
“Loh, anak mama sudah pulang les?” sapa Chloe saat Qiandra turun dari mobil. Saat itu Chloe sedang menyiram bunga-bunga kesayangannya dengan para asisten rumah tangga.
“Iya,” jawab Chloe dengan malas.
“Ada apa? Kok anak mama kelihatan jutek dan kesal begitu? Apa ada masalah di sekolah dan tempat les?” tanya Chloe dengan sabar.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya Lelah,” sahut Qiandra tanpa menoleh.
Bukan hanya Chloe yang merasakan perubahan anak semata wayangnya, para asisten pun merasakan kalau nona muda mereka kini lebih ketus dan kasar. Tidak ada lagi ucapan selamat pagi dari nona muda, tidak ada lagi ucapan terima kasih untuk mereka ketika selesai mengerjakan tugas, tidak ada lagi hadiah-hadiah kecil sekedar Pelepas Lelah.
Yang mereka peroleh hanyalah ucapan sumpah serapah, bentakan dan pekerjaan yang semakin menumpuk. Mereka pun tidak pernah lagi menonton film kartun dan drama Korea Bersama-sama lagi. Tetapi mereka tidak ada yang tahu, kenapa hal itu terjadi.
“Hufhh,” Sonia menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengetuk pintu kamar majikannya. Tadi pagi ia terkena lemparan remot AC ketika hendak membangunkan tuan putri di rumah ini.
Tok, tok, tok. “Permisi, Nona. Apa anda mau camilan sore?” tanya Sonia, asisten pribadi putri tunggal keluarga Austeen.
“Boleh. Bawakan aku buah delima dan segelas air lemon,” jawab Qiandra dari dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, Sonia membawakan permintaan majikannya.
“Maaf, Nona. Nanti malam ada acara makan malam eksklusif, dengan para designer dan model yang akan tampil di summer show. Salah satu tamu undangannya adalah Fannia Ansley, seorang brand ambassador pakaian kasual. Apakah Nona akan hadir atau absen saja?” tanya Sonia hati-hati. Beberapa waktu lalu nona muda tersebut memilih absen dari aktivitas di luar sekolahnya sejenak.
“Aku akan hadir. Pilihkan pakaian yang paling sesuai untuk acara itu,” kata Qiandra tanpa menoleh.
“Baik, Nona,” jawab Sonia sebelum undur diri.
“Haaah… Sejak kapan aku jadi sesibuk ini?” keluh Qiandra.
“Seperti apa ya kehidupanku dulu? Rasanya pikiranku tidak sepenat ini. Mengapa sekarang tidak ada yang berjalan lancar?” kata Qiandra.
Qiandra menelungkupkan wajahnya ke bantal. Sejak dahulu ia memang ingin sekali menjadi model, dan entah siapa, selalu saja mengalahkannya. Kini, tanpa perlu bersusah payah, Qiandra telah berada di lingkaran orang-orang tertinggi dari industri itu. Meski demikian, hatinya merasa kosong dan mengganjal.
Selain itu, dirinya juga banyak sekali menerima kritik di media sosial, yang mengatakan dirinya kini jauh lebih buruk dibandingkan dahulu. Bukankah ia telah berhasil menjadi model? Artinya itu lebih baik dari pada dahulu, kan? Kenapa mereka malah mengkritiknya?
“Dan entah mengapa, aku juga tidak suka dengan sifat mama yang sok hangat dan akrab. Ia seperti orang asing bagiku.” Qiandra merasa risih dan asing dengan sikap Chloe, mamanya.
Ia pun merasa sangat asing di rumah ini. Padahal setahu Qiandra, rumah ini telah ada sebelum ia lahir tujuh belas tahun yang lalu. Seharusnya ia sudah sangat terbiasa dengan segala sesuatunya, bukan?
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Tok, tok, tok.
“Nona, sudah hampir saatnya makan malam. Nona?” panggil Sonia dari luar kamar.
“Ugh, berapa lama aku tertidur?” bisik Qiandra. Ia tak ingat kapan ia mulai tertidur. Seragam sekolahnya saja masih dikenakannya.
“Nona. Sudah hampir saatnya menghadiri acara makan malam. Apakah Nona ingin izin saja? Sepertinya keadaan Nona hari ini kurang baik,” ucap Sonia ketika telah dipersilakan masuk.
“Tidak. Aku akan tetap datang. Lakukan saja sesuai rencana,” kata Qiandra.
“Aku tidak boleh malas. Aku harus membuat mereka tunduk dan melihat potensiku,” gumam Qiandra. Ia bertekad untuk membungkam orang-orang yang mengkritiknya.
Dalam waktu lima belas menit, ia telah selesai bersiap. Qiandra menggunakan flared skirt hitam sepanjang lutut, di padukan dengan atasan Ruffled Top berbahan katun dengan corak floral pink pastel. Rambutnya yang pirang dan lurus dibiarkannya terurai. Bagian poni disematkan sebuah jepit manis berbentuk strawberry.
“Duh, anak Mama cantik banget… Udah mau berangkat, ya?” tanya Chloe ketika bertemu Qiandra di ruang tamu. Kebetulan malam ini jadwal Chloe kosong.
“Ck… Iya…” jawab Qiandra jutek.
Chloe melongo mendengar jawaban putrinya. Ia tak menyangka jika gadis yang beranjak dewasa itu menjadi anak yang kasar.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Selain Fania Ansley, siapa lagi tamu yang hadir?” tanya Qiandra pada Sonia yang mendampinginya ke jamuan makan malam tersebut.
“Ada Tuan Gunawan, pemilik Gerai Batik Modern dari Solo. Nyonya Magda dan Tuan Alberto. Dolce M. Sigmon, designer dan pemilik butik dari Perancis. Aska Vilton, penata gaya pribadi aktris Vezia Watson. Kemudian beberapa pemegang saham dari Beverly Mall,” jelas Sonia.
“Hmm… Lalu, Nyonya Magda dan Tuan Alberto itu siapa?” tanya Qiandra. Ia telah duduk di kursi belakang mobil BMW i8 Coupe miliknya.
“Oh, mereka kan mitra bisnis keluarga Nona sejak lama?” jawab Sonia sambil mengerutkan dahi. “Ada yang aneh dengan Nona hari ini,” gumamnya dalam hati.
Kegiatan makan malam royal itu berlangsung cukup lancar, kecuali bagi Qiandra. Ia yang tak begitu memamahi obrolan bisnis tersebut hanya bisa menyimak. Berkali-kali ia dikiritik oleh para pelaku usaha yang turut hadir dalam jamuan tersebut. Belum lagi sindiran demi sindiran yang dilontarkan oleh Fania Ansley. Ada masalah apa sih model senior itu padanya?
“Kenapa mereka banyak memintaku melakukan hal berat, sih? Aku kan hanya model? Kenapa ikut diminta menentukan tema, jenis bahan dan design unggulan dalam show berikutnya?” gerutu Qiandra. Ia benar-benar tak mengerti mengapa mereka semua mengintimidasi dirinya.
“Maaf jika kalimatku akan menyinggungmu, Nona. Akan tetapi jika kamu memang belum kompeten dalam menangani bisnis besar ini, sebaiknya kamu mundur saja sebelum terlambat,” ucap Dolce M. Sigmon tegas.
__ADS_1
“Benar, saya lihat dari tadi anda hanya mangut-mangut tidak mengerti. Anda juga beberapa kali memberikan pendapat di luar tema. Ini bukan pekerjaan main-main. Jika tidak berjalan dengan baik, akan ada lebih dari seribu orang yang dirugikan,” sahut Nyonya Magda.
“Itulah sebabnya, aku tidak mengerti mengapa anak ingusan seperti dia meminta untuk menangani proyek sebesar ini. Apa keluarga Austeen memang tidak kompeten dalam berbisnis?” sela Fania.
“Fania, kita tidak mempermasalahkan hingga sejauh itu. Mungkin ini salah kita juga, sejak awal mempercayakan proyek ini padanya. Tetapi selama belum terlalu jauh, ini masih bisa kita perbaiki,” tegur Tuan Alberto.
“Itu benar. Sebaiknya kita mengadakan rapat lagi dengan Geffie Austeen, sebelum mengakusisi posisi anaknya dari summer show kali ini,” timpal Aska Vilton.
Qiandra yang menjadi objek pembicaraan hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Ia menggigit bibirnya, menahan agar air matanya yang berharga tidak mengalir tanpa izin.
Setiap menatap wajah Fania, hati Qiandra terasa teriris. Ia seperti memiliki ikatan batin yang kuat dengan wanita usia 41 Tahun itu. Tetapi di saat yang sama, ia merasa kebencian yang amat dalam.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Sonia, apakah aku selalu mengerjakan pekerjaan seberat ini?” tanya Qiandra dalam perjalanan pulang.
“Apa maksud Nona? Bukankan Nona sendiri yang ingin ikut serta dalam tim summer show kali ini?” Sonia kembali bertanya.
“Ah… Itu memang bagus. Tetapi sesungguhnya aku hany ingin jadi model saja, tanpa perlu bersusah payah memikirkan konsep dan perintilan lainnya,” ujar Qiandra.
“Saya tidak mengerti kenapa Nona begitu aneh hari ini. Tetapi saran saya, tetaplah kuat menghadapi mereka. Karena menjadi designer dalam bisnis pakaian adalah salah satu cita-cita Nona, bukan? Ini baru permulaan,” kata Sonia.
“Permulaan? Memangnya sejak kapan aku memulai semua ini?” ujar Qiandra dengan nada sedikit tinggi.
“Maaf jika kalimat saya tadi menyinggung Nona. Tetapi yang saya tahu, sejak umur empat tahun Nona sudah memiliki design karya sendiri, kan?” sahut Sonia.
"Saya mengerti jika Nona merasa sedikit jenuh, dan beberapa waktu lalu juga banyak mengurangi aktivitas di luar sekolah. Tetapi jika hal ini terus berlanjut, saingan bisnis keluarga Nona akan mudah mencari peluang. Bertahanlah sedikit lagi," sambung asisten yang cukup cerdas itu.
“Empat tahun, ya? Yang aku ingat di umur segitu, aku hanya merintih kedinginan seorang diri. Apakah itu hanya mimpiku belaka?” gumam Qiandra dalam hati.
(Bersambung)
Bonus Biodata Tokoh
Bonus Spesial
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...