Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 68 - Tikungan Tajam Gadis Pirang


__ADS_3

"Ugh, pantes aja gak mau digeser. Terganjal bingkai foto rupanya."


Rania menjangkau bingkai foto tua tersebut dengan tangkai sapu.


"Berdebu banget. Udah berapa lama terselip di sini?" Rania membersihkan bingkai foto ukuran postcard tersebut dengan kain lap.


Ah, ternyata bingkai itu cantik sekali. Terbuat dari kayu dibiarkan dengan warna asli, dihiasi ukiran-ukiran bunga di sekelilingnya.


"Eh, ini kan Mikko dan Audrey? Mereka saling kenal sejak kecil?" Rania memperhatikan foto tersebut.


Sepasang anak berusia kira-kira tujuh atau delapan tahun berdiri berdekatan, sambil memperlihatkan gigi susu mereka.


Rania sangat mengenali wajah mereka, meski usianya masih sangat belia.


"Tapi kok terlipat?" Gadis itu mengeluarkan foto dari bingkai dengan hati-hati.


"Ini kan aku? Maksudku, Rania Putri!" Rania terkejut melihatnya.


Di samping Mikko berdiri pula seorang gadis cilik memakai baju putih dan rok batik dengan rambut dibiarkan terurai.


"Ini semakin aneh. Jadi mereka udah saling kenal sejak kecil?" Rania semakin mencurigai Mikko.


Drrrttt.... Ponsel Rania berdering.


"Halo, Alvi?"


"Maaf Rania, kita nggak jadi ketemuan sama Wilda. Dia tiba-tiba membatalkannya."


"Loh, kenapa? Jadi kapan kita ketemuan dengannya?" tanya Rania sedikit kecewa.


"Aku juga nggak tahu. Katanya dia nggak mau bertemu sama kita lagi," jawab Alvi di seberang sana.


"Duh, nggak bisa gitu dong? Apa alasannya? Kok tiba-tiba berubah pikiran gitu?" Rania mengomel.


"Entahlah. Dia nggak mau bilang walau pun ku paksa. Apa jangan-jangan dia diancam sama hantunya Rania Putri?" ujar Alvi.


"Eh, masa sih?"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Drrrtttt...


Drrrtttt...


Drrrtttt...


Drrrtttt...


"Kenapa banyak banget pesan masuk? Dari siapa?" pikir Rania. Dia mengurungkan niatnya untuk pulang.


"Qiandra? Tumben?" Kening gadis blasteran itu berkerut.


"Nih, lihat. Siapa yang lagi sama aku?" tulis Qiandra dalam pesannya.


Gadis berambut pirang itu juga mengirim beberapa foto yang membuatnya terkejut.


"Kenapa dia bisa sama kamu?" balas Rania. Hatinya meradang.

__ADS_1


"Kasta tinggi pasti menang. Nggak kayak kamu ya g cuma bisa bergantungsama orang. 😏😏"


"Dih, sombong banget, sih?" batin Qiandra.


"Sebenarnya apa yang terjadi, ya? Kenapa Qiandra bisa tahu tentang Wilda, ya?" batinnya lagi.


Rania sama sekali nggak tahu, kalau obrolan dia dan teman-teman di kelas didengar oleh Qiandra.


Rania lalu meneruskan pesan Qiandra pada Alvi. Namun belum ada jawaban.


"Kalau dia mau menikungku, maka aku harus cari jalan lain. Nggak ada yang bisa mengalahkanku," tekad Rania.


"Mau ke mana?" Mikko tiba-tiba muncul.


"Pulang. Pekerjaanku udah kelar," jawab Rania jutek.


Mikko menghembuakan napas dalam-dalam. Ia merasa sedih melihat perubahan sikap sahabatnya yang begitu besar.


"Aku antar, ya," tawar Mikko.


"Nggak perlu. Aku udah pesan ojek online," jawab Rania ketus. Hatinya masih kesal sama cowok yang dulu jadi gebetannya itu.


"Oh, iya. Apa kamu masih sering menghubungi Audrey?" tanya Rania.


"Sudah kepalang basah, sekalian ajalah kibarkan bendera perang," pikir Rania.


"Udah lama banget nggak saling kontak. Emang napa? Ku pikir kamu nggak mau membahas dia lagi?" kata Mikko.


"Yah, aku punya alasan sendiri."


"Kamu tahu cerita malam itu?" Rania balik bertanya.


"Maksud kamu soal orang tuanya menghentikan pencarian itu? Siapa sih yang nggak tahu? Cuma ya ditutupi sama sekolah aja, biar nggak mencoreng citra sekolah."


"Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" ujar Rania kecewa.


"Untuk apa? Toh, kamu juga nggak bisa melawannya," sahut Mikko.


"Wah... Jadi semua orang meremehkanku, nih? Padahal waktu aku kaya dulu, semua orang berusaha menempel denganku," batin Rania kesal.


"Apa kita berteman akrab waktu kecil?" tanya Rania lagi.


"Banyak banget yang kamu lupain, ya? Apa kamu nggak takut menggali ingatan lagi?" ujar Mikko.


Rania mengerutkan kening," Kenapa harus takut?"


"Kamu tahu dari mana kalau kita berteman dari kecil?" tanya Mikko.


"Ini! Kenapa fotoku dilipat?" Rania memberikan foto yang ia temukan tadi.


Rania sengaja menyimpan foto itu di dalam tas untuk di bawa pulang. Meski dia tahu itu tindakan yang salah, Rania tidak peduli.


"Oh..." gumam Mikko datar. "Kita emang berteman akrab dari dulu, sebelum kamu hampir membunuhnya."


"Aku? Membunuh?" Rania menampik kalimat Mikko.


"Iya. Makanya ayahmu dipecat dari rumahnya dan orang tuaku menerimamu di sini," jelas Mikko.

__ADS_1


"Nggak mungkin. Kapan? Untuk apa aku melakukannya?" Elak Rania.


"Ya mana aku tahu? Tapi semua bukti di TKP memang membuktikan kesalahanmu," ujar Mikko. "Makanya aku pun nggak heran, kalau kamu mau melenyapkan Qiandra," lanjutnya.


"Aku nggak percaya. Tuduhan macam apa itu?" Rania benar-benar membantahnya.


"Ya sudah kalau kamu nggak percaya. Tanyakan aja sama orang tuamu," ujar Mikko.


"Tuh, ojek online kamu udah datang," lanjut Mikko.


Rania bergegas pergi tanpa pamit.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Aku membunuh? Cih, yang benar saja? Jadi aelama ini Mikko pura-pura dekat denganku?" Rania menggerutu sepanjang jalan.


"Padahal jelas-jelas aku yang ditikung oleh teman-teman dekatku. Hah...!!!"


Dua jam yang lalu... Setelah Alvi mengajak Rania ketemuan sama Wilda.


"Benar Anda Wilda Ningsih?"


"I-iya, benar. Kalian siapa?" Wilda terkejut melihat beberapa orang berbadan besar mendatanginya.


"Perasaan aku tidak pernah punya hutang banyak?"


"Anda pasti kenal sama Qiandra Austeen, kan?" tanya salah seorang pria tersebut.


"Hah, Qiandra Austeen? Melawak mereka?" ucap Wilda dalam hati.


"Ayo dijawab."


"Saya nggak kenal, tapi saya tahu. Apa urusannya sama saya?" ujar Wilda.


"Nona ingin bertemu dengan Anda. Sekarang!"


"Kalau saya menolak?" ucap Wilda.


"Pilih saja, mau kehilangan nyawa dalam waktu singkat, atau mau imbalan lima puluh juta?" ujar para bodyguard tersebut.


Wilda bergidik Ngeri. Bukan karena ancaman mereka, melainkan sesosok wajah mengerikan yang menyeringai tajam padanya.


"Emm... Ada u-urusan apa keluarga Austeen padaku? Bukankah dulu mereka yang membuangku? Mereka yang nggak percaya denganku dan mengatakan aku gila. Padahal aku hanya berniat baik pada mereka," ucap Wilda.


"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas. Tapi kalau Anda tetap menolak, kami nggak janji Nona masih ada besok pagi."


"Ckk.. Jadi sekarang keluarga Austeen main ancam sama rakyat jelata seperti kami?" Wilda terus membantah mereka.


Sosok tak kasat mata itu terus mensekati Wilda yang mulai kehilangan kekuatan untuk berdiri. Makhluk tersebut seakan mengatakan sesuatu pada Wilda.


"Ah, benar juga. Jika menemui nona kaya itu sekarang, aku bisa sekalian menjalankan misiku yang tertunda dulu. Akan ku buat keluarga Austeen kembali percaya padaku," gumam Wilda dalam hati.


Ia masih belum bisa terima dipecat dari perusahaan terkemuka di Asia tersebut, hanya karena niat baiknya yang dikatakan gila bahkan menjual ide perusahaan.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2