Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 45 - Kamu kenapa?


__ADS_3

"Fyuh, syukuah. Aku sudah menyelesaikan tugas dari Pak Rayhan tepat waktu," gumam Rania setelah kembali dari ruang guru.


Rania bergegas menuju ke kantin, tempat janjiannya bersama Anjani dan Alfi.


Bruk!!!


"Aduh! Kalau jalan lihat-lihat, dong!" seru Dewi ketus.


"Dih. Klasik banget. Jelas-jelas dia sengaja menabrakku tadi," gumam Rania sambil berlalu. Ia tak peduli dan tak takut pada Dewi.


Lorong sekolah saat itu memang cukup ramai oleh para siswa. Namun tidak pula sangat padat sampai bersenggolan dengan siswa lain.


"Apa kamu bilang? Aku bisa dengar, lho," kata Dewi.


"Oh, kamu dengar? Bagus dong kalau gitu. Gak perlu pakai perantara lagi," balas Rania. Para siswa mulai berkumpul.


"Wah, kamu gak tahu diri rupanya, ya? Ini sekolah bukan level kamu. Tidak sepantasnya kamu berdiri sejajar dengan kami di sini," teriak Dewi sambil menarik rambut Rania.


"Oh, mau main jambak-jambakan?" balas Rania tak mau kalah.


"Hoi! Kalian ngapain, sih? Ayo, ntar keburu bel masuk," panggil Qiandra.

__ADS_1


"Ckk, tunggu dulu. Urusanku dengan cewek misk*n ini belum kelar," kata Dewi.


"Udahlah, tinggalin aja. Hal kayak gitu cuma bikin malu kamu, tahu nggak? Lihat tuh, dilihatin semua orang," kata Qiandra.


"Duh, kamu ini kenapa sih, belain dia mulu?" ujar Dewi.


"Udah... ikut aja sama aku, kalau gak mau kehilangan yang aku bilang tadi," kata Qiandra.


"Huh, ya udah deh," ucap Dewi mengalah.


Rania memandang Qiandra dengan aneh. Satu per satu siswa mulai membubarkan diri


"Sebenarnya ada apa, sih? Kon akhir-akhir ini kayaknya kamu respek banget sama Rania?" tanya Dewi penasaran.


"Iya juga, sih. Cih, mentang-mentang dia lemah, jadi memanfaatkan kekurangannya itu untuk menarik simpati orang," kata Dewi kesal. "Atau kamu sebenarnya lagi jaga image di depan Mikko?" lanjut Dewi.


"Apaan sih? Apa hubungannya sama Mikko?" tanya Qiandra.


"Hilih, pura-pura bingung. Jadi srbenarnya kamu tih jadian sama dia atau nggak?" desak Dewi.


"Entah, ya," balas Qiandra ogah-ogahan.

__ADS_1


Sebenarnya ia sangat menikmati gosip ini. Tapi di saat yang sama, dia juga takut Mikko marah lalu menjauhinya. Padahal ia sangat membutuhkan informasi tentang Rania.


"Hei, tapi yang kamu bilang tadi itu serius, kan?" tagih Dewi.


"Iya... Iya... Setelah produk barunya launching, pasti kamu dan Nurul kebagian, deh. Eh, ngomong-ngomong Nurul mana, ya?" ucap Qiandra. Sebenarnya ia sedih, karena nilai pertemanan mereka hanya sebatas give and take saja.


"Dia lagi diare. Kebanyakan makan seblak plus ayam rica-rica," jawab Dewi.


"Ya ampun, ada-ada saja," balas Qian.


*****


"Rania."


"Oh." Rania menepis tangan Mikko yang hendak meraihnya.


"Kamu kenapa sih? Dari tadi dipanggil diam saja?" tanya Mikko.


"Aku gak dengar," ucap Rania sambil berjalan melalui Mikko.


"Hei, tunggu dulu. Aku tahu kamu menghindariku beberapa hari ini," balas Mikko.

__ADS_1


"Tapi kamu sendiri yang bilang, kalau kita jangan saling kenal saat di sekolah," jawab Rania.


"Kamu cemburu karena gosip tentang aku dan Qiandra, kan?" tebak Mikko. Matanya menatap gadis di depannya, menanti jawaban.


__ADS_2