
"Hih...! Apaan, Nih? Sepertinya peta rumah ini gak lengkap, deh. Apa dia takut ketahuan papa?" kesal Qiandra. Di situ tidak terdapat ruang bawah tanah dan beberapa ruangan di lantai tiga.
"Padahal ruang galeri mama dan ruang kendali, aku tahu banget. Tetapi di sini nggak digambar." Sambil mengemil anggur, ia perhatikan lagi denah rumah tersebut dengan teliti.
"Jadi rumah ini punya lebih dari tiga puluh ruangan? Itu belum termasuk gudang dan garasi. Lebih mirip kastil dong, ketimbang rumah. Kok aku baru tahu, ya?" pikir Qiandra.
Bukan hanya rumahnya yang cukup besar. Taman dan kebun di rumahnya juga sangat luas dengan tema tertentu, sesuai jenis tanamannya.
Qiandra kemarin ditemukan melalui pintu yang terhubung di bawah taman buah tropis.
Tidak menutup kemungkinan bakal ada jalan tersembuyi lainnya juga.
Tok... tok... tok...
"Masuk," seru Qiandra.
"Anu.. sa-saya membawa kasur, Nona," ucap Sania bersama beberapa asisten rumah tangga.
"Hmm... Okay. Taruh saja di situ," gumam Qiandra sambil menunjuk lantai di samping lemari. Kamarnya terlalu luas untuk ia huni seorang diri.
"Sa-saya tidur di sini ya, Nona," ucap Sania canggung. Selama ini nona mudanya lah yang sering tidur di kamarnya, namun ia ke kamar majikannya tersebut hanya jika menjalankan tugasnya saja. Yang saat ini termasuk menjalankan tugas atau tidak, ya? Kan nona mudanya yang meminta?
"Hmm...," jawab Qiandra cuek. Padahal dirinya pengen teriak histeris melihat Sania. Wanita yang selalu rerkesan rapi dan profesional itu, kini menghadap Qiandra dalam tampilan lain.
Tak perlu waktu lama, tempat untuk tidur nyaman pun selesai. Lengkap dengan selimut tebal pencegah udara menusuk dari mesin pendingin ruangan.
"Se-selamat tidur, Nona," ucap Sania.
"Ya, selamat tidur," balas Qiandra datar.
Padahal di dalam hatinya kini sedang riang. Ia baru pertama kalinya melihat asisten pribadinya tersebut menggunakan baju santai, terutama piyama tidur.
"Sania itu aslinya cantik banget, kalau nggak lagi ngomelin aku. Kenapa dia nggak jadian aja ya sama Felix? Gemes lihat mereka berdua," gumam Qiandra.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Matanya memandang langit-langit yang bertabur bintang berkilauan.
"Sejak kapan ya aku suka astronomi begini? Kenapa banyak sekali perbedaan hidupku sekarang? Apa aku mulai puber?" batinnya.
Meski demikian, malam ini ia cukup senang. Ini pertama kalinya ia tidur bersama seseorang. "Apakah seperti ini rasanya tidur bareng teman? Kenapa aku dulu selalu merasa kesepian, ya?"
Pikiran putri Austeen tersebut tidak beristirahat, hingga ia benar-benar terlelap dalam mimpinya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
__ADS_1
"Qian, kamu gak apa-apa? Katanya kamu tersesat di rumah sendiri?" tanya beberapa teman sesampainya ia di sekolah.
"Eh, tersesat? Bukannya ia terkunci di salah satu kamar mandi hingga pingsan?" ucap yang lainnya lagi.
"Hisss... Kenapa beritanya udah sampai di sekolah, sih? Aneh-aneh lagi. Padahal mama dan papa bilang, beritanya sudah diredam. Kenapa masih bocor juga kayak atap rumah pas musim hujan?" keluh Qiandra. Ia mendesis kesal sepanjang jalan menuju ke kelasnya.
Berbagai pertanyaan yang dilempar padanya, tidak ada yang dijawab. Toh, seisi sekolah juga pada udah tahu kalau dirinya bukan cewek ramah.
"Ahhh!!!" pekik Qiandra ketika berpapasan di pintu dengan Rania.
"Hei, kamu gak apa-apa?" ujar Rania dan beberapa teman lainnya dengan cemas.
Gadis supermodel berambut pirang itu meringkuk di depan pintu dengan tubuh gemetaran.
"Uh." Qiandra malu sekali ketika menyadarinya. "A-aku gapapa. Cuma ka-get aja," katanya terbata-bata.
Tetapi ternyata bukan hanya sekali ini saja. Ia selalu memalingkan wajah ketika tak sengaja bertatapan dengan Rania. Tangannya juga selalu saling mengenggam dan gemetar ketika berpapasan dengan Rania.
Wajah rekannya yang seperti mayat hidup malam kemarin sangat membekas di ingatannya.
"Qiandra kenapa, sih? kayak lihat hantu aja. Dari kemaren juga nanyain aku," batin Rania aneh.
"Huh, lihat tuh! Dia baik-baik aja, seperti kata Nurul kemarin," kesal Qiandra saat jam istirahat pertama.
"Kantin, yuk!" ajak Dewi.
"Duluan aja. Aku lagi ada urusan," tolak Qiandra. Matanya melanglang buana ke seantero kelas. Mencari cewek yang dicurigainya tersebut.
"Rania!" ucap Qiandra memberanikan diri. Ia menyembunyikan tangannya yang gemetar di dalam saku rok.
"Apa?" balas Rania sambil dengan santai.
"Gennie kirim salam. Ia rindu padamu." Matanya mendelik tajam pada cewek dihadapannya.
"Ge-gennie?" ulang Rania.
"Hu'um. Ia masih menggunakan pita biru yang kamu berikan saat ia ulang tahun."
"Gak mungkin dia bertemu dengan Gennie? Gimana pula mereka saling kenal?" pikir Rania.
"Dari reaksimu, sepertinya sangat mengenal Gennie, ya?" selidik Qiandra.
"Bu-bukan. Aku baru mau tanya Gennie itu siapa?" jawab Rania. Ia berusaha mengendalikan suasana.
__ADS_1
"Oh, gitu."
Rania lega mendengar jawaban Qiandra. Jangan sampai Qiandra membuka kedoknya sebelum semuanya jelas.
"Orang lain pasti akan dengan mudah percaya begitu saja dengan ucapanmu barusan. Tetapi aku terlalu cerdas untuk dikelabui olehmu," tegas Qiandra. "Wajahmu mengatakan semuanya, Rania," lanjutnya lagi.
Dada Rania terasa sesak. Ia memang ingin Qiandra mengetahui kebenarannya. Tetapi bukan pula dengan cara begini.
"Huh, kamu pikir aku bakal lengah dan takut? Aku tahu kamu mengambil buku Vodoo waktu itu di perpus," batin Qiandra.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Hiks... capek banget? Dia mau ke mana, sih? Jangan-jangan mau buat ritual," gumam Qiandra. Sejak istirahat kedua tadi, ia mengikuti dan menyelidiki Rania diam-diam.
Sebelumnya ia mengikuti Rania hingga ke ruang guru, gedung olahraga, kantin akhirnya sampai saat ini.
"Gil*! Ini anak tangga ke berapa, ya? Emangnya kaki dia gak copot?" Qiandra hampir saja menyerah. betisnya pegal-pegal.
Sudah sepuluh menit cewek berambut hitam panjang itu naik-turun tangga membawa beberapa buku. Qiandra kepo banget, pingin tahu buku apa yang dibawanya. Andaikan saja ada teropong?
"Apa jangan-jangan dia sengaja mengerjaiku? Bisa jadi ia udah tahu kalau aku ngikutin dia," batin Qiandra risau.
Sruk! A-aduh..." pekik Qianda tertahan. Kakinya tak sengaja menginjak kayu lapuk yang menjadi sarang semut.
Hampir saja ia lupa pada tujuan utamanya. Semut-semut yang berkerumun di sepatunya membuatnya lengah sekejap.
"Duh, ke mana dia?" gumam Qiandra panik.
Tep!
"Hiiaaa..." pekik Qiandra tak tertahankan. Seseorang menepuk pundaknya dengan cukup keras. "Balik badan nggak, ya?" pikir Qiandra bimbang. Ia takut pemandangan yang akan dilihatnya sama dengan yang dilihatnya pada malam itu.
"Kenapa kamu takut? Harusnya kamu lega. Dirimu aman bersamaku."
"Hiiiyyya...!" pekik Qiandra.
Gedubrak! Semua pun menjadi gelap gulita.
"Oh, tidak. Aku merasa de javu," tangis Qiandra.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1