
"Mama? Pertama kalinya menelepon mama? Apa maksudmu Rania?"
Darah Rania mengalir deras mendengar ucapan itu.
"Bang Arka sudah pulang?" ucap Rania gugup.
"Ya. Kamu menelepon siapa barusan pakai HP ibu?" tanya Arka.
"Emm... Itu... Nyonya Chloe. Aku sering melihatnya di TV dan jadi kebiasaan panggil mama," kata Rania.
"Hmm... Itu nggak mungkin. Kamu bukanlah penggemar Chloe sejak dulu. Justru Livy yang sangat mengidolakannya," bantah Arka.
"Ya aku juga baru-baru ini jadi ngefans dengannya karena sering mendengar cerita Livy. Waktu itu kami juga melihatnya langsung kan di mall," ujar Rania meyakinkan.
"Sudahlah Rania, jangan berbohong lagi. Katakan aja yang sebenarnya. Abang tak akan marah," pinta Arka.
Ia bisa melihat bahwa adiknya ini tidak berkata jujur.
"Hah..." Rania menghela napas dalam-Dalam. Bukannya dia nggak mau cerita, tapi memangnya Arka bakal percaya?
"Ayo, aku akan dengarkan. Apa pun yang akan kamu ceritakan itu," desak Arka.
"Tapi jangan dianggap aneh, ya. Jangan bilang juga sama ayah dan ibu," pinta Rania.
"Waduh, kamu habis merampok bank ya, Dek?"
Plak! Sebuah tamparan bantal mendarat si bahu Arka.
"Haddooh... Itu sakit, Dek."
"Ya makanya. Masa aku dituduh rampok bank?" kata Rania sambil tertawa.
"Iya deh iya... Aku dengerin, nih." Arka duduk bersila di depan Rania.
"Tapi janji ya jangan kasih tahu ayah ibu," kata Rania lagi.
"Iya."
Rania lalu menceritakan semua yanh ia alami dari beberapa bulan yang lalu sampai sekarang. Beberapa kali ekspresi wajah Bang Arka berubah jadi bingung atau tak percaya di beberapa bagian cerita.
"Gimana? Nggak masuk akal, kan?" kata Rania.
"Hmm ya nggak masuk akal emang. Tapi ini jauh lebih baik dari pada kamu terus berbohong, kan," kata Bang Arka datar.
Rania memandang abangnya dengan bingung, "Abang gak anggqp aku aneh?"
"Loh, kan kamu sendiri yang minta, jangan dianggap aneh."
__ADS_1
Kening Rania semakin berkerut, "Abang gak sedoh, karena ternyata aku bukanlah Rania Putri?"
"Itu masih belum pasti, kan?" kata Arka.
"Tapi berdasarkan yang aku ingat selama ini, ditambah lagi cerita dari Wilda dan Nenek Ester, kemungkinan itu benar kan?" ucap Rania.
"Yah, kalau itu memang benar abang pasti sedih banget, karena bakal kehilangan dua adik yang abang sayangi."
"Hmm??"
"Kamu Rania Putri atau bukan, tetap aja adik abang. Demikian juga dengan ayah dan ibu, pasti tetap menganggap kamu putrinya," kata Arka.
"Masih banyak yang harus abang cerna dari ceritamu, Rania. Tapi ada satu hal yang abang pahami, yaitu ibu dan Chloe ternyata dulu berteman, bahkan ia memberi gelang persahabatan yang sekarang kamu anggap sebagai barang bukti," jelas Arka lagi.
"Iya. Itu benar," sahut Rania.
"Nah, beberapa waktu lalu tetangga kita mengatakan, ada seseorang yang datang mencari ibu. Ia mengenakan mobil dan pakaian mahal. Tapi mereka takut, karena mengira itu adalah debt collector," kata Arka.
"Tapi sekarang abang berpikir, mungkin aja itu Chloe yang datang mencari ibu."
"Mama ke sini?" gumam Rania dalam hati.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Nanti abang bantu cari jalan keluarnya," ucap Arka sambil mengelus rambut Rania. Ia pun lalu keluar kamar.
"Aneh, Bang Arka sama sekali tidak terkejut mendengar ceritaku. Apa sebenarnya ia sudah tahu?" pikir Rania.
"Ada apa? Tumben kamu mengajakku ketemuan?" tanya Mira.
Sore ini, Rania mengajak Mira ketemuan di taman kota.
"Aku sudah berhasil menghubungi Audrey," kata Rania tanpa basa-basi.
"Wah, serius? Gila.. Hebat banget kamu. Padahal orang kayak dia pasti bakal susah banget dihubungi. Kamu menghubunginya sebagai siapa? Rania Putri atau Rania Austeen?" kata Mira.
"Yah... Mira yang anak pejabat aja ngomong gitu, apalagi aku yang cuma anak pembantu," sahut Rania sambil tertawa.
"Kalau ia sampai menghubungimu, emm... Maksudku Rania Putri, artinya kalian punya hubungan yang erat.," kata Mira.
"Nah itu yang aku mau aku bilang sama kamu. Ayahku ternyata pernah bekerja di rumah keluarganya dan kami akrab waktu kecil, sampai aku dituduh berniat membunuhnya," kata Rania.
"Serius? Membunuh?" Mira mengerutkan dahinya.
Rania pun menceritakannya.
"Apa itu masuk akal? Hanya karena sekotak susu? Bisa aja kan kamu nggak sengaja."
"Yah... Dari cerita ibuku sih seperti itu. Aku sendiri kan nggak ingat," kata Rania.
__ADS_1
"Oh iya, aku mau tanya. Dulu kenapa kami bisa satu regu denganmu?" tanya Rania pada Mira.
"Kamu pasti berpikir kalau mungkin saja Audrey sengaja satu regu denganmu untuk membalas dendam, kan?" tebak Mira.
"That's it." Rania mengacungkan telunjuknya di depan muka.
"Sayang sekali, itu salah. Semula Audrey berada di regu Angsa bersama teman-teman yang lain," cerita Mira.
"Eh, masa?" Rania tidak percaya.
"Sekitar dua bulan sebelum perkemahan, dua diantara mereka mengalami cedera karena berlatih voli untuk klub sekolah kita." Mira melanjutkan ceritanya.
"Maksudmu Diana dan Srianti?"sela Rania.
Dulu waktu kelas satu ia memang pernah mendengar kabar kalau dua orang tim voli mereka cedera saat latihan.
"Iya, mereka. Lalu Mereka berdua pun absen dari semua kegiatan klub sekolah termasuk pramuka, dan regu mereka pun kekurangan anggota. Pembina kita lalu menyebar mereka ke beberapa regu lainnya." Mira mengakhiri ceritanya.
"Ah... Jadi begitu. Tapi, siapa yang malam itu duluan mengajak keluar tenda?" kata Rania.
Gadis remaja itu masih sangat yakin kalau Audrey sengaja ingin membunuhnya.
"Ya, malam itu memang dia yang mengajakmu keluar. Tapi, bukan kamu yang pertama diajaknya, tapi aku," kata Mira.
"Kamu?" Rania menolak percaya.
Mira mengangguk, "Tapi aku menolaknya karena harus tetap berada di tenda menjaga anggota regu lainnya."
Rania membuang napasnya dengan kasar. Ia sedikit kesal Mira yang seakan membela Audrey.
"Maaf Rania, waktu dulu aku mendengar ceritamu, aku juga merasa dia sudah berniat jahat sedari awal. Tapi setelah aku ingat-ingat lagi, ku rasa tidak ada alasannya untuk mencelakaimu," ujar Mira kemudian.
"Kenapa nggak ada?"
"Karena sejak bergabung di regu kita, dia selalu baik pada semua anggota, termasuk kamu. Dan kamu yang saat itu pasti masih sangat mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu, kan? Selama kita satu regu sama sekali nggak ada masalah di antara kalian" kata Mira.
"Iya kah?" gumam Rania.
"Aku paham kalau kamu mencurigainya. Memang benar, mereka sangat berperan dalam kasusmu waktu itu. Tapi di sisi lain, ku rasa itu bukan sesuatu yang direncanakan oleh Audrey, sama seperti kamu dulu," kata Mira.
"Yah... Mungkin saja saat itu kalian sudah baikan. Justru mungkin orang tuanya yang patut disalahkan atas kejadian itu," lanjut Mira lagi.
Rania terdiam. Tentu hatinya sangat tidak setuju dengan pernyataan dari Mira.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1