
"Ya, Tuhan. Rania... Rupanya kamu masih hidup. Aku pikir gak bakal ketemu kamu lagi selamanya?" seorang wanita seusia anak kuliahan menatap Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa?" tanya Rania bingung.
Wanita itu memandang Rania cukup lama. Memperhatikan dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki berulang kali. Lama-lama Rania jengah juga melihat sikapnya.
"Maaf, ya. Kakak siapa?" tanya Rania tegas.
"Oh, maaf. Aku Ringga Sovia. Aku salah orang. Aku pikir tadi kamu Rania Putri. Habis, mirip banget sih. Seperti anak kembar," ucap wanita itu.
"Ringga Sovia? Nama wanita ini cukup banyak tercantum dalam email masuk milik Rania Putri. Tapi siapa dia, hingga bisa membedakan aku dengan Rania Putri?"
Melihat reaksi Rania yang kurang menyenangkan, Ringga pun buru-buru pamit dari tempat itu sambil meminta maaf berulang kali.
"Tunggu!" seru Rania.
"Ya?"
"Apa kakak sangat mengenal Rania Putri?" tanya Rania.
"Hmm...?" Ringga mengerutkan dahi. "Ya, aku cukup kenal dia. Tetapi tidak terlalu dekat juga. Memangnya kenapa?"
"Aku juga Rania. Tapi kenapa kakak bisa mengenali, kalau aku bukanlah Rania Putri?"
"Hmm... Apa kalian kembar? Rania yang aku kenal suaranya lebih nyaring dan... Wajahnya sedikit bulat," jawab Ringga sambil mengingat-ingat.
"Hanya itu?"
"Jawab dulu. Apa kalian kembar?" Ringga balik mendesak.
"Aku juga gak tahu. Karena aku juga belum oernah bertemu langsung dengan Rania Putri," bisik Rania.
"Terus? Kok aku jadi bingung?" ucap Ringga.
Rania membongkar isi tasnya tanpa mempedulikan pertanyaan Ringga, "Kak. Ini nomor wassap ku. Bolehkah aku meminta kontak kakak? Aku akan jelaskan lain waktu. Mungkin juga aku akan butuh bantuan kakak," pinta Rania.
"Kenapa aku harus memnerikan nomor teleponku juga? Katakan dulu apa motifmu. Wajah kalian boleh saja mirip. Tapi aku belum tahu seperti apa sifatmu," tolak Ringga.
"Duh, ribet banget sih dia," keluh Rania dalam hati. Suara dering telepon dari dalam tasnya, membuat hatinya semakin kalut.
"Hmm... Begini. Aku hanya ingin tahu informasi terakhir sebelum Rania menghilang. Mungkin bisa saja kita masih menyelamatkannya," Racau Rania.
__ADS_1
Sepertinya berhasil. Ringga membulatkan matanya mendengar ucapan Rania barusan, "Bagaimana mungkin? Rania Putri menghilang satu tahun yang lalu pada saat kegiatan pramuka di danau. Banyak spekulasi tentang dirinya," ujar Ringga.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" desak Rania penasaran.
"Belakangan diketahui, ada jejak darah tidak jauh lokasi perkemahan. Dan sepertinya bekas kecelakaan. Meski tidak ada jasad di sana, atau korban kecelakaan yang melapor, banyak yang beranggapan bahwa Rania lah yang menjadi korbannya. Karena sejak hari itu ia tidak kembali ke rumah. Jejak keberadaan dirinya pun menghilang," cerita Ringga.
"Kenapa tidak ada yang cerita padaku ya soal ini?" gumam Rania.
"Sebenarnya apa hubungan kamu dengannya?"
"Nah, aku sendiri juga bingung," ucap Rania ragu.
Ringga kehabisan kata-kata melihat remaja di depannya, "Duh, maaf ya. Bus aku sudah datang. Nanti aku hubungi lagi," pamit Ringga.
"Yah... Nomor HPnya gak dikasih..." sesal Rania.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Tepat seperti dugaan Rania. Sang ibu menunggunya di depan pintu. Sambil memasang wajah masam, ia memegang sapu lidi sambil berkecak pinggang.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumussalam."
"Maafkan aku, Bu. Agak susah mencari angkot atau bus kota dari arah sana," jawab Rania.
"Apa kamu tahu, betapa khawatirnya Ayah dan Ibu saat kamu menghilang dulu? Ibu pikir nggak akan pernah berjumpa dengan kamu lagi," ucap ibu lirih.
"Rania paham, Bu. Sekali lagi maafkan aku." Rania menundukkan kepala. Ia tak sanggup memandang sang Ibu yang sangat menyayanginya.
"Kamu nggak tersesat, kan?" tanya Bang Arka. Tangan dan mulutnya penuh dengan pisang goreng buatan ibu.
"Nggak, Bang," jawab Rania. Tanpa disadari ia menelan ludah mencium bau pisang goreng panas.
"Ya sudah. Pergilah mandi. Lalu kita makan malam," ucap ibu kemudian.
"Bu, maafkan aku. Benar-benar minta maaf," tangis Rania sambil memeluk sang ibu dari belakang.
"Iya, Nak. Nggak apa-apa. Tapi jangan ulangi lagi," sahut ibu.
"Bukan, Bu. Bukan hanya soal aku pulang terlambat. Tapi banyak hal yang bahkan aku tidak bisa katakan," batin Rania. Hatinya sesak, ia sangat butuh tempat untuk bicara dan bersandar saat ini.
__ADS_1
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Udara dingin yang berhembus melalui sela-sela dinding kayu, menggelitik kulit Rania yang hanya berbalut baju tidur.
Denting jarum jam terdengar sangat jelas, di sela-sela nyanyian jangkrik dan katak. Sesekali terdengar suara deru mesin kendaraan yang dipacu oleh sang pengemudi.
Semua orang di rumah ini sudah tenggelam dalam mimpinya masing-masing. Terkecuali Rania. Dengan bantuan kopi hitam, ia masih terjaga hingga pukul sebelas malam.
Sebelum pulang tadi, ia menyempatkan diri membeli paket internet dengan uang honor pemberian Anjani, untuk misinya mencari petunjuk di email.
Tak sia-sia. Beberapa informasi penting pun ia peroleh. Salah satunya Ringga Sovia. Yang tak lain adalah sang editor dari setiap karya yang dihasilkannya.
"Nggak nyangka kalau ternyata dia udah kerja. Kirain masih kuliah. Baby face banget sih..." batin Rania. "Sayang banget, Kak Ringga tidak memberikan nomor HPnya. Kira-kira kalau di email, bakal di balas gak ya?"
Bulan semakin beranjak ke peraduan malam. Seperti memiliki energi unlimited, Rania terus membuka semua email masuk.
"Zehra Annisa?"
Mata Rania tiba-tiba terpaku pada sebuah email masuk. Isinya tidak begitu penting. Hanya tentang tugas sekolah. Tetapi, nama sang pengirim sangat familiar di telinga Rania.
"Bukankah ini anak kelas IPS 2 yang dulu satu klub musik denganku? Apa ia dekat dengan Rania Putri?" pikir Rania.
Tak mau berpikir lama, Rania pun mengetik nama Zehra Annisa, dan muncul beberapa email masuk maupun email terkirim atas namanya. Tidak jauh berbeda dari email sebelumnya, isi pesannya hanyalah tentang tugas sekolah.
"Eh!"
Mata Rania menangkap sebuah foto yang dilampirkan pada salah satu email. Hampir saja ia tidak mengenali gadis yang sedang dicari keberadaannya itu. Rambut Rania di dalam foto itu sangat pendek. Persis ptongan rambut laki-laki.
Foto buram itu menunjukkan beberapa gadis cilik mengenalan pakaian SMP. Berbeda dengan foto SMP yang Rania lihat dulu, kali ini nama SMPnya terlihat dengan jelas.
"Aku tidak pernah potong rambut sependek ini. Sebatas bahu saja sudah menangis," gumam Rania.
Rania pun mengambil kertas dan menuliskan beberapa informasi yang diperolehnya barusan. "Aku harus bertemu dengan Zehra di sekolah besok," gumam Rania.
Tlup! Tiba-tiba listrik padam. Cahaya dari layar ponsel memenuhi seluruh ruangan.
"Sepertinya aku disuruh tidur, nih," pikirnya. "Uh... Tapi kok tiba-tiba dingin, ya? Apa sudah turun embun?" Rania meraih selimutnya.
Tanpa disadarinya, seseorang tersenyum menatapnya di tengah kegelapan malam. Turut menemaninya tidur malam itu.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...