
"Saya tahu keberadaan Rania Putri. Dia ada di dasar terdalam Danau kota ini," ucap Rania.
Semua orang di ruangan itu tercengang mendengar kalimat Rania, termasuk Qiandra.
"Tapi sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, izinkan saya bertanya. Apakah semua orang di ruangan ini mengetahui identitas sebenarnya dari saya dan rekan saya Qiandra?" ucap Rania lagi.
Para hakim dan orang yang hadir di sana saling berpandangan karena bingung.
"Rania, kenapa kamu tanyakan itu?" bisik Qiandra di telinga Rania.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan saru hal," balas Rana dengan berbisik juga.
"Kenapa ditanyakan lagi? Semua orang pasti mengenal Edlyn Rania Austeen, sebagai putri tunggal konglomerat Geffie dan Chloe Austeen."
"Tadi kami bahkan sempat terkejut ketika kamu menggunakan nama Rania Putri yang telah dinyatakan tewas setahun yang lalu setelah menghilang satu bulan."
"Dan bukannya kamu juga, yang membeberkan semua fakta ini di kepolisian dan..." Hakim menghentikan kalimatnya ketika melihat berkas.
Nama yang tertera di Berita Acara Penyidikan dari kepolisian berbeda, bukan Rania Austeen.
"Ada apa sebenarnya ini? Bukankah putri Austeen hanya satu orang?" pikir Hakim Ketua.
"Terima kasih, Yang Mulia Hakim. Sesuai janji, saya akan memberitahu keberadaan Rania Putri."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Satu tahun yang lalu, SMA Internasional melakukan kegiatan perkemahan pramuka yang diadakan setiap tahun. Lebih dari tiga ratus siswa dari kelas satu dan dua, mengikuti acara itu.
Di malam terakhir perkemahan itu, akan dilakukan acara api unggun sekaligus menikmati suasana gerhana bulan total, yang cukup langka terjadi.
Secara kebetulan, gerhana bulan ini bersamaan dengan fenomena super moon, di mana ukuran bulan beberapa kali lipat lebih besar dari biasanya.
Namun sepertinya mereka semua melupakan satu hal. Secara astronomi, gerhana bulan yang disebabkan oleh posisi matahari bumi dan bulan yang berada di satu garis lurus, umumnya menimbulkan bencana alam.
Bencana alam itu bisa berupa gelombang pasang di laut atau pun cuaca yang tiba-tiba berubah. Tak terkecuali dengan malam itu. Ditambah lagi dengan super moon, yang jug menyebabkan gelombang pasang dan pertanda datangnya badai.
"Lihat, langitnya cantik sekali, berwarna pink begitu," ucap seorang siswa ketika sore hari.
"Hei, aku pernah baca di buku Fisika. Katanya kalau langit berwarna pink atau ungu gitu, pertanda datangnya bencana alam, lho," celetuk seorang siswa lainnya.
"Ah, masa sih? Mitos doang kali?" bantah yang lain.
__ADS_1
Sayangnya, tanda-tanda alam itu diabaikan oleh semua orang, termasuk para pembina pramuka dan juga pemantau cuaca di kota itu.
Malam hari, kegiatan api unggun berjalan dengan lancar. Semua orang bersuka cita dalam acara penutupan perkemahan ini.
Bulan purnama yang bersinar terang, di sertai cincin pelangi di sekitarnya, membuat suasana malam itu semakin indah.
Beberapa siswa kembali mengaitkannya dengan peristiwa bencana alam. Lagi-lagi diabaikan oleh semua orang. Karena sama sekali tidak ada tanda-tanda cuaca buruk malam itu.
Menjelang pukul sembilan malam, gerhana bulan mulai terjadi. Semua orang menyaksikan keelokan fenomena alam yang sangat langka itu.
Namun belum sampai lima menit, semuanya berubah. Awan gelap menutupi langit yang indah. Angin kencang meluluh lantakkan sebagian besar peralatan mereka.
Acara pun dibubarkan. Seluruh siswa dimint berkumpul di tenda masing-masing sampai cuaca kembali normal.
Sepuluh menit berlalu, cuaca menjadi sedikit lebih tenang. Rania Putri yang mendadak merasa sakit perut pun meminta izin ke toilet ditemani oleh Audrey.
Hup! Urrrrggghh...
Beberapa orang pria membekap tubuh Rania Putri dan menyeretnya ke suatu tempat. Rania Putri meronta meminta pertolongan. Namun, mulutnya yang disumbat oleh kain dan Audrey yang sudah berjalan lebih dulu, tidak mendengarnya.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membawa dia? Bukannya kalian hanya memintaku untuk memasukkan sesuatu ke dalam air minumnya?" protes Audrey di sebalik pohon pinus.
"Katakan padaku, siapa yang memerintahkan ini? Apakah Kepala Sekolah, atau orang tuaku? Apa tujuan kalian?" tanya Audrey.
Matanya menatap liar ke sekeliling hutan pinus untuk melacak keberadaan Rania Putri. Namun cuaca yang buruk dan sangat gelap, ia tidak bisa melihat apa pun.
"Lari Audrey, lari! Sebelum mereka melihatmu bersamaku di sini. Kamu harus pura-pura menghilang agar tidak dicurigai!"
"Aku pasti akan menyesali ini, Pak Reihan."
Audrey pun menghilang di tengah kegelapan malam. Ia berjalan tanpa arah mencari keberadaan Rania Putri. Rasa takutnya akan kegelapan dikalahkan oleh besarnya penyesalan dalam dirinya.
Shhh... Jeder!!!
Kilat menyambar kuat, menunjukkan sinarnya yang begitu terang. Angin bertiup semakin kencang, seperti akan mencabut semua akar pohon dari permukaan bumi.
Grusak!
Rania Putri akhirnya bisa melepaskan diri dari para penculik itu. Ia menggigit lengan san menendang bagian vital pria-pria itu lalu berlari sekencang-kencangnya menjauhi mereka.
"Siapa mereka? Mengapa mereka menyeretku? Bagaimana dengan Audrey?" pikir Rania sambil terus berlari.
__ADS_1
Cuaca yang semakin tak karuan membuat Rania Putri kehilangan arah menuju perkemahan. Ia tidak bisa melihat bintang sebagai petunjuk arah. Lampu-lampu perkemahan pun tidak terlihat sama sekali.
"Berhenti kau wanita jal*ng!" Sayup-sayup Rania mendengar suara itu di belakangnya.
"Gawat! Sepertinya aku salah jalan," batin Rania. Jalan yang ia lalui semakin semak dan berduri. Dalam hati ia terus berdoa, agar bisa selamat.
Ctarrrr!!! Petir kembali menyambar. Namun hal itu malah sedikit menguntungkan Rania. Ia bisa melihat jalan aspal dari balik semak berduri.
"Dengan mengikuti jalan ini, aku bisa kembali ke perkemahan," pikirnya.
Sebuah mobil melaju kencang. Rania berdiri di tepu jalan dan melambaikan tangan.
Brakkk!!!
Naas, bukannya ditolong, mobil itu malah sengaja menabraknya dengan kencang hingga terluka parah. Darah mengucur dari kepala dan telinganya.
"To-long a-ku," ucap Rania Putri di tengah kesadarannya yang semakin memudar.
Hujan mulai turun dengan sangat deras. Rania tidak bisa mendengar percakapan mereka lagi. Tapi hatinya tak henti berdoa.
Sayangnya kesialan dia tidak berhenti sampai di situ. Pasangan mabuk itu membungkus Rania yang masih bernapas dengan beberapa lembar kain, lalu mengikatnya dengan beberapa onderdil mobil.
"A-ku ma-sih hi-dup. To-long..." Rania Putri berusaha terus bicara agar mereka melepaskan dirinya.
Di dalam balutan kain, Rania bisa merasakan kedua pasangan itu memasukkannya ke dalam mobil. Dan membawanya ke suatu tempat.
Byur...!!!!
Rania Putri yang masih memiliki kesadaran, dibuang ke dalam air. Tubuhnya semakin lama semakin tenggelam. Ia sama sekali tak bisa melepaskan dirinya, karena tubuhnya diikat erat.
Hup... Hup...
Napasnya semakin sesak. Rongga tubuhnya dimasuki oleh air. Perlahan-lahan, Rania Putri pun kehilangan kesadaran hingga nyawanya.
(Bersambung)
***Fun Fact!
Fenomena alam cantik yang sangat indah menyebabkan bencana alam bukanlah mitos. Dalam ilmu fisika, astronomi dan meteorologi, fenomena alam yang cantik itu adalah suatu pertanda bahwa alam sedang tidak baik-baik saja, dan akan segera datang bencana alam.
Beberapa tahun lalu di Jepang, terdapat fenomen langit pink yang sangat cantik. Beberapa jam setelah itu datang badai dahsyat yang meluluhlantakkan sebagian Jepang**.
(Dari berbagai sumber*.)
__ADS_1