Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 69 - Analis Gila


__ADS_3

"Pada akhirnya kamu datang juga? Apa karena aku naikkan jadi tujuh puluh lima juta?" Qiandra menatap Wilda dengan tatapan remeh.


"Aku sama sekali nggak tergiur sama uang," jawab Wilda santai.


"Hahh... Bohong!" celetuk Qiandra.


"Aku datang karena penasaran, kenapa putri keluarga Austeen yang telah membuangku, justru memaksaku datang kembali kemari," ucap Wilda.


"Ya... Ya... Anggap aja itu benar. Jadi, ceritakan padaku semuanya," pinta Qiandra.


"Kamu yakin mau tahu? Nggak takut dihantui kayak kemarin?" ucap Wilda.


"Wah... Kamu nakut-nakutin aku, ya."


"Aku serius, kok. Dia sekarang ada di sekitar kita." Wilda menaikkan ujung bibirnya.


Mantan analis tersebut sama sekali nggak takut dengan keluarga Austeen.


"Dia siapa?" Qiandra bergidik ngeri.


"Yang kamu lihat malam itu," jawab Wilda.


"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Qiandra.


"Ya kamu sendiri kenapa percaya padaku sampai memaksaku ke sini?" balas Wilda.


Qiandra terdiam mendengar kalimat Wilda.


"Katakan saja. Jangan berbelit-belit. Kamu ada dipihak siapa sekarang?" ujar Qiandra kemudian.


"Ya tentu aja dipihak putri keluarga Austeen," jawab Wilda tegas.


"Nah, pada akhirnya kamu berpihak dengan uang juga," sindir Qiandra.


"Uang? Maksudku putri kandung Geffie dan Chloe Austeen," sahut Wilda tanpa rasa takut.


Qiandra mengepalkan tangannya, "Apa maksudmu? Kamu mau menghina keluarga Austeen? Siapa pun di negara ini sudah tahu, kalau aku satu-satunya putri mereka."


"Nggak usah pura-pura lagi, deh. Kamu pasti tahu, kalau kamu bukanlah pewaris sah Austeen."


"Jangan main-main sama ucapanmu. Aku bisa dengan mudah menuntutmu karena menghina keluarga ini."


"Ckk... Benar juga yang dia bilang. Gimana pun juga, sekarang semua orang percaya kalau Qiandra lah anak kandung Chloe dan Geffie," pikir Wilda.


Wilda mengalihkan pandangan dari sudut ruangan. Sosok dengan tubuh tak lengkap itu terus menatapnya dengan tajam.


"Aku cuma bicara ini padamu. Percaya atau tidak, itu terserah kamu. Putri kandung keluarga ini adalah... "


"Rania Putri, kan?" Qiandra memotong ucapan Wilda.


"Nah, kamu nggak bisa bohong lagi, kan?"


"Dia sendiri yang bilang padaku dulu," ujar Qiandra.


"Dia sendiri yang bilang?" Wilda setengah nggak percaya.

__ADS_1


"Dasar orang jelata, kalian sekongkol mau menipuku ya demi uang? Kalian pikir aku percaya bualan kalian?" Qiandra mulai meradang.


"Kan sudah aku bilang, terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi apa kamu bisa menjelaskan kejadian aneh malam itu?" tantang Wilda.


"Ckk... Menyebalkan." Qiandra sama sekali nggak bisa menjawab pertanyaan dari Wilda. "Sia-sia saja aku membawamu kemari," lanjutnya.


"Sudah, kan? Antar aku pulang," ujar Wilda.


"Apa kamu masih menginginkan hadiah itu?" tanya Qiandra.


"Dari awal sudah ku bilang, aku nggak mengharapkan uang itu sama sekali," ucap Wilda. "Sebaiknya kamu waspada saja, entah kapan lagi dia mengunjungimu."


Qiandra kembali bergidik ngeri, "Ini beneran apa hanya menakutiku saja, sih?" gumannya dalam hati.


"Oh iya, tadinya kalau kamu mau diajak kerja sama, aku juga akan menceritakan tentang Genny, pelayan yang terus berada di sisimu."


"Tunggu dulu, maksudmu Genny juga menghantuiku?" kaki Qiandra benar-benar lemas mendengarnya.


"Ya, begitulah."


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Tadi Mikko bilang, kalau media sosial Audrey masih aktif. Apa nama medsosnya masih sama dengan yang dulu?"


Rania mengutak-atik ponselnya. Uang hasil mengajar bimbel pada Anjani, digunakan untuk membiayai penyelidikannya tersebut. Ia tak mau memberatkan keluarga ini.


"Wah... Gila... Dia udah jadi model profesional. Dia juga jadi duta pariwisata di sana," ucap Rania.


Ia memperhatikan seluruh isi postingan di media sosial milik Audrey.


Rania tiba-tiba terpikir, apakah Audrey ingin melenyapkan Rania Putri? Atau Edlyn Rania Austeen?


"Hai, Audrey. Apakah kamu masih mengingatku?" tulis Rania di direct massage IG mantan temannya tersebut. Ia juga menyertakan foto selfie.


Drrrtt... Drrttt... Sebuah pesan masuk ke ponselnya.


"Sup ayam buatanmu enak."



"Yah, ternyata dari Mikko. Aku pikir balasan dari Audrey," gumam Rania kecewa.


"Tapi ngapain deh dia kirim pesan beginian? Mau merayuku untuk baikan?" pikir Rania lagi.


Gadis itu kemudian mengabaikan pesan dari Mikko dan bersiap untuk tidur.


Drrttt... Drrrttt... Ponselnya kembali berdering.


"Ckk... Ngapain Mikko kirim pesan lagi?" Rania bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya.


"Hai, Rania. Ini Wilda. Apakah aku bisa meneleponmu sekarang?"


"Wilda? Ini jebakan atau bukan?" batin Rania.


Tapi kemudian memutuskan gadis itu menerima telepon dari Wilda untuk memuaskan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Wah, ada apa ini? Bukannya kamu lebih memilih gadis kaya raya itu?" sindir Rania ketika Wilda meneleponnya.


"Jangan salah paham dulu. Aku sama sekali nggak cerita apa pun dengannya, selain fakta bahwa dia bukanlah putri kandung Austeen," jawab Wilda.


"Lalu? Untuk apa pula kamu meneleponku tengah malam begini? Cuma untuk memberi tahu soal itu?" tanya Rania.


"Dan juga, apa Qiandra sudah mengetahui, siapa orang tua aslinya?" lanjut Rania lagi. Ia bicara setengah berbisik agar orang lain tak mendengarnya.


"Aku nggak tahu siapa orang tua kandungnya. Dia nggak memberi tahuku soal itu," jawab Wilda datar.


"Dia, maksudmu Rania Putri?"


"Iya."


"Lalu, apa saja yang diberitahu oleh Rania Putri padamu? Apa omongan orang yang menjual rahasia perusahaan bisa dipercaya?" ujar Rania.


Wilda menghela napas dalam-dalam, "Dari dulu aku sama sekali nggak pernah berkhianat dengan perusahaan. Semua hanya salah paham," jelas Wilda.


"Salah paham?" ulang Rania. "Tapi aku yakin, kamu pasti ada rasa dendam pada kami, em.. Maksudku perusahaan" lanjutnya.


"Aku akan cerita semuanya. Kalau nanti kamu tetap nggak percaya, aku tak akan menaksa," ujar Wilda.


"Yah... Coba aja ceritain dulu. Aku mau dengar."


"Pada waktu itu, di lab CL cosmetics, secara nggak sengaja aku melihat salah seorang analis mengganti bahan dengan bahan berbahaya," Wilda memulai ceritanya.


"Tapi, saat aku mau mengambil bukti dan melaporkannya, ia rupanya bergerak lebih cepat. Entah sejak kapan dia tahu aku memergoki kecurangannya."


"Dia itu siapa?" tanya Rania.


"Syifa Ameera."


"Syifa? Nggak mungkin. Dia pegawai kompeten dan tangan kanan mama," bantah Rania.


"Nah, itu dia. Semua orang mengatakan aku berbohong, karena aku menuduhnya. Ia membuatku tersudut, seakan-akan aku menjual ide perusahaan, dilengkapi semua bukti," jelas Wilda.


"Benarkah?" Rania masih nggak percaya.


Hingga ia bertukar tempat dengan Qiandra, Syifa masih menjadi staff andalan mamanya.


"Nggak cuma itu. Aku juga dijatakan gila, setelah aku mengatakan bahwa Gennie, salah satu asisten rumah tangga kalian tewas dibunuh oleh Darrent," lanjut Wilda lagi.


"Apa? Darrent?" Rania semakin terkejut.


"Iya. Aku selalu dihantui olehnya, hanya karena aku bisa melihat dunia mereka," ucap Wilda.


"Nggak, semua ini masih meragukan. Gak ada bukti dari semua ini." Rania terus menyangkal ucapan Wilda.


"Percayalah. Aku lelah selalu dihantui oleh mereka," kata Wilda.


"Lalu, apa kamu tahu, alasan dibalik menghilangnya Rania Putri."


"Nggak. Yang aku tahu, dia menghilang secara mengenaskan. Tapi apakah dia masih hidup atau tidak, aku sama sekali nggak tahu."


"Ternyata masalah ini lebih rumit dari yang ku kira. Apa ucapannya bisa dipercaya?" pikir Rania.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2