Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 84 - Tumbal


__ADS_3

"Sejak melihat foto itu, aku jadi mulai berpikir kalau Rania selama ini tidak berbohong." Mikko memainkan ujung penanya di sela jemari.


"Tapi anehnya, mengapa justru Qiandra yang dirawat oleh keluarga Austeen, dan Rania bersama Bu Jenni? Artinya orang tua mereka saling kenal?"


Mikko yang merasa mengenali Rania sejak kecil menjadi sangat bingung. Masalahnya, baru-baru ini saja Rania mengatakan hal rumit tersebut.


"Apakah keluarga Austeen sengaja menjauhkan Rania dan merawat Qiandra, untuk tumbal ritual mistis mereka?"


"Tetapi kalau sampai hal itu terjadi, pasti Chloe dan Geffie akan akan dihakimi oleh semua orang. Karena yang diketahui publik, Qiandra lah putri kandung mereka."


"Arrggh... Apa nggak ada hal yang masuk akal di sini? Kenapa aku harus terjebak di tengah-tengah mereka, sih?"


Mikko terus bergelut dengan pikirannya.


"Mikko! Hoi!"


Salman yang duduk di sebelah Mikko menggoyang kursi pria Manado itu dengan kakinya.


"Apaan?" ujar Mikko sambil measang tampang penjambret. Gigi rapat dan mata melotot.


"Itu, lo dipanggil Pak Reihan dari tadi," ujar Salman lagi.


Mikko memutar lehernya ke depan. Ia baru sadar, kalau saat ini dia sedang berada di kelas.


"Ada masalah apa kamu dengan pelajaran saya? Kenapa heboh sendiri dari tadi?" tegur Pak Reihan.


"Duh, apes gue," pikir Mikko dalam hati.


"Maklum, Pak. Calon mertuanya terkena kasus narkoba. Jadi dia galau," seru siswa lainnya dengan riuh.


"Loh, kamu pacaran sama Qiandra?" tanya Pak Reihan.


"Ih, nggak Pak. Kami cuma temenan, kok," bantah Mikko.


"Lagian aku melamun juga bukan gara-gara kasus Om dan Tante, sih," gumam Mikko dalam hati.


"Ya bagus kalau kamu nggak pacaran sama dia. Sekolah dulu yang benar, baru nanti deh cari jodoh yang tepat," ucap Pak Reihan.

__ADS_1


"Baik, Pak." Mikko bernapas lega melihat Pak Reihan gak jadi marah.


"Tapi kamu jangan lega dulu. Cepat maju ke depan. Ulangi pelajaran yang Bapak terangkan tadi. Hukuman harus tetap dijalankan," kata Pak Reihan.


"Waduh, mampus aku. Kirain udah selamat dari hukuman," batin Mikko.


Sepintar-pintarnya Mikko, tetap aja ada pelajaran yang belum ia pahami, ini salah satunya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Jadi kenapa kamu minta jumpa denganku? Kan bisa ngomong melalui telepon aja."


Wilda memilih kursi yang menghadap ke luar. Suasana senja di sudut kota itu sangat memanjakan mata. Tanah dan rerumputan yang basah setelah diguyur hujan, mengeluarkan wangi khas yang membuat penikmatnya merasa rileks.


"Kakak pasti sudah dengar berita tentang keluarga Austeen," kata Rania setelah memesan minuman pada pramusaji.


"Siapa yang gak tahu berita itu?" balas Wilda.


"Makanya, aku perlu bantuan kakak."


"Bantuan? Aku yang bahkan tak dikenali siapa pun ini? Gimana caranya melepaskan mereka dari jeratan hukum? Itu sih sama aja dengan mencoreng arang di wajah sendiri," komentar Wilda.


"Ya terus? Apa hubungannya sama kita?" ujar Wilda.


Sesungguhnya mantan analis tersebut sudah paham, ke mana arah pembicaraan Rania. Tetapi ia ingin membuka lebar pikiran remaja tersebut, agar memandang masalah ini dari berbagai sudut pandang.


"Kakak kan mengalaminya langsung, siapa yang pantas dicurigai dan siapa yang tetap memihak perusahaan," kata Rania.


"Haaah... Sepertinya gadis ini lupa dengan posisinya sekarang. Ia masih merasa bahwa semuanya dapat dilakukan dengan mudah," batin Wilda.


"Ehem! Begini Rania. Aku paham betul kamu sangat mengkhawatirkan Chloe dan Geffie, serta perusahaan yang dirintis keluarga kalian," ujar Wilda.


"Tetapi, ini bukan masalah kecil yang bisa diselesaikan hanya dengan dua orang. Kalau orang tuamu saja bisa mereka tumbangkan, apalagi kita yang gak punya kekuatan apa-apa," lanjut Wilda. Ia tidak bisa lagi berbasa-basi pada Rania.


Hingga beberapa detik berikutnya, Rania bergeming. Kedua tangannya menggenggam mug berisikan cokelat panas yang tadi ia pesan.


"Kalau pun aku menebak siapa yang patut dicurigai, itu tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Tidak ada bukti yang kuat dari dugaan kita. Itu akan menjadi bumerang nantinya." Wilda terus berusaha menyadarkan Rania.

__ADS_1


"Kakak tanya deh sama kamu, setelah kamu menemukan siapa yang membuat onar, terus apa rencanamu? Mau melawan mereka langsung? Dengan cara apa?" sergah Wilda habis-habisan.


"Kakak benar. Aku seperti pungguk merindu bulan," ucap Rania kemudian. Wajah gadis itu sungguh muram.


"Aku bukan ingin mematahkan semangatmu, Rania," ujar Wilda merasa bersalah. "Tetapi, aku hanya ingin membuka pikiranmu, kalau masalah ini sangatlah rumit. Bukan ranah kita lagi," ujar Wilda lagi.


"Aku mengerti," sahut Rania. Ia melempar pandangannya ke luar. Awan biru perlahan berubah warna menjadi jingga.


"Aku bahkan lupa, kalau posisiku kini tidaklah seperti dulu. Yang mana, untuk memecahkan masalahku dengan Qiandra saja masih menemui jalan buntu," ujar Rania lagi.


"Nggak cuma itu, hingga sekarang belum ada bukti nyata kalau ucapanku kala itu benar, kan? Bisa aja aku juga ingin menusukmu dari belakang," lanjut Wilda lagi.


"Mungkin dulu aku terlalu naif, berpikir kalau semua orang yang bekerja pada papa baik juga pada keluarga kami. Apalagi dengam sifat mama dan papa yang dermawan," ucap Rania lirih.


"Rania, kita serahkan saja semua ini sama aparat hukum. Aku yakin, orang-orang di perusahaan juga nggak bakal tinggal diam dengan masalah ini." Wilda berusaha memberi semangat.


"Aku juga tahu itu. Tim kuasa hukum perusahaan pasti sudah bergerak menyelesaikan masalah ini. Tetapi bisa aja kan justru mereka yang menyusun rencana?" kata Rania.


"Rania, sekarang dirimu terlalu dipenuhi energi negatif. Ingatlah, tidak semua orang ingin menggulingkan perusahaan. Di antara sekian banyak direktur, pasti ada yang tetap berpendirian teguh," kata Wilda lagi.


"Yah, semoga saja," ucap Rania tanpa semangat.


"Dari pada itu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," kata Wilda.


"Apa itu?"


"Soal arwah yang kita anggap Rania Putri itu. Ku rasa, dia adalah korban tumbal," bisik Wilda. Ia tak ingin obrolan mereka memancing rasa penasaran pengunjung lain?


"Tumbal siapa? Apa yang dia katakan sama Kakak?" tanya Rania dengan berbisik juga.


"Ini baru dugaanku saja, melihat dia selalu kesakitan dan ketakutan. Wajahnya juga sering bersedih. Berbeda dengan arwah Gennie yang selalu terlihat marah," ucap Wilda.


"Dan mungkin itu juga alasannya, mengapa hanya aku yang tahu identitas kamu sebenarnya," ujar


"Tetapi menjadi tumbal siapa? Orang perusahaan?"


"Ku rasa ada entitas lain yang tidak kita ketahui berperan besar dalam masalah ini. Termasuk bagaimana kamu dan Qiandra bisa berpindah tempat tanpa diketahui semua orang," kata Wilda.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2