkan karena saya terlalu fokus meneliti batik-batik indah buatan anda sebagai sumber inspirasi,” ujar Qiandra. Kedua tangannya meremas ujung dress yang dipakainya untuk menutupi rasa gugupnya.


“Ah… begitu rupanya,” ucap Tuan Gunawan. Wajahnya yang sedari tadi terlihat ketus, kini berubah sedikit lebih ramah.


“Ya… dan motif bunga itu… Sebenarnya karena saya sangat menghormati Tuan Sigmon yang sangat mencintai alam, terutama bunga dan kupu-kupu,” lanjut Qiandra. Jantungnya berdegup sangat kencang. Jika kali ini ia salah lagi, tamatlah riwayatnya.


“Oh… Wow… Saya benar-benar tak menyangka, jika gadis muda ini memikirkan perasaan semua orang,” sahut Dolce M. Sigmon dengan aksen Perancis yang sangat kental.


“Tetapi, itu masih belum cukup untuk proses produksi kita saat ini. Kegiatan Summer Show akan dilaksanakan kurang dari tiga bulan lagi. Tetapi hingga hari ini saja kita masih berdebat dengan konsep dasar?” protes Aska.


“Itu benar, Nona. Maka dari itu, saya selalu hadir dalam pertemuan ini, dan mendengarkan saran-saran yang sangat membangun dari para senior fashion sekalian,” jawab Qiandra kemudian.


Gadis pirang itu melihat Aska Vilton sambil menahan napas. Ia sampai menjatuhkan ego dan harga dirinya hingga sangat rendah demi mempertahankan posisinya.


“Hmmm…” gumam Aska. Ia tidak menunjukkan raut wajah senang, tetapi juga tidak marah. Itu bukan respon yang buruk, kan?


“Begini, Nak. Usahamu memang pantas diapresiasi. Akan tetapi kualitasmu semakin hari semakin jauh dari kriteria ketua tim. Sebaiknya kita segera memilih ketua baru, agar kegiatan ini tetap berjalan sesuai rencana. Aku tak mau bisnis dan sahamku melayang begitu saja hanya karena remaja labil yang tidak kompeten sepertimu,” kata Fania Panjang lebar.


Kali ini Qiandra benar-benar bungkam. Ia sama sekali tak tahu bagaimana menghadapi wanita ini. Entah mengapa Rania mengatakan jika dirinya lebih memahami wanita itu dibandingkan orang lain. Padahal menganalisa kalimat yang dilontarkannya saja Qiandra tidak bisa.


“Jadi bagaimana?” tanya Fania lagi.


“Yah… Sepertinya keputusan itu cukup bijak untuk saat ini,” sahut Nyonya Magda.


“Apa kita tidak perlu melihat hasi designnya terlebih dahulu. Mungkin batik-batik dari galeriku bisa memberi warna baru dalam musim kali ini,” sela Tuan Gunawan. Sepertinya ia mulai terbuai dengan pujian yang dilontarkan nona muda itu calon ketua tim itu.

__ADS_1


“Tidak bisa. Kita tidak punya waktu lagi. Bahkan para remaja yang jauh lebih muda darinya saja bisa membuat design-design dengan ragam model dan corak yang fresh,” balas Nyonya Magda. Ia berhenti sejenak untuk mengambil sesuatu di dalam tasnya.


“Lihat ini. Hari minggu lalu saya menjadi dewan juri di sebuah acara bersama Chloe Austeen. Kami menjaring para designer muda untuk memperoleh kesempatan belajar seni dan design secara formal,” ucap Nyonya Magda sambil menunjukkan selembar kertas.


“Ini adalah karya salah satu peserta. Meski ia tidak menang, tetapi ia mampu membagikan ide cemerlangnya melalui gambar ini. Bahkan Nonya Chloe juga sangat menyukainya,” lanjut Nyonya Magda lagi.


“Iya, saya sependapat dengannya. Ini benar-benar ide yang fresh, meski ada beberapa yang harus di touch up,” komentar Dolce M. Sigmon setelah memperhatikan kertas yang ditunjukkan Nyonya Magda, disambut dengan anggukan anggota rapat lainnya.


“Maaf Qiandra. Saya sangat berterima kasih atas kepedulianmu terhadap sesuatu yang saya sukai. Tetapi dalam industri besar seperti ini, kita tetap harus berpikir secara realistis. Jangan berkecil hati, ini masih pengalaman pertama kamu, kan? Bagaimana pun juga, kamu masih tetap bagian dari tim ini,” kata Sigmon bijak.


Qiandra tak berkomentar apa pun. Ia cukup kesal karena merasa dilangkahi oelh seorang remaja biasa yang bahkan tak ia kenal. Tetapi melawan orang-orang besar dengan kedudukan tinggi ini, merupakan tindakan sembrono yang dapat mengancam karirnya kelak.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


“Livy Talisa Putri? Siapa cewek si*l*n yang melangkahi diriku itu? Tetapi bagaimana bisa semua ucapan Rania itu tepat. Walaupun pada akhirnya tak mampu mempertahankan posisiku,” gumam Qiandra sepanjang perjalanan pulang.


“Sania.”


“Ya, Nona,” sahut asistennya.


“Apa kamu mengenal Rania Putri?” tanya Qiandra.


“Rania… hmmm... tidak. Memangnya dia siapa? Apa dia mengganggu Nona?” ujar Sania.


“Yah… lumayan. Kalau Livy Talisa Putri?” tanya Qiandra lagi.


“Saya juga tidak mengenanya, Nona,” sahut Sania.


Asisten pribadi usia dua puluh empat tahun itu menggali ingatannya. Siapa Rania Putri? Mengapa jantungnya berdetak kencang ketika mendengar nama itu? Ia juga merasa rindu yang teramat dalam. Ah, ia jadi sama penasarannya dengan nona mudanya.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...

__ADS_1


__ADS_2