Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 58 - Misi Baru


__ADS_3

Fiuh...


Rania bernapas lega setelah berhasil menaiki bus terakhir. Kalau ketinggalan, ia terpaksa pulang dengan ojek online.


Tapi kekhawatirannya tidak berhenti sampai di situ.


"Semoga saja ibu tidak banyak bertanya, ke mana aku pergi hari ini," harap Rania.


Sebelum pergi ia memang telah pamit pada ibunya, tanpa menjelaskan secara spesifik ia pergi ke mana.


Berbagai macam bujuk rayu ia lontarkan agar sang ibu mengizinkannya pergi.


Dengan langkah sedikit tergesa, Rania menapaki jalanan gang perumahan yang cukup ramaioleh anak kecil.


Tinggal dua puluh hasta lagi mencapai rumahnya. Tapi Rania mendadak menghentikan langkahnya. Raut wajahnya berubah masam, melihat seseorang yang berkecak pinggang tepat di depan pintu.


"Mikko?" gumam Rania. "Sedang apa kamu di sini?" tanya Rania jutek.


"Nih, buku kamu. Kemarin ketinggalan di rumahku. Kata Qiandra besok kalian ada pre-tes sebelum kelas." Mikko menyerahkan buku catatan fisika milik Rania.


"Oh, thanks." Rania menyambar buku itu tanpa menoleh sedikit pun.


Tanpa basa-basi, ia lalu meninggalkan Mikko yang masih berdiri di depan.


"Kamu gak mengajakku masuk dan menawarkan teh?" tanya Mikko.


"Sepertinya gak perlu. Aku yakin kamu sudah cukup lama di sini," sahut Rania. Matanya melirik secangkir kopi susu dan setoples biskuit yang isinya sudah berkurang setengah.


"Rania, kamu kenapa, sih? Masih kesal karena aku dekat dengan Qiandra?" Mikko mencoba meraih lengan Rania.


"GR banget, sih? Sok kecakepan? Gak semua cewek suka kamu." Rania menepis tangan Mikko.


"Terus apa? Jelaskan, dong? Karena aku dan Qiandra mencurigaimu menggunakan ilmu hitam?"


"Hah?" Pupil mata Rania bergetar mendengar pernyataan Mikko.


"Aku tahu, kamu waktu itu merekam percakapanku dengan Qiandra. Gimana aku nggak curiga denganmu, kalau kamu sendiri nggak pernah terbuka," ujar Mikko.


"Bukan aku yang nggak terbuka. Tapi kamu yang dulu gak percaya," ucap Rania dalam hati.


"Hari ini kamu abis dari mana? Aku tebak pasti kamu pergi ke danau lagi, kan? Apa sih yang kamu cari di sana?" desak Mikko.

__ADS_1


Cowok tampan itu memperhatikan kaos kaki Rania yang penuh lumpur dan duri. Pakaiannya juga terlihat lusuh dan penuh keringat.


Rania tidak terkejut jika analisis Mikko sangat tepat. Anak polisi itu benar-benar memiliki penglihatan bagai elang.


"Jangan coba-coba bohong, kamu. Aku bisa mencium bau bunga anggrek bulan dari bajumu. Dan juga sisa-sisa bunga akasia di rambutmu," jelas Mikko setengah memaksa.


Ah, Rania lupa. Mikko juga memiliki penciuman yang amat tajam bagai anjing pelacak.


"Kalau emang iya terus kenapa? Mana tahu aku bisa dapat wangsit, dan membalaskan dendam sama orang-orang yang sangat ingin melenyapkanku," kata Rania dengan gigi rapat. Dari sorot matanya terpancar rasa benci yang sangat besar.


Mikko terkejut. Baru sekali ini ia melihat Rania dengan kemarahan seperti itu.


"Halo anak-anak muda yang sedang asyik berdebat, sebentar lagi adzan magrib berkumandang. Sebaiknya ditunda dulu romansanya," tegur ibu.


"Hmm... Saya permisi pulang dulu, Bu," ujar Mikko.


"Lho, nggak masuk dulu?"


"Nggak usah, Bu. Pengen cepat istirahat di rumah. Saya juga udah lama nongkrong di sini," tolak Mikko sambil tertawa.


"Kita sambung besok ya debat romansanya," kata Mikko seraya mengedipkan mata pada Rania.


"Dih, kalau di depan ibu udah ku sleding, nih," gumam Rania.


Tetapi kepala Rania jadi dipenuhi dengan wajah Mikko. Kali ini bukan karen suka, sih? Melainkan karena terpikir, sejak kapan Mikko mengetahui semua gerak-geriknya. Apa saja yang sudah ia ketahui?


🌺🌺🌺🌺🌺


"Kak, lihat. Desainku diterima oleh Aslee Fashion. Mereka akan memproduksi bajuku untuk musim ini," seru Livy riang. Ia menunjukkan email resmi dari Aslee corp.


"Wah... Syukurlah. Hebat kamu, dek," ucap Rania turut senang.


"Aku benar-benar nggak menyangka kalau bakal diterima. Padahal kan kemarin nggak menang," cerita Livy. "Duh, gak bisa bayangkan desain bajuku bakal dipakai model-model berbakat." Mata gadis kecil itu sangat berbinar-binar.


Rania tersenyum mendengarnya. Ia benar-benar bangga pada adiknya, yang bisa berhasil mencapai impiannya meskipun berasal dari keluarga sederhana.


"Deg-degan banget rasanya. Minggu depan tanda tangan kontrak dengan Aslee Corp. Aku minta ayah atau Bang Arka mengantar. Apa kakak mau ikut juga?" usul Livy polos.


"Ke Aslee Corp?" batin Rania.


Dulu gedung itu adalah ruang belajar sekaligus tempat bermainnya. Waktunya lebih banyak dihabiskan di gedung milik ayahnya tersebut dari pada di rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Assalamualaikum. Lihat, ayah bawa apa?" Ayah membawa satu bungkusan besar berbau harum.


"Wow, nasi padang!" seru Livy dan Bang Arka.


"Ini untuk merayakan keberhasilan anak ayah," ujar ayah.


Rania memandang bungkusan yang di bawa ayah dengan hati terenyuh. Makanan yang selama ini dianggap Rania hidangan sederhana, jurtru menjadi menu mahal bagi mereka.


Tapi... Kok hanya empat bungkus?


"Ayah dan ibu satu bungkus berdua saja. Kalian kan sudah lama tidak makam nasi padang. Ada dendeng balado kesukaan kalian, nih," ucap ayah. Ia paham maksud pandangan Rania.


Lagi-lagi hati Rania menangis. Selama ini, orang tua aslinya memang sangat banyak berkorban bagi dirinya. Tapi, di keluarga ini terlihat lebih jelas bagaimana pengorbanan dan kasih sayang orang tua itu. Bisakah ia merelakan mereka, jika suatu hari nanti ia kembali pada posisinya semula?


"Eh, kayaknya ada yang ganjil dari cerita Mikko tadi. Tapi apa, ya?" Rania mengingat-ingat sesuatu.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Aku udah di rumah, nih."


"Gimana? Ketemu?" balas Qiandra. Cewek cantik itu segera nelempar gulingnya saking semangatnya.


"Nggak. Aku nggak tahu di mana mereka menyimpannya. Aku jarang banget ke rumah mereka. Nggak bisa obrak-abrik rumah orang juga, kan?" tulis Mikko.


"Yah... Gimana sih? Aku udah susah payah lho ambil buku fisika dari tasnya. Kalau ketahuan aku bisa dibully tahu. Harga diri nih yang ku korbankan" gerutu Qiandra.


"Iya... Iya... Aku juga deg-degan tadi waktu bohong. Untung dia percaya-percaya aja ku bilang bukunya ketinggalan. Lagian kamu tahu dari mana, sih, kalau dia gak pulang ke rumah?" balas Mikko lagi.


"Ada, deh. Aku kan juga punya mata-mata. Jadi gimana dong, ni? Masa misi pertama gagal gitu aja, sih?"


"Tenang. Jangan marah-marah dulu. Aku dapat sesuatu yang lebih menarik. Dijamin bukan hanya kamu yang kaget, tapi juga dia," kata Mikko.


"Apa, tuh?" Qiandra kembali semangat membacanya.


"Eits, nanti dulu. Kamu pasti pegang janji kan, gak disebarkan ke mana-mana dulu tentang ini?" Mikko membuat kesepakatan.


"Ya tergantung. Lihat dulu informasi apa yang kamu kasih," ujar Qiandra waspada.


"Hmm... Kalau gitu aku pikir-pikir lagi, deh," balas Mikko.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi


__ADS_2