
"Felix? Kok di sini?" Rania terkejut melihat pria tampan berdiri di depan rumahnya.
Pria yang menggunakan baju kaos putih dan celana jeans itu terlihat sangat gelisah.
"Ada hal penting yang harus saya beritahu. Tapi, Nona Qiandra jangan sampai tahu hal ini," kata Felix.
"Apa itu?" tanya Rania.
"Apa Nona bisa janji kalau bukan saya yang membocorkan rahasia ini?" tanya Felix lagi. Matanya menatap waspada kesekeliling rumah.
"Aku janji," kata Rania.
Mereka lalu berpindah ke ruang tamu.
"Sebenarnya... Beberapa hari yang lalu Nona Qiandra mencoba untuk bunuh diri," bisik Felix.
"Astaga! Apa kamu bilang?" Rania membuka matanya lebar-lebar. Ia bagai di sambar petir di siang bolong mendengar kabar ini.
"Terus gimana keadaannya? Apa kakek tahu?" tanya Rania.
"Tuan Nico tidak tahu. Kami hanya mengatakan, kalau Nona Qiandra sedang demam. Karena pada saat itu Tuan juga sedang sakit," jelas Felix.
"Keadaan Nona juga sudah mulai membaik setelah dirawat dokter, meski kemarin sempat kritis," lanjut pria muda itu.
"Astaga! Apa sih yang dipikirkan anak itu?" ucap Rania.
"Menurut kami, Nona Qiandra sangat depresi dengan kejadian yang terus menerus menimpanya. Terutama setelah bertengkar dengan Nona Rania, dan mengetahui kalau dia hanyalah anak adopsi keluarga Gregory Malfoy."
"Jadi itu alasannya dia tidak menghubungiku sama sekali?" guman Qiandra.
"Oh, hampir aja lupa. Kemarin, hasil tes DNA sampel darah sudah keluar. Dan hasilnya, Rania Putri 100% terbukti kalau ia putri dari Tuan Gelfara Abarua dan Nyonya Jennia Putri, orang tua Nona saat ini."
"Begitu, ya. Aku sudah menebaknya, sih."
"Tapi di hari yang sama, hasil tes DNA Nona dan Nona Qiandra juga keluar. Nona juga terbukti sebagai putri dari Tuan Geffie dan Nyonya Chloe. Sementara Nona Qiandra tidak terbukti."
"Apa kamu bilang? Qiandra mengetes DNA-ku juga? Segitu nggak percayanya dia padaku?" ucap Rania kembali kesal.
"Bukan begitu, Nona. Justru Nona Qian sangat mempercayai Nona. Dia melakukan ini semua untuk bukti dipersidangan hari ini," jelas Felix.
"Ia juga diam-diam memeriksa semua dokumen perusahaan dan menyuruh intel bayaran untuk menyelidiki kecelakaan itu. Nona Qiandra benar-benar menyusun rencana besar untuk menjatuhkan keluarga Malfoy. Isi kepalanya tidak bisa ditebak," lanjut Felix lagi.
"Astaga! Sudah kuduga. Qiandra pasti merencanakan sesuatu," gumam Rania dengan nada kesal dan kecewa.
__ADS_1
"Saya mengkhawatirkan keadaan Nona Qiandra yang belum pulih betul. Ia memaksakan diri datang ke persidangan hari ini ddngan sejumlah bukti baru. Saya takut, seseorang melukainya karena sikapnya ini," kata Felix dengan mata berkaca-kaca.
"Ah, satu lagi. Saya sempat melihat Nona Qiandra bersiap meninggalkan rumah setah kasus ini selesai. Ia mulai menabung dari hasil kerjanya sendiri. Sepertinya ia sama sekali tidak ingin membawa harta dari rumah."
Hati Rania terperanjat melihat sikap Felix. Meski selama ini semua pelayan dan pegawai orang tuanya menghormati dirinya, tapi tidak ada yang membelanya sampai seperti ini.
Qiandra benar-benar hebat. Ia bisa berubah dalam waktu singkat. Rania sangat malu mendengarnya. Selama ini dia hanya berpikiran buruk pada Qiandra.
"Apa ini yang dimaksud Qiandra pada malam hujan salju itu? Bahwa hati yang tulus dan bersih yang mampu menghancurkan sihir hitam ini," pikir Rania.
"Ah, benar juga. Tadi Livy juga mengatakan, kakau kejahatan hanya bisa dikalahkan dengan hati yang murni dan bersih. Jadi ini bukan sekedar film. Dan hati serta jiwa yang bersih, tidak bisa diperoleh dengan memakan bawang putih, tapi hanya dari kesadaran diri," gumam Rania dalam hati.
"Aku mengerti sekarang. Tapi aku harus menghentikan Qiandra sebelum ia semakin melakukan hal berbahaya," gumam Rania lagi.
"Felix, sidangnya jam berapa?"
"Pukul satu siang, Nona."
"Apa Qiandra sudah datang ke pengadilan?" tanya Rania lagi.
"Belum, Nona. Tadi Ia masih bersiap mengunjungi suatu tempat. Tapi tidak tahu di mana."
"Baiklah. Kau ikuti Qiandra dan bersikap seperti biasa. Laporkan padaku setiap saat," perintah Rania.
"Oh, apa aku boleh minta dua hal lagi?"
"Tentu saja," jawab Felix.
"Aku ingin seorang supir yang bisa menjaga rahasia dan mengantarku ke mana-mana. Aku juga perlu seseorang yang bisa menjaga Livy di rumah," pinta Rania.
"Akan segera saya laksanakan, Nona."
Livy yang sedari tadi berada di ruang tengah dan berpura-pura menonton TV, mendengar semuanya.
Gadis kecil itu menangis tak berdaya. Ia tidak sangka bahwa kakak dan orang tuany terlibat masalah serumit ini. Tapi sayangnya ia tidak bisa membantu apa pun.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Setelah mengirim pesan pada Arka dan Mikko, Rania bergegas pergi ke rumah keluarga Austeen.
Meski masih menyimpan kecurigaan pada Qiandra, tapi amarahnya tidak sebesar kemarin. Di dalam hatinya tersimpan rasa cemas dan perasaan bersalah.
Sesampainya di rumah mewah itu, Rania langsung mengunjungi kamar sang kakek. Di sudut ruangan ia melihat dua buah delima dan setoples cookies. Secarik kertas biru terselip di bawah toples.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya, Kek. Aku rindu sarapan bersama dan masakan kakek lagi. Qiandra."
"Dasar bod*h! Jangan berjanji kalau hanya untuk diingkari," gumam Rania.
"Kek, aku harus pergi. Nanti aku kembali lagi mengunjungi kakek, bersama Qiandra. Aku janji."
Rania berbisik pada kakeknya sambil mencium kening pria itu.
Setelah mengunjungi kakek, Rania segera menuju ke ruang bawah tanah beserta beberapa pengawal. Ia harus menyelesaikan masalah ini dari sumbernya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Sudah tepat dua minggu, Malfoy Ansley luntang lantung di jalan mencari buah hatinya yang tidak ia kenali.
Entah berapa panti asuhan yang ia datangi. Entah berapa rumah sosial yang ia selidiki. Semuanya nihil.
Ia rela tidur di emperan toko di sudut kota, demi menghindari kejaran polisi yang terus memburunya. Ia rela meninggalkan semua harta bendanya di salah satu panti sosial, demi mencari sang putri.
Rambutnya yang pirang ia cat hitam, dan sebuah kumis tebal menempel di wajahnya, agar tak ada orang yang mengenali dirinya.
"Nak... Kamu di mana... Maafkan ayahmu ini," gumam Malfoy berulang kali.
Air matanya tak lagi mau mengalir. Pikirannya tak bisa lepas dari dua cintanya, Fania dan sang buah hati. Bahkan harta benda dan perusahaan yang ia tinggalkan, tak lagi bernilai di matanya.
"Tuhan! Tolong maafkan aku. Biarkan aku bertemu dengan putriku sebentar saja. Kembalikan ingatanku. Aku mohon. Aku ingin bertemu dengannya sebelum menyerahkan diriku ke polisi."
Malfoy terus berdoa tanpa henti.
"Hei, pindah. Jangan duduk di depan tokoku, gembel!" usir pemilik toko.
Malfoy pun meninggalkan toko. Tiba-tiba dari kejauhan, ia melihat seseorang yang berjalan mendekatinya.
"Putriku... Itu putriku. Aku ingat sekali. Dia... Dia yang memberiku sapu tangan ini," seru Malfoy sambil menggenggam sebuah sapu tangan.
"Putriku... Izinkan aku bertemu denganmu."
Malfoy bergegas menyeberang jalan.
Tiiiin!!!! Brakkkk!!!
"Astaga!!!" seru orang-orang di sana.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...