
"Ugh, aku nggak menyangka, kalau malam tadi aku beneran di teror. Bahkan kali ini ia menyerupai Sania."
Qiandra mendaratkan keningnya ke meja. Waktu bel masuk masih sepuluh menit lagi.
Tidak seperti dulu, kini ia lebih rajin masuk kelas karena tak mau kalah saing dengan Rania.
Drrrttt.. Sebuah pesan masuk ke ponsel miliknya.
"Nanti malam, setelah pemilihan model untuk summer show, ada pertemuan dengan sutradara untuk syuting iklan minggu depan," tulis Sania.
"Ya Tuhan, kapan aku bisa istirahat?" gumam Qiandra. Ia benar-benar lelah menjalani aktivitasnya.
^^^"Baiklah."^^^
Qiandra mengirim pesan pada asistennya. Mau tidak mau, ia harus tetap mengikuti jadwal tersebut.
Drrrttt... Sebuah pesan kembali masuk.
"Aduuuh... Apa lagi kali ini?" gumam Qiandra kesal.
"Ah, dari Mikko rupanya." Wajah gadis itu berubah menjadi cerah melihat nama pengirim pesan kepadanya.
"Aku tadi bertemu Rania, dan ia sepertinya juga kurang tidur. Jangan-jangan dia yang mengerjaimu semalam."
^^^"Hei, yang benar?" balas Qiandra.^^^
Kepalanya berputar, matanya terfokus pada tempat duduk Rania yang masih kosong.
"Ke mana anak itu? Tumben jam segini belum masuk kelas?" pikir Qiandra.
Drrttt... Balasan dari Mikko pun datang.
"Iya, kami tadi berpapasan di lorong. Coba aja kamu pastikan lagi nanti."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Perubahan polaritas elektrik partikel-partikel di udara menyebabkan hamburan Rayleigh. Medan listrik yang berosilasi dalam gelombang cahaya berinteraksi dengan elektron dalam partikel dan menyebabkan muatan tersebut ikut berosilasi (bergerak bolak-balik) dengan frekuensi yang sama dengan medan listrik cahaya datang."
"Uh, baru kali ini aku bosen banget di kelas fisika. Mana ngantuk banget lagi." Rania beberapa kali menguap.
Sekilas, ia merasakan tatapan tajam di belakang punggungnya. Tapi Rania sama sekali enggan menoleh ke belakang. Ia nggak mau jadi tumbal disuruh ke depan kelas mengerjakan soal.
"Benar kata Mikko, Rania kelihatan ngantuk banget. Dasar tukang santet, tukang sihir," gumam Qiandra.
"Apa kamu bilang? Tukang santet? Siapa yang kamu sebut tukang santet, Qiandra? Saya?" Bu Tresna marah karena kelasnya terganggu.
"Hah, bu-bukan, Bu. Maafkan saya," sahut Qiandra. "Duh, kok Bu Tresna dengar, sih?" batinnya dalam hati.
"Maju ke depan, coba jelaskan hubungan antara Hamburan Rayleigh dengan perubahan warna langit sepanjang hari. Ayo, cepat," perintah Bu Tresna.
__ADS_1
"Baik, Bu." Qiandra terpaksa maju ke depan kelas.
"Pfffffttt... Rasain tuh," batin Rania sambil tersenyum puas.
Saat jam istirahat...
"Hei, kalian lihat bulan purnama tadi malam? Cantik banget, lho," ucap Alvi.
Seperti biasa, gadis itu selalu heboh.
"Mana ada aku lihat bulan. Emang apa spesialnya?" tanya Anjani sambil membaca buku.
Remaja pemilik rambut indah itu tampak tidak tertarik dengan cerita temannya.
"Cantik banget tahu. Emang sih gak sebesar waktu super blue blood moon kemarin, tapi tetap aja bagus. Apalagi cuaca juga cerah banget nggak ada awan," jelas Alvi antusias.
"Jadi tadi malam bulan purnama?" gumam Rania.
"Iya. Kamu selalu tidur cepat, ya? Nggak asik banget, sih."
"Nggak juga sih. Tapi aku emang gak ada keluar rumah lagi kalau malam," jawab Rania.
"Pantas aja dia seperti itu, pasti ada sesuatu lagi malam tadi," lanjut Rania.
Feelingnya tentang ada kekuatan supranatural dalam masalahnya semakin menguat. Kenapa kejadian aneh selalu bertepatan dengan bulan purnama?
"Nggak ada apa-apa." Rania tersenyum penuh rahasia.
"Haih, apaan, sih?" ujar Anjani.
"Oh iya, kalian tahu, nggak? Tadi malam Wilda menghubungiku duluan," cerita Rania.
"Heh, untuk apa? Bukannya dia sendiri yang bilang gak mau berhubungan sama kita lagi?" sahut Alvi.
"Jadi sebenarnya gini..." Rania lalu menceritakan obrolan dirinya dengan Wilda tadi malam.
"Hmm... Kalau memang begitu, masa nggak ada tindakan hukumnya? Ngarang tuh dia," ucap Alvi.
"Duh, kalian jangan bikin aku tambah puyeng. Kok kayaknya masalah ini makin jalan di tempat, ya?" Rania menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Eh gaes, kalian apa nggak ada yang punya kontaknya Audrey? Aku udah coba hubungi dia di media sosialnya tapi belum di balas," kata Rania kemudian.
"Audrey? Kamu berharap apa sama dia? Pengakuannya yang hendak melenyapkanmu malam itu? Nggak mungkin," sahut Anjani. Matanya masih tak lepas dari buku yang dibacanya.
"Bener tuh kata Anjani. Lagian, mana mau dia meladeni kita yang cuma remahan roti ini. Sedangkan dia sekarang udah jadi sultan di sana," tambah Alvi.
"Iya sih, tapi nggak ada salahnya kan dicoba? Aku udah hampir putus asa nih," sahut Rania.
"Btw kamu dari tadi baca apa sih? Fokus banget?" lanjutnya.
__ADS_1
"Novel fantasy. Baru-baru ini aku jadi ketagihan baca novel fantasy," sahut Anjani.
"Ya ampun.. Ku pikir dari tadi kamu bslajar untuk olimpide," celetuk Alvi.
"Ya kali, jam istirahat aku belajar juga? Bisa meledak kepalaku," ucap Anjani sambil terkekeh.
"Ini kayak novel terkenal Heri Potret itu, ya?" Rania mulai tertarik.
"Ya, mirip-mirip lah. Tapi ini settingnya lebih ke legenda gitu. Di sini bahkan dijelaskan asal usul bangsa Eropa, lho," jelas Anjani antusias.
"Ini apa? Kayaknya aku pernah lihat bentuk kayak gini di suatu tempat?" Rania memperhatikan gambar di cover buku tersebut.
"Ini rangkaian lukisan bunga. Tapi kalau diperhatikan lebih jeli, maka membentuk suatu tulisan kuno yang memiliki makna. Nah, itu salah satu teka-teki di dalam novel ini." Anjani semakin antusias menjelaskan pada Rania.
"Uwwahh.. Menarik. Tapi kayak nggak asing, deh. Aku kayak permah lihat gitu," ujar Rania yakin.
"Gambar pulau di bantalmu kali," goda Alvi.
"Sembarangan," sahut Rania sambil terkekeh.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
^^^"Jelaskan padaku, apa yang kalian lakukan tadi malam?"^^^
Qiandra mengirim pesan pada Wilda di sela-sela meetingnya hari ini.
"Apa maksudmu?" balas Wilda.
^^^"Kamu dan Rania bersekongkol mengerjaiku, kan? Pertama menakutiku, lalu menerorku agar aku percaya. Apa tujuan kalian? Memerasku demi uang?" tulis Qiandra lagi.^^^
"Hei, itu nggak benar. Aku aja tadi malam lembur di kantor sama rekan kerjaku," balas Wilda.
"Dan lagi, untuk apa lagi aku menjelaskannya padamu? Bukankah dari awal kamu nggak percaya padaku?" tulis Wilda lagi.
Qiandra terdiam di tempat. Memang benar apa yang dikatakan Wilda, tapi itu justru membuatnya lebih kesal lagi.
"Papa dan Felix juga sepertinya tidak terlalu peduli sama kejadian tadi malam," gumam Qiandra.
Seharian ini papanya sibuk di kantor cabang luar kota.
"Jalan satu-satunya, aku harus mencari kamar rahasia dan jalan menuju ruang bawah tanah itu. Firasatku mengatakan, di sana ada jawabannya," pikir Qiandra lagi.
Sementara itu, Rania di rumahnya...
"Aku tak percaya ini Rania yang ku kenal. Ku pikir dia telah tewas malam itu..." Audrey membalas pesan Rania.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1