
"Kamu yakin ini jalannya?" tanya Qiandra.
Tak disangka, menemukan jalan keluarnya ternyata tidak serumit memecahkan teka-teki saat akan masuk. Sebuah tuas yang terletak di salah satu sisi dinding, membuka pintu batu tersebut selebar empat puluh sentimeter.
"Memang lumayan sempit untuk dikatakan jalan keluar. Tapi kita coba aja," kata Mikko.
Kedua remaja itu merendahkan tubuhnya agar bisa melewati lorong sempit yang lebih mirip saluran air itu.
Dua puluh menit mereka habiskan untuk merangkak di dalam lorong tersebut. Mereka menemukan beberapa ruangan lain yang lebih kecil, namun kosong.
"Mikko, ini mirip sekali dengan ruangan tempat aku disekap dulu. Aku masih ingat, pintu keluarnya ada di sebelah kanan," ucap Qiandra ketika mereka memasuki ruangan ke empat.
Ruangan dengan tinggi dinding sekitar tiga meter itu buntu. Mereka nggak menemukan jalan lain selain yang ditunjuk Qiandra tadi. Lantainya basah dan berlumut.
"Ugh, bau banget," gumam Mikko dan Qiandra bersamaan.
Bau tidak sedap seperti comberan sangat menganggu penciuman.
Sesuai arahan Qiandra, Mikko pun mendorong dinding sebelah kanan, yang merupakan jalan keluarnya.
Srak!!! Butiran tanah berjatuhan.
"Ini sulit. Kita harus cari jalan lainnya," kata Mikko.
"Jalan mana lagi? Ruangan ini buntu," kata Qiandra. "Apa kita harus kembali ke ruangan yang kedua? Di situ tadi jalannya bercabang, kan?" lanjutnya.
Slap! Qiandra terpeleset. Kakinya menghantam sudut ruangan dengan keras.
"Iyyuuh... Kotor banget," ucap Qiandra jijik.
Akan tetapi hal itu malah membuka pintu lainnya, tepat di atas mereka. Mereka pun di sambut dengan ruangan serba putih bersih.
"Ini kan ruang make up mama?" ujar Qiandra dengan mata membulat.
"Apa kamu bilang? Jadi sedekat ini kamu di sekap dengan ruangan pribadi mama kamu? Keluarga yang aneh," kata Mikko.
"Aku juga nggak ngerti. Kenapa mereka kayak gini. Apa sih yang mau mereka sembunyikan dari aku," ucap Qiandra.
Mikko berusaha melempar tali ke atas, agar mereka bisa naik.
"Qian, apa di kamar ini ada CCTV?" bisik Mikko.
Qian menggelengkan kepalanya. Di ruang tertentu tidak di pasang CCTV, paling hanya di depan pintunya saja. Kamu takut kita ketahuan, ya?" ucap Qiandra.
Ia membantu Mikko untuk menyangkutkan tali ke handle pintu di atas sana.
"Berhasil! Kamu bisa memanjatnya, kan?" ucap Mikko.
__ADS_1
"Akan kucoba," ucap Qiandra.
Namun ternyata, tidak semudah itu mengangkat tubuhnya dan bergerak ke atas.
"Bantuin, dong. Dorong kek," ujar Qiandra kesal.
"Apa yang mau ku dorong?" balas Mikko bingung.
"Ya apa kek, bokong atau kaki gitu?" ujar Qiandra lagi sambil meringis kesakitan.
Telapak tangannya terasa pedih. Kulitnya memerah dan mulai terkelupas.
Dengan polos, Mikko mendorong bokong Qiandra dengan tangannya.
"Kyaa... Apa yang kamu lakukan?" teriak Qiandra.
"Lo, tadi kan kamu yang minta didorong."
"Ya tapi jangan bokong ju..."
Qiandra menghentikan kalimatnya. Ia baru teringat, kalau dia sendiri yang ngomong gitu tadi.
"Pijak bahuku," pinta Mikko.
"Apa? Nggak mau. Nanti bajumu kotor."
"Jangan pikirin itu. Yang penting kita bisa keluar dari sini," ucap Mikko. "Atau kamu mau aku mendorongmu lagi?"
Cukup sulit, namun Qiandra berhasil merangkak naik, yang kemudian diikuti oleh Mikko. Lantai putih itu pun berubah warna menjadi kecoklatan karena lumpur yang mereka bawa.
"Pertanyaan terakhir, bagaimana menutup pintu rahasia ini?" tanya Mikko.
Satu misteri lagi yang harus mereka pecahkan.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Sayang, apa kamu nggak khawatir sama Qiandra? Dia terus-terusan bermimpi aneh," ucap Chloe pada suaminya.
"Mimpi kan hal biasa, sayang," jawab Geffie santai.
"Tapi ini sudah melampaui batas. Belum lagi kasus dia menghilang ke ruang bawah tanah dulu, siapa pelakunya?" ujar Chloe.
"Aku sudah menyelediki semuanya, tetapi mereka benar-benar licin. Sama sekali tidak meninggalkan bukti," jawab Geffie tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.
Tidak seperti biasanya, malam ini mereka hanya pergi berdua, mengendarai mobil sendiri tanpa supir.
"Kalau penyebabnya sesuatu yang di luar nalar gimana?" rengek Chloe lagi.
__ADS_1
"Maksud kamu hal mistis seperti yang ibumu alami dulu?" Geffie balik bertanya.
Kali ini ia memutar bola matanya ke arah Chloe di sebelah kiri. Wanita cantik yang dinikahinya sembilan belas tahun lalu itu terlihat sangat khawatir.
Chloe mengangguk, "Nggak bisa dipungkiri, keluarga kami terkutuk. Oleh sebab itu mama dulu meninggalkan tanah kelahirannya," kata Chloe.
"Tapi apa kutukan itu terbukti? Tidak, kan? Ibumu meninggal karena tertular penyakit saat kalian di kapal. Berbulan-bulan di laut bukanlah hal yang mudah," bantah Geffie.
"Lalu bagaimana dengan kelahiran putri kita?" ucap Chloe.
"Itu juga sama. Mereka mengatakan bahwa putri kita mewarisi kutukan dari neneknya. Di usianya yang ke tujuh belas tahun ia dikatakan akan meninggal. Kalau tidak, ia akan terpisah jauh dari kita."
Geffie menjeda sejenak kalimatnya. Ia fokus melihat lampu lalu lintas yang baru saja berganti warna.
"Tapi apa yang terjadi? Putri kita masih aman dan sehat bersama kita. Padahal umurnya sudah tujuh belas tahun, dan sebentar lagi delapan belas," lanjut Geffie.
"Tapi aku tetap saja khawatir. Kita sudah susah payah menyimpan semua benda-benda itu di basement. Kita menjauhkannya dari kutukan yang diramalkan orang-orang, tapi ia malah terperangkap di sana, di sekitar barang-barang kutukan itu..." Chloe terlihat sangat kesal.
"Andai saja aku bisa membuang dan membakar semua benda itu," kata Chloe lagi. Matanya terlihat berkaca-kaca.
Menurut kepercayaan orang Sirnea, membakar benda pemilik kutukan, tidak bisa melenyapkan kutukan itu. Sihir akan tetap ada, sampai ada seseorang yang mampu membuka teka-tekinya.
Jika benda-benda itu dibakar, bukan hanya membuat kutukan itu menjadi abadi, tetapi juga melenyapkan petunjuk dari kutukan tersebut.
"Sayang... Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa." Geffie menggenggam tangan istrinya.
"Andai aku bisa percaya itu," bisik Chloe.
"Tapi, bukannya salah satu benda kutukan itu sudah kau berikan pada orang lain? Ku rasa sihirnya akan melemah," kata Geffie.
"Ah, benar juga. Aku pernah memberikan salah satu gelang mama pada Jennia." Chloe baru mengingatnya.
"Apakah kutukan itu akan berpindah padanya? Apa kamu sengaja memberikannya?" tanya Geffie.
"Tidak. Aku sama sekali tidak berniat seperti itu ketika memberikannya. Jennia adalah teman baikku," bantah Chloe.
"Dan sepertinya, keluarganya juga baik-baik saja. Ketiga anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sehat. Itu yang kuperhatikan selama ini," lanjut Chloe lagi.
Meski demikian, hatinya cukup was-was. Benarkah keluarga Jennia kebal dari benda kutukan tersebut?
Ia baru mengetahui fakta benda-benda itu setelah salah satu sahabat sang mama, Esthera, mengatakan pada Chloe dan ayahnya.
Dia adalah satu-satunya orang Sirnea yang percaya, bahwa Freya bukanlah penyihir seperti yang dituduhkan warga desa padanya.
"Sayang, kira-kira sekarang Nyonya Ester ada di mana, ya? Ada banyak sekali yang ingin kutanyakan padanya," gumam Chloe.
"Aku malah ragu, apakah dia masih hidup di usianya yang sudah sangat tua itu?" balas Geffie.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.