
“Kejadiannya baru-baru ini. Tapi… entah kenapa, aku merasa kejadian ini sudah sangat lama. Rasanya saat itu aku masih menggunakan seragam merah putih.”
Rania tersentak dengan kalimat Livy yang terakhir, “Ini dia. Selalu ada ketidakcocokan dengan masalah waktu," pikir Rania.
Sepanjang menghabiskan sarapan paginya, ia tidak bisa berhenti berpikir.
"Jika yang dibilang Livy memang benar, artinya masuk akal jika banyak email yang tidak terbaca, dan juga tidak ada kegiatan pramuka dalam setahun terakhir. Aku harus memastikannya lagi,” batin Rania.
“Oh iya. Soal lemari itu, simpan saja untuk keperluan kakak di lain waktu,” ujar Livy bijak.
“Kebetulan teman kakak ada yang menjual lemari bekas miliknya. Ia ingin mengganti dengan yang baru. Harga yang ditawarkannya cukup murah.”
Rania menunjukkan foto sebuah lemari dua pintu milik Nirmala, teman sekelasnya. Di salah satu pintunya terdapat cermin yang memanjang dari atas hingga ke bawah.
Mata Livy membulat. Jelas sekali ia menginginkannya.
“Tidak apa-apa. Livy gunakan yang sekarang saja. Kebutuhan kita yang lain kan masih banyak,” jawab Livy kemudian. Ah, tidak semudah itu mengubah pendirian gadis keras kepala ini.
“Haduh… Sesekali kakak juga ingin memberikanmu sesuatu,” jawab Rania setengah memaksa.
Ia sadar, Livy pasti sering mengalami masa-masa yang sulit, jadi mengorbankan diri sendiri demi kebutuhan uyang lebih penting, bukanlah hal yang baru lagi.
“Ya, sudah. Kalau tidak ada yang mau, uangnya untuk Bang Mikko aja,” sahut Mikko dengan tatapan jahil.
“Hissshhh… Enak aja!” Raut wajah Rania tiba-tiba berubah menjadi Nyi Blorong yang sedang murka.
"Oke deh. Kita beli aja. Tapi pakainya sama-sama, ya," ucap Livy kemudian.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Jam istirahat yang sangat berharga sudah berlalu selama lima menit. Akan tetapi Rania masih belum bisa memantapkan hatinya.
Beberapa siswa yang berlalu lalang menatap Rania dengan aneh. Betapa tidak, gadis berambut panjang itu menempelkan jidat dan hidungnya ke kaca jendela untuk memantau keadaan terkini kelas IPS.
"Hai, Rania. Tumben main ke sini. Cari siapa?" tanya Lili. Ia satu klub memasak dengan Rania.
Rania terkejut. Hampir saja ia berteriak, "Mmm... Ada Zehra?" tanyanya ragu-ragu.
"Zehra? Ada tuh. Lagi nyalin PR. Hehehe..." ucap Lili ramah. "Zehra, ada yang cari, nih," seru Lili kemudian.
__ADS_1
"Duh, ya ampun. Aku belum siap, nih. Bilang apa nanti kalau ketemu dia." Jantung Rania berdegup kencang.
"Hai, Rania." Zehra melambaikan tangan. "Sini, masuk aja," panggil Zehra.
"Zehra, cepat dong nyatetnya. Aku belum PR juga, nih," seru Danur Taufiq, teman sekelas Zehra.
"Duh, bentar dong. Gak sabaran banget. Waktu istirahat masih lima belas menit lagi, kok." Zehra berusaha merebut kembali buku yang diambil Danur.
"Woiii! Buku gue itu. Kalau robek, awas ya. Kulaporkan kalian ke Pak Toto," seru Elle, sang juara kelas.
Rania terbahak melihat kerusuhan di kelas ini. Rasa tegangnya sedikit berkurang.
"Masuk aja Rania, gak usah sungkan. Kelas IPS ya begini lah. Selalu rusuh kalau ada PR. Apalagi dia, nih. Akhlakless banget." Zehra menunjuk Danur yang duduk di kursi sebelah Zehra.
"Hahaha... Sama aja. Di kelas IPA juga gitu kok kalau ada PR. Satu untuk semua," sahut Rania sambil melangkahkan kaki menuju Zehra.
"Dan sebenarnya anak IPS itu baik-baik, lho. Setia kawannya tinggi. Apalagi aku," sela Danur.
"Ih... Apaan...? Ngaku-ngaku. Mentang-mentang ada cewek cantik di sini." Zehra menyangkal ucapan Danur. Tangannya tetap menyalin PR dari buku Elle dengan super cepat. Sepertinya itu adalah salah satu keahliannya yang tersembunyi.
"Padahal menurutku, kalian cocok lho," celetuk Rania.
"Tuh, buktinya. Jawabnya aja kompak. Biasanya kan gitu, awalnya berantem, lalu lama-lama saling cinta," kata Rania. Sepintas, bayangan Mikko dan Qiandra melintas di kepalanya.
"Eh, iya. Tumben kami ke sini. Ada apa?" tanya Zehra mengalihkan pembicaraan.
"Mm... Gak ada apa-apa, sih. Pengen main aja," Jawab Rania.
"Aneh banget. Padahal sejak kegiatan pramuka dulu, kamu gak pernah lagi main sama aku. Terus kelas dua, udah dekat aja sama Alvi dan Anjani. Kamu lagi berantem sama mereka, ya?" selidik Zehra.
"Nggak, kok. Kami baik-baik aja. Lagi pengen ketemu sama kamu aja," jelas Rania.
"Tunggu! Pembina pramuka dan Zehra mengatakan, kejadian itu sudah lama. Sebelum kenaikan kelas. Berarti sejalan dengan keterangan pengelola danau, yang mengatakan kalau tidak ada perkemahan sejak satu tahun yang lalu?" pikir Rania. Ia mengetuk-ngetuk ujung sepatunya ke lantai.
"Masuk akal kalau Livy bilang kejadiannya terasa sudah lama," pikir Rania lagi.
"Ku pikir, sejak berteman dengan anak-anak orang kaya, kamu lupa sama aku. Tapi aku nggak masalah, sih. Karena mereka orang-orang baik," lanjut Zehra lagi. Ia menyerahkan buku PR milik Elle pada Danur. Tugasnya telah selesai dalam waktu kurang dari lima menit.
"Maaf ya, kalau aku gak pernah menemui kamu lagi," bisik Rania.
__ADS_1
"Kenapa kamu minta maaf? Kan wajar aja kalau kita berteman dengan orang-orang baru. Kamu kembali sekolah setelah tragedi di perkemahan waktu itu aja aku udah senang banget," kata Zehra tulus.
"Nah, itu dia masalahnya. Aku... Agak lupa tentang kejadian naas itu," Rania mengambil sebuah kursi lalu duduk di depan Zehra.
"Maksudmu?" Zehra menghentikan gerakannya yang hendak menyimpan alat tulisnya.
"Kamu mengalami amnesia parsial?" tanya Danur. Ia tiba-tiba saja duduk di dekat kedua gadis itu.
"PRmu sudah selesai?" tanya Zehra.
Danur mengangguk.
"Astaga! Cepat amat dia nyalin PRnya?" Rania tak habis pikir.
"Benar yang dibilang Danur?" Elle menarik sebuah kursi lalu ikut duduk di antara mereka. Remaja keturunan Australia - Palembang itu tampak penasaran dengan obrolan mereka.
"Bagaimana gejalanya?" tanya Elle kemudian.
Rania terdiam, "Duh, gimana, nih? Aku harus ceritakan sejujurnya, agar nggak salah paham seperti Mikko, atau pura-pura mengidap amnesia aja?" pikir Rania ragu.
"Gak usah merasa tertekan, Rania. Kalau berat untuk bicara, tidak usah dipaksakan. Itu kan privasimu," ujar Danur kemudian, diikuti anggukan kepala Zehra dan Elle. Mereka merasa bersalah pada Rania.
"Justru aku yang tidak enak pada kalian, terutama Zehra. Sudah lama tidak bertemu, malah datang saat aku butuh."
"Duh, santai aja kenapa. Eh, tunggu! Jadi maksudmu, Alvi dan Anjani belum tahu masalah ini?" ujar Zehra.
"Sedikit banyak, mereka sudah tahu kalau aku aneh dan tidak mengingat kejadian itu. Tapi detailnya aku belum cerita. Makanya aku datang padamu. Barangkali kamu ingat kejadian itu," ucap Rania.
"Duh, sayang banget. Tapi aku nggak ikut kegiatan perkemahan waktu itu. Aku kan bukan anggota pramuka," sahut Zehra.
"Aku juga nggak ikut, meskipun aku anggota aktif pramuka," sambung Elle.
"Kalau kamu?" Zehra menatap Danur.
"Aku ikut. Waktu itu cuaca cukup buruk, seperti mau hujan lebat. Angin juga kencang. Kegiatan api unggun pun dibatalkan," cerita Danur sambil mengingat-ingat.
"Terus?" tanya para gadis penasaran.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...