Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 144 - Rania dan Mikko


__ADS_3

"Jadi gimana? Pulang atau lanjut," tanya Felix ketika tim patroli itu sudah pergi.


"Lanjut saja. Toh kita udah terlanjur sampai sini," kata Rania.


"Tapi kata mereka tadi, kalau satu tahun lalu nenek itu sudah..."


"Duh, kalian penakut banget sih. Kalau nggak mau pergi biar aku sendiri saja," marah Rania memotong ucapan Valen barusan.


Tanpa menunggu teman-temannya, Rania pun melangkahkan kaki menuju ke lembah.


"Ya udah, kita ikuti saja Rania. Tadi kata mereka, ke arah sana juga bisa ketemu jalan besar, kan? Jadi sama aja kita jalan pulang," ucap Arka.


"Tapi, kalau ntar ketemu sama yang dari dunia lain gimana?" kata Valen gelisah.


"Dunia lain gimana? Ya ampun, badan doang gede. Kita kan rame, nih. Masa kalah sama cewek," timpal Mikko.


Menjelang matahari terbenam, mereka pun berjalan ke arah lembah, seperti yang ditunjukkan oleh tim patroli tadi.


"Kalian mau ke mana?"


"Kyaaa....!"


Suara wanita tua yang tiba-tiba menyapa mereka tapi tidak tampak wujudnya, menakuti Rania dan kawan-kawan.


"Bro, suaramu paling kencang tahu nggak?" protes Rania pada Valen sambil tertawa.


"Eyy... Sorry reflek."


"Tapi suara itu dari mana? Gak kelihatan apa-apa, lho," kata Felix sambil memperhatikan sekeliling.


"Ketutupan pohon, kali," kata Arka.


Pepohonan yang semakin lebat, dan menutupi matahari dari ufuk barat, membuat lantai hutan ini menjadi sangat gelap seperti malam hari.


"Nenek di sini. Kalian mau ke mana? Ini sudah hampir magrib, lho."


"Emm... Nek, kami masih belum bisa melihat Nenek. Tapi, tujuan kami ke sini untuk menemui Nenek Esther. Barangkali Nenek Kenal dengannya?" kata Arka hati-hati.


"Oh... Kalian mau bertemu Nenek Esther? Hehehehe... Ya udah. Ayo ikut."


"Gyaa... Hantu..." seru Valen.


"Duh, dasar gak sopan. Nenek kok dikatain hantu. Ini lho, Nenek di sini. Arah tenggara kalian. Masa gak nampak?"


Semua mata lalu menuju ke arah Tenggara. Sebuah pohon beringin besar berdiri ditengah rimbunan semak belukar.


"Hei, kalian yakin mau ikut nenek itu? Kayaknya mencurigakan, deh," bisik Felix.


"Benar juga. Wujudnya aja gak kelihatan dari tadi," Mikko balas berbisik pula.


"Cih, dasar penakut. Nih aku udah pernah ketemu langsung gak kenapa-kenapa, kok," kata Rania.

__ADS_1


"Hei, tunggu Rania!" Arka menahan lengan Rania yang hendak beranjak ke pohon beringin.


"Abang takut juga?" ucap Rania.


"Nggak. Tapi sebaiknya kita pangkas sedikit semak ini, biar nggak melukai badan kita," kata Arka.


"Nggak perlu. Kalian bisa lewat jalan memutar lewat jalan setapak yang tertutup belukar itu. Biasanya para penjelajah hutan juga lewat situ," kata Nenek itu lagi.


Srak... Srak... Rombongan muda-mudi itu lalu berjalan dengan hati-hati sesuai arahan sang nenek.


Valen terus memperhatikan peta dan kompas agar mereka tidak tersesat...


"Ternyata arah yang ditunjukkan nenek ini emang benar," gumam Valen dalam hati.


Namun tetap saja, jalan yang mereka lalui sangat tidak mudah. Beberapa kali celana mereka tersangkut batang rotan yang tumbuh menjalar di tanah.


"Guys, kalian cium bau bangkai, nggak?" bisik Mikko.


"Iya. Nyengat banget baunya," balas Felix dengan berbisik juga.


"Makin ke sana, kok baunya makin nyengat, ya?" ucap Arka pula.


Glek! Tak bisa dipungkiri, Rania juga mencium bau yang sama. Apa yang akan mereka temui ini manusia? Atau kah..."


"Bisa aja kan itu bau bangkai hewan," bisik Valen.


"Eh, bener juga sih. Kayayknya kelamaan di hytan, otakku jadi ngelag," ucap Felix kemudian.


Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di tempat yang tidak terlalu rimbun.


"Astaga!" Mereka hampir saja menjerit, mendengar suara itu.


Srak! Semak di bawah pohon beringin besar itu bergoyang. Seorang perempuan berbalut pakaian tradisional Eropa pun berjalan terbungkuk mendekati mereka.


"Nenek!" seru Rania senang.


"Ugh, tapi kok bau bangkai, ya?" pikir mereka bersamaan.


"Tapi kakinya menapak rumput, guys," ucap Valen dengan isyarat mata, bertepati dengan teman-temannya.


"Ah, maaf kalau kalian mencium bau busuk. Sejak satu tahun lalu, nenek mengidap diabetes basah, jadi beberapa bagian tubuh nenek membusuk," kata Nenek.


"Oh, jadi itu maksud tim patroli hutan tadi... Nenek sakit sejak tahun lalu..." kata Valen lega.


"Iya. Nenek juga menderita TBC."


"Apa itu sebabnya, Nenek berlari menjauhiku waktu itu?" tanya Rania.


"Iya. Tapi kenapa kalian datang ke sini ramai-ramai? Ayo mengobrol di pondok Nenek. Tapi setelah itu kalian harus segera pulang. Sebentar lagi magrib, banyak binatang buas," ajak sang nenek.


Di gubuk sederhana sang nenek, Rania dan teman-temannya pun menceritakan kasus-kasus yang baru saja terjadi, termasuk kematian Rania Putri.

__ADS_1


Rania juga mengucapkan terima kasih serta salam dari kakek.


"Ah, salam kembali untuk kakekmu, Rania."


Mentari akhirnya benar-benar terbenam. Mereka lun harus segera pulang sebelum malam semakin larut.


"Nenek beneran nggak mau tinggal di kota? Nenek bisa diobati di sana," bujuk Rania sebelum pulang.


"Rumah Nenek di sini. Nenek nyaman tinggal di sini. Dan tim patroli serta para pendaki sering mengunjungi nenek di sini. Sesekali dokter juga datang," kata Nenek Esther sambil tersenyum.


"Baiklah kalau gitu. Kapan-kapan kami main ke sini lagi," ucap Rania dan teman-teman.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Teman-teman, maaf. Aku harus pulang duluan. Aku sudah dijemput daddy," kata Valen begitu mereka sampai di danau wisata.


"Yah, gak setia kawan lu. Kita kan datangnya berdua tadi. Kok pulangnya sama daddy, lu?" ptotes Mikko.


"Sorry, bray. Tapi aku harus pulang sebelum jam sembilan malam. Sampai jumpa di sekolah" kata Valen lalu berlari mendekati mobil pajero putih.


"Ah, bener juga. Aku kan harus ngambil sepeda motorku yang masuk bengkel tadi? Aku pulangnya nebeng kamu, ya?" kata Arka pada Felix.


"Boleh, ayo."


"Bang, tadi kan ibu bilang kalau aku pulang pergi sama abang. Kok malah ditinggalin, sih? Lagian motor abang kan cuma kempes doang. Paling sekarang juga udah beres," kata Rania.


"Ih, nanti kalau di jalan kempes lagi gimana? Masa kamu mau jalan kaki sambil nemenin abag dorong sepeda motor?" kata Arka.


"Lagian kalau kamu pulang bareng Mikko, ibu gak bakal marah, kok."


"Cih," kata Rania sebel.


"Yaudah. Pulang, yuk. Kamu pulang ke rumah ibu atau rumah mama?" ajak Mikko.


"Rumah mama," kata Rania ketus.


Beberapa saat kemudian, di mobi Mikko.


"Rania, aku nggak tahu kenapa kamu menghindariku sebulan ini. Kamu tahu, kan? Kita pulang bareng gini sebenarnya akal-akalan mereka aja," kata Mikko.


"Iya. Aku tahu, kok. Aku kan cuma memberimu ruang aja, karena lagi berduka kehilangan Rania Putri."


"Jadi karena itu, kamu menghindariku? Karena masalah di pemakaman waktu itu?"


Rania tidak menjawab.


"Rania... Aku..."


"Hiss... udah... aku nggak mau dengar apa-apa lagi. Aku capek cuma jadi teman sesaat karena kamu butuh pelarian. Pastikan dulu hatimu, kamu mencintai siapa? Toh kita juga masih sekolah. Cinta-cintaan bukan tugas utama seorang pelajar," kata Rania.


"Tapi aku benar-benar menyukaimu, Rania," tegas Mikko.

__ADS_1


"Hubungan kita sudah berakhir. Anggap saja kita kembali ke titik awal, di mana kita nggak saling kenal, dan kamu hanya dekat dengan Rania Putri," tegas Rania pula.


(Bersambung)


__ADS_2