
"Jadi, Wilda itu salah satu content creator di perusahaan kami," jawab Ringga.
Rania manggut-manggut mendengarnya.
"Tapi sebelum kerja di sini, dengar-dengar dia pernah bekerja di CL Cosmetics sebagai analis."
"Analis?" Rania mengulang kata-kata Ringga.
"Hu'um." Ringga menganggukkan kepalanya.
"Terus, kenapa dia pindah kerja? Alih profesi pula?" tanya Rania heran.
CL cosmetics adalah perusahaan yang 57 persen sahamnya dikuasai oleh Cloe.
Setahu Rania, gaji di perusahaan tersebut di atas rata-rata gaji karyawan di tempat lain.
Jarang sekali ada yang mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.
"Aku nggak tahu pasti sih, ya. Tapi katanya, dia pernah menjual ide perusahaan tersebut ke pihak lain. Akhirnya dia dipecat," jawab Ringga.
"Hah, yang benar? Kalau gitu, untuk apa dia berbagi informasi padaku tadi?" kata Rania.
"Ya makanya. Kamu tuh main percaya aja sama orang asing."
"Malah menurutku, dia punya alasan yang kuat untuk melenyapkan salah satu anggota keluarga Austeen," ujar Ringga.
"Benar juga."
Duh, Rania jadi pusing. Di satu sisi, informasi yang diberikan Wilda cukup menarik. Tapi di sisi lain, mungkin saja ia menyimpan dendam pada keluarganya.
"Kenapa dari sekian banyak orang, justru dia yang tahu banyak tentang aku?"
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Halo?"
"Hei, kamu kan penyebab kebakaran gudang kain di Bandung?"
"Aishh... Kamu telepon langsung marah aja." Malfoy menjauhkan ponselnya dari telinga. "Aku pikir kamu sudah memblokir nomorku," lanjutnya lagi.
"Jawab pertanyaanku sekarang!" desak Fania Ansley.
"Aku nggak mengerjakan pekerjaan rendahan seperti itu," jawab Malfoy santai.
"Hah, berbual saja kerjamu. Aku paham betul sifatmu," sindir Fania.
"Hei, aku nggak serendah itu, ya. Aku punya rencana yang matang untuk menghancurkan mereka," sahut Malfoy. Hatinya mulai panas.
"Oh, ya?" Fania tak percaya.
"Tapi kenapa kamu pula yang marah? Apa kamu sudah putar haluan memihak mereka? Atau kamu bersedia jadi budak mereka?" tanya Malfoy.
"Kamu membuat pekerjaanku bertambah. Kamu tahu? Material yang terbakar itu bahan-bahan terbaik yang dikumpulkan dari berbagai tempat," marah Fania.
"Sedangkan summer show hanya tinggal hitungan minggu!" Fania terdengar marah dan panik.
"Sudah kubilang, itu bukan ulahku!" bantah Malfoy.
__ADS_1
"Ah tunggu, jadi kamu udah resmi jadi ketua tim fashion musim ini? Congrats, deh. Tapi sayang, aku satu langkah lebih maju darimu," lanjut suami Fania tersebut.
Fania mendengus kesal. Sia-sia saja ia menelepon suaminya kalau begini.
"Kamu harus ganti rugi," pinta Fania.
"Kenapa harus aku? Kamu nggak dengar? Bukan aku penyebab kebakaran itu." Malfoy terus bersikeras.
"Terus siapa? Bukannya kamu sangat membencinya? Dan kamu bilang... kamu selangkah lebih maju dibandingkan aku, kan?" kata Fania.
"Fania... Fania... Yang benci dengan Cloe dan Geffie Austeen bukan hanya kita berdua. Tapi banyak," sahut Malfoy.
"Dan kamu, beberapa waktu lalu dengan pedenya bilang, gak akan pernah butuh bantuanku lagi. Terus ini apa? Kamu lupa sama janjimu sendiri?"
Fania terdiam.
"Dan bukan hanya kamu yang masuk perusahaan mereka untuk menggerogoti dari dalam. Mereka nggak sebaik itu untuk dipuja-puja semua orang," lanjut Malfoy lagi.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" pikir Fania bingung. Ia tak menyangka masalahnya jadi sebesar ini.
"Jangan hubungi aku lagi untuk hal seperti ini. Aku punya banyak hal yang harus diurus. Kamu selesaikan sendiri masalahmu," tegas Malfoy.
Kluk!
Malfoy menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari istrinya.
"Hah, dia pikir aku akan menuruti semua keinginnya, hanya karena aku masih cinta?" gumam Malfoy.
Lelaki itu kemudian menekan layar ponselnya, mencari sebuah nama.
"Halo, Darrent?"
"Gimana kabar kapal itu?" tanya Malfoy.
"Sukses. Meski polisi tidak menemukan apa pun, namun isu yang berkembang membuat pengiriman barang sangat terlambat dan para client kecewa," jelas Darrent.
"Ha, baiklah." Malfoy senang mendengarnya.
"Jangan lengah, bulan depan akan kita lakukan yang sebenarnya. Ingat! Lakukan dengan sangat rapi!" ujar Malfoy sebelum menutup telepon.
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Masalah Audrey dan Qiandra, kecelakaan, gelang, saudara kembar dan sekarang... Wilda. Aduh, aku harus mulai dari mana?"
Rania bingung memecahkan misteri ini.
"Ah, sepertinya aku harus mulai dari sana." Rania tiba-tiba memikirkan sebuah ide.
"Bu, udah tidur?" Rania mengetuk pintu kamar ibu.
"Belum. Ada apa, Nak?" sahut ibu dari dalam kamar. Ia kemudian membuka pintu.
"Bisakah aku melihat akta kelahiranku?"
"Hmm...? Apa diperlukan di sekolah?" tanya ibu.
"I-iya. Tapi aku malah baru mengingatnya sekarang."
__ADS_1
"Ya sudah. Tunggu di sini." Ibu kembali ke kamar dan membuka laci lemari.
"Ah, ternyata semudah ini," gumam Rania.
"Ini. Kalau sudah selesai kembalikan pada ibu, ya. Jangan sampai hilang." Ibu memberikan sebuah map tebal berwarna hitam.
"Baik, Bu."
Rania segera membongkar map tersebut. Tak disangka, bukan hanya akte kelahirannya saja yang terdapat di sana, tetapi juga milik Arka dan Livy.
Di sana juga terdapat beberapa dokumem lainnya, seperti ijazah dan juga raport mereka masing-masing.
"Ah... Ternyata kami bertiga dilahirkan di tempat yang sama," gumam Rania.
Catatan kelahiran itu menunjukkan kalau mereka bertiga dilahirkan di puskesmas wilayah ini. Hanya bidan yang menanganinya saja yang berbeda.
Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiran Rania. Ulang tahun Rania Putri hanya berbeda sehari dengannya, yakni 2 Oktober.
"Apa mungkin akte kelahiran ini dipalsukan atau cuma kebetulan aja? Aku harus memastikannya langsung," pikir Rania.
Tep! Tiba-tiba listrik padam.
Rania tidak melihat dan mendengar apa pun. Sunyi...
"Dia ada di sekitarmu, tapi tidak bisa bicara padamu." Tiba-tiba Rania ingat ucapan Wilda tadi.
Rania menoleh ke belakang. Tentu saja ia tidak dapat melihat apa-apa. Tapi bulu kuduknya berdiri. Ia merinding ketakutan.
"Di sini nggak ada hantu dia, kan?"
Rania mengambil langkah seribu, menuju ke kamar Livy.
"Vy, Vy... Sudah tidur? Buka pintunya." Rania menggedor kamar Livy dengan heboh.
Yang dipanggil tak ada menyahut.
"Vy..." Rania terus menggedor kamar adiknya.
"Ya ampun, apa sih ribut banget?" seru Arka kesal.
"A-anu, mati lampu," jawab Rania malu.
"Haah... Itu karena token listriknya abis... Tadi Abang udah coba beli via e-banking tapi saldo gak cukup rupanya," jelas Arka.
"To-token abis?" Rania bingung mendengarnya. Selama ini ia sama sekali nggak pernah tahu tentang listrik di rumahnya. Semua sudah ada yang mengatur.
"Abang ke minimarket dulu, deh. Beli token. Tunggu aja di rumah. Gak usah takut."
"O-oke." Rania semakin bingung. Beli listrik di minimarket? Gimana caranya?
Klontang!
Tiba-tiba terdengar suara benda logam terhempas di kamarnya.
"Bang Arka! aku ikut ke minimarket!" seru Rania sambil berlari ketakutan.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...