
“Bangun, Nona. Sudah pukul 05.30,” ucap Sania.
“Biarkan aku tidur sepuluh menit lagi,” gumam Qiandra.
“Tidak. Tidur sepuluh menit adalah mitos. Nona pasti akan tertidur lagi selama satu jam lebih,” kata Sania.
“Kalau begitu, biarkan saja aku tidur satu jam lagi,” sahut Qiandra sambil menarik selimutnya menutupi wajah.
“Tidak bisa. Nona pasti akan terlambat.” Sania tidak menyerah.
“Tidak mungkin. Kelas kan dimulai pukul tujuh tiga puluh hari ini,” sahut Qiandra malas.
“Tetap tidak bisa. Nona kan dandannya lama. Bukannya Nona sendiri yang ingin tampil cantik paripurna setiap hari?” singgung Sania.
“Aduh… Bawel banget sih. Kamu lebih cerewet dari mama, tahu?” keluh nona manja itu.
“Memang benar. Sekarang saya adalah ibu tiri Nona yang kejam. Saya menerima mandat langsung dari Nyonya selama beliau tidak di sini,” jawab Sania.
Ia tidak lagi takut dengan majikannya. Bagaimana pun, Qiandra adalah remaja yang masih labil dan mudah emosi. Sudah jadi tugasnya untuk merawatnya dengan baik selama Nyonya Chloe tidak ada.
“Nona… Nona mau mendapatkan hati tuan muda Mikko, bukan? Kalau begitu harus dimulai dari sikap disiplin serta penampilan yang rapi dan sempurna,” bisik Sania.
“Errgghhh… Oke, oke. Aku bakalan bangun. Sebutkan jadwalku hari ini dengan lengkap,” ucap Qiandra.
Sania tersenyum. Mengumpankan cowok tampan pada nona mudanya selalu berhasil.
“Pagi hari sampai puku 14.30, Nona bersekolah seperti biasa. Pukul 15.30 sampai 17.00 Nona les Akting. Lalu kegiatan Nona kosong. Pukul 19.00 nona harus mewakili Nyonya dan Tuan Besar di jamuan makan malam keluaga Collin,” ucap Sonia tanpa cela sedikit pun.
“Syukurlah aku tak perlu lagi menghadiri kegiatan rapat summer show yang kekanakan itu lagi,” komentar Qiandra.
“Nona tidak sedih? Bukannya sejak dulu nona ingin debut sebagai designer?” tanya Sania hati-hati.
Qiandra mengerutkan dahi, “Mungkin dulu begitu. Tetapi kini tidak lagi. Aku rasa jadi supermodel pun cukup. Aku juga baru saja menandatangani kontrak dengan produk parfum terkenal, kan? Ku rasa itu lebih baik dari pada harus pusing menggambar pola dan menggunting kain di balik layer,” ucap Qiandra.
Sania menatap majikannya dengan penuh tanda tanya. Ada apa gerangan? Kenapa cita-cita nona mudanya berubah dalam sekejab? Yah, tetapi yang terpenting sih jangan sampai pekerjaannya menumpuk banyak karena ulah nona muda.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Terima kasih Qiandra, sudah memenuhi panggilan Ibu di tengah kesibukan kamu,” ujar Bu Rosilah ketika Qiandra menghadap.
__ADS_1
“Tentu saja saya harus datang, Bu,” jawab Qiandra pada wakil kepala sekolah bagian kesiswaan tersebut.
“Ibu tidak tahu. Apakah kamu bisa memenuhi permintaan ini atau tidak, tetapi Ibu tetap ingin menawarkannya pada kamu langsung. Barangkali kamu berminat,” ucap Bu Rosilah.
“Saya akan berusaha semampunya, Bu,” jawab Qiandra.
“Beberapa waktu lagi akan ada seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN). Dan seperti biasa, setiap sekolah berhak mengirim perwakilannya termasuk sekolah kita,” kata Bu Rosilah memulai pembicaraan. Qiandra dengan sabar mendengarnya.
“Apakah kamu berminat untuk mewakili di bidang Matematika?” tanya Bu Rosilah.
“Tentu saja saya bersedia, Bu. Suatu kehormatan Ibu telah memilih saya,” jawab Qiandra.
“Tetapi tentu saja kamu tidak mutlak menjadi perwakilan sekolah. Kamu harus mengikuti seleksi internal sekolah dulu bersama para kandidat lainnya,” terang Bu Rosilah.
“Tidak masalah, Bu. Saya pasti akan berjuang sekuat tenaga untuk menjawi perwakilan dan mengharumkan nama sekolah kita,” kata Qiandra semangat.
“Syukurlah kalau begitu. Ibu senang mendengarnya,” sahut Bu Rosilah.
Tiba-tiba Qiandra teringat sesuatu, “Kategori apa saja yang dilombakan dalam olimpiade ini, Bu?” tanya supermodel itu.
“Seperti biasa. Fisika, Kimia, Biologi, Matematika dan Astronomi,” jelas Bu Rosilah.
“Tentu saja Rania, dia kan sudah menunjukkan hasilnya tahun lalu. Kemudian ada Aiden dari kelas sepuluh, dan juga Novita Sari dari IPA dua,” jawab Bu Rosilah. “Kenapa? Apa kamu ingin ganti bidang studi?” tanyanya kemudian.
“Tidak, Bu. Akan tetapi, Rania kan sedang sakit. Saya dengar pemulihan patah tulang itu cukup lama. Apakah itu tidak akan megganggu persiapannya mengikuti olimpiade?” ucap Qiandra.
“Sepertinya tidak masalah. Terlebih dia sudah memiliki pengalaman sejak SMP,” jawab Bu Rosilah.
“Memangnya boleh ya, Bu? Juara tahun lalu ikut lomba lagi? Padahal masih banyak siswa lain yang juga memiliki potensi lebih. Saya ada melihat beberapa di antaranya,” kata Qiandra. “Ya ini hanya usul saya,” lanjutnya.
“Benar juga, sih. Nanti akan saya diskusikan lagi dengan para guru,” gumam Bu Rosilah.
“Menurut saya, usulan dari para guru tidak akan jauh berbeda dengan usulan dari saya,” ucap Rania yakin.
Rasa iri dan dengki pada Rania masih terpatri dengan jelas di hati putri keluarga Austeen tersebut. Meski ia tak tahu alasannya, rasa tak suka itu tak bisa dibuangnya begitu saja.
“Jika aku tak bisa merundungnya secara langsung, pasti dengan cara ini ia akan merasa lebih sakit dan hancur,” gumam Qiandra dalam hati.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
__ADS_1
“Rania….” seru Alvi dan Anjani.
“Sssttt… Kita berada di rumah sakit. Jangan teriak-teriak seperti itu,” tegur Rania.
“Ah… Maaf… Kami kesepian karena kamu tidak masuk sekolah,” ucap Alvi. “Ibu apa kabar?” lanjutnya.
“Alhamdulillah Ibu sehat,” jawab Ibu. “Kalian mengobrol dengan santai saja. Ibu akan keluar,” lanjutnya.
“Ibu istirahat saja dulu. Biar gantian kami yang merawat Rania,” kata Anjani pula.
Ibu tersenyum. Ia bersyukur teman-teman anaknya sangat baik, meski mereka anak-anak orang berada, berbeda dengan Rania.
“Bu, jangan terlalu percaya sama mereka. Mereka lebih berbakat untuk menganggu dari pada merawat,” kata Rania sebelum ibu meninggalkan kamar
“Kamu itu kena kutukan apa sih? Kok apes mulu?” tanya Alvi. Ia mengupaskan sebuah mangga untuk di makan bersama.
“Harusnya aku yang tanya begitu,” ucap Rania sedih.
“Eh, kamu tahu nggak berita bagus dari sekolah?” ucap Anjani mencairkan suasana.
“Apaan?” tanya Rania dan Alvi kompak.
“Hah? Kamu gak tahu juga, Vi? Bakal ada seleksi OSN, lho. Dan kalau lolos sampai tingkat Nasional, bakal ikut Olimpiade Sains tingkat Internasional di Bucharest,” cerita Anjani.
“Bucharest? Menarik juga,” gumam Rania. "Lebih baik mencai sumber dari pusat informasinya langsung, kan? Di negara asal mama,” batinnya.
“Iya, kan? Rania pasti bakal ikut olimpiade biologi,” ucap Anjani antusias.
“Ya, benar. Pasti begitu,” timpal Alvi.
“Kalau kamu menang, kami nebeng ke Bucharest ya,” kata Anjani.
“Memangnya aku pergi naik becak? Nebeng-nebeng segala. Lagian banyak yang harus dilalui untuk sampai ke tingkat nasional,” kata Rania.
“Untuk ukuran pemenang medali perak kecil lah itu,” timpal Anjani.
(Bersambung)
Terima kasih telah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1