
"Gimana dengan Qiandra? Kamu bilang tadi susah menemukan data mereka bertiga, kan?" tanya Alvi.
"Ah, Qiandra. Data sekolah yang kuperoleh menuliskan, kalau ternyata Qiandra adalah putri tunggal dari Gregory Ansley."
"Gregory Ansley? Jadi nama belakang Qiandra itu Ansley?" tanya Anjani.
"Iya, benar."
"Tapi kenapa aku seperti tidak asing mendengar nama itu, ya?" celetuk Alvi.
"Ah, jangan-jangan... Yang kamu maksud itu Tuan Gregory Ansley? Pengusaha kecil yang baru-baru ini terlibat masalah korupsi?" bisik Alvi.
"Yap, tepat sekali," sahut Mikko.
"Pantas saja sifatnya di sekolah seperti itu. Ternyata sikap orang tuanya juga buruk," gumam Anjani.
"Tidak! Setelah ditelusuri lagi, ternyata dia bukan putri kandung Gregory Ansley. Qiandra hanyalah anak asuh mereka. Istri dari Gregory pernah mengandung, sebelum akhirnya meninggal dalam kandungan lalu rahim istrinya diangkat," kata Mikko.
"Astaga! Jadi begitu? Apa nggak ada data tentang masa kecil Qiandra?" bisik Anjani dan Alvi bersamaan.
Mikko menggeleng, "Tadi malam, kami sudah menghacker data kependudukan kota ini. Tapi sama sekali tidak menemukan nama Qiandra, selain surat adopsi dirinya oleh Tuan Gregory pada empat tahun lalu," ujar Mikko.
"Mungkin saja Qiandra bukan berasal dari kota ini. Tapi soal itu tidak terlalu penting lagi, yang penting data mengenai Rania-Rania ini sudah kita dapatkan," kata Anjani.
Mikko dan Rania saling berpandangan tanda tak setuju.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Apa yang kamu katakan tadi itu benar?" kata Rania ketika pulang sekolah.
"Tentu saja. Untuk apa aku bohong?" balas Mikko.
"Tapi kamu masih ingat, kan? Ceritaku tenrang Qiandra beberapa waktu lalu?" desak Rania.
"Masih, dong. Tapi kenyataannya kan memang berbeda, Rania. Mungkin saja ingatanmu itu salah, karena nama belakang mereka yang mirip," sahut Mikko.
"Masa, sih? Aku nggak percaya, deh. Apa kamu nggak merasa ada yang aneh?"
"Sejak kemunculan dirimu, semua hal yang terjadi padaku menjadi aneh semua. Kisah Qiandra yang diadopsi ini jadi satu-satunya hal yang agak normal," kata Mikko.
"Ckk... Kamu ini. Yaudahlah, mau ikutan ke rumah Qiandra, nggak? Aku mau ke sana nih. Kalau sesuai jadwal, harusnya dia udah selesai rapat bersama para manajer hotel dan resort," kata Rania.
__ADS_1
"Hilih! Bilang aja kamu minta antar ke rumah Qiandra. Ongkos dari sini ke rumahnya kan mahal," ejek Mikko.
"Kalau nggak mau ikut ya udah, nggak usah ngejek. Daah, aku mau cari taksi dulu," Rania langsung berbalik badan.
"Lah, ngambekan. Iya... iya... Aku anter deh. Nih, helm cadangan." Mikko menarik lengan Rania.
"Huh, siapa yang minta antar?" bibir Rania semakin manyun.
"Iya... Kamu nggak minta anter... Aku cuma pengen main ke sana. Pokoknya wanita selalu benar, deh," kata Mikko mengalah.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Hei, kalian datang barengan? Udah makan siang apa belum?" sambut Qiandra riang.
"Udah. Kami beli nasi kucing tadi," jawab Mikko.
"Nasi kucing? Makanan kucing? Kok kalian makan itu? Emang enak?" Qiandra memberondong Rania dan Mikko dengan sederet pertanyaan.
"Bukan makanan kucing, Qian. Tapi nasi rames porsi kecil. Dih payah nih ngomong sama sultan. Enak lho nasi kucing itu. Kapan-kapan kamu cobain, gih," jelas Mikko.
"Ya, maaf," gumam Qiandra.
Rania juga merasa tertohok dengan kalimat Mikko. Pasalnya, dia dulu juga banyak nggak tahu tentang kehidupan masyarakat menengah ke bawah. Apa ia masih pantas menggantikan posisi Rania Putri?
"Duh, skip dulu deh. Aku ke sini cuma nganterin Rania," tolak Mikko.
"Halah, sok sibuk. Paling di rumah juga cuman main game ntar," balas Qiandra.
Rania hanya tersenyum kecut melihat keakraban Mikko dan juga Qiandra. Apa yang telah ia lewatkan selama mereka marahan?
"Yaudah... Kuy lah kita panen buah. Tapi, rumahmu lama-lama jadi kayak markas, ya?" celetuk Mikko.
"Ya nggak apa-apa, dong. Kapan-kapan ajak aja sekalian Alvi, Anjani dan juga Valen. Makin rame pasti makin seru," sahut Qiandra sambil membawa mereka ke kebun buah.
"Kamu nggak mau mengajak Dewi dan Nurul?" tanya Mikko.
"Dih, ogah. Nanti para pelayanku yang ganteng dan uwu dinodai sama ular betina kayak mereka," jawab Qian.
"Btw, Qian. Ada yang mau aku omongin, nih," ucap Rania sesampainya kebun buah.
"Apaan?"
__ADS_1
"Ini gelang yang baru aku temukan. Aku udah cari makna simbol-simbol ini. Apa ada yang sesuatu yang terjadi padamu tadi malam?" Rania menunjukkan foto gelang di handphonenya.
"Hmm... gak ada sih," jawab Qiandra sambil mengingat-ingat. "Emang apa artinya?"
"Teman sejati adalah mereka yang saling percaya dan saling membantu di masa sulit. Bermusuhan hanyalah teman para kegelapan. Kalau gak salah, itu sih artinya," ucap Rania.
"Bahasanya cukup sederhana, sih. Tapi maknanya sulit dipahami juga. Kamu udah memakai kedua gelang itu?" kata Qiandra.
"Udah, tapi nggak ada apa-apa, tuh. Duh, salahnya di mana, ya? Kamu udah banyak baca buku sihir itu, kan? Apa nggak ada petunjuk di situ?" tanya Rania lagi.
"Sejauh ini nggak ada terjadi apa-apa, sih. Aku juga nggak ngerti kenapa," kata Qiandra.
"Kalau menurutku, sih, nggak mungkin mantranya bekerja semudah itu. Pasti ada hal lain yang dapat membuat mantra sihir itu bekerja. Lihat aja rumahmu yang begitu banyak teka-teki ini. Tapi kalian yakin, semua ini karena sihir ilmu hitam?" ujar Mikko.
"Terus, kamu sendiri bisa menjelaskan kejadian aku dan Qiandra ini secara Rasional?" balas Rania.
"Nggak, sih," kata Mikko sambil memilih buah delima matang.
"Eh, tapi dari pengamatanku selama ini, setiap bulan purnama pasti ada kejadian aneh yang menimpa Qiandra. Barangkali kalau malam itu kita coba, bakal ada sesuatu yang terjadi," ucap Mikko.
"Benar juga, tuh. Kalau dilihat jadwalnya, purnama terjadi sekitar dua atau tiga hari lagi," celetuk Qiandra.
"Eh?" gumam Rania.
"Malam itu kamu tidur saja di sini, agar kita tahu reaksi dari mantra sihir itu. Lagian, aku juga takut tidur sendiri kalau sosok arwah itu datang lagi," bujuk Qiandra.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Dua hari kemudian, setelah menemani Qiandra di gala dinner bersama para investor dari divisi pariwisata, Rania pun menginap di rumah Qiandra. Tak lupa, ia juga membawa serta kedua gelang itu.
^^^"Audrey, maaf baru sempat menghubungimu sekarang. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Apa maksudmu waktu itu, kalau Qiandra bisa menjadi penyebab masalah ini, tapi bisa juga ia kunci penyelesaian misteri ini?"^^^
Rania menulis pesan pada Audrey, sebelum memejamkan matanya.
"Qian terseret misteri ini pasti ada suatu sebab, entah dia menebus kesalahan di masa lalu, atau dialah orang yang dapat membongkar misteri itu," balas Audrey beberapa menit kemudian.
"Tapi kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang dunia ilmu hitam atau ilmu gaib, Mikko adalah orang yang tepat untuk tempat bertanya. Karena mendiang ibu Mikko, juga berkecimpung di dunia yang seperti itu," balas Audrey lagi.
"Eh?" Rania terkejut membacanya.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...