
Sruk!
Sebuah amplop kecil bercorak bunga jatuh dari balik sebuah buku. Qiandra lalu mengambil dan membacanya.
Surat bertuliskan tangan mamanya itu sekilas seperti balasan untuk surat penggemar biasa. Akan tetapi, beberapa kalimatnya seakan memiliki makna yang sangat mendalam.
"Apa maksudnya ini?" ucapnya marah.
Ternyata Chloe belum mengirim surat balasan untuk Rania, yang dituliskan beberapa bulan yang lalu bersama sang suami.
Wanita mantan model itu justru menyimpannya dengan rapi di dalam kamarnya.
Hal itu membuat hati Qiandra begitu sakit ketika membacanya. Mengapa ibunya sangat merindukan orang lain? Padahal jelas-jelas dia lah putrinya.
"Ada apa, Nona?" tanya Sania.
"Tidak ada apa-apa." Qiandra menyelipkan surat itu ke dalam sakunya.
"Ayo, lekas kita antar surat ini. Aku tidak mau ada kerugian yang lebih besar hanya karena sebuah berkas," ucap Qiandra.
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, putri tunggal Austeen tersebut selalu menunjukkan wajah berkerut.
"Aku semakin curiga, hubungan antara mama dengan Rania. Apa mama benar-benar telah memiliki anak selain sama papa?" Qiandra terus memikirkan tentang surat itu.
"Tetapi, saat itu Rania juga mengatakan, kalau papaku adalah papanya. Berani sekali dia mengaku seperti itu?" pikirnya lagi.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Kamu mau menipuku lagi, dengan bualanmu itu?" ujar Qiandra, ketika Rania mengajaknya bekerja sama.
Taman samping ruang guru mereka pilih untuk tempat pertemuan. Hembusan angin yang bertiup, membuat bunga-bunga akasia berguguran.
"Yang aku katakan itu benar, Qian. Kamu bahkan nggak tahu menahu soal gelang itu, kan?" tantang Rania.
"Untuk apa aku memberitahumu? Apa kamu bekerja sama dengan Wilda lagi untuk menipuku? Kalian menginginkan uang berapa dariku?" protes Qiandra.
"Wilda? Apa saja yang ia katakan padamu?" tanya Rania. Hati kecilnya kembali menaruh curiga pada wanita mantan analis tersebut. Memang belum sda bukti yang nyata, jika omongan Wilda itu benar.
"Dan aku tegaskan sekali lagi, aku tidak menuntut apa pun darimu," lanjut Rania.
__ADS_1
"Yah... Kurang lebih sama denganmu. Kalau aku bukanlah anak kandung mama dan papa. Dan ada arwah juga yang selalu berada di sekitarku."
"Aku nggak tahu tentang arwah tersebut. Tetapi aku harus katakan. Kalau Chloe Eilaria Austeen dan Geffie Austeen, bukanlah orang tua kandungmu," ujar Rania tegas.
"Yah... Terserahlah apa katamu. Tapi kenyataannya sekarang, akulah yang diakui dunia sebagai ahli waris tunggal keluarga ini," ucap Qiandra.
"Dan aku juga tidak peduli lagi dengan arwah mainan kalian itu." Qiandra mengacungkan jari telunjuknya ke depan Rania.
"Tapi aku bisa membantumu untuk melepaskan mama dan papa dari masalah ini. Aku sudah mengetahui setiap karakter para direktur hingga ketua tim di perusahaan besar itu. Hal itu akan lebih mempermudah penyelidikan kita."
Rania masih bersikeras mendekati Qiandra.
"Aku nggak butuh bantuanmu. Walau pun aku diam, tetapi bukan berarti aku tak berbuat apa pun," ucap Qiandra cukup keras.
"Di luar tim kuasa hukum kami yang handal, aku juga melakukan penyelidikan tersendiri. Dan itu bersifat rahasia. Simpan saja akal bulusmu itu," tegas Qiandra lagi.
Usaha mediasi dan kerja sama itu pun gagal.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Sudah lima hari Chloe dan Geffie ditangkap karena kasus narkoba. Meskipun beritanya sudah di take down, tetapi kasus mereka tetap menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan.
Bagaimana tidak? Keluarga konglomerat yang terkenal dermawan dan memiliki banyak anak asuh itu, tidak pernah membuat kontroversi sebelumnya.
Seperti ucapannya beberapa hari yang lalu, bisnis yang dijalankan oleh Malfoy, berjalan dengan cukup baik.
Minuman energi yang diproduksinya, langsung menduduki peringkat ketiga market place internasional hanya dalam dua hari setelah peluncuran.
Sementara produk pakaian olahraga khusus pria yang juga diproduksi cabang perusahannya, berhasil masuk ke sepuluh besar produk favorit di media jual beli online.
Seperti tak terpengaruh dengan kasus yang menimpa lawan bisnisnya, pria berdarah campuran itu terus fokus pada kegiatan bisnisnya.
Bahkan kabar terbarunya, ia menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan di Eropa dan Asia Timur untuk mengembangkan bisnis pakaian olahraganya.
Berbeda dengan sang suami, Fania justru merasa sangat khawatir. Sejak penangkapan CEO perusahaan tersebut, semua divisi bolak balik diperiksa oleh para petugas, tidak terkecuali dengan seluruh pegawainya.
Hal itu membuat Fania tidak dapat bekerja dengan tenang. Setiap saat hatinya selalu resah.
"Bagaimana nanti kalau mereka membongkar topengku? Apa yang bakal terjadi kalau mereka mencurigai diriku?"
Fania tak bisa duduk tenang di ruangannya. Beberapa berkas yang kemungkinan bakal dicurigai, sudah ia pindahkan ke tempat yang aman. Bukan di kantor, bukan pula di rumahnya.
__ADS_1
Beberapa departemen dan divisi telah selesai diperiksa. Sebagian besar dari mereka dinyatakan 'bersih'. Namun ada juga beberapa yang terbukti melakukan penggelapan dana, menjual informasi perusahaan dan kecurangan lainnya.
Namun sejauh ini, belum ada yang terkait langsung dengan kasus CEO mereka.
Siang ini Fania benar-benar tidak bisa berkutik. Tim penyidik memeriksa divisinya. Semua anak buahnya diperiksa, tak terkecuali. Demikian juga dengan dirinya.
"Ini apa maksudnya? Bisa kamu jelaskan pada kami?" tanya salah seorang dari mereka.
Gila! Email pun diperiksa. Padahal Fania sudah susah payah menyembunyikan berkas-berkas mencurigakan.
"Emm... Itu kan hanya surat permohonan bisnis biasa," jawab Fania pura-pura tenang.
"Tetapi, perusahaan ini tidak termasuk dalam daftar usaha yang melakukan kerja sama dengan perusahaan ini. Bukan pula calon perusahaan yang akan melakukan kerja sama," ucap penyidik tersebut.
"Ya itu kan inisiatif saya untuk mencari mitra baru. Kenapa jadi dipermasalahkan?" bantah Fania.
"Masalahnya bukan hanya sebatas itu, tetapi formulir jual beli di sini tidak dilengkapi dengan stempel perusahaan. Detail barang juga tidak disebutkan."
"Hahh..." Fania menghembuskan napas dengan kasar. Tak disangkanya, jika surat tersebut bakal terciduk.
"Bagaimana? Apa anda bisa menjelaskannya?"
"Begini." Fania membenarkan posisi duduknya.
"Karena sesuatu hal yang mendesak, divisi kami belum sempat mengajukan kontrak pada perusahaan tersebut. Tetapi barang yang kami beli adalah, kebutuhan dasar untuk produk utama kami, yakni bahan mentah dari kain," jelas Fania.
"Pak, saya baru mendapat informasi. Jika perusahaan ini merupakan perkebunan kapas dan pabrik tekstil."
Salah seorang tim penyidik membeberkan informasi tentang perusahaan yang kini dipermasalahkan.
"Tetapi, pada tahun 2016, perusahaan ini pernah berurusan dengan hukum karena terbukti menanam opium dalam jumlah besar," lanjut pria itu lagi.
"Apa?" Fania mengepalkan tangannya.
"Nah, bagaimana? Apa kamu bisa menjelaskannya?"
Tubuh Fania panas dingin. Pandangannya berkunang-kunang dan seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga.
"Sialan!" umpatnya dalam hati.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.