
"Kami menemukan seperti sisa perekat plastik di beberapa bagian, terutama keyboard laptop. Bukankah seharusnya pada sidik jari itu yang tertinggal adalah minyak alami yang ditinggalkan oleh tubuh manusia?"
"Begitu, ya? Artinya ada seseorang yang mencuri sidik sidik jari tersebut untuk menyamarkan identitasnya. Jadi aksinya tidak ketahuan."
"Benar, Pak. Dan dari salah satu lakban bening yang kami temukan di tong sampah terdekat dengan TKP, kami menemukan sidik jari dari orang yang berbeda."
"Tunggu dulu. Kalau memang ada penyusup lain, lalu gimana dengan rekaman CCTV yang memperlihatkan Sania bekerja di laptop itu? Bukankah sudah jelas, kalau semua email berasal dari alamat IP laptop tersebut?" bantah yang lainnya.
Suasana ruang rapat internal Reserse Narkoba semakin panas menjelang tengah malam itu. Kasus ini begitu rumit, karena beberapa bukti yang saling melemahkan.
"Ada dua kemungkinan, Sania memang bekerja sama dengan mereka. Atau Sania digunakan sebagai umpan untuk menyelamatkan diri mereka."
"Lagi pula, alat komunikasi kan bukan hanya dari email. Kami sudah melacak hampir seluruh media komunikasi yang digunakan oleh para pegawai di Aslee Corp. Perusahaan besar yang didirikan oleh Austeen. Terutama yang berkaitan dengan pengedar narkoba di luar negeri," bantah yang lainnya.
"Lalu apa hasilnya?"
"Ada beberapa indikasi bahwa merek menggunakan telegram untuk berkomunikasi. Dan Telegram tersebut tidak terdaftar dengan nama mereka, maupun orang terdekat mereka."
"Ah, satu lagi. Pernah terlacak mereka menggunakan email yang sama, dengan alamat IP yang berbeda. Yakni dari negara bagian Irlandia. Itu semakin mencurigakan, dan ada satu nama yang sangat sesuai dengan kejadian itu. Sidik jarinya juga sesuai dengan bukti yang baru saja ditemukan."
"Siapa?"
"Darrent Mc. Louis."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Fyuh... Akhirnya selesai juga."
Rania bernapas lega setelah acara fashion show berakhir.
"Ternyata tidak terjadi apa-apa di panggung. Apa dia sengaja pura-pura baik padaku, untuk membuatku lengah, ya?" pikir Rania.
Mata biru gadis itu memperhatikan Qiandra dan Audrey yang asyik bercakap dengan para senior fashion lainnya.
"Kakak! Selamat, ya. Hebat banget deh tadi waktu fashion show," seru Livy.
"Kamu juga hebat! Selamat, ya. Baju rancanganmu jadi yang terbaik." Rania memeluk adiknya.
"Wah, terima kasih Kak. Aku senang banget, baju rancanganku ternyata di pakai oleh Kak Audrey. Oh iya, nilai kontraknya juga besar, lho. Bisa untuk beli rumah," cerita Livy dengan bangga.
"Tabung saja untuk sekolahmu. Rumah kita yang sekarang kan udah nyaman juga," kata Rania.
"Ehem!"
Ibu yang sedari tadi jadi obat nyamuk, berdehem pada kedua putrinya.
"Ya ampun. Maaf, Bu. Aku terlalu semangat melihat pencapaian Livy tadi," kata Rania.
"Sepertinya ada yang menunggumu dari tadi selain ibu." Ibu menunjuk ke salah satu kursi penonton.
__ADS_1
"Ah..." Muka Rania merah padam. Seorang pria tampan melemparkan senyum manis padanya.
"Cepat temui dia," ucap ibu.
Dengan malu-malu, Rania pun pergi menemui pria yang memakai kemeja biru dan jas hitam. Pas sekali dengan tubuhnya yang tinggi dan bidang.
"Selamat ya, Rania. Penampilanmu bagus banget tadi."
Mikko memberikan sebuah bucket bunga aneka warna pada Rania.
"Terima kasih, Mikko. Tapi bagaimana kamu bisa ada di sini? Kamu mau menemui Qiandra, ya?" ucap Rania.
Mikko menggelengkan kepalanya, "Apa perubahan statusmu juga membuat rasa percaya dirimu menurun?"
Mikko membuka kancing kemeja paling atas. Pria yang tak terbiasa menggunakan pakaian formal seperti itu, merasa sesak karena jas dan kemeja yang berlapis.
"Oh, no. Hentikan Mikko. Kau terlihat semakin tampan," jerit Rania dalam hati.
"Justru aku di sini karena Qiandra. Dia mengatakan bahwa kamu menjadi salah satu model malam ini."
"Qiandra?" Rania mengulang nama yang diucapkan Mikko.
"Ya. Kalau bukan karena dia, aku pasti nggak akan bisa melihatmu dalam tampilan seperti ini. Ternyata kamu yang tanpa make up dan full make up sama-sama cantik."
"Apaan, sih? Cringe banget," ucap Rania.
"Rania, pacaran yuk!"
"Pacaran, yuk," ulang Mikko.
"Pa-pa-pacaran? Kenapa?" ucapan Rania terbata-bata saking gugupnya.
"Aku tahu kalau waktunya sangat tidak pas. Terutama ditengah kemelut masalahmu itu. Tapi aku nggak mau kehilangan kesempatan lagi untuk kedua kalinya. Aku menyukaimu, Rania."
"Sebentar, biarlan aku loading dulu. Kamu gak ngeprank, kan?" Rania merasa tubuhnya panas dingin, padahal nggak lagi demam.
"Nggak. Aku serius."
"Lalu bagaimana dengan Qiandra? Bukankah kalian pacaran?"
"Kamu percaya berita gosip di TV itu? Kami nggak pernah pacaran. Coba aja tanya langsung padanya," jawab Mikko tegas.
"Tapi aku pernah melihat kalian pegangan tangan waktu di sekolah," kata Rania lagi.
"Pegangan tangan? Ah, yang itu. Dia justruagi meyakinkan aku untuk segera menembakmu."
"Masa sih? Rebutan cowok diantara teman dekat itu nggak enak, lho."
"Jadi kalian rebutan aku?" kata Mikko sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Sial! Ganteng banget, sih?" gumam Rania dalam hati.
"Ish! Bukan gitu. Pokoknya, aku nggak mau deh kalau belakangan dia melabrakku gara-gara kamu," kilah Rania.
"Hehehe... Gak usah khawatir. Kami sudah memastikan perasaan kami masing-masing. Dan kamu juga gak wajib jawab sekarang. Aku tahu fokusmu saat ini ada pada sekolah dan masalahmu itu," kata Mikko.
"Tapi Mikko, sebenarnya siapa yang kamu sukai. Rania Putri atau Rania Austeen?" tanya Rania terus meyakinkan Mikko.
"Aku tidak mencintai seseorang berdasarkan namanya. Aku menyukai wanita di depanku karena semua yang ada pada dirinya," kata Mikko
"Dasar tukang gombal!" Rania lalu pergi meninggalkan Mikko.
"Loh, Rania? Mau ke mana? Kok aku ditinggal gitu aja?"
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Apa-apaan sih, Mikko? Kok tiba-tiba nembak? Dia mau mempermainkan aku? Atau ini juga bagian dari rencananya?"
Jedug!
"Astaga! Maaf Tu- ... Eh, Tuan Malfoy?" Rania mundur satu langkah melihat pria yang ditabraknya.
"Kamu mengenalku?" ucap pria itu. "Maaf aku menabrakmu gadis kecil."
"Eh, ya... A-aku mengenal Tuan dari TV. Y-ya, dari TV," Rania gugup mencari alasan mendadak. "Apa Tuan juga undangan di sini? Tapi kenapa malah duduk di belakang panggung gini?"
"Aku bukan undangan. Aku hanya ingin melihat seseorang yang bahkan tidak ku kenal? Aneh, kan? Apa aku terlihat seperti penguntit?"
"Yah.. Memang aneh dan... Menyeramkan," ujar Rania.
"Kenapa dia jauh berbeda dibandingkan dulu, ya? Apa dia rindu pada anaknya? Atau istrinya?" pikir Rania.
"Rania! Kamu ngapain di sini sama om-om mesum itu?" seru Qiandra.
"Hah? Om-om mesum? Jadi Qiandra yang diikuti oleh Tuan Malfoy?" ucap Rania.
"Bu-bukan begitu, Nona." Malfoy berusaha membela diri.
"Apanya yang bukan? Dia itu mengikutiku sampai ke dalam toko aksesoris, bahkan mengambil pita," marah Qiandra.
"Ya tapi, bisa aja kan sebenarnya dia cuma kebetulan aja ingin beli untuk anaknya," bela Rania.
"Pokoknya kamu jangan dekat-dekat Tuan Mal.. Eh, sebentar... Malfoy?" Qiandra menghentikan kalimatnya. Sepertinya dia menyadari sesuatu. "Kamu, kan?"
Jantung Rania berdebar kencang menunggu kalimat lanjutan dari Qiandra, "Apa ia telah menyadarinya?"
(Bersambung)
Maaf ceritanya semakin gaje... Hehehe...
__ADS_1
selamat membaca.