Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 138 - Bukti yang Melekat Erat


__ADS_3

"Di mana putriku?"


"Sabar, Pak. Kami sedang mencarinya. Ada dua orang siswa yang menghilang.


"Mencari? Dasar orang-orang bodoh! Aku memanggil kalian untuk mencari putriku. Bukannya gadis entah siapa yang tidak jelas itu."


"Maaf, Pak. Tugas kami adalah menyelamatkan nyawa orang, tidak peduli seperti apa status sosialnya. Jadi saya harap Bapak kooperatif," jawab salah seorang anggota Tim Sar.


"Bocah sialan! Dia tidak tahu aku siapa? Dalam satu kalimat dariku saja, dia bisa di PHK malam ini juga."


"Pak Raihan, bagaimana Anda bertanggung jawab soal ini? Saya kan meminta kalian para guru untuk menyingkirkan Rania Putri. Bukan anakku Audrey."


"Maaf, Tuan. Saya sudah memberi arahan pada Audrey, tetapi orang yang ditugaskan menunggu dia di dermaga mengatakan dia tak muncul juga hingga hari hujan lebat."


"Aku sudah memberi sekolah kalian dana yang sangat besar! Aku juga mengangkat Beliau manjadi kepala sekolah. Masa menjadikan anakku juara umum saja kalian tidak bisa? Itu mencoreng nama keluarga kami sebagai publik figur."


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuan. Tapi siswa yang bernama Rania Putri tersebut sangat pintar dan tidak dapat dikalahkan oleh siswa cerdas lainnya, Rania Putri, Arthur Mikko Walandou, Edlyn Rania Putri dan juga Qiandra Ansley. Peringkat Putri Anda berada jauh di bawah mereka."


"Kenapa kau harus berpikir serumit itu? Kalian kan tinggal memanipulasi nilai saja. Dengan begitu anakku bisa jadi nomor satu."


"Papa! Aku tidak mau menang dengan cara curang seperti itu. Aku ingin menjadi nomor satu dari usahaku sendiri. Lihatlah, aku akan membocorkan masalah ini ke publik. Siapa yang tidak akan percaya omongan dari putri tunggal pengacara terkenal?"


Audrey muncul dengan baju basah kuyup dan bergelimang lumpur. Ia diangkat tandu, karena kami kanannya terluka.


"Audrey, jangan campuri urusan orang dewasa. Kamu tidak mengerti bagaimana kesalnya papa, melihat dirimu dikalahkan oleh anak pembantu, yang hampir membunuhmu dengan susu basi itu?"


"Aku lebih bangga jadi rangking sepuluh dengan usahaku sendiri, dibandingkan juara umum satu tapi dengan cara menyogok."


"Dan ia juga tidak pernah berniat membunuhku. Anak usia tujuh tahun masih belum paham membaca kodr kedaluarsa," bantah Audrey.


"Shhh... Panggilkan Ketua Tim SAR. Kita hentikan pencarian ini karena putriku telah kembali."


"Papa!"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Saat ini, di ruang sidang pengadilan negeri.


"Nak, kami sudah mendengarkan kesaksianmu..Tapi bagaimana bisa dipercaya ceritamu itu? Kamu mengetahuinya seakan-akan mengalaminya sendiri," komentar Hakim Ketua.

__ADS_1


"Maaf Yang Mulia Hakim, semua yang saya katakan akan terbukti jika dilakukan pencarian jasad Rania Putri pada koordinat yang saya sebutkan tadi."


"Secara garis besar, lokasi itu berada di area danau di dalam kawasan hutan lindung. Bukan lagi daerah wisata," kata Rania.


"Mohon izin bicara, Yang Mulia Hakim." Fania mengangkat tangan kanannya.


"Silakan."


"Bagaimana bisa dibuktikan kalau kami lah yang telah membuang jasad tersebut ke danau? Apa buktinya? Apa Rania kita ini bisa menjelaskan di mana dirinya berada pada saat itu?" bantah Fania.


"Silakan di jawab, Saudari Rania."


"Baik, Yang Mulia Hakim. Pada saat itu saya memang tidak berada di TKP dan menyaksikan langsung. Saya berada di bandara untuk berangkat syuting iklan di luar negeri. Namun dibatalkan karena cuaca yang buruk," jawab Rania.


"Tapi saya jamin, dari bukti-bukti yang melekat di jasad Rania Putri, kita bisa dengan jelas melihat siapa pelakunya."


"Kain yang digunakan untuk membungkus Rania Putri adalah kain yang akan dijadikan gaun. Kain itu adalah jenis dan warna terbatas dari salah satu pabrik tekstil di Bandung. Dan kita bisa melacak, siapa saja yang membeli jenis kain tersebut dan digunakan untuk apa saja kain tersebut."


"Baiklah. Anggap kita bisa menebak pelakunya dari kain tersebut. Tapi mengapa jasad itu ada di dasar danau? Secara logika, mayat akan terapung ke permukaan jika sudah mulai membusuk. Dan pencarian di sekitar danau sudah dilakukan selama satu bulan penuh tanpa hasil," komentar Hakim Anggota.


"Itu karena mereka memberi pemberat pada jasad tersebut, sehingga tidak akan mengapung. Jika diperhatikan baik-baik, maka mobil dari Tuan Malfoy kehilangan beberapa onderdilnya termasuk pelek ban serepnya. Dan itu akan kita temukan jika mengangkat jasad itu nanti," jawab Rania dengan yakin.


Grakkk! Pintu ruang sidang terbuka tiba-tiba. Hampir saja membuat para hakim marah.


"Dengan segala kesadaran saya, tanpa di bawah paksaan siapa pun, saya mengakui semua kesaksian yang disampaikan Rania."


Semua mata menatap pria berjenggot dan berambut pirang, yang tak lain adalah Malfoy Ansley.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Kamu hebat, Rania. Bisa mengatakan itu semua dengan lancar di saat sidang," puji Qiandra.


"Itu semua kan berkat kamu juga," jawab Rania. "Maaf, aku telah menyeret kedua orang tuamu ke dalam masalah ini."


"Hei, jangan cengeng. Itu kan bukan kesalahanmu. Semua ini memang sudah takdir kita," kata Qiandra. "Terima kasih, karena sudah mengubahku menjadi lebih baik."


"Tapi Rania, apakah mereka memang sudah kembali ingatannya? Apa segel sihir sudah benar-benar hancur?"


"Aku tidak tahu. Sepertinya sebagian ingatan asli mereka sudah kembali, tapi masih sedikit brrcampur dengan yang terjadi belakangan ini," jawab Rania.

__ADS_1


"Hmmm... Qian, kurasa kamu ada urusan penting pada seseorang," bisik Rania sambil melirik ke kanan.


"Ah, kamu benar. Nanti kita lanjut ngobrol lagi."


Qiandra berlari mengejar tahanan yang dikawal beberapa polisi.


"Selamat sore, Pak. Izinkan saya bicara dengan Nyonya Ansley," sapa Qiandra ramah.


"Selamat sore, Nona. Maaf kami tidak mebgizinkan siapa pun bicara dengan tahanan saat ini," jawab polisi.


"Tapi ini penting, Pak. Saya hanya meminta waktu lima menit. Bapak boleh menemani di sini sebagai saksi selama kami bicara," pinta Qiandra.


"Ayo, Pak. Saya sudah sangat lelah," sela Fania.


"Tunggu! Bukankah Anda sangat mengenal saya, Nyonya?" ucap Qiandra.


"Tidak!"


"Lihatlah betapa angkuhnya Anda. Sampai akhir pun Anda masih tetap tidak mengakui putri Anda sendiri."


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?"


"Nyonya, sebaiknya Anda segera sadar sebelum terlanjur malu nantinya. Lihatlah, Anda menghancurkan persahabatan baik antara tiga pria, hanya karena ambisimu untuk menjadi model nomor satu."


"Anda juga berani membuang putri Anda di tengah badai salju, berharap dia mati kedinginan."


"Anda juga memalsukan biodatanya, lalu menyerahkannya pada orang lain. Anda bilang anak itu adalah yatim piatu. Lalu kepada dunia mengaku sebagai donatur tetap bagi biaya pendidikannya. Di mana hati nurani Anda?"


Qiandra menumpahkan segala jeratan di hatinya. Semua orang memperhatikannya, tapi ia tidak peduli.


"Padahal Tuan Ansley, sudah berkorban banyak pada Anda. Ia mengorbankan mimpinya untuk mendukung penuh istrinya. Baginya Anda adalah segalanya."


"Tapi apa balasanmu padanya? Ia bahkan menjadi gelandangan hanya untuk mencari putrinya yang diserahkannya pada orang lain. Ia merelakan perusahaan yang sudah dibangunnya untuk sang istri, untuk mengakui semua kesalahnnya."


"Apa Anda masih tak sadar juga?"


Tangis Qiandra pecah setelah mengucapkan kalimatnya yang terakhir.


"Hentikan omong kosongmu anak kecil. Kamu tak memiliki bukti apa pun," jawab Fania Ansley dengan angkuh.

__ADS_1


"Bukti itu melekat pada diriku. Tak terpisahkan. Cepat atau lambat, aku akan mengumumkannya pada publik," balas Qiandra.


(Bersambung)


__ADS_2