Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 76 - Labirin Raksasa


__ADS_3

"Berapa lama waktu yang tersisa sampai Tuan pulang?"


...


"Hmm... Masih cukup lama. Tapi masalahnya di sini, sepertinya ada tikus liar yang menyusup. Kita harus segera menangkap mereka."


...


"Ya... Apa kalian melihat Nona?"


...


Degup jantung Qiandra semakin cepat ketika orang itu menyebut kata "Nona."


"Felix. Itu suara Felix. Kenapa dia bisa di sini?" gumam Qiandra.


Sedari tadi terdengar suara Felix menelepon seseorang. Tapi kenapa dia bisa tahu ruangan ini, ya? Apa dia salah satu pelaku penyekapan Qiandra malam itu? Atau karena ia salah satu IT dan petugas keamaanan?


Sementara Mikko meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, sebagai isyarat bahwa mereka belum boleh berbicara.


Masih dengan posisi yang sama, mereka berusaha menahan napas dan gerakan lainnya yang menimbulkan bunyi.


Di tangga yang tanpa sekat untuk berlindung ini, mereka hanya bisa berharap siapa pun tidak turun ke bawah. Karena bila tidak, maka mereka akan menjadi sasaran empuk bagi para kucing yang mencari mereka.


"Kenapa seperti de javu, ya?" pikir Mikko dan Qiandra bersamaan.


Ini kedua kalinya mereka terkurung bersama. Bedanya, kali ini mereka sama sekali tidak boleh berteriak agar tetap selamat.


Beberapa saat kemudian keadaan hening. Tidak terdengar lagi suara dari Felix dan langkah kaki yang mendekat.


Ini bukan jebakan, kan?


Drrrkkk... Terdengar suara gemuruh yang sangat dahsyat. Bahkan tangga tempat mereka berdiam pun terasa gemetar.


"Mikko, dia mengunci pintunya. Kurasa dia sengaja menjebak kita," bisik Qiandra panik.


"Tenang dulu. Ruangan ini tidak hanya satu, dan kamu bilang waktu itu, ada jalan keluar lain kan? Kita harus segera mencarinya," kata Mikko mencoba menenangkan suasana.


"Tapi gimana jika papa pulang?" ujar Qiandra takut.


Hal ini sangat beralasan. Pasalnya, papa dan mamanya selalu mengelak untuk membicarakan hal ini. Bahkan mereka selalu mengatakan, jika kamar misterius itu tidak ada. Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan?


"Jangan khawatirkan itu dulu. Kita sudah terlanjur terjebak di sini, maka tak ada jalan lain, selain menyelidiki tempat ini," bisik Mikko sambil berdiri.


"Aku penasaran, not apa yang kamu usulkan tadi," kata Mikko kemudian.


"Oh iya, benar juga."


Qiandra yang notabene tidak terlalu suka musik, terpaksa mengingat-ingat sebuah not yang akan ia mainkan di anak tangga.


Ting... Ting... Ting... Ting...


"Ini, kan?" gumam Mikko.

__ADS_1


"Iya, lagu Nina Bobo," kata Qiandra sambil tersenyum.


"Tapi kenapa lagu ini?" tanya Mikko heran.


"Kita coba aja dulu. Kalau diingat-ingat, aku sering mendengar alunan lagu ini secara samar. Selama ini kukira, lagu tersebut adalah bunyi lagu pada jam kuno di depan kamar kakek," jelas Qiandra sambil memainkan lagu tersebut dua kali putaran.


Drrrk... Tap... Tap...


"Wah, beneran. Tangganya bergeser. Hebat," bisik Mikko.


Anak tangga tersebut perlahan bergerak. Qiandra buru-buru melompat ke lantai tempat Mikko berdiri.


"Tapi kenapa mereka memilih lagu Nina Bobo?" tanya Mikko.


Mereka sambil menunggu tangga benar-benar berhenti.


"Aku juga nggak tahu. Tapi mungkin karena not dari setiap lagu ini letaknya tidak berjauhan dan beulang-ulang. Jadi mudah diingat," jawab Qiandra.


Sekali lagi, mata mereka takjub melihat pemandangan di depan mata. Tangga tadi telah menghilang, digantikan dengan tangga curam menuju ke bawah.


"Wah, gila! Rumahmu ini bekas benteng zaman perang dulu apa gimana?" Mikko kembali bersiap untuk menuruni tangga.


"Tunggu dulu," cegah Qiandra.


"Ada apa?"


"Apa kamu yakin ini aman?" tanya gadis itu. Ruangan di bawah sana sama sekali tidak terlihat. Bau apek dan spora jamur semakin pekat.


"Gimana kalau di bawah sana ada jebakan besar seperti... Ular atau kolam air yang besar gitu?" Qiandra bergidik ngeri.


Qiandra masih terlihat ragu.


"Tenanglah. Ini tujuanmu memintaku datang, kan? Untuk menemanimu."


Qiandra tidak punya pilihan lain.


Mereka lalu mulai menuruni tangga. Namun tepat di tangga ke sembilan, Mikko mendadak berhenti.


"Ada apa lagi?" bisik Qiandra.


Mikko tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan senjata rahasia dari dalam tas.


"Kau bawa lipstik? Punya siapa?" Qiandra semakin bingung.


"Ini berguna, biar kita tidak tersesat," jawab Mikko tanpa menjelaskan itu milik siapa.


"Ah, aku mengerti," sahut Qiandra.


Mereka pun melanjutkan eksplorasi. Semakin ke bawah, udara semakin sesak. Sama persis dengan yang dirasakan Qiandra waktu disekap dulu.


Srrr.... Beberapa batu kerikil terjatuh ketika mereka menapak tangga. Suaranya menunjukkan, betapa dalamnya ruangan di bawah mereka.


Tap! Mereka kembali berhenti.

__ADS_1


Tangga tersebut bercabang tiga. Namun ketiga ujungnya sama-sama tidak terlihat.


"Kita pilih yang mana?" bisik Mikko. Ia menyinari ketiga tangga tersebut. Namun pandangan mereka tetap terbatas.


"Hmm..." Qiandra berpikir sejenak. "Ku rasa yang paling kanan," lanjutnya.


"Kenapa?"


"Tangga ini cukup bersih. Tidak terlalu banyak debu. Artinya lumayan sering dilalui orang," jelas Qiandra.


"Kalau begitu kita ambil yang paling kiri," kata Mikko.


"Lah, kok yang kiri?" protes Qiandra.


"Ya, mungkin aja tangga ini sering dilalui orang. Tapi kita tidak tahu, apakah mereka semua bisa kembali?" kata Mikko.


"Hmm... Pikiran yang aneh. Lalu kenapa harus yang kiri? Kenapa nggak coba yang tengah saja?"


"Entahlah. Tapi coba lihat yang ditengah. Banyak guratan-guratan di tangga batu tersebut," kata Mikko.


"Seperti habis dilalui binatang melata," kata Qiandra sambil bergidik ngeri.


"Nah, saat aku menyenter tangga kiri, sekilas aku melihat banyak lumut yang tumbuh. Artinya cahaya semakin dekat. Dan ada uap air juga di sana," jelas Mikko.


"Apa kau yakin?" bisik Qiandra.


"Kita coba aja. Lagian dari pintu mana pun kita keluar, mungkin aja sudah ditunggu mereka untuk menangkap kita."


Glek! Qiandra jadi semakin tegang.


Sesuai analisa Mikko, mereka pun menuruni tangga sebelah kiri tanpa gangguan, kecuali licinnya lumut yang mulai menumbuhi batu.


Sekitar lima belas menit kemudian, mereka kembali berhenti.


"Kau yakin ini jalan yang benar? Kau bisa lihat kan, di bawah sana ada apa?" bisik Qiandra.


"Ya, aku juga melihatnya."


Mikko dan Qiandra melihat banyak benda dengan ukiran aneh di ruangan bawah mereka. Beberapa diantaranya membentuk kotak-kotak sangat besar.


"Qian, i-itu bukan peti mati, kan?"


"Aku juga nggak tahu. Tapi sepertinya begitu," balas Qiandra. "Bagaimana ini? Apa kita balik lagi ke atas?" usul Qiandra.


"Jangan! Kita udah sampai sini. Sekalian saja kita selidiki."


Dengan langkah mantap, Mikko pun menuju ke ruangan besar tersebut, diikuti oleh Qiandra.


Trak!!!


"Kyaa..." Qiandra berteriak ketika sebuah benda menggelinding di dekat kakinya.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2