
Panggung yang megah, lampu sorot aneka warna, musik yang meriah serta deretan kursi penonton yang berjajar rapi.
Sudah lebih dari empat bulan Rania meninggalkan dunia industri ini. Tapi kenapa rasanya seperti lebih dari satu dekade, ya?
Sesekali bola mata Rania berputar ke kursi VIP di sebelah kanan panggung. Dari kejauhan, ia melihat ibu dan adiknya duduk manis di antara para tamu VIP lainnya.
Ya, karena hanya boleh membawa satu orang pendamping, akhirnya hanya ayah mengalah pada ibu untuk menemani Livy.
"Nih, air mineral."
Audrey menyerahkan sebotol air mineral kepada Rania yang sedang terduduk kelelahan.
Padahal ia hanya asisten Qiandra, bukan panitia. Tetapi rupanya sibuknya tetap luar biasa. Sejak dua jam lalu, remaja berambut hitam itu jarang sekali bisa duduk.
"Kenapa kau terlihat tegang sekali? Padahal semua persiapan berjalan dengan lancar."
Audrey duduk di sebelah Rania. Wanita berdarah Eropa itu sudah selesai di rias mengunakan baju casual. Ia tinggal menunggu gilirannya naik panggung nanti dengan rancangan baju terbaik musim ini.
"Emangnya kelihatan banget, ya?" tanya Rania.
"Hu'um. Apa ini demi pekerjaanmu sebagai asisten Qiandra, atau demi pencapaianmu sendiri?" ujar Audrey lagi.
"Maksudmu gimana? Aku nggak paham. Bukannya sama aja, ya? Menyelesaikan pekerjaanku sebagai asisten kan termasuk pencapaianku juga?" ucap Riani.
"Haaah.... Apa kamu nggak capek, berpura-pura sebagai Rania Putri terus, Edlyn Rania Austeen?"
"Hah?!" Botol air mineral yang dipegang Rania terjatuh saking terkejutnya mendengar ucapan Audrey.
"Sudahlah, gak usah ditutupi lagi. Aku tahu kita bertiga selalu bersaing di industri fashion dan modelling ini sedari kecil. Tapi kamu beruntung, karena memiliki orang tua yang sangat mendukung karirmu, bahkan ibumu juga seorang mantan model."
"Bagaimana kamu menebak kalau aku ini Rania Austeen? Bukankah sudah jelas, keturunan Austeen itu Qiandra?" pancing Rania. Ia tidak mau terkecoh oleh jebakan Audrey.
"Beberapa bulan terakhir, tidak banyak orang yang mengenal Edlyn Rania Austeen sebagai pewaris tunggal keluarga Austeen. Jejaknya seakan tenggelam begitu saja tanpa ada yang mengingatnya," bisik Audrey.
"Tapi, ada satu hal yang membuatku yakin. Karena sejak kecil aku sudah mengenal kedua Rania, yang wajahnya bak anak kembar," lanjut Audrey.
Model papan atas itu mengalihkan pandangannya dari hingar bingar persiapan fashion show ke arah Rania.
"Aku sendiri tidak tahu, apakah kalian memang kembar atau tidak.Tapi aku yakin kalau itu adalah kau Rania Austeen."
"Sejak kapan kau menebak hal itu? Aku tidak bilang tebakanmu benar atau salah."
"Hmm.. Bisa dibilang... Baru-baru ini saja," jawab Audrey.
"Bagaimana kau membedakannya?" tanya Rania lagi.
__ADS_1
"Rania putri tidak akan datang ke acara seperti ini. Dia fobia dengan keramaian dan kostum-kostum aneh," ucap Qiandra sengan yakin.
"Tapi fashoin show ini kan tidak ada kostum aneh," bantah Rania.
Qiandra menyunggingkan senyumnya, "Itu menurutmu. Karena dari kecil kau sudah menyukai dunia seni dan panggung. Tapi aku lebih mengenal Rania Putri
dibandingkan dirimu. Selama ini aku bersikap baik hanya demi Livy Talisa Putri, adikmu."
Rania menghembuskan napasnya dengan kesal. Ia seperti terjebak dengan pertanyaannya sendiri.
"Kalau memang benar aku adalah putri keluarga Austeen. Lalu siapa orang tua Qiandra? Apa kau tahu?" Rania pun berusaha menjebak Audrey.
"Entahlah. Memangnya kenapa kalau aku tahu?" Audrey mengangkat kedua bahunya.
Hisssh... Rania semakin kesal.
"Cepat katakan padaku semua yang kau tahu! Bukankah waktu kita video call saat itu kau sangat ketakutan melihatku? Kenapa sekarang kau malah lancang?"
Rania menarik kaos yang dipakai Audrey. Matanya melotot dan seluruh barisan giginya ia rapatkan.
"Hei, Rania," bisik Audrey.
"Katakan, kalau aku memang bukan Rania Putri, di mana dia sekarang?"
Audrey tidak menjawab pertanyaan Rania.
"Kau salah paham, Nona. Aku hanya tidak ingin menarik perhatian orang lebih banyak. Lihatlah sekelilingmu," bisik Audrey.
Rania memandang sekeliling. Benar saja, beberapa orang panitia memandangnya dengan tatapan menghakimi.
"Sial*n!" Rania melepaskan genggamannya dari baju kaos putih yang dipakai Audrey.
Audrey mendekatkan tubuhnya pada Rania, lalu membisikkan sesuatu.
"Ehem! Tapi aku nggak mau di cap terlalu jahat olehmu. Jadi biarkan kuberi satu petunjuk. Kalau kekuatan gaib atau sihir itu bekerja, itu artinya kau mendekati pusat sihir itu sendiri. Kau membuat pemicunya aktif."
"Apa maksud ucapannya itu?" pikir Rania.
"Oh, iya. Aku berpikir begini bukan karena aku mengetahui semuanya. Tetapi karena aku sudah mendengar ceritanya dari Mikko," bisik Audrey lagi.
"Rania! Rania! Kamu dipanggil oleh Tuan Sigmon," seru salah satu panitia.
"Aku?"
"Ya, kamu. Cepatlah kemari."
__ADS_1
Setengah berlari, Rania pun menuju ke ruangan yang ditunjuk oleh panitia tadi. Ia terpaksa meninggalkan urusannya dengan Audrey.
"Kenapa ya Tuan Sigmon memanggilku?" pikir Rania bingung.
"Ah, Rania. Ternyata benar, proporsi badanmu cukup bagus. Ayo segera bersiap. Ini pakaian yang akan kamu gunakan nanti," ucap Tuan Sigmon.
"Maaf, Tuan. Saya belum paham maksud Anda."
Rania bingung, tiba-tiba disodorin salah satu pakaian yang akan diluncurkan. Bukan disuruh fashion show, kan?
"Jadi belum ada yang memberi tahumu?" tanya Tuan Sigmon.
"Belum. Memangnya ada apa, ya?"
"Qiandra mengusulkan, agar kamu yang membawakan pakaian ini nanti. Katanya, kamu sudah biasa fashion show."
"Heh? Apa? Ta-tapi Tuan, bukannya setiap design pakaian sudah ada modelnya masing-masing?"
"Ya, memang benar. Tetapi yang ini memang belum ada model yang pas untuk membawakannya," ucap Tuan Sigmon.
"Tapi, apa Tuan percaya pada omongan Nona Qiandra? Kalau nanti aku mengacaukan acara bagaimana?" tolak Rania halus. Ia tidak tahu, ini adalah jebakan atau bukan.
"Tentu saja saya percaya padanya. Acara ini sangat penting baginya. Bahkan, putri Chloe itu sudah mempersiapkannya tahun lalu. Jadi tidak mungkin ia bicara bohong padaku?" jelas Tuan Sigmon.
"Tuan salah, yang sangat mementingkan acara ini adalah aku, bukan dirinya," ucap Rania dalam hati.
Tetapi pada akhirnya Rania menerima tawaran tersebut. Ia tidak ingin melihat ekspresi kekecewaan salah satu orang yang membesarkan namanya di dunia fashion itu.
Tapi apa yang terjadi dipanggung nanti? Apakah benar inu jebakan yang dibuat Qiandra? Entahlah, Rania tidak tahu.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Pak, sepertinya kita melakukan kesalahan," ucap beberapa intel di tim Reserse Narkoba.
"Apa itu?"
"Kami telah memeriksa sidik jari yang tertinggal di TKP, dan memang benar jika sidik jari itu milik Sania, asisten pribadi Nona Qiandra."
"Tetapi ada satu hal yang aneh. Kami menemukan seperti sisa perekat plastik di beberapa bagian, terutama keyboard laptop. Bukankah seharusnya pada sidik jari itu yang tertinggal adalah minyak alami yang ditinggalkan oleh tubuh manusia?"
"Begitu, ya? Artinya ada seseorang yang mencuri sidik sidik jari tersebut untuk menyamarkan identitasnya. Jadi aksinya tidak ketahuan."
"Benar, Pak. Dan dari salah satu lakban bening yang kami temukan di tong sampah terdekat dengan TKP, kami menemukan sidik jari dari orang yang berbeda."
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.