Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 35 - Misteri Ruang Rahasia


__ADS_3

"Apa kamu bilang? Qiandra hilang?" ucap Chloe dengan suara agak tinggi.


"Iya, Nyonya. Menurut Jupri dan Rudi, ia tadi pulang sekitar pukul delapan. Lalu setelah itu tidak terlihat lagi di rumah. Felix sedang mengecek CCTV," jawab Sania.


"Astaga... Anak itu sebenarnya kenapa, sih? Semakin hari sikapnya semakin nakal saja," keluh Chloe.


"Sabar, sayang. Jangan marah-marah dulu. Kita masih belum tahu dia pergi ke mana. Apa alasan dan penyebabnya," kata Geffie.


"Ya tapi ini sudah keterlaluan, sayang. Sudah mangkir dari kegiatan sosial, HP dimatikan seharian, pergike pesta tanpa izin dan sekarang malah menghilang," ucap Chloe.


"Tetapi dia tadi sudah pulang, dan belum ada terlihat keluar lagi, kan? Mungkin dia lagi ada masalah dengan temannya dan ingin menyendiri. Sekarang kita fokus mencari dia saja dulu," ujar Geffie.


"Tapi..."


"Ssstt... Aku tahu kamu sebenarnya khawatir. Nanti saat sudah agak tenang, kita tanyalan pelan-pelan padanya," balas geffie dengan sabar.


Hahh... Chloe menghela napas. Bagaimana bisa suaminya sesabar ini, namun tetap menjadi yang paling bijak?


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Uhuk! Uhuk! Uhuk...


"Ya ampun, sesak banget," bisik Qiandra.


"Astaga! Gelap sekali di mana ini?" gumam Qindra panik. Ia merasakan sekelilingnya becek dan lembab.


"Tolong! Siapa pun, tolong aku...!" teriak Qiandra.


Tak terdengar suara apa pun, selain gema suaranya sendiri. Udara dingin dan lembab semakin memeluk dirinya.


"Tolong! Tolong! Ini Aku, Qiandra," teriaknya lagi.


Masih sama seperti sebelumnya, ia hanya mendengar pantulan suaranya. Di manakah gerangan dirinya saat ini? Gelap gulita, udara yang lembab dan pengap, lantai yang becek, entah kenapa lebih mirip suasana di dalam goa.


Jantungnya Qiandra berdebar sangat cepat, apa jangan-jangan ia diculik?


Ia meraba seluruh tubuhnya, "Ah, ternyata aku masih menggunakan baju pesta kemarin. Kalau begitu aku ingat, terakhir kali berada di sebuah ruangan tadi malam."


Tiba-tiba bulu kuduk Qiandra berdiri. Ia mengingat sosok yang dilihatnya tadi malam. Semula gadis remaja di depannya berwajah sangat mirip dengan musuh bebuyutannya, Rania. Namun secara perlahan, wajah cantik itu berubah menjadi sangat menakutkan.


Senyum manis wanita itu berubah menjadi seringai tajam, wajahnya perlahan memucat dan matanya menghitam. Kepalanya mengucurkan darah segar. Anggota tubuhnya tak lagi utuh. Suaranya yang semakin parau memanggil-manggil nama Qiandra.


"Astaga. Apa yang kulihat tadi malam? Apakah aku mimpi? Ataukah saat ini aku masih mimpi?" ucap Qiandra sambil menatan isak tangis.


"Tidak. Ini bukan mimpi. Terasa sangat nyata. Tetapi mengapa Rania seperti itu. Seperti... mayat hidup," gumannya merinding.


"Tolong! Tolong aku! Aku terjebak di dalam sini," teriak Qindra. Napasnya semakin sesak akibat udara yang lembab dan pengap.

__ADS_1


Ceplak! Ceplak! Ia melangkahkan kaki sesuai mata hatinya. Tekstur lantai yang dipijaknya lembek dan lengket, mirip seperti lumpur.


"Ugh...Bau," gumamnya. Lagi-lagi ia menyesali, di saat seperti ini tidak membawa HP.


Krak! Kakinya yang telanjang memijak sesuatu yang keras dan tajam. Dengan ujung jari kakinya, ia meraba benda asing tersebut.


"I-ini bukan tengkorak, kan?" ucap Qiandra pada dirinya sendiri.


"Huaaa...! Tolong!" teriak Qiandra. Ia merasa seluruh tulangnya layu, seperti sayur yang direbus. Tak mampu menopang berat tubuhnya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Hei, udah dengar kabarnya belum? Katanya Qiandra menghilang sejak tadi malam," bisik salah seorang siswi.


"Jadi berita itu benar? Aku pikir Qian lagi ada kegiatan di luar negeri kayak biasanya?" balas siswi lainnya.


"Benar. Nurul sama Dewi udah dipanggil guru. Mereka ditanya-tanya karena kemarin abis pesta bareng Qian," timpal yang lainnya.


"Tetapi katanya ia udah pulang tadi malam. Terus gak ada muncul lagi sampai pagi. Padahal penjaga gerbang gak lihat dia keluar," sahut Anggit pula, sang ketua kelas.


"Heee? Beneran? Kok bisa? Kabur lewat mana dia?" kata Alvi ikut nimbrung.


"Apa jangan-jangan dia tersesat di dalam rumah? Rumahnya kan besar banget," ucap Anjani.


"Ih, gak lucu tahu. Masa rumah sendiri gak hapal," kata beberapa siswa.


"Iya, tuh. Dia pasti kabur diam-diam. HPnya aja gak aktif, kan?" sahut Anggit.


Rania termenung di kursinya, "Wajar aja jika ia tak hapal isi rumah. Dia kan baru senulan di rumah itu. Tetapi tetap aja gak mungkin ia menghilang begitu saja, kan?" pikir Rania.


"Ehem!" Suara Bu Atun membuat para siswa kompak kembali ke kursi masing-masing.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Gimana, sayang?" tanya Chloe sambil menelan obat maag. Asam lambungnya meningkat karena stress memikirkan kabar putrinya. Ia pun belum ada tidur dari pukul dua malam.


"Felix baru saja mengirimkan CCTV, dan ada satu kejanggalan. Coba deh lihat sini," kata Geffie.


Chloe menggeser posisi duduknya mendekati suaminya. Ia memperhatikan potongan rekaman video CCTV dengan seksama.


"Astaga! Sayang! Ini gak mungkin," pekik Chloe saat melihat rekaman tersebut di menit ke dua puluh dua.


Chloe menggenggam jemari suaminya, demi meredakan detak jantungnya yang tidak terkendali. Ia melihat video itu berulang-ulang untuk memastikannya.


"Nah, iya kan. Menurutku ini juga aneh. Apa jangan-jangan..." pikir Geffie.


"Masa sih, karena 'hal itu'? Selama ini tidak ada yang tahu selain kita berdua, Ibu Rohaya dan Pak Yahya. Dan akses menuju ke sana juga sudah ditutup rapat. Tidak terlihat sama sekali dari pandangan biasa," ucap Chloe.

__ADS_1


"Benar sih. Tetapi nggak ada salahnya dicoba, kan?"


"Apa tidak bahaya?" ucap Chloe ragu.


"Lebih berbahaya lagi jika anak kita tidak ditemukan," tegas Geffie.


... 🌺🌺🌺🌺🌺...


"Udah dikirim?" tanya Sania.


"Udah," jawab Felix.


"Apa tanggapan tuan dan nyonya?" tanya Sania penasaran.


"Belum ada kabar," jawab Felix.


"Tetapi ini benar-benar aneh. Lihatlah, Nona terlihat melalui lorong depan kamar sebelas. Tetapi ia tidak muncul lagi di CCTV berikutnya," kata para asisten rumah tangga yang turut berkumpul melihat rekaman CCTV.


"Betul. Nona juga tidak terlihat lagi melalui kamar sebelas. Padahal lorong itu jalan buntu. Tidak ada jendela dan pintu lain, selain kamar sebelas. Itu artinya Nona menghilang di sekitar sini," ucap Felix.


"Kami tadi sudah periksa. Tidak ada kerusakan di sekitar tempat itu. Kamar sebelas juga semalam dihuni oleh Sena dan Maria. Ia tidak melihat Qiandra masuk ke kamarnya sekitar pukul delapan hingga sembilan," jelas Wilson pula.


"Apa rumah ini angker?" ucap beberapa asisten.


"Hei, mana mungkin," sanggah Felix. Meskipun ia sendiri tidak yakin setelah melihat video tersebut.


"Felix, teleponmu berdering. Sepertinya dari tuan," seru Wilson.


"Halo, iya Tuan," jawab Felix.


"Baiklah, nanti kami meminta bantuan dari tukang kebun," jawab Felix.


"Apa katanya?" tanya para asisten kompak.


"Kita disuruh membongkar tanah di kebun samping," ucap Felix.


"Aneh banget. Kenapa kita malah disuruh bongkar taman?" gumam mereka.


Tanpa menunggu lama, mereka segera melakukan yang diperintahkan Geffie. Tepat di bawah pohon mangga yang berusia dua tahun, mereka menemukan sebuah pintu rahasia menuju bawah tanah. Butuh waktu sekitar satu jam untuk membongkar dan menggalinya.


Beberapa orang bergegas turun ke bawah. Dan benar saja, mereka menemukan Nona muda dalam keadaan pingsan, kekurangan oksigen.


Sementara Qiandra diselamatkan dan ditangani oleh dokter, mereka menyisir seluruh ruangan berukuran 4 x 5 meter itu, sesuai arahan Geffie.


Namun, beberapa kali pun, tidak ditemukan jalan lain, selain di bawah pohon mangga yang dibongkar tadi.


Jadi bagaimana Qiandra bisa masuk ke sana?

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2