
"Sebenarnya masih ada dua cara lagi membersihkan TKP," ungkap pria muda.
"Caranya?"
"Pertama, mereka membawa pergi korban itu lalu meninggalkannya di tempat lain yang jauh dari sini. Kedua, mereka membuang jasad korban tersebut ke dalam danau," ujar pria muda itu mengungkapkan pendapatnya.
"Apa nggak gegabah membuang korban ke danau?" pikir Rania.
"Kalau di bawa jauh itu masih masuk akal. Kalau dibuang di danau, rasanya nggak mungkin. Karena jasadnya akan lebih cepat busuk dan berbau. Hewan pun mungkin tidak mau lagi memakannya," bantah wanita berambut cokelat. Ternyata ia memiliki pendapat yang sama dengan Rania.
"Iya juga, ya. Lalu bagaimana menjelaskan suara tangisan tengah malam itu?" ucap cowok kekar itu.
"Haaah... Kalian ini. Bisa aja itu cuma suara binatang seperti musang, kan?"
"Tetapi kenapa suaranya baru terdengar sejak kejadian malam itu? Sebelumnya nggak pernah. Dan yang mendengarnya bukan cuma aku. Toni dan Dendra pernah mendengarnya juga. Malah saat itu sedang hujan lebat."
"Masalahnya, selama ini kita nggak pernah mendengar berita kehilangan seseorang kan? Udah hampir setahun sejak itu juga gak pernah ada laporan atau penyelidikan orang hilang," kata wanita berambut pendek.
"Duh, udahan deh cerita itu. Lama-lama seram juga," sanggah wanita berambut cokelat.
"Bagaimana kalau kita ekspose suara itu tengah malam? Lalu uploade di kamutube. Pasti danau bakalan rame lagi sama para pemburu kontent horor," usul pria berbadan besar.
"Ide bagus, tuh. Tapi pastikan dulu, itu beneran suara makhluk lain atau hewan liar? Kalau ternyata hoax, kan malah bikin malu ntar," kata cewek berambut pendek.
"Aku sih ogah, udah trauma banget denger suara gituan. Lagian, belum tentu juga Pak Bos mengizinkan," sahut pria muda.
"Kecelakaan di malam kejadian pramuka. Tapi korban tidak ditemukan dan area sekitar TKP bersih. Ini persis banget dengan cerita Nenek Ester waktu itu," pikir Rania. "Tetapi ada kejanggalan di sini, mereka mengatakan itu sudah satu tahun yang lalu."
"Ternyata benar kamu di sini."
Pikiran Rania buyar, setelah mendengar suara pria yang sangat dikenalnya.
"Ayo, pulang," ujar pria itu lagi.
"Ngapain Abang di sini?"
"Ya jemput kamu, lah. Emang mau ngapain lagi? Sejak dengar ceritamu waktu itu, Abang berpikir, ke mana lagi kamu menghilang kalau bukan ke danau?"
"Apa ibu tahu aku di sini?"
"Ya nggak lah. Bisa ngamuk kalau ibu sampai tahu. Makanya, ayo cepat pulang."
"Abang, apa abang tahu? Di hutan ini tinggal seorang nenek?" tanya Rania. Ia tidak mengindahkan ajakan abangnya untuk pulang.
"Nenek-nenek? Di hutan?"
Mikko mengerutkan keningnya. Ia mengambil selembar pelepah pinang untuk alas duduknya.
__ADS_1
"Kamu yakin itu nenek manusia?" tanya Arka lagi.
"Awalnya aku juga ragu, dia manusia atau bukan. Waktu itu tanpa sadar aku terus mengikutinya hingga ke tengah hutan lindung. Walau pun dia terus mengusirku untuk jangan mengikutinya, tetapi pada akhirnya aku mengikutinya hingga ke sebuah pondok kecil."
Rania menceritakan pengalamannya.
"Tetapi beberapa hari yang lalu, Mikko menunjukkan sebuah foto yang ditemukannya di rumah Mama Chloe. Itu foto nenek bersama salah seorang temannya, Nenek Ester yang kutemui di hutan."
"Waktu itu kamu sendirian?" tanya Mikko.
Rania menggangguk dengan ragu. Satu lagi, rahasianya terbongkar. Mungkin setelah ini abangnya akan mengawasi dirinya dua puluh empat jam.
"Terus apa yang terjadi kemudian? Bagaina kamu bisa pulang?"
"Abang ingat, gelang yang ku pegang waktu itu? Gelang tersebut pemberian nenek itu. Katanya, itu adalah salah satu benda yang ditinggalkan Rania Putri saat kecelakaan."
Wajah Mikko berubah ketika mendengar nama Rania Putri. Bibirnya yang sedikit melengkung ke bawah, menandakan hatinya sedih. Ia pasti sangat merindukan sosok adiknya tersebut.
"Bang, maaf. Aku tak bermaksud membuat abang sedih," ucap Rania.
"Terus, kamu ke sini mau mengembalikan gelang itu?" Mikko berusaha menguasai rasa sedihnya.
Rania menggeleng, "Coba Abang perhatikan ini, di balik gelang ini seperti ada simbol-simbol unik gitu, kan? Menurutku, mungkin aja simbol itu memiliki makna tertentu."
"Maksudmu seperti mantra?"
"Iya, seperti itu. Dan aku juga memiliki gelang yang serupa di rumah sana."
"Aku juga nggak tahu, sih. Tapi karena nenek tersebut mengenal nenekku sejak kecil, mungkin aja dia tahu rahasia ini, kan?"
"Abang gak izinkan kamu masuk ke dalam hutan," ucap Arka tegas.
"Meskipun ditemani Abang?" bujuk Rania.
"Iya, walau pun sama Abang," lanjut cowok itu. "Gak ada yang bisa menjamin kamu bakal aman hingga keluar hutan lagi. Abang gak mau kehilangan adik dua kali."
"Ha?" Air mata Rania menetes mendengar kalimat terakhir Arka. Begitu sayangnya dia sama Rania.
"Nanti coba abang lihat lagi gelangnya di rumah. Kita cari cara bersama untuk memecahkan misteri ini. Tapi sekarang, kita pulang dulu," ucap Arka dengan bijak.
Tak ada lagi alasan Rania untuk membantahnya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Bagaimana kabarmu?"
Mikko mengirim pesan pada Qiandra. Meski pun ia mulai meragukan, apakah Qiandra benar-benar anak kandung Chloe dan Geffie, tetapi pria itu tidak membencinya. Ia justru merasa, Qiandra adalah salah satu korbannya, sama seperti Rania.
__ADS_1
Ting! Beberapa menit kemudian pesan balasan pun datang.
^^^"Nggak baik-baik aja. Aku nggak punya waktu untuk istirahat."^^^
^^^"Bagaimana di sekolah?" tulis Qiandra lagi.^^^
Hingga beberapa menit ke depan, masih belum ada balasan.
Tiba-tiba layar ponsel menyala. Qiandra menerima panggilan video dari Mikko.
"Tadi pagi cukup heboh, tetapi menjelang pulang sekolah sudah mulai reda. Bahkan banyak yang tidak percaya dengan berita tersebut," ujar Mikko menenangkan Qiandra.
"Papa dan mama positif, Mikko. Aku harus gimana? Beberapa anak perusahaan harus aku handle. Sementara aku juga harus sekolah," curhatnya.
"Sabar, ya... Astaga!" Mikko mengalihkan kameranya.
"Ada apa?" tanya Qiandra turut terkejut.
"Kamu ternyata nggak lagi sendirian?"
"Maksudmu apa? Dari tadi aku sendirian kok di kamar." Bulu roma Qiandra mulai berdiri. Hatinya komat-kamit membaca doa.
"Ah, aku salah lihat," ujar Mikko.
Sayangnya, ekspresi wajah dan ucapan pria itu tidak selaras. Mikko masih mengalihkan pandangannya dari kamera.
"Beri tahu aku, ada apa sebenarnya. Jangan nakut-nakutin, dong." Qiandra hampir menangis. Gadis mungil itu bersiap berlari dari kamarnya.
"Sekilas aku tadi melihat seorang wanita tersenyum di belakangmu. Tapi setelah... "
"Aaa....!!!!" Qiandra menjatuhkan ponselnya yang baru berusia tiga hari dan menjerit kuat.
Mikko bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Qiandra... Qian? Ada apa?" Mikko terus memanggil temannya itu.
Andai saja ia bisa menembus layar ponsel dan berpindah ke kamar Qiandra dalam sekejab.
Srekk... Srekk... Kamera ponsel itu bergerak. Kemudian seseorang memperlihatkan wajahnya, namun bukan Qindra.
"Tidak apa-apa, Mikko. Nona hanya tak sadarkan diri. Mungkin ia terlalu lelah hari ini."
Sania menjawab panggilan dari Mikko. Wajahnya begitu pucat dan bibir sedikit menghitam.
"Apa benar dia Sania? Jangan-jangan Sania jadi-jadian seperti waktu itu lagi."
Tanpa berpikir dua kali, Mikko segera mengambil jaket dan kunci sepeda motornya. Ia harus melihat langsung bagaimana keadaan sahabatnya itu.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.