Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 74 - Temani Aku


__ADS_3

"Ini novelnya. Tumben kamu suka novel fantasy?"


Anjani meletakkan dua buah buku novel tebal di meja Rania.


"Ah... Lagi pengen baca aja. Kelihatannya menarik," jawab Rania. "Apa boleh ku bawa pulang?" lanjutnya.


"Bawa saja. Lagian aku beberapa hari ke depan juga mau lebih fokus belajar. Olimpiade tinggal dua minggu lagi," sahut Anjani.


"Wah, kami berdua bakal kesepian, dong," celetuk Alvi.


"Ululu... Aku juga bakal kangen kalian, tahu..." balas Anjani.


Alvi dan Anjani lalu saling berpandangan.


"Hei, Rania. Kamu langsung melupakan kami setelah dapat novel, ya," kata Alvi.


Rania sedang sibuk membolak balik lembaran kertas berwarna kuning kecoklatan tersebut. Ia sepertinya memang tidak mempedulikan kedua temannya.


"Ehem! Gimana? Seru banget ya novelnya?" Anjani menarik novel yang sedang dipegang Rania.


"Hehehe... Sorry... sorry... Apa tadi?"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Masih di sekolah, jam istirahat pertama.


"Mikko, apa besok kau bisa ke rumahku? Orang tuaku sedang gak ada di rumah," ajak Qiandra.


"Wah?" celetuk Mikko. Bibirnya membentuk senyuman manis.


Lalu Qiandra menyadari sesuatu. Wajahnya memerah karena malu.


"Ah, maksudku bukan seperti itu," serunya sambil menutup wajahnya.


"Qiandra sudah berani sekarang, ya..." Goda Mikko lagi.


"Ih... Bukan seperti itu maksudku... Tapi begini... Hm..." tiba-tiba Qiandra lupa apa yang mau diucapkannya.


"Kau pasti menginginkan sesuatu dariku, kan?" tebak Mikko.


"Nggak! Maksudku iya. Tapi bukan seperti yang kau pikirkan," sahut Qiandra.


"Lalu apa? Yah... Aku sedikit kecewa, nih." Mikko tersenyum sambil mengedipkan mata.


"Mikko...!" Qiandra memukul bahu Mikko dengan kesal.


"Adooh... Ni cewek atau atlet tinju, sih? Iya... Iya... Apaan?"


"Huh, awas ya kalau ngerjain aku lagi," ancam Qiandra.


"Iya... Iya... Kali ini aku serius."


"Hah... Kau ingat? Kamar aneh dan ruang bawah tanah yang kuceritakan waktu itu? Aku sudah menemukannya, tapi.."


"Kamu nggak berani?" Mikko menyela ucapan Qiandra.


Qiandra mengangguk.

__ADS_1


"Jadi kamu mau minta aku menemanimu untuk menyelidikinya?" tebak Mikko lagi.


Sekali lagi, Qiandra mengangguk.


"Boleh aja. Berani bayar berapa untuk detektif mahal ini?


Kenapa kamu nggak mengajak dewi dan nurul aja?"


"Haduh. Males baget ajak mereka. Kamu emangnya mau dibayar berapa? Aku pasti bisa, kok."


Mikko mengerutkan dahi, "Emang sih, sejak Qiandra dekat denganku, jarang banget dia kumpul bareng Nurul dan Dewi. Qiandra juga nggak pernah membully lagi," pikir Mikko.


"Qian, Emang nya gak apa-apa aku datang ke rumah? Emangnya temanmu sering datang ke rumah?"


"Nggak pernah. Malah kurasa ini yg pertama. Aku jarang banget di rumah," jawab Qiandra sambil menghabiskan snack kentangnya.


"Iya sih. Keluarga kalian emang lebih sering keluar negeri untuk bisnis. Kamu aja jarang masuk sekolah dulu," komentar Mikko.


"Tapi aku tetap juara kan?" ucap Qiandra bangga.


"Iya... Kamu emang ratunya IPA dari dulu."


"Tapi apa kamu nggak takut denganku? Bisa aja kan aku ngapa-ngapain kamu waktu lagi di ruangan gelap tersebut," kata Mikko.


"Sebelum itu terjadi, maka para bodyguardku akan menghabisimu duluan."


Glek!


"Ini anak pengusaha atau mafia, deh?" gumam Mikko.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Rania terus mengamati setiap lekuk ukiran yang terdapat di gelangnya. Ia bahkan menyalinnya ke sebuah kertas. Remaja itu lalu mencocokkannya dengan gambar ukiran ataupun simbol yang terdapat pada buku novel.


Tentu saja tidak sama persis. Novel itu hanyalah kisah fiksi. Dan simbol tersebut hanyalah hasil karya cipta sang penulis buku.


"Tapi kalau di sini maknanya apa coba? Lebih mirip tulisan di prasasti kuno gitu malahan. Bahasa apa... Coba?"


Rania berpikir keras memecahkan teka-teki gelang tersebut.


"Tapi kenapa aku jadi segila ini, ya? Novel dengan kenyataan kan sangat berbeda. Siapa pula yang mau repot-repot menuliskan mantra di gelang seperti ini. Mana bahasanya nggak terdeteksi lagi."


Rania mulai putus asa. Ia seperti berjalan di atas permukaan bola yang membawanya ke sisi yang sama lagi.


"Tapi dulu aku selalu bermimpi tentang sihir, dan bagaimana pula menjelaskan fenomena bulan purnama itu?" Rania kembali terpikir.


"Aha! Di mimpi itu aku mendengar mereka berbahasa Romania. Dan kalau gelang ini benar dari mamaku, maka ini juga berasal dari Romania, kampung halaman nenek."


"Apa jangan-jangan tulisan ini juga tulisan Romania?"


Rania mengambil ponselnya lalu membuka mesin pencari gugel. Dalam sekejap, ia merasa menjadi geolog dan sejarahwan yang meneliti benda bersejarah di dunia.


Setelah satu jam lebih berselancar di gugel...


"Kenapa tulisannya nggak ada yang cocok, sih? Mulai dari Romania, Rusia, German, Yunani... Hingga bahasa kuno seperti Celtik, Germanik, Balto Slavik dan lainnya..."


Semangat yang sudah dibangun Rania, runtuh seketika. Padahal ia cukup yakin bisa memecahkan salah satu misterinya kali ini.

__ADS_1


"Arrghh... Bisa gila aku kalau gini. Mediasi ama Audrey gagal, urusan sama Mikko makin runyam. Apa aku harus menjalani hidup kayak gini sampai tua?"


"Masa aku harus mencari Nenek Ester lagi ke hutan belantara?"


Rania mengalami perang batin yang sangat dahsyat.


"Ataukah sebenarnya itu bukan tulisan atau simbol, melainkan gambar-gambar yang memiliki makna masing-masing di setiap gambarnya?"


"Hmmm... Seperti huruf hieroglif Mesir Kuno atau prasasti milik suku Maya dan Inca di Benua Amerika?"


Drrt... Drrttt... Terdengar suara ponsel berbunyi. Tapi bukan milik Rania.


Rania pun memeriksa setiap ruangan di rumah kecil itu, "Ah, ternyata HP ibu. Ibu belum pulang dari pasar, ya?"


Pupil mata Rania bergetar melihat nomor yang tertera di HP milik ibu.


"Aku nggak salah lihat, kan? Aku nggak mungkin lupa mengenali nomor milik para asisten mama. Ada apa mama menelepon ke sini?"


Rania segera mengangkat teleponnya.


"Halo?" sapa seseorang di seberang sana.


"Astaga! Ini suara mama," pekik Rania dalam hati.


"Ya, Ha-halo?" suara Rania terdengar gemetar saking gugupnya.


"Apa benar ini Jenia Putri? Saya Chloe Eilaria Austeen," tanya Chloe lagi.


"Iya ini nomor telepon Jennia Putri. Tapi saya putrinya. Ibu lagi ke pasar. A-ada perlu a-apa ya, Ma.. Em... Tante," jawab Rania hati-hati.


Aneh sekali memanggil mama dengan sebutan tante.


"Oh, ini Livy Talisa, ya." Suara Chloe terdengar bersemangat.


"Kenapa mama kenal dengan Livy? Apa karena kontrak design kemarin?" Rania merasa sedikit cemburu, karena lebih mengenali Livy daripada dirinya.


"Bukan, Tante. Saya Rania em... Kakak dari Livy." Rania menahan diri untuk menyebut identitas aslinya, meski hatinya menjerit.


"Oh, begitu. Salam kenal, Nak. Sampaikan salamku pada ibumu. Lain kali akan ku telepon lagi," ujar Chloe menutup telepon.


"Ini pertama kalinya aku bicara dengan mama setelah beberapa bulan. Ya ampun... Aku senang sekali. Tetapi juga sekaligus sedih," ucap Rania. "Salam kenal? Artinya mama beneran nggak mengenalku lagi."


Jantungnya masih berdegup kencang, kepalanya memproses dan mencerna kejadian barusan yang bisa dibilang sangat mustahil.


Bahkan semua pikirannya tentang gelang tadi juga lenyap seketika.


"Mama? Pertama kalinya menelepon mama? Apa maksudmu Rania?"


Darah Rania mengalir deras mendengar ucapan itu.


"Tak kusangka dia sudah pulang," batin Rania ketakutan.


Apa yang harus dijawab Rania agar tidak curiga?


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2