
"Maaf! Eh?" bisik Rania dan Anjani bersamaan. Mereka saling bertukar pandang.
"Maafkan aku," ulang Riani dengan malu.
"Aku juga minta maaf. Aku baru dengar cerita lengkapnya dari Bu Elya," balas Anjani setengah berbisik. Bu Hanum, guru Bahasa Inggris sedang mengambil projektor untuk memutar video di ruang guru.
"Begitu kah? Aku malu sekali," kata Riani.
"Sudahlah, kita sama-sama salah. Aku akan mengundurkan diri dari calon peserta," sahut Anjani.
"Tidak. Lanjutkan saja. Aku yakin kamu bisa," ucap Riani.
"Lalu kamu? Aku tidak tahu apa alasannya, tetapi sepertinya kamu sangat ingin pergi ke Bucharest," kata Anjani.
"Aku memang ingin ke sana, tetapi untuk menuju ke sana, harus melalui seleksi yang sangat panjang. Mengalahkan peserta dari seluruh Indonesia. Dan aku yakin kamu lebih pantas untuk mewakili sekolah kita. Para guru pasti memilihmu bukan dengan sembarangan," jelas Rania.
Anjani tidak membalas ucapan sahabatnya. Bu Hanum keburu masuk kelas dan melanjutkan pelajaran.
"Jadi kalian sudah baikan? Syukurlah. Ku pikir aku harus makan sendirian lagi di kantin," kata Alvi ketika pelajaran berakhir. "Apa yang dikatakan Bu Elya?" tanyanya kemudian.
"Aku diajukan oleh salah seorang siswa, dan para guru menyetujuinya. Tetapi, aku tak tahu kenapa Bu Nanik justu mengatakan akulah yang mengajukan diri?" kata Anjani.
"Sepertinya aku tahu siapa yang mengajukan dirimu. Hanya ada satu orang yang mampu menggunakan kekuasaannya di sekolah ini. Membuat semua fakta berputar balik," kata Rania.
"Maksudmu? Qiandra?" tebak Alvi. "Tetapi mana mungkin sekolah ini menerima suap begitu saja? Pasti itu akan menodai citra mereka," kata Alvi.
Rania menaikkan alisnya, "Para guru menyetujui Anjani sebagai peserta, memang karena kemampuannya. Tetapi fakta bahwa Anjani yang mengajukan diri, bisa saja kan direkayasa oleh seseorang? Tidak perlu persetujuan dari guru lainnya? Cukup dengan memenuhi kebutuhan pribadinya dari sang murid," kata Rania.
Anjani dan Alvi saling bertukar pandang, memahami maksud ucapan Rania. Rania pun baru memahami arti ucapan Qiandra saat bertemu dengannya tadi.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Sedang apa kamu, Nak?" tanya ayah sambil meletakkan garpu tanah.
"Sedang menyiram bunga, Yah. Rania masuk klub berkebun di sekolah. Jadi katanya bunga anyelir itu paling bagus disiram saat jam lima sore," jawab Rania.
__ADS_1
"Bukan itu maksud ayah. Apa yang sedang kamu pikirkan? Ayah tahu beberapa minggu ini kamu terlihat berbeda. Kamu sering melamun, berdiam diri, pandangan kosong. Ada masalah apa, Nak? Ceritakan pada Ayah," kata ayah.
Rania hanya terdiam. Bibirnya tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Matanya berkaca-kaca menatap wajah sang ayah yang terlihat semakin keriput.
"Nak, kamu itu anak ayah. Bang Arka, kamu, Livy, kalian bertiga sama-sama anak ayah dan ibu. Kesayangan kami. Ayah tahu jika ada perubahan pada anak Ayah. Apa ada masalah di sekolah, Nak?" ujarnya. Suaranya terdengar tertahan.
Air mata Rania tumpah. Bagaimana bisa ia bertanya, ia anak siapa? Sedangkan orang tuanya begitu menyayanginya seperti ini. Orang tuanya juga selalu memastikan, jika ia layak memperoleh pendidikan di sekolah internasional, sama seperti yang lainnya. Tidak ada kekurangan apa pun pada diri Rania. Apa ia masih harus meragukan kasih sayangnya mereka? Lalu bagaimana dengan mama dan papa Rania?
"Nak?" tanya ayah. Ia mengelus rambut putrinya dengan sayang.
"Maafkan Rania, Yah. Rania selalu membuat ayah sedih dan khawatir," bisiknya. Suaranya tenggelam karena tangisan yang ia tahan.
"Tidak, Nak. Semua yang Ayah dan Ibu lakukan untuk kalian, tidak ada kata-kata lelah di dalamnya. Melihat kalian tumbuh besar dengan baik, itu adalah kebahagian terbesar bagi kami," kata ayah dengan wajah yang terlihat semakin keriput.
Entah berapa banyak guratan di wajahnya. Kelelahan, kurang tidur, berbagai macam pikiran, semua bercampur jadi satu, hingga ia tidak memikirkan lagi dirinya sendiri.
"Jadi, kalau ada masalah ceritakan pada Ayah, jangan simpan sendiri," lanjut ayah. "Meski kamu memiliki banyak perbedaan dengan kami, entah itu warna mata, golongan darah. Tetapi di mata ayah dan ibu, kamu tetaplah anak kami yang sangat kami sayangi. Tidak ada perbedaan apa pun," kata ayah lagi.
Air mata Rania semakin mengalir deras di pipinya. Ia merasa sangat bersalah, karena selalu meragukan keluarga ini. Mungkin, ia memang bukan putri kandung keluarga ini, seperti yang dipikirkan Rania. Tetapi, kasih sayang mereka sama halnya dengan orang tua kandung Rania. Tak diragukan lagi.
"Bagaimana kabar suratku, ya? Apa diterima mama? Aku penasaran apa pendapat mama tentangku sekarang? Masih ingatkah ia padaku?" gumam Rania dalam hati.
"Kamu kan baru sembuh. Istirahat saja di dalam. Biar ayah saja yang mengerjakannya," kata ayah kemudian, membuyarkan lamunan Rania.
"Tidak apa-apa, Yah. Kalau cuma menyiram bunga dan menyiang rumput, Rania bisa kok," ucapnya kemudian.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Sussex, Inggris, pukul lima sore waktu setempat.
"Sayang, sudah selesai menulis surat balasannya?" tanya Geffie pada istrinya.
Kedua pasangan suami istri itu sedang istirahat sejenak di sebuah cottage yang mereka sewa, sebelum melanjutkan kegiatan di kota lainnya esok hari.
"Sudah. Besok pagi hanya tinggal mengirimnya melalui pos," jawab Chloe.
__ADS_1
"Aku heran, kenapa kamu mesti susah payah membawa semua surat ini, dan menulis semua balasannya? Padahal lebih mudah jika kita membalasnya nanti di Indonesia," kata Geffie.
"Itu akan membutuhkan waktu yang lama, sayang. Kita belum tahu, kapan akan kembali ke Indonesia. Dan jika meminta para asisten menjawab surat-surat ini, sama saja aku membohongi para penggemarku. Mereka kan mengirim surat untukku," jelas Chloe.
"Baiklah. Terserah saja, asalkan kamu senang, sayang," jawab Geffie.
Chloe tersenyum manis. Ia sungguh beruntung memiliki suami yang selalu mendukungnya dalam keadaan apa pun. Matanya menatap sebuah amplop biru bergambarkan cinderella.
Geffie tak tahu, jika masih ada satu surat yang belum di balas oleh Chloe. Surat itulah yang membuat hati Chloe tergerak untuk membalas semua surat yang dikirim penggemarnya.
Surat yang satu ini isinya sangat sederhana. Tak jauh berbeda dengan isi surat lain yang dikirimkan padanya. Akan tetapi, setiap kalimat yang disampaikannya, membuat hati Chloe bergetar dan dadanya sesak.
Ia menerima surat tersebut, sehari sebelum mendengar kabar dari Jennia. Pada saat itu, tentu ia belum mengetahui, jika sang pengirim adalah anak dari malaikat penolongnya di masa lalu.
"Meski aku sudah membacanya berkali-kali, entah kenapa tak ada satu pun yang bisa ku tulis. Hanya kerinduan yang kurasakan di hati ini. Sama seperti saat aku melihatnya dulu di mall. Rasanya tak ada kalimat yang pantas untuk membalasnya. Aku hanya ingin bertemu langsung dengannya. Mengapa gadis ini selalu membuatku menangis?" Chloe akhirnya mencurahkan isi hatinya pada Geffie.
"Sayang, sabar ya. Nanti kita akan bertemu mereka jika pulang ke Indonesia. Untuk sekarang, aku bantu untuk menulis balasannya, ya," ucap Geffie menghibur istrinya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Keesokan harinya di sekolah...
"Kalian mau kan menemaniku membeli kado untuk anak supirku saat pulang sekolah nanti? Aku tadi meminta izin pada papa," ajak Alvi sepulang sekolah.
"Tentu saja," jawab Rania dan Anjani kompak.
Mereka bertiga menyusuri trotoar di depan sekolah. Melalui beberapa gedung ruko, lalu masuk ke sebuah gedung khusus menjual aksesoris. Mereka pun asyik memilih pernak pernik sebagai hadiah ulang tahun Luna yang ke tujuh, anak supir pribadi Alvi.
"Kamu... Edlyn Rania Austeen, kan?" seorang wanita memanggil Rania.
Deg! Jantung Rania berdegup kencang. Siapakah sosok yang mengenali dirinya?
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1