Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 111 - Jebakan


__ADS_3

"Ayo masuk. Aku sudah bawa senter untuk penerangan kita," ajak Qiandra.


"Kau lah duluan. Aku tak tahu jalan," kilah Rania. Padahal ia hanya menutupi rasa takut dan khawatirnya.


"Yaudah. Aku duluan nih."


Tanpa ragu, Qiandra menjejakkan kakinya di anak tangga itu. Rania pun mengikutinya.


"Huh, habis kau Rania! Selamat tinggal," batin Qiandra sambil tersenyum tipis.


"Uhuk-uhuk! Qian, kok banyak debu gini, sih? Kamu yakin gak bakal tersesat nih? Kita cari apa sih di sini? Uhuk-uhuk!" tanya Rania sambil terbatuk-batuk.


Debu dan sarang laba-laba yang menyelimuti seluruh ruangan itu membuat saluran pernapasan Rania sangat terganggu.


"Aku cuma mau menunjukkan seluruh isi rumah ini padamu. Selama ini kamu nggak pernah tahu soal ini, kan?" kata Qiandra.


Sulit dipercaya Rania, jika orang tuanya membangun konstruksi rumah sedemikian rumit dan menyimpan banyak misteri. Untuk apa coba?


Berbekal denah rumah yang diberikan Pak Yahya, Qiandra mengajak Rania berkeliling seluruh ruang bawah tanah.


Ia pun beberapa kali menghindari CCTV yang dipasang oleh para penyusup menuju ruang produksi narkoba, yang kini telah disegel polisi.


Para penyusup itu memang telah menjamah ruang bawah tanah rumah mewah Austeen, tapi hanya sekitar 15% yang sanggup mereka jelajahi.


Kerumitan ruang tersebut, ditambah lagi banyaknya teka-teki untuk membuka satu pintu dengan pintu lainnya, membuat mereka tidak bisa menyelidiki seluruh ruangan labirin raksasa tersebut.


Meski sudah lebih PD dari pada saat ia pergi bersama Mikko, hati Qiandra tetap merasa takut dan sedikit cemas. Makam sang nenek, Frya Radmila, masih belum diketahui pasti letaknya. Pak Yahya tidak memberitahunya soal itu.


"Wah... Luar biasa... Siapa yang menciptakan teka-teki serumit ini? Di mana pintu keluarnya?" ucap Rania.


"Ada banyak pintu keluar di sini. Beberapa diantaranya, halaman belakang taman buah, ruang make up mama dan apartemen Zumstein," jawab Qiandra.


"Kenapa kamu bisa tahu semua ini?" tanya Rania.


"Yah... Anggap saja karena aku sudah berulang kali terjebak di sini. Entah bagaimana, seseorang atau sesosok makhluk menyekapku di sini."


"Oh!" Rania membuka mulutnya dengan lebar.


Sekejab ia merasa takjub dan kagum dengan konstruksi rumah ini. Namun sesaat kemudian Rania kembali merasa takut melihat semua keanehan yang ada, terutama setelah mendengar cerita dari Qiandra.


"Ru-ruangan apa ini?" Bulu kuduk Rania berdiri semua saat melihat peti-peti mati tersusun di ruangan itu.


"Apa kamu tahu, di mana makam nenek?" tanya Qiandra.


"Di pemakaman umum Cendana," jawab Rania dengan yakin.

__ADS_1


"Em... Em..." Qiandra menggelengkan kepalanya. "Makam yang di sana hanya makam kosong sebagai simbol, untuk para peziarah yang datang," kata Qiandra.


"Siapa yang bilang? Ja-jadi maksudmu?"


Wajah Rania semakin pucat. Kakinya melemah. Ia berharap apa yang ada di kepalanya saat ini tidaklah benar.


"Ya, belasan tahun yang lalu jasad nenek dipindahkan ke salah satu peti-peti ini. Karena menurut kepercayaan, ilmu hitam nenek harus disegel menggunakan mantra tertentu, agar tidak kembali melukai orang lain," jelas Qiandra.


"Jadi kamu sudah percaya, kalau yang terjadi pada kita itu karena pengaruh sihir?" ucap Rania.


"Yah, mau nggak mau, sepertinya aku harus percaya," kata Qiandra.


Remaja tujuh belas tahun itu duduk di atas salah satu batu. Ia menyalakan lilin yang dulu ia temukan bersama Mikko. Aroma lavender langsung memenuhi seluruh ruangan.


"Beberapa hari yang lalu, aku menyelidiki asal usulmu, Sania dan juga aku sendiri. Aku sempat menyangka, kalau Sania adalah anak dari Fania yang selama ini ia sembunyikan," ucap Qiandra.


"Heh? Kenapa kau bisa berpikir sampai begitu?" sela Rania.


"Wajar saja. Salah seorang asisten kepercayaanku justru terlibat dalam masalah ini. Tetapi pada akhirnya semua dugaanku terbantah. Sania memiliki dokumen resmi adopsi dari panti asuhan yang berada di bawah yayasan mama. Tapi soal kita berdua nihil."


"Yah... Aku sendiri baru tahu kalau ternyata dia dari panti asuhan. Selama ini dia selalu menyimpan rapat identitasnya," ucap Rania.


Rania berjalan beberapa langkah ke belakang. Ia merasa sedikit pusing. Apa ini karena bau lavender atau jamur-jamur yang menyebarkan sporanya dan menimbulkan efek halusinasi?"


"Ah... Itu... Orang tuamu..." Rania memegang kepalanya yang semakin pusing.


Drak! Tanpa sengaja Rania menyenggol tumpukan buku di sudut ruangan.


"Rania... A-"


Terlambat. Belum sempat Qiandra menyelesaikan kalimatnya, Rania telah terjatuh ke dalam jebakan. Rupanya tumpukan buku itu hanyalah kamuflase untuk membuka kunci jebakan itu.


"Qian! Apa yang terjadi! Tolong aku! Di sini sesak dan becek..."


Tidak ada jawaban dari Qiandra.


"Qian...! Qian! Kyaaa!!! Ular...!!!"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Pagi manis... Gimana tidurnya tadi malam? 😘"


"Kok belum di balas juga, sih? Padahal aku mengirimnya jam enam tadi.


Mikko bolak-balik melihat HPnya dengan gusar.

__ADS_1


"Apa Rania belum bangun, ya? Ini kan sudah jam sembilan. Jarang sekali Rania tidur hingga siang hari," pikir Mikko.


"Hei, Rania," tulis Mikko lagi.


Hingga sepuluh menit kemudian, belum juga ada balasan.


"Apa Rania sengaja menghindariku karena tadi malam, ya?" pikir Mikko bingung.


"Eh, tapi wassapnya memang tidak aktif sejak malam. Apa jangan-jangan dia emang kesiangan?"


Tuuut... Ckelek...


"Halo, Bang Mikko."


"Halo, Livy. Apa Rania sudah bangun?" tanya Mikko tanpa basa basi.


"Eh, Kak Rania? Kakak menginap di rumah Kak Qiandra tadi malam," jawab Livy.


"Menginap di sana? Kenapa?"


"Tidak tahu. Tadi malam Kak Qian meminta izin pada ibu untuk mengajak Kak Rania ke rumahnya. Memangnya ada apa, ya?"


"Ah, tidak apa-apa. Abang hanya ada perlu tapi WAnya gak di balas-balas," kata Mikko.


Setelah menutup telepin, Mikko langsung melihat kalender. Bersamaan dengan itu, dia berulang kali menelepon Qiandra dan juga Rania. Tak satu pun dari mereka yang mengangkatnya.


"Gawat! Ini gawat. Tadi malam adalah bulan purnama. Aku harus mengecek langsung mereka ke rumahnya."


Mikko mengambil jaket dan kunci sepeda motor.


"Pa, aku pergi dulu," seru Mikko sambil berlari menuruni anak tangga.


"Kamu mau ke mana? Nggak jadi temani Papa pangkas rambut?" tanya Tuan Walandou.


"Nanti sore aku akan temani Papa. Sekarang aku harus pergi dulu, ada yang lebih penting," seru Mikko.


Tling! Sebuah pesan masuk ke ponsel Rania.


"Hai Rania, ini Audrey. Aku baru ingat satu hal, jika memang yang terjadi padamu karena sihir dan ilmu hitam, artinya kamu juga harus berhati-hati dengan Qiandra."


"Bisa jadi dia adalah kunci dari penyelesaian masalah tersebut atau sebaliknya, penyebab masalah itu sendiri," tulis Audrey.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...

__ADS_1


__ADS_2