
"Permisi..."
"Iya, sebentar," seru Rania. "Silakan masuk, Kak," ucapnya kemudian.
"Ringga apa kabar? Lama nggak datang ke sini." Tiba-tiba ibu muncul dari balik pintu.
"Baik, Bu. Ini, aku bawakan pisang molen kesukaan ibu." Ringga memberikan sebuah kantong plastik putih yang berbau harum. Wanita karir itu kemudian menyalami Jennia.
"Wah... Trims, ya," senyum terpancar dari wajah ibu. "Oh, iya, kalian mau pergi ke mana?"
"Pergi main dekat-dekat sini aja, Bu. Sambil mentraktir Rania. Sudah lama nggak ngobrol bareng," sahut Ringga.
"Pulangnya jangan terlalu malam, ya," ujar ibu mengingatkan.
"Baik, Bu."
"Siap Nyonya Besar," ujar Rania pula. "Kami pergi dulu ya, Bu," sambungnya.
"Iya, hati-hati, Nak."
"Jadi, ceritakan semuanya padaku," pinta Ringga ketika mereka tiba di mobil.
"Aku pikir, kita bakalan cerita di kafe," ujar Rania.
"Apa ada tempat yang lebih aman selain di mobil?" komentar Ringga.
Rania menggelengkan kepalanya.
"Ceritakan padaku semuanya," pinta Ringga lagi.
Jalanan yang macet menemani Rania menceritakan semua yang terjadi padanya. Ia bahkan menceritakan tentang keanehan yang terjadi pada Qiandra belakangan ini.
Namun ada satu hal yang masih disembunyikannya, gelang bukti yang diberikan sang nenek sore itu.
"Tetapi aku belum berani menceritakan hal ini pada orang-orang terdekatku," ujar Rania.
"Maksudnya keluargamu?"
"Iya."
"Duh... Gimana, ya? Seharusnya hal seperti ini dikasih tahu ke keluarga dulu. Tapi aku paham, kamu pasti takut mereka tidak percaya atau kecewa, kan?" Ringga terus menatap ke jalanan yang penuh sesak.
"Kalau menurut Kakak sendiri gimana?" tanya Rania.
Ringga hanya mengangkat bahu sambil tersenyum,"Ada kekuatan dunia lain mungkin. Sihir misalnya," ujarnya.
"Kakak percaya sihir?" Mata Rania berbinar mendengarnya.
"Nggaklah. Emangnya ini novel?" tawa Ringga.
Senyum di wajah Rania surut seketika.
Lampu lalu lintas berganti warna, dari hijau menjadi merah. Dengan sigap, Ringga mengentikan mobil Ailaa miliknya.
"Aku malah lebih percaya kalau sebenarnya kalian kembar. Bukan hanya wajah yang mirip. Nama pun sama. Entah bagaimana kalian berpisah sejak kecil dan nggak saling kenal," ujar Ringga.
__ADS_1
Sang editor menginjak gas kembali, ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
"Aku tadi sempat berpikir, apakah Nyonya Chloe mengembalikan sang putri pada ibu kandungnya, lalu ia memutarbalikkan seluruh fakta, termasuk semua data-datamu?" ujae Ringga.
"Itu nggak mungkin! Mama bukan orang seperti itu. Lagian, bisa aja datanya dimanupulasi, tapi gimana dengan ingatan semua orang? Emangnya ada cuci otak massal?" bantah Rania.
"Yah... Emang gak masuk akal juga sih... Rasanya nggak ada hal yang masuk akal untuk menjelaskan ini semua," ujar Ringga kemudian.
"Haaah... Rasanya aku benar-benar buntu." Rania menghela napas dalam-dalam.
"Atau jangan-jangan... Hanya ingatan kamu yang dimanipulasi..?" kata Ringga. Jemarinya menekan klakson, meminta mobil di depannya untuk memberikan jalan.
"Itu lebih ngaco lagi. Menurutku malah lebih masuk akal kalau ada campur tangan ilmu hitam." Rania masih teguh pada pendapatnya.
"Udah, ntar aja kita likirkan lagi. Makan dulu, yuk," ajak Ringga.
Tanpa disadari Rania, ternyata mereka telah sampai ke lokasi.
"Eh, sebentar, Kak." Rania menahan Ringga yang hendak turun.
"Ada apa?" Ringga melihat ke arah pandangan Rania di parkiran.
"Itu mobilku. Maksudku, dulunya mobilku. Sekarang digunakan Qiandra."
Rania menunjuk sebuah mobil pajero sport putih yang parkir di antara mobil pengunjung kafe lainnya.
"Lho, bukannya mobil putri Chloe itu BMW i8 coupe silver? Aku pernah melihatnya waktu di liputan televisi," sela Ringga.
"Iya. Itu juga mobilku. Tapi mobil ini juga digunakan untuk kegiatan yang lebih privasi. Aku ingat banget plat mobilnya. Tanggal aku pertama kali debut jadi model," jelas Rania.
"Terus sekarang gimana?" tanya Ringga.
"Hmm... Kita lihat-lihat situasi aja sambil memilih kursi," ujar Rania.
Cewek itu sama sekali tidak takut jika bertemu dengan salah satu asistennya, karena sudah pasti mereka nggak akan mengenali Rania.
Yang ia khawatirkan adalah pertemuan dengan nona muda sombong itu. Ia nggak mau lagi-lagi di cap menguntit. Apalagi cemburuan... Huh...
"Silakan duduk, Mbak. Mau pesan apa?" sapa pramusaji dengan ramah.
"Sebentar dulu ya, mbak," jawab Ringga.
Rania menyapu seisi ruangan kafe itu. Begitu pula dengan Ringga. Tiba-tiba mata mereka menangkap orang yang sama. Keduanya lalu saling berpandangan.
"Dia di sana, kan?" bisik Ringga dengan isyarat mata.
Rani mengangguk. Wajahnya terlihat masam. Qiandra, rivalnya yang kini menyandang nama besar keluarga Austeen, sedang asyik bercengkerama dengan seorang cowok.
Siapa lagi kalau bukan Mikko?
"Ada kursi kosong lagi, Mbak?" tanya Ringga.
"Ada, Mbak. Di nomor dua belas dan lantai tiga juga masih banyak tersedia," jawab sang pramusaji.
Nomor dua belas? Rania dan Ringga kembali beradu pandang.
__ADS_1
"Gimana? Kita ambil lantai tiga aja, atau pindah tempat?" bisik Ringga.
Namun sepertinya Ringga tidak butuh jawaban. Ia tahu pasti, jika Rania sangat ingin mendengar pembicaraan pasangan muda-mudi yang duduk di meja nomor sepuluh.
Ya, kursi kosong yang ditawarkan pramusaji tadi, terletak cukup dekat dengan tokoh utama cerita mereka.
"Kami ke sana aja, deh. Pesanannya Punch Cappucino dua, ya," ujar Ringga.
"Baik. Makanannya apa? Atau mau pilih menu di meja aja?" ujar pramusaji.
"Hmm..." Ringga menatap Rania. Tapi lagi-lagi, fokus gadis remaja itu berada di tempat yang berbeda.
"Blueberry macsrons sama mango paflova aja, deh," sahut Ringga.
"Baik, ditunggu."
"Kak, duduk di sana aja, yuk. Tapi jangan sampai mereka tahu," bisik Rania.
"Haah... Udah kembali kesadarannya?" batin Ringga setengah tertawa.
Dan di sinilah mereka sekarang. Sudah tiga puluh menit mereka duduk sambil memasang telinga dan menundukkan kepala. Rania bahkan susah-susah pakai scarf milik Ringga untuk menyamarkan penampilannya.
"Sial*n. Mereka malah menjelek-jelekkan keluargaku," gerutu Rania.
"Emangnya dia siapa, sih?" bisik Ringga. Ia bingung, sedari tadi diajak menguping meja belakang tanpa boleh bicara.
"Cowok itu temanku. Sedangkan cewek disampingnya orang yang bertukar tempat denganku," bisik Rania pula.
"Ha?" Ringga menggaruk kepalanya.
Editor cantik itu memang sudah tahu identitas Qiandra. Kan Rania sudah cerita tadi. Tapi kenapa Rania juga panas melihat teman cowoknya?
Karena inti pembicaraan pasangan muda-mudi tersebut, atau hubungan mereka yang cukup dekat? Jangan bilang Rania cemburu?
"Apa rencanamu selanjutnya?" bisik Ringga.
"Menunggu mereka pergi. Lalu menguntitnya," bisik Rania.
"Menguntit siapa? Nona cantik itu atau cowok tampan di sebelahnya?"
"Tentu saja Mikko," jawab Rania tegas.
Hmmm... Ringga tersenyum melihatnya. Fix ini ada unsur kecemburuan.
"Ssttt... Mereka mau pergi," bisik Rania.
"Yaudah. Aku ikuti mereka sambil pura-pura bayar. Kamu jaga-jaga, ya," balas Ringga.
Tiba-tiba...
"Kalian...?"
"Hah..." Ringga dan Rania sama-sama terkejut.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...