Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 56 - Mengungkap Rahasia


__ADS_3

"Rania, kamu kenapa sih dari tadi cariin teman-teman lama semua? Kamu maaf-maafan sama mereka? Kamu gak apa-apa, kan? Aku juga udah maafin kamu, kok. Oh iya, semua hutang-hutang kamu aku anggap lunas semua," cerocos Alvi.


"Maaf-maafan? Kamu pikir aku mau pergi selamanya? Lagian aku kan emang gak punya hutang sama kamu," sahut Rania.


"Ya terus kenapa, dong? Aku kan khawatir," jawab Alvi.


"Iya, nih. Walaupun aku nggak overthinking kayak Alvi, tapi aku juga penasaran. Kamu sebenarnya kenapa, sih?" timpal Anjani. Gadis itu beberapa kali hampir menabrak tiang, karena keasyikan main HP sambil berjalan


"Kalau Rania yang kalian kenal sekarang, bukanlah Rania yang dulu gimana?"


"Nah, pertanyaan itu lagi. Emang ada berapa Rania diangkatan kita?" sahut Anjani. Kali ini ia menyimpan HPnya ke saku rok.


"Yah, mana kita tahu, kan? Makanya aku perlu cari bukti."


Langkah Rania melambat. Lehernya berputar ke kiri dan ke kanan mencari seseorang.


"Itu Mira," seru Alvi.


"Hai Al, tumben main sini," sapa Mira. Gadis chubby tersebut terlihat sibuk melipat-lipat kertas origami.


Rania dan Anjani benar-benar salut. Teman mereka yang sedikit lemah dalam pelajaran, justru memiliki banyak teman dari berbagai kasta.


"Nih, Rania katanya mau jumpa kamu," jawab Alvi.


"Oh, apaan tuh?"


"Hmm... Kamu lagi sibuk, nggak?" tanya Rania ragu. Matanya fokus pada kertas warna-warni yang berserakan di atas meja.


"Nggak, kok. Ini cuma isi waktu luang aja."


Nurmairanti alias Mira menarik beberapa kursi untuk ketiga gadis tersebut.


Tak jauh berbeda dengan di kelas IPS tadi, ia pun menceritakan semua rahasianya dengan hati-hati. Ia juga menceritakan mimpi-mimpinya selama ini.


"Daebak! Ada ya kejadian gini di dunia nyata. Udah kayak film aja," celetuk Alvi.


"Bener, nih. Jadi intinya, kamu tahu semua tentang keluarga Austeen, dan sangat tidak mengenal keluargamu yang sekarang," komentar Mira.


"Ya, gitu deh."


"Maaf, ya. Selama ini ku pikir kamu jadi sombong, karena udah dapat teman baru," lanjut Mira.


"It's oke. Tapi berikutnya aku bakal banyak butuh bantuan kalian, nih. Terutama untuk cari bukti-buktinya," ujar Rania.

__ADS_1


"Tenang aja. Kami pasti bakal bantuin, kok," ucap para gadis berbarengan.


"Kalau soal kejadian waktu itu, Audrey mengajakmu ke toilet karena ia kebelet. Nah, yang anehnya, kenapa kalian bisa hilang sejauh itu dari camp. Padahal letak toilet umum dengan camp itu cukup dekat, lho," cerita Mira.


"Apa benar, setelah Audrey ditemukan, pencarian dihentikan?" tanya Rania.


"Ya, benar. Itu atas permintaan kepala sekolah dan orang tua Audrey," jawab Mira.


"Lho, bukannya Tim SAR yang meminta pencarian dihentikan?" Rania masih belum puas bertanya.


"Nggak, kok. Tim SAR hanya mengikuti arahan saja," jawab Mira yakin.


"Apa kepala sekolah dan orang tua Audrey berperan besar dalam kasus hilangnya kamu... Eh, Rania Putri?" celetuk Anjani.


"Nah, aku juga berpikiran sama dengan kamu? Tetapi kenapa yang muncul dalam mimpiku justru orang tua Qiandra, ya?" ucap Rania bingung.


"Iya juga, ya? Kenapa justru Qiandra yang bertukar tempat denganmu?" Mira dan Anjani ikut-ikutan bingung.


"Kalau Rania memang ada dua, tentu ada jejak catatan yang tertinggal di sekolah ini, meski semua data tentang Rania Austeen menghilang di dunia maya. Nah, karena kamu sekarang menempati posisinya Rania Putri, pasti ada sesuatu hal yang membuat kalian terhubung. Entah kalian sebenarnya kembar yang terpisah dari kecil, atau ada benda khusus yang berkekuatan mistis." Alvi mengungkapkan analisisnya.


"Cerdas," batin Rania, Mira dan Anjani.


Mereka kagum pada hasil analisis Alvi, yang rata-rata nilai ujiannya tidak pernah lebih dari delapan. Kenapa mereka tidak berpikir ke sana sejak awal, ya?


"Aku sudah mengecek TKP dan tidak menemukan apa pun. Terus untuk mengakses database, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang," ujar Rania sambil mengingat-ingat.


"Tapi waktu aku pernah melihat dataku sendiri di buku siswa, anehnya semua dataku di keluarga baru ini lengkap. Termasuk akta kelahiran dan kartu keluarga," lanjut Rania lagi.


"Susah juga ya kalau begini," gumam Anjani.


"Hei, gimana kalau kita mulai dari pembina osis dulu. Karena hanya beliau yang memberikan pernyataan berbeda dengan guru lainnya," saran Alvi.


"Benar juga," ujar Rania dengan mata berbinar.


"Tapi guys, ke mana lenyapnya Rania Putri yang asli? Kenapa tidak ada satu pun yang mengingatnya, apalagi menemukan keberadaanya?" ucap Mira tiba-tiba.


Mereka berempat lalu saling bertukar pandang. Sama-sama tidak tahu jawabannya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Hmm... Ngapain, ya? Ibu bilang hari ini tidak perlu ke rumah Mikko. Janjian dengan Kak Ringga juga ditunda karena dia sibuk. Sayang banget kalau langsung pulang," gumam Rania.


Sudah lebih dari lima angkot berhenti di depannya, tapi lagi-lagi Rania menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Suasana sekolah juga sudah mulai sepi. Hanya tinggal beberapa siswa yang ada kegiatan tambahan saja.


"Ah, benar juga. Aku ke sana saja." Wajah Rania tiba-tiba berubah cerah.


Hanya berbekal air minum, sepatu olahraga dan jaket, Rania langsung menuju ke lokasi tujuan. Ya, ke mana lagi kalau bukan ke danau.


Tapi kali ini ia masuk menggunakan tiket, jadi kalau nanti terjadi apa-apa pada dirinya, petugas danau akan datang mencarinya.


"Kita tutup jam lima sore ya, dek," ucap pengelola danau sambil menyerahkan tiket.


"Baik, terima kasih."


Hahhh... Ternyata datang ke sini benar-benar memanjakan tubuh banget. Udara sore hari yang sejuk disertai terpaan sinar matahari yang tidak terlalu menyengat, membuat serotonin dalam tubuhnya bekerja dengan baik.


Langit yang berwarna biru, terbentang luas tanpa tepi. Disertai hembusan angin sepoi-sepoi. Hmm... Otak Rania benar-benar santai.


Eh, tapi tunggu dulu. Tujuan utamanya datang kemari bukan hanya itu.


Rania mengeluarkan mini detektor yang dirakitnya sendiri beberapa hari yang laludi laboratorium fisika. Tak disangka, ia akan menggunakannya secepat ini.


Perlahan tapi pasti, Rania kembali menapak tilas jejak lokasi perkemahan dan tepi danau. Setiap sentimeter ia periksa dengan cermat.


"Duh, apa sih yang kamu pikirkan Rania? Sudah hamoir satu tahun berlalu sejak kejadian itu. Tentu sangat kecil kemungkinan menemukan barang bukti," ucapnya pada diri sendiri.


Meski demikian Rania tetap tidak menyerah. Ia terus melangkah hingga tanpa disadari telah melewati batas area wisata dan memasuki kawasan hutan lebat.


Srek... Srek... Srek...


"Suara apa itu? Bukan hewan liar, kan?"


Rania menajamkan indra pendengarannya. Kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Akan tetapi indra penglihatannya belum menangkap yang menyebabkan suara barusan.


"Srak... Srak..." Suara itu terdengar lagi.


Kaki Rania melemah. Saat ini ia benar-benar menyesali kebodohannya, yang nekat pergi seorang diri ke tengah hutan.


"Sst... Aduh!" Terdengar suara rintihan seperti orang sakit.


"Eh, suara perempuan?" Rania memberanikan diri mendekati sumber suara.


"Ini beneran manusia, atau makhluk dari dimensi lain?" Rania bergidik ngeri.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2