Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 17 - Stalker


__ADS_3

“Apa ini?” tanya Qiandra ketus.


“Ini Sarmale, Nona,” jawab Musliha.


“Sarmale? Maksudmu ini sarapanku?” tanya Qiandra.


“I-iya, Nona.” Asisten rumah tangga itu mulai bekeringat dingin.


“Hah… aku tidak suka ini. Ganti cepat. Buatkan saja aku Beef burguignon.”


Beef… apa?”


“Aduh! Makanan favorit majikanmu saja kamu tidak tahu!” Bentak Qindra. “Beef burguignon,” ulangnya.


“Ada apa, Nak? Pagi-pagi kok sudah emosi. Nanti cepat keriput, lho,” ujar Chloe.


“Ya Mama kalau pilih asisten rumah tangga lihat kualitasnya, dong. Masa aku mau dikasih sarapan beginian? Beef burguignon aja gak tahu? Memuakkan punya pembantu kampungan seperti ini” kata Qiandra melampiaskan kemarahannya. Musliha, asisten koki gemetaran saking ketakutannya.


Chloe mengerutkan kening, “Sejak kapan Qian tidak suka makanan Rumania? Apa dia sudah tahu masa laluku dan neneknya?” batin Chloe khawatir.


“Membuat Beef burguignon itu tidak sebentar, sayang. Apalagi sekarang hari senin, kamu jangan izin upacara lagi. Tunjukkan dong kalau anak yang pintar dan teladan. Mama bikinkan cream soup aja, ya,’ bujuk Chloe dengan halus.


“Sudahlah. Aku sarapan di luar saja,” ujar Qiandra mendadak tidak selera makan. “Wilbert, siapkan mobil. Aku akan berangkat sekarang,” lanjutnya.


“Siap, Nona.” Supir pribadi Qiandra yang sedang mengunyah roti bakar, langsung beranjak dari tempat duduknya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


“Sania, apa ada kejadian aneh dengan Qian baru-baru ini?” tanya Chloe ketika Qiandra telah berangkat ke sekolah.


“Tidak ada Nyonya,” jawab Sania.


“Tetapi kenapa sikapnya jauh berubah? Ia lebih sering marah-marah belakangan ini,” kata Chloe bingung.


“Hmm.. Maaf Nyonya, saya tidak tahu apakah ini membantu atau tidak. Tetapi, ketika gala dinner kemarin, Nona aneh sekali. Ia seperti tidak mengenali para klien. Dia juga sangat-sangat tidak menguasai dunia design dan konveksi,” lapor Sania.


“Lalu, apa yang terjadi selain itu?” tanya Chloe.


“Para investor akhirnya menunda penetapan nona sebagai ketua tim. Sebaliknya, jika ia tidak mampu, maka kemungkinan besar ia tidak akan terlibat dalam show berikutnya,” kata Sania.


“Hmm… Sepertinya itu keputusan paling bijak untuk Qiandra saat ini. Emosinya terlalu labil. Jika dia jadi ketua tim dan ada masalah di tengah, itu akan semakin menyulitkan dia,” komentar Chloe.


“Iya.. benar juga, sih,” sahut Sania.


“Tetapi apa yang menyebabkan dia seperti itu, ya? Apa dia pernah terlibat bully di sekolah?” ujar Chloe sambil berpikir.


“Err… kabarnya sih begitu?” kata Sania takut-takut.


“Eh, benarkah? Siapa yang berani membullynya? Apa sampai ada kekerasan fisik?” tanya Chloe khawatir.

__ADS_1


“Bukan seperti itu maksudnya, Nyonya,” jawab Sania.


“Lalu?” Chloe tak mengerti.


“Hmm… Kabar burung yang saya dengar, nona yang sempat membully beberapa orang temannya,” kata Sania sambil menahan napas.


“Apa? Kenapa pihak sekolah tidak mengatakannya padaku?” marah Chloe.


“Ta-tapi tak sampai ada kekerasan fisik, kok,” sambung Sania.


“Yang namanya bully ya tetap aja bully. Walau pun hanya melalui ucapan, tetapi hal itu bisa membuat yang mendengarnya sakit hati dan trauma berkepanjangan,” kata Chloe sambil menggenggam tangannya yang gemetar. Hatinya selalu sakit setia mendengar kasus bully.


“Meskipun begitu, ini hanya rumor yang tidak berdasar. Nona kan selama ini orang yang sangat santun dan sopan terhadap sesama,” kata Sania.


“Sania, perhatikan tingkah laku Qiandra setiap saat, dan laporkan padaku sedetail mungkin. Aku sendiri akan mencari tahu kebenarannya pada pihak sekolah,” kata Chloe serius.


“Ba-baik, Nyonya,” jawab Sania.


*****


“Felix, bagaimana hasilnya?” tanya Qiandra melalui telepon, ketika jam istirahat.


“Rania adalah putri kedua dari keluarga biasa. Orang tuanya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan pedagang makanan kecil. Saudara laki-lakinya mahasiswa di sebuah universitas negeri, dan saudara perempuannya siswi SMP yang tidak begitu populer,” lapor Felix.


“Hmmm… terus?”


“Mereka semua sama sekali tidak pernah berhubungan dengan keluarga kita, baik secara langsung maupun tidak. Hanya saja, sepertinya Rania pernah mengirim pesan melalui media sosial pada Nyonya. Tetapi tidak terlalu perhatian Nyonya,” lanjut pria usia dua puluh tiga tahun itu.


“Sepertinya ia hanya seorang fans berat dari Nyonya. Hari minggu lalu, Rania dan adiknya mengikuti acara yang dihadiri oleh Nyonya. Bahkan sang adik senpat memberikan teriakan semangat pada Nyonya,” kata Felix.


“Tetapi itu semua masih belum bisa menjelaskan bagaimana ia tahu secara detail tentang aktivitas dan orang-orang terdekatku,” sahut Qiandra belum puas. “Pasti ada rahasia yang disembunyikannya,” gumam Qiandra dalam hati.


“Felix, kau tetap awasi Rania. Laporkan padaku segera, jika menemukan sesuatu yang aneh,” perintah Qiandra.


“Baik, Nona,” jawab Felix.


“Hmmm… Aku tak bisa hanya mengandalkan informasi dari Felix. Aku harus menemukan sendiri rahasia yang di simpan cewek itu,” gumam Qiandra.


“Apa jangan-jangan dia kerja paruh waktu di restoran tempat kami makan malam kemarin, ya? Eh, tetapi itu tidak mungkin. Restoran bintang lima seperti itu pasti hanya menerima para pekerja yang profesional dan berpengalaman.” Qiandra mulai menganalisa liar.


“Atau jangan-jangan dia itu stalker? Memasang kamera tersembunyi dan penyadap padaku? Beberapa hari yang lalu kan dia juga mengaku-ngaku putri dari keluarga Austeen. Hiii… serem…” Pikiran Qiandra semakin melanglang buana ke arah tak jelas.


“Qian, ke kantin yuk,” ajak Dewi.


“Nggak ah. Aku nggak lapar,” jawab Qiandra. “Pasti nanti ujung-ujungnya minta traktir lagi,” sungut Qiandra dalam hati.


Mata Qiandra tiba- tiba menangkap seseorang yang membuatnya sakit kepala. Orang itu berjalan menuju ke kantin sekolah. Sebuah ide pun muncu di kepala gadis pirang itu.


“Ah, benar juga. Jika aku mengikuti gerak-geriknya, pasti akan terungkap rahasianya,” batin Qiandra.

__ADS_1


“Mau ke mana, Qian?” seru Dewi yang hendak kembali ke kelas.


“Kantin,” sahut Qiandra.


“Lah, tadi katanya gak lapar?” sungut Dewi sambil menyusul temannya itu.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


“Apa-apaan ini?” batin Qiandra kesal. Targetnya tak menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Sedari tadi ia hanya makan bakso, bersenda gurau dengan teman-temannya, lalu sibuk menjalin rambut panjang Anjani.


“Hei, kamu kenapa? Dari tadi pandangan matamu tidak lepas dari Rania, tahu?” kata Dewi sambil menyeruput teh esnya. Dia terpaksa membeli menu paling murah, karena Qiandra tak mau mentraktirnya.


“Kelihatan banget, ya?” tanya Qiandra.


“Jelas banget. Kamu ada masalah lagi sama anak pembantu itu?”tanya Dewi.


“Iya, eh nggak,” jawab Qiandra ngasal.


“Apa, sih? Nggak jelas,” sahut Dewi.


Hingga istirahat pertama selesai dan kembali belajar, Rania sama sekali tak menunjukkan sesuatu yang aneh. Qiandra semakin kesal. Bonusnya, ia malah di hukum oleh guru geografi karena tak memperhatikan sejak pelajaan di mulai.


“Huh… Aneh banget hukuman dari Pak Rayhan. Ngapain coba disuruh membuat ringkasan tentang patahan, lipatan, jenis batuan… memangnya kita mau menggali fosil dinosaurus?” gerutu Qiandra di perpustakaan.


Rencananya untuk menguntit Rania gagal. Pasalnya, Qiandra di suruh menyerahkan ringkasan sebelum bel istirahat kedua berakhir. Nona kaya raya itu terpaksa menyusuri rak ujung ruangan untuk menemukan buku yang ditunjuk Pak Rayhan.


“Eh, ternyata ada orang selain aku yang berada ujung perpustakaan ini?” batin Qiandra. Ia baru saja mendengar suara langkah kaki dan buku-buku yang bergeser.


Sambil mengumpulkan keberanian, Qiandra mengintip ke arah sumber suara.


“Eh, itu kan Rania? Mengapa dia mengambil buku-buku tentang senjata tajam, darah dan apalagi itu… Buku ramuan? Jangan-jangan dia dukun yang lagi mencari tumbal?” Qiandra bergidik ngeri.


“Sempit dan berdebu, ya?”


“Iya, sempit. Eh…” Qiandra baru sadar jika ia baru saja membalas omongan seseorang. Ada siapa lagi di sudut ruangan ini selain dirinya? Qiandra menoleh dengan bulu kuduk merinding.


“Huaa… Bu Elya rupanya,” ujar Qiandra bernapas lega.


“Jangan lega begitu. Ayo ikut ibu ke kantor. Ibu baru saja mendengar kalau kamu membully teman,” bisik Bu Elya, wali kelasnya.


“Hah, siapa yang bilang begitu. Nggak kok,” bantah Qiandra.


“Ibumu,” ujar Bu Elya.


“Hah?” Qiandra merinding lagi.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi

__ADS_1



__ADS_2