
"Pokoknya kamu jangan dekat-dekat Tuan Mal.. Eh, sebentar... Malfoy?" Qiandra menghentikan kalimatnya. Sepertinya dia menyadari sesuatu.
"Kamu, kan?"
Jantung Rania berdebar kencang menunggu kalimat lanjutan dari Qiandra, "Apa ia telah menyadarinya?"
"Kamu suaminya Fania, kan? Jadi kamu selalu menguntitku untuk mencari informasi perusahaan? Atau ingin mencelakaiku?" tuduh Qiandra.
"Eeh... Bukan begitu. Aku tidak pernah nenguntitmu untuk mencari informasi perusahaan..."
"Oh, jadi kamu mengakui kalau kamu menguntitku, walau alasannya tidak tepat?" ucap Qiandra lagi.
"Yah... Kirain dia ingat sesuatu. Aku kecewa nih," gumam Rania.
"Apa katamu?" ucap Qiandra.
"Ah, bukan apa-apa."
"Ayo kita pergi. Jangan mendekati om-om mencurigakan ini lagi."
Qiandra menarik tangan Rania lalu membawanya pergi dari situ.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Rania sempat menoleh ke belakang dan melihat raut wajah Malfoy yang sedih.
"Ada apa dengannya? Apa dia sudah tahu siapa Qiandra sebenarnya?" pikir Rania.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Kok bengong? Bukannya senang gitu? Atau kamu mau kamar yang lebih bagus dari pada kamar milikku?" protes Qiandra.
"Bukan gitu. Aku heran aja. Kenapa aku diberikan kamar ini, nggak seperti pelayan lainnya. Nanti kalau pelayan lain bertanya gimana?" ucap Rania.
Sekali lagi, matanya memandang seisi kamar tamu VIP dengan fasilitas serba lengkap di rumah itu. Meski demikian, kamar ini tetap kalah mewah dengan kamarnya dahulu, yang kini ditempati oleh Qiandra.
"Nggak apa-apa, Rania. Aku sudah katakan pada mereka, kalau kamu bukan hanya asistenku, tetapi juga teman sekolahku."
Beberapa saat yang lalu, mereka terlibat perdebatan karena Rania menolak untuk menginap di rumah Qiandra.
Memang sih, tujuan awalnya menjadi asisten Qiandra adalah untuk masuk ke sarang penyebab masalah. Tetapi bukan berarti ia bisa diatur-atur begini oleh Qiandra.
Sampai sekarang belum jelas apa tujuan Qiandra yang tiba-tiba menjadi bersikap baik padanya.
Tapi kemudian Rania terpaksa menyetujuinya, karena ibu yang tidak tahu apa-apa mengizinkan Rania untuk menginap.
"Qian, kenapa kau terus bersikap baik padaku? Apa yang sedang kau rencanakan?"
"Haaaah... Pertanyaan itu lagi." Qian menghela napasnya.
"Memangnya salah kalau aku berbuat baik padamu? Aku memintamu untuk tampil di fashion show, agar persaingan kita adil," jelas Qiandra.
"Aku nggak ngerti maksudmu," balas Rania.
__ADS_1
"Kamu selama ini selalu mengaku sebagai anak mama dan papa. Kalau itu memang benar, artinya fashion show ini adalah impianmu sejak lama. Meski kamu nggak bisa turut serta dalam kegiatan design dan produksi, tapi menurutku cukup adil kalau kamu tampil juga."
"Gitu, ya?" Rania tak menyangka kalau pemikiran Qiandra hingga sejauh itu.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Tik... Tik... Tik...
Telinga Qiandra bosan mendengar denting jarum jam yang kini menunjukkan pukul satu dini hari. Matanya yang lelah sejak pagi, belum juga mau terpejam.
Yah... Kayaknya nggak bakal ada apa-apa, nih. Sampai jam segini aman-aman aja."
Qiandra menarik selimutnya hingga menutupi bahu. Hujan yang mengguyur tanah sejak dua jam yang lalu sudah reda, dan menyisakan udara yang sangat aejuk bagai di puncak gunung.
"Padahal aku penasaran banget, kalau Rania ada di sini apa sosok seram itu bakal datang mengganggu atau tidak? Padahal aku sudah susah payah mengubah penampilanku agar tak di datangi sosok itu lagi dan ia mencari Rania," gumam Qiandra lagi.
"Tapi melihat penampilannya tadi di catwalk memang sangat luwes. Patut diakui kalau dia adalah putri tunggal seorang model terkenal."
Sementara itu di kamar Rania.
"Aduuh... Kenapa aku nggak bisa tidur sih? Pahadal ini kan rumahku juga. Tapi kenapa tidurku malah lebih nyenyak di kamar sempit di rumah ibu?"
Rania menghidupkan lampu kamar. Kemudian iberanjak dari tempat tidur.
"Sudah terlanjur begini, sebaiknya aku periksa rumah ini saja, sambil mengambil minum ke dapur," pikir Rania.
Suasana lorong dan tangga begitu gelap. Hanya ada beberapa lampu redup yang menyala di sudut ruangan.
Gadis berambut hitam itu lalu menyalakan lampu utama. Seketika ruangan menjadi terang benderang.
"Rania? Kenapa kamu masih di sini jam segini?"
Seorang pria duduk tepat di kursi bawah tangga. Ia memegang sebuah buku berbahasa asing.
"Kakek? Belum tidur? Aku menginap di sini malam ini," ucap Rania.
"Oh, gitu. Kakek tidak bisa tidur sejak tadi. Lalu kakek duduk di sini saja sambil membaca buku."
"Membaca buku di tengah gelap begini?" Rania bingung.
"Yah... Bukan gitu.. Heheh... Baru saja kakek hendak menghidupkan lampu."
"Kakek aneh, deh," gumam Rania.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Kakek.
"Sama. Aku juga nggak bisa tidur. Tadinya aku mau mengambil minum ke dapur."
"Oh, gitu? Kakek minta tolong ambilkan segelas air hangat juga dong."
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
"Ini air hangatnya, Kek."
"Terima kasih, Nak. Kamu belum tidur, kan? Mau temani kakek mengobrol sebentar?"
"Tapi bagaimana kalau ada pelayan yang melihatnya, Kek? Aku di sini hanya sebagai asistennya Qiandra."
"Tidak ada pelayan lagi jam segini. Kalau pun ada, mereka tak akan berani mengganggu kakek," ucap Nico.
Rania pun duduk dan mengobrol bersama Nico.
"Kek, apa kakek percaya padaku? Kenapa ada kejadian aneh seperti ini?" tanya Rania kemudian.
Nico meletakkan buku yang dipegangnya, "Apa kamu pernah mendengar cerita tentang nenek dari ibumu?"
Kening Rania berkerut lalu menggeleng, "Maksud kakek, nenek yang melarikan diri dari kampung halamannya?"
"Ya, itu juga termasuk. Tapi ada cerita lebih besar dibalik itu. Baru-baru ini kakek juga bercerita dengan Qiandra," ucap Nico.
Rania memperbaiki posisi duduknya untuk mendengarkan cerita dari kakek.
"Nenekmu itu penyihir," kata Nico memulai ceritanya.
"Hah? Nggak mungkin."
"Yah, itu yang dibilang orang-orang di kampung halaman nenekmu, Desa Sirnea," lanjut Nico.
"Oh.."
"Sejak lahir, nenekmu sudah memiliki kemampuan khusus. Ia mampu menyembuhkan orang sakit dengan obat herbal yang diraciknya. Tetapi di balik itu, kelahiran nenekmu yang disertai hujan dan petir dianggap sebuah kutukan."
"Entah memang ada hubungannya atau nggak, setiap nenekmu berhasil mengobati seseorang, maka malam harinya salah seorang di desanya juga meninggal tanpa diketahui sebabnya."
"Astaga!" seru Rania.
"Atas saran dari beberapa orang pintar dari wilayah kerajaan* lainnya, kakek moyangmu yang berprofesi sebagai penyepuh emas pun membuat banyak perhiasan dengan ukiran mantra sebagai segel kekuatan buruk nenekmu," cerita Nico panjang lebar.
(*Saat itu Rumania masih dalam bentuk kerajaan.)
"Ah... Jadi itu sebabnya nenek punya banyak perhiasan," gumam Rania. "Tapi apa itu berhasil?" lanjut gadis itu.
"Kakek tidak tahu, karena saat itu kakek dan nenekmu sempat kembali terpisah karena perang melanda sebagian besar negara Eropa."
"Tapi pada saat kakek dan nenekmu bertemu kembali, kami menikah. Lalu wabah besar melanda Eropa. Nenekmu yang berusaha menolong mereka justru diusir dan dianggap sebagai penyebab kematian ratusan bahkan ribuan orang di sana." Nico mengakhiri ceritanya.
(*eps. 27)
"Benar-benar nggak bisa dipercaya. Nenek yang menyembuhkan mereka malah dianggap penyihir?" Nada suara Rania penuh dengan emosi.
"Oh, jadi gitu ceritanya..."
Qiandra yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka di lantai dua hanya tersenyum sambil tertawa kecil.
__ADS_1