Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 142 - Teka-Teki yang belum Terpecahkan


__ADS_3

"Ada apa kamu menemui kami?" tanya Malfoy.


Malfoy dan Darrent kini duduk di ruang tunggu dikawal oleh beberapa polisi.


"Aku ingin tahu di mana Qiandra sekarang," ucap Rania dari balik kaca.


"Maaf, kalau soal itu aku tidak bisa menjawabnya," ucap Malfoy.


"Aku tidak akan mengganggu kehidupannya. Aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja," ucap Rania.


Malfoy menarik napas dalam-dalam.


"Nak, aku pun juga sama sepertimu. Aku ingin tahu sekarang dia ada di mana dan bagaimana keadaannya. Tapi, dia tak pernah menunjukkan dirinya, selain mengirimku surat seminggu sekali dengan tanpa alamat," jelas Malfoy.


Raut wajahnya yang sedih, membuat Rani percaya, bahwa Malfoy tidak berbohong.


"Begitu, ya?" ucap Rania.


"Ah, aku juga ingin tahu, tentang Gennie. Salah satu asistenku yang meninggal mendadak karena kecelakaan," kata Rania sambil menatap Darrent.


"Aku rasa, Sania lebih paham tentang masalah Gennie dari pada aku," kata Darrent.


"Sania?" pikir Rania.


Benar juga. Sejak ia tertangkap polisi karena kasus ini, Sania hanya bungkam. Dan Rania pun tidak pernah menanyai alasannya.


"Nak, waktu berkunjung sudah habis. Jika masih ada yang belum selesai, silakan datang lagi bulan depan," kata polisi pada Rania.


"Oh, ya? Kenapa waktunya sangat singkat?" ucap Rania.


"Ini, aku ada sesuatu untuk Om."


Sebelum polisi membawa Darrent dan Malfoy kembali ke sel, Rania memberikan dua buah kantong plastik pada mereka.


"Roti kismis?" ucap Darrent dan Malfoy bersamaan.


Rania menganggukkan kepala, "Aku tahu, kalian berdua adalah sahabat papaku. Kalian sering memberinya makan jika dia tak memiliki uang. Kalian hanya merasa bingung sebentar karena ulah wanita yang terlalu obsesi untuk menjadi nomor satu," kata Rania.


"Terima kasih telah menjadi sahabat papaku. Maaf aku hanya bisa memberikan ini. Tetaplah jadi orang baik seperti dulu," lanjut Rania.


"Duh, ku rasa di sini banyak debu," kata Darrent sambil mengusap matanya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Keesokan harinya, Rania mengunjungi sel perempuan, untuk menemui sang mama dan juga Sania secara bergantian.

__ADS_1


"Sania, ku mohon katakan, kamu hanya diancam untuk berbuat itu, kan? Kamu sama sekali nggak jahat, kan?" kata Rania.


"Maaf, Nona. Tapi Anda salah. Saya adalah orang jahat, dan pelaku pembunuhan Gennie," jawab Sania.


"Tapi kenapa? Apa aku pernah menyinggung perasaanmu? Katakan semuanya, Sania," pinta Rania.


"Saya hanyalah seorang anak yatim piatu, tidak tahu siapa dan di mana orang tuaku. Suatu hari Nyonya Chloe membawaku untuk diadopsi, karena prestasiku di bidang desain," ucap Sania memulai ceritanya.


"Tapi rupanya, aku hanya dididik untuk menjadi seorang pengawal pribadi, bukan designer. Seberapa sering pun aku mengatakan keinginankuz tak ada yang berubah. Aku hanya menjadi ancaman utama bagi putrinya yang mendalami dunia design," lanjut Sania.


Matanya terbuka lebar. Akan tetapi pandangannya kosong ke depan.


"Maafkan aku," ucap Rania lirih.


"Aku tak butuh permintaan maaf. Aku hanya butuh perubahan," jawab Sania ketus.


"Selama ini, aku bekerja dengan baik untuk mengumpulkan modal membuka bisnis sendiri, dan ternyata Nyonya Fania memiliki impian yang sama denganku," kata Sania.


"Lalu kenapa kamu membunuh Gennie? Apa hubungannya dengan ini?" tanya Rania tak mengerti.


"Gennie beberapa kali menemukan buku designku dan melaporkannya pada Nyonya Chloe. Mereka sering menuduhku mencuri idemu. Padahal, itu has kerjaku di waktu luang."


"Aku muak dengannya, maka aku merusakkan rem kendaraannya agar ia menghilang selamanya."


"Apa kamu tak sadar? Berapa banyak labirin di rumahmu? Kamu pikir itu hanya untuk melindungi nakam nenekmu dengan sihir?" ucap Sania sinis.


"Nggak mungkin," kata Rania tak percaya.


"Kamu boleh aja nggak percaya, tapi silakan kamu cek sendiri."


Tak disangka, Sania mengakui semuanya, yang tidak dibuka dalam sidang pengadilan kemarin. Ia juga membongkar sisi gelap Chloe yang selama ini dikenal sebagai malaikat penolong.


"Lalu Om Darrent? Kenapa semua pengganti pegawai lama merupakan usulan darinya?" tanya Rania.


"Itu karena aku yang memintanya. Mencari pengganti terbaik yang bisa menyesuaikan diri pada pekerjaan dengan cepat," ucap Sania.


"Darrent adalah pegawai yang sangat loyal dan patuh. Ia tidak akan bekerja setengah hati," jawab Sania.


"Sania, kamu..."


"Kalau kamu bertanya apakah aku menyesali semua ini, jawabannya tidak. Ini pertama kalinya aku melakukan hal tanpa diatur siapa pun, termasuk Fania. Aku melakukannya karena aku ingin. Fania hanyalah perantara untuk mengenalkan karyaku pada dunia," ucap Sania memotong kalimat Rania.


Rania menundukkan kepalanya cukup lama. Haruskah ia percaya apa yang dikatakan oleh Sania?


Chloe adalah orang berhati baik yang paling dikenal Rania. Apa mamanya benar-benar melakukan hal keji seperti itu?

__ADS_1


Sementara Fania yang dikenal dunia sebagai rubah betina paling licik, ternyata memiliki kebaikan kecil yang disimpannya selama bertahun-tahun.


"Setelah ini, aku mohon kita pura-pura tidak kenal. Tapi kalau kamu mau menuntutku atas pembunuhan dan kerugian lainnya, aku siap menerimanya. Bagiku, penjara adalah tempat terbaik untuk mengembangkan potensi diriku," kata Sania.


"Baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan. Aku akan pura-pura tidak pernah mendengar semua pengakuanmu barusan," ucap Rania.


"Lalu, bagaimana dengan Felix? Apa kamu juga akan memutuskan hubungan dengannya?" tanya Rania kemudian.


"Tidak akan ada pria dalam hidupku, sampai aku benar-benar berhasil," jawab Sania dengan yakin.


Rania tersenyum kecil, "Sania benar-benar jelmaan Fania generasi kedua," pikirnya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Gradak! Gruduk!


Hari ini, di minggu pagi yang masih diguyur hujan lebat, Rania mengerahkan semua pegawainya untuk menelusuri setiap titik lorong labirin di rumahnya.


Rania mengambil resiko yang sangat besar, karena ia melakukannya tanpa izin sang mama.


Rania ingin menemukan makam atau pun peti mati nenek yang hingga kini masih menjadi rahasia. Ia juga ingin membuktikan ucapan Sania, tentang para pegawai yang menghilang tanpa jejak.


Memang, dari pengakuan beberapa pelayan lama yang masih tersisa, ada setidaknya dua orang teman mereka yang hilang dalam waktu lima tahun.


"Nona, coba lihat ke sini!" seru beberapa orang bodyguard yang ikut membantu.


"Astaga!" pekik Rania.


Di ruang sempit berukuran 1.5 x 1 meter, dengan tinggi hanya sekitar 1,2 meter, ditemukan sebuah tengkorak menggunakan seragam pelayan. Diduga ia tersesat ketika mencoba menyelinap masuk ke kamar utama.


"Astaga! Itu pasti Risa. Aku ingat bando yang dipakainya," seru para pelayan wanita.


Beberapa orang pria lalu mengangkat tengkorak itu dari sana.


Rania hanya terduduk lemas. Ucapan Sania terbukti.


Dan baru satu hari mereka menelusuri rumah ini, mereka sudah menemukan lebih dari dua puluh lorong rahasia yang tidak tergambar di denah rumah dari Pak Yahya.


"Nona, di sini!" seru para pengawal lagi.


Rupanya, mereka menemukan sebuah peti mati berlapis emas dan batu amethys, di ruang rahasia antara tangga lantai dua.


Ternyata itu adalah peti mati sang nenek, Freya Ludmila. Peti mati itu berisi tulang tengkorak yang dilapisi beberapa helai kain sutera putih dan beberapa jenis bunga yang telah mengering.


Tak jauh dari sana, mereka pun menemukan sebuah tulang manusia yang tak utuh lagi. Dan kain lapuk yang dimakan kutu rayap.

__ADS_1


Hati Rania semakin teriris. Ia bingung, haruskah melaporkan hilangnya orang-orang ini? Tapi itu artinya, akan menambah hukuman orang tuanya.


(Bersambung)


__ADS_2