Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 6 – Foto Editan


__ADS_3

“Wah, apa ini?” tanya Ayah.


“Kak Rania membuat ayam lada hitam ala restoran, Yah. Kami ingin ayah mencobanya juga,” ujar Livy riang.


“Benarkah? Bahan-bahannya dari mana? Pasti ini enak. Terima kasih, Nak,” kata ayah terharu.


“Rania hanya menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah saja kok, Yah,” jawab Rania.


Hatinya benar-benar trenyuh melihat senyum tulus yang mengembang dari wajah pria itu.


“Bagaimana kabar papa dan mama, ya?” pikir Rania sedih.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Rania menghempaskan tubuhnya ke kasur. Badannya sudah wangi dan segar. Hatinya sudah tak sabar untuk membuka ponsel itu. Apakah akan ada petunjuk di sana?


Home screen HPnya tidak menunjukkan apa-apa. Hanya ada foto bunga sepatu. Sepertinya itu diambil di depan rumah mereka. Jari Rania kemudian bergerak membuka aplikasi percakapan. Terdapat beberapa chat dengan Anjani, Alvi dan beberapa teman lainnya. Pada umumnya isi percakapan mereka hanyalah seputar tugas sekolah dan cerita remaja wanita lainnya. Tiba-tiba mata Rania tertuju pada grup chat kembang goyang.


“Aneh banget namanya?” gumam Rania sambil menahan tawa.


Kembang goyang merupakan kue kering yang terbuat dari tepung beras dan berbentuk seperti bunga. Entah bagaimana mereka bisa membuat grup dengan nama unik tersebut.


Rania lalu membuka pesan grup tersebut, yang hanya berisikan tiga orang saja. Sepertinya ia bisa menebak, siapa saja anggotanya.


Alvie


“Hei, sudah memikirkan mau ambil ekstrakulikuler apa? Sekolah aneh, masa anak kelas dua diwajibkan mengambil dua ekstrakulikuler, sih?”


Anjani


“Duh, gak tahu deh. Aku sepertinya akan mengambil kelas menjahit, atau menari ya? Kalau Alvi sepertinya lebih bagus masuk klub fotografi atau detective. Kamu kan suka stalking cowok cakep."


Alvie


"Itu bukan stalking, tetapi lagi seleksi calon suami. Biar ayah dari anak-anakku nanti benar-benar bibit unggul. Bukan kaleng-kaleng."


Rania terbahak membaca pesan kedua temannya. Akan tetapi tidak ada sesuatu petunjuk atau yang mencurigakan di sana.


^^^“Guys, kalian ingat gak? Minggu lalu kita ngapain ya setelah pulang sekolah?” tulis Rania di grup.^^^


Alvie


“HP lo dah bagus?”


^^^“Udah.”^^^


Alvie


“Kena berapa?”


^^^“Dua ratus ribu kata Abang aku,” balas Rania.^^^

__ADS_1


Anjani


“Masih bisa hidup rupanya HP lo. Udah terendam air gitu."


^^^“Masih. Eh, guys... pertanyaan aku belum dijawab 😞” protes Rania.^^^


Alvie


“Pertanyaan yang mana?”


^^^“Astaga… ini anak…” ujar Rania.^^^


Anjani


“Yaelah. Baru juga beberapa hari yang lalu. Pura-pura lupa atau emang beneran lupa? Kamu kan pergi ke Danau untuk camping pramuka, sambil stalking Mikko yang lagi ada latihan PMR di sana. Kami gak boleh ikut.


Alvie


“Oh... pertanyaan yang itu.. .Nah, bener itu. Pulangnya kamu basah kuyup abis kecemplung parit. Lalu dijemput oleh ayahmu. Bang Arka sampai telepon kami berdua tahu nggak? Dia khawatir banget.


“Masa sih?” pikir Rania. Ia memang sangat tertarik pada Mikko, tetapi sejauh ini ia tidak sampai stalking cowok seperti itu. Ia bukanlah tipe cewek yang mengejar cowok sampai dapat. Tetapi ia terjatuh ke dalam parit? Apa itu sebabnya ia bermimpi tenggelam.


Alvie


“Oh iya, tadi siang kamu telepon siapa sih pakai HPku? Seharian aku diteror tahu nggak? Sampai ayahku turun tangan."


^^^“Sorry banget, Vi. Apa aja kata mereka?” tanya Rania merasa bersalah sekaligus penasaran.^^^


Alvie


Anjani


"Aduuh... kamu kenapa sih Riani? Hari ini aneh banget..."


^^^“Maaf ya, Vi. Aku… nggak tahu juga deh. Tiba-tiba jadi terobsesi dengan mereka.”^^^


Obrolan ia dan kedua temannya tidak memberikan petunjuk sedikit pun. Justru semakin membuktikan kalau ia bukanlah anak konglomerat seperti sebelumnya.


Tak puas dengan hasil interview kawan-kawannya itu, Rania membuka galeri foto di HPnya. Cukup banyak foto di sana. Rania memperhatikannya satu persatu.


Galeri foto yang berisi tidak lebih dari tiga ratus file itu banyak menyimpan gambar seorang gadis remaja yang berkulit putih, badan mungil, rambut panjang hitam kecoklatan dan sedikit bergelombang. Meski hanya menggunakan pakaian sederhana, bibirnya menunjukkan senyum yang ceria.


“Benarkah ini aku?” gumam Rania. Wajah yang terlihat di sana memanglah milik Rania, tetapi ia tidak pernah merasa memiliki rambut panjang hingga di bawah pinggang. Biasanya jika rambutnya sudah melewati pungung, ia selalu memotongnya.


Rania memperhatikan foto tersebut satu per satu. Tidak ada yang aneh, semua memang foto dirinya.  Gadis di dalam foto itu terlihat memiliki aktivitas. Menggunakan seragam putih dongker SMP, ia duduk di atas panggung dan bermain drum. Hmm… Rania memang pandai bermain drum sejak SD.


Lalu di foto lainnya, gadis remaja itu menggunakan kemeja dan celana coklat, ia memegang sebuah pancing dengan ikan gabus besar menggantung di ujung kailnya. Jika hari libur, Rania memang suka pergi memancing dengan papanya. Mereka juga sering berlibur ke Alaska untuk menangkap salmon.


Foto-foto berikutnya lebih banyak menunjukkan foto keluarga. Aih, ternyata Livy saat masih kecil sangat menggemaskan. Sepertinya memang tidak ada yang aneh dari semua bukti-bukti yang ada. Tetapi kenapa Rania masih merasa aneh? Apakah selama ini ia hanya bermimpi jadi orang kaya? Atau memang kehidupannya yang berubah total? Tetapi bagaimana bisa?


Klap! Rania membuka pintu kamarnya. Kepalanya yang berat dan panas butuh sesuatu yang sejuk. Ia menuju ke dapur, hendak mengambil gelas dan air minum. Ia harus mulai membiasakan diri di rumah ini untuk sementara waktu.

__ADS_1


“Itu aku?” gumam Rania terkejut.


Mata Rania terfokus ke foto ukuran 10R berbingkai ukiran kayu yang tergantung di samping lemari tua. Kenapa ia baru menyadarinya? Mungkin ia terlalu sibuk pagi dan sore tadi, sampai tidak memperhatikan sekeliling lebih seksama.


Seorang anak bergaun merah muda dan mengenakan bando berdiri di samping sang ibu yang memangku gadis kecil dengan senyum pepsod*n. Anak perempuan itu berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun.


Itu jelas-jelas dirinya. Rania memiliki banyak album foto di rumahnya yang menangkap semua aktivitasnya sejak lahir hingga remaja kini. Dan foto yang dilihatnya saat ini sangat mirip dengan foto di rumahnya. Di samping kiri sang ibunda, berdiri seorang remaja pria yang cukup manis.


“Ah, itu pasti Arka,” gumam Rania.


 “Iya, wajahmu tetap gak berubah. Masih jelek seperti waktu kecil. Gak kayak aku yang transformasi jadi cowok keren,” celetuk Arka tiba-tiba.


“Astaga. Abang membuatku terkejut,” ucap Rania setengah berteriak.


Rania tidak mau mengakuinya,tetapi pemuda ini memang jauh lebih tampan aslinya. “Hei, itu foto editan, ya?” tanya Rania.


Foto itu memang terlihat tidak natural, terutama dari warna rambut dan kulit mereka.


“Memang iya,” jawab Arka datar.


“Hah, yang benar? Kalian comot di mana wajahku?” pekik Rania.


Kenapa ia tidak terpikir tadi, bisa saja semua foto-foto itu hanya editan untuk memanpulasi pikirannya. Toh, HP yang diberikan juga bukan punya dia. Arka juga baru memberikannya sore tadi. Bisa saja selama waktu itu, digunakan untuk mengdit semuanya agar Rania percaya.


Lalu bagaimana dengan data-data dia di sekolah tadi? Belum lagi jawaban para asistennya ketika ia telepon.


“Comot? Apa maksudmu? Kamu pikir itu foto artis yang diedit dengan tubuh orang lain? Memangnya kamu artis? Tukang kalender juga gak bakal mau terima foto kamu,” tawa Arka.


Rania hanya mencibir pada abangnya, “Tadi katanya foto itu editan.”


“Iya emang editan. Latar belakangnya, kontras warnanya, semuanya hanya editan biar terlihat lebih bagus,” jelas Arka.


Setelah kembali ke kamar, Rania jadi terus memikirkan ucapan Arka tadi. Untuk mengobat rasa gelisahnya, Rania membuka laman pencarian gugel dan mengetikkan sesuatu. Tak sampai sedetik kemudian, Rania terbelalak melihat hasil pencariannya.


‘Chloe Eilaria Austeen, Mantan Model Cantik yang rajin berdonasi''


‘Chloe Eilaria dan Qiandra Austeen, Ibu dan Anak bak saudara kembar’


'Qiandra, calon model yang baru saja meluncurkan brand make upnya sendiri '


“Apa ini? Kenapa tidak ada artikel tentang aku dan mama sama sekali?”


Rania mengganti kata kunci pencarian. ‘Rania Austen’ tidak ada hasil pencarian.


Bep.. bep... sebuah pesan masuk ke HPnya.


“Pelanggan YTH, kuota internet anda tinggal 234 MB, berlaku sampai tanggal…”


“Oh my…” gumam Rania sedih. Ia lupa kini tidak hidup bergelimang harta, bahkan untuk kuota internet pun ia harus berhemat. Dan yang terpenting, sepertinya ia benar-benar bukan keluarga Austeen lagi.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...



__ADS_2