Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 44 - Oh, jadi begitu...


__ADS_3

"Bu, nanti selesai mengepel lantai Rania pulang duluan, ya," ucap Rania.


"Oh... Ya sudah. Gak apa-apa. Lagi banyak tugas sekolah, ya?" balas Ibu sambil mengupas bawang merah.


"Iya, Bu. Ada tugas yang harus dikumpulkan besok. Rania mendapat dispensasi karena waktu itu sakit," jawab Rania.


"Kalau begitu, pulang aja sekarang. Yang lain biar Ibu yang selesaikan. Emm... Ibu bukan mengusir loh ya..." kata ibu tanpa menoleh lagi.


"Tidak, Bu. Pekerjaan Ibu hari ini sudah cukup banyak karena membereskan sisa acara Tuan tadi malam. Dan Livy juga tidak bisa datang karena ada les tambahan," kata Rania. Ia benar-benar tak enak hati pada ibu yang telah menyayanginya dan merawatnya itu.


"Nggak apa-apa, Nak. Tugas utama kalian itu sekolah. Justru seharusnya Ibu tidak boleh mengajak kalian ke sini setelah seharian lelah belajar," kata Ibu. Ia menghentikan pekerjaannya, dan menatap putrinya lekat-lekat.


"Hmm... Pokoknya Ibu jangan khawatir. Aku kan pintar. Pasti bisa menyelesaikan tugas dengan cepat. Aku harus segera menggulung karpet-karpet ini lalu mengepel," ucap Rania tak mau mengalah.


"Ya... Ya... Terserah kamu saja. Anak Ibu kan memang pintar dan berbakti semua," sahut Ibu sambil terkekeh. Tidak ada yang bisa mengalahkan keras kepalanya Rania, selain ayahnya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Fiiuhhh... Selesai juga menggulung karpet-karpet ini. Aku baru tahu, kalau menggulung karpet saja butuh tenaga yang besar," gumam Rania sambil mengusap telapak tangannya yang lecet dan sedikit perih. Tangannya yang lembut, sejak kecil sama sekali tak pernah memegang pekerjaan berat.


"Duh, gak boleh manja, Rania," celetuk Rania pada dirinya sendiri.


Setelah mengumpulkan tenaga dan semangat yang hampir pudar, ia melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai.


"Apa lagi yang kamu ingat selain sosok menyeramkan itu?" terdengar suara Mikko sedang mengobrol. Langkah Rania otomatis berhenti di depan ruang olahraga itu.


Salah satu ruangan favorit Mikko di rumah itu adalah ruang olahraga yang terletak di lantai satu, tengah-tengah bangunan tersebut. Ruangan semi terbuka tersebut selalu mengingatkan Rania pada kamarnya dulu yang langsung menuju ke taman.


Tetapi, bukan itu yang dipermasalahkannya sekarang. Ia mendengar suara wanita yang sangat familiar di telinganya.


"Qiandra? Mikko mengajak Qiandra ke rumah?" batin Rania sambil mempertajam indra pendengarannya.


"Ah, bukan. Mikko menelepon Qian. Lebih tepatnya video call," batin Rania lagi.

__ADS_1


Sekilas, ia bisa melihat Mikko menatap layar ponsel sambil mengobrol. Rasa penarasan Rania yang terus meningkat, membuatnya ingin terus menguping di situ. Akan tetapi, bisa saja sewaktu-waktu Mikko memergoknya, kan?


"Ah, aku ada ide," gumamnya berhati-hati.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Loh, udah selesai mengepel ruang keluarga dan ruang tamu?" tanya ibu.


"Belum, Bu. Tetapi Mikko sekarang lagi butuh privasi. Aku tak ingin mengganggunya," jawab Rania setengah berbisik.


"Maksudnya?" tanya ibu bingung.


"Mikko sedang menelepon seorang cewek. Jika aku berada di ruang keluarga, maka aku bisa mendengar mereka dengan jelas. Aku tak ingin disangka sedang menguping," ucap Rania pelan. Suaranya hampir mendekati 20 Hz saking pelannya.


"Oh, gitu..." balas ibu sambil berbisik juga. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.


"Duh, apa sih yang dipikirkan Ibu? Gak mungkin kan ibu menyangka ia telepon sama pacar?" kesal Rania. Tapi kenapa ia merasa kesal, ya?


"Aku akan mengepel ruangan lain dulu sembari menunggu ia selesai menelepon," kata Rania, disambut anggukan kepala ibunya.


"Pantas Rania kemarin gak semangat mulu, rupanya Mikko punya teman dekat perempuan lainnya," pikir Ibu.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Huftt... Untung saja berhasil. Aku pikir bakal kepergok Mikko tadi. Bisa berabe urusannya," gumam Rania sambil membuka galeri ponselnya.


Rania kini telah di rumah. Ia baru saja selesai mengerjakan tugas dari Pak Rayhan. Saat sendirian begini waktu paling pas untuk mengecek hasil rencananya tadi.


"Aku ingat semua yang terjadi malam itu, mulai dari ketemua sama pelayan yang ternyata udah meninggal, rumah yang sangat sepi, sampai aku tersesat di rumah sendiri. Udah kayak labirin tau nggak?"


"Serem banget itu. Kamu udah kayak tersesat di alam lain. Kayak ada misterious door yang membuat kamu masuk ke dalam alam itu."


"Ih, iya. Bener banget. Dan wajahnya Rania itu, lho. Kayak mayat hidup. Dia minta pertanggung jawaban orang tuaku atas kematiannya. Aneh banget gak sih? Jelas-jelas dia masih hidup."

__ADS_1


"Tapi kenapa kejadiannya pas banget sama bulan purnama waktu itu, ya? Kata Livy, malam itu Rania begadang. Terus-terusan menatap ke langit kayak lagi nungguin sesuatu gitu."


"Jangan-jangan itu waktu dia lagi 'ngerjain' aku?"


"Aku jadi curiga gitu juga, sih. Waktunya pas banget saat kamu mengalami itu. Terus, gimana kelanjutannya ruang bawah tanah itu?"


"Haaah... Itu lagi... Orang tuaku seperti menutup-nutupi sesuatu tentang ruang bawah tanah. Mereka bilang, aku bisa berada di sana karena ada yang mau culik aku. Anehnya lagi, aku gak nemuin tuh pintu yang aku masukin malam itu. Satu-satunya jalan masuk ya dari taman yang dibongkar itu."


"Mungkin gak, sih? Rania punya kembaran, terus orang tua kamu membunuhnya dan menyimpan jasadnya di ruang bawah tanah itu?"


"Dih... Serem banget kalau itu beneran. Tapi kamu kan udah kenal lama sama Rania. Emangnya dia punya kembaran?


"Nggak, sih. Yang aku tau, dia punya abang dan satu adek perempuan. Tapi ya mana kita tahu, kan?"


Rania membuka dan mendengarkan rekaman telepon Mikko dengan Qiandra. Dan ternyata, inilah pembicaraan mereka.


"Jadi saat super blue blood moon itu beneran terjadi sesuatu? Tetapi bukan sama aku, melainkan Qiandra. Ini semakin memperjelas, kalau ada sesuatu yang gak beres," gumam Rania.


Siang tadi, dengan hati-hati, ia meletakkan ponselnya di antara pot bunga di ruang keluarga, yang berbatasan langsung dengan ruang olahraga. Tak lupa ia menekan tombol recorder di ponselnya. Lima belas menit kemudian, ia pun kembali untuk mengeceknya sambil mengepel lantai.


Rencananya tak sia-sia. Ia mendapatkan informasi penting yang mengisi salah satu lubang puzzlenya. Untuk sekarang, ia harus lebih waspada. Namun tetap pura-pura tak tau apa-apa di depan mereka.


Niatnya untuk memberitahu anomali ini pada Mikko dan Qiandra ini pun batal. Rania takut, jika mereka justru berbalik semakin mencurigainya. Ia harus mencari dalang atau pun penyebab keanehan ini seorang diri.


"Eh, tunggu. Qiandra yang jutek gitu sampai mau berbagi cerita pada Mikko, artinya mereka beneran pacaran?" pekik Rania ketika menyadarinya.


Rania mematut dirinya di cermin. Yah... jika dilihat keadaannya sekarang, wajar jika Mikko lebih memilih Qiandra yang super model itu dari pada dirinya yang hanya anak pembantu, kan?


Uh, keingin Rania untuk kembali hidup normal seperti dulu sudah tak terbendung lagi.


(Bersambung)


Tetima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...

__ADS_1


__ADS_2