Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 112 - Mencari Jalan Keluar


__ADS_3

Bruk! Rania terjatuh ke dalam lubang jebakan. Gratak! Seketika pintu jebakan itu kembali tertutup.


"Qian! Apa yang terjadi?" seru Rania.


Suara Rania menggaung di ruangan bawah tanah itu.


"Tolong aku! Qian... Di sini sesak dan becek!"


"Qian!!! Kyaaa.... ularr!!!"


Rania menjerit sekuat tenaga. Air setinggi mata kaki dan berbau busuk mengotori bajunya yang berwarna biru.


Pinggulnya masih terasa sakit akibat jatuh dari ketinggian dua setengah meter. Kaki kanannya terkilir dan lecet. Bagaimana tidak, dua setengah meter bukanlah ketinggian yang rendah. Masih untung tidak ada tulangnya yang patah.


"Qian!!!"


Tidak ada jawaban dari Qiandra. Tapi Rania mendengar suara langkah kaki yang menjauhinya.


"Lah, Qian meninggalkanku di sini? Kurang ajar! Jadi dia sengaja menjebakku?"


Rania mengepalkan tangannya karena emosi.


"Qian! Jangan tinggalkan aku di sini! Lihat saja nanti, kau akan membayar mahal semua ini setslah aku bebas," seru Rania.


Tidak ada balasan. Yang terdengar hanya suara langkah kaki yang terus menjauh, dan gaung suaranya sendiri.


Matanya menatap awas pada dua ekor binatang melata yang berada di depannya.


"Kok nggak gerak?" pikir Rania.


"Loh, ternyata cuma gambar tiga dimensi? Fyuh syukur deh. Ku pikir tadi ular beneran." Rania sedikit bernapas lega.


Reptil berbisa berwarna hitam legam itu rupanya hanya gambar tiga dimensi yang dilukis sedemikian rupa di dinding lubang tersebut.


Cahaya lilin yang redup membuat pandangan Rania tidak terlalu jelas. Itu sebabnya ia mengira lukisan itu asli.


"Tapi gimana caranya aku keluar dari sini? Pasti ada caranya."


Lubang sedalam dua setengah meter dengan luas sekitar dua kali dua meter itu ditutupi jeruji besi rapat di bagian atasnya.


Tidak ada tuas atau pun jendela pada dinding lubang tersebut. Semuanya benar-benar dinding rapat.


Satu-satunya jalan keluar hanya dari atas. Jeruji besi tersebut bisa terbuka seperti tadi, ketika tanpa sengaja menyentuh kuncinya.


"Pasti ada jalan keluar lain. Pertama aku harus cari bantuan dulu." Rania merogoh kantong celananya.


"Astaga! HPku sepertinya ketinggalan di meja makan. Kenapa di saat begini malah teledor sih?" kesal Rania.


Tidak kehilangan akal, Rania menyentuh seluruh permukaan dinding, siapa tahu ia menemukan jalan rahasia seperti yang dilakukan Qiandra tadi.


"Iyyuhhh... Apa ini?"


Benda yang lengket dan berlendir bergerak-gerak di sela jarinya.

__ADS_1


"Gyaaaahhhh...!!! Ini cacing!!!"


Satu fakta lagi diketahui Rania. Permukaan dinding lembab tersebut ternyata dipenuhi oleh puluhan bahkan ratusan cacing yang melata bebas.


"Qiandra!! Keluarkan aku! Qian!!"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Ttuuuuttt...


"Nomor yang anda tuju..."


"Arrggghh... Rania ke mana, sih? Ayo dong, angkat teleponnya," seru Mikko kesal.


Sudah lebih dua puluh kali, Mikko menelepon Rania. Namun tidak ada jawaban. Ia lalu mencoba telepon Qiandra. Hasilnya sama. Tidak ada yang merespon teleponnya.


Sepeda motornya kini terjebak kemacetan di dekat lampu merah. Waktu sembilan puluh detik hingga lampu berubah warna kembali menjadi hijau, dirasa sangat berharga.


"Tuuut... Halo?"


"Halo... Ini siapa? Rania di mana?" seru Mikko.


Remaja tampan itu bisa bernapas karena akhirnya ponsel Rania bisa dihubungi.


"Ini Musliha, pelayan dapur. Nona Rania tadi sedang berjalan-jalan dengan Nona Qiandra di taman. HP Nona Rania tadi tertinggal di ruang makan," jawab Musliha.


"Ah, Musliha. Ini Mikko. Tolong sampaikan teleponku pada Rania. Qiandra tidak juga mengangkat teleponnya," pinta Mikko. Kebetulan Mikko telah mengenal Musliha.


"Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa. Segera saya sampaikan pesannya," jawab Musliha.


Tinnn! Tinnn!


"Dek, cepetan jalan dong. Udah hijau tuh," seru beberapa orang pengendara.


"Duh! Iya-iya..." sahut Mikko.


Belum ada lima menit berjalan, Mikko kembali terjebak dalam kemacetan.


"Putar balik aja, Mas. Macet parah di depan," seru beberapa pengendara.


"Emang ada apaan, sih?" tanya Mikko.


"Ada bus mogok."


"Ya elah... Kenapa waktu buru-buru malah ada aja sih halangannya?" ucap Mikko kesal. Ia memutar sepeda motornya memasuki jalan alternatif.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Duh, di mana ya? Seingatku di dekat sini, deh. Aku pernah melihatnya," gumam Qiandra mencari-cari sesuatu di dekat tangga.


Srek... Srek... Qiandra mencoba menarik beberapa tempat lilin di dinding, namun mereka melekat dengan erat.

__ADS_1


"Uh... Masa aku salah, sih? Padahal aku melihatnya dengan jelas waktu itu," gumam Qiandra lagi.


Ditemani cahaya remang dari senter yang dipegangnya, Qiandra terus menyusuri lorong bawah tangga rahasia. Ia mencari tuas pembuka jebakan yang menjerat Rania barusan.


"Kenapa semua jadi berantakan gini, sih? Padahal udah susah banget cari waktu yang pas bulan purnama dengan Rania menginap di sini?" seru Qiandra kesal.


"Padahal aku ingin menunjukkan pada Rania, kalau sosok menyeramkan itu benar ada. Tapi beberapa kali dipancing, sosok itu malah tidak muncul sama sekali."


"Aku pasti sudah gila, karena kembali lagi ke tempat yang seram dan pengap ini, hanya untuk membawa Rania."


Qiandra terus mengomel dalam hati.


Tak! Punggung remaja itu menyenggol sebuah benda keras.


"Ah, ini dia. Tempat lilin berwarna hijau lumut. Ini pasti tuas pembuka jebakannya," gumam Qiandra. Ia menemukan benda yang persis dilihatnya dalam gambar denah rumah.


Trak... Trak...


Qiandra mencoba memutar tuas lilin itu ke bawah. Keras sekali. Tapi Qiandra tidak menyerah. Ia terus mengerahkan seluruh tenaganya untuk memutar tempat lilin itu.


Tidak peduli telapak tangannya yang lecet dan memerah, ia terus menggerakkannya perlahan-lahan.


Grak! Akhirnya usaha Qiandra tidak sia-sia. Jeruji besi yang mengurung Rania itu pun terbuka.


Tanpa membuang waktu, Qiandra berlari ke tempat mereka berpisah tadi.


"Rania! Pegang tali ini. Aku akan menarikmu," seru Qiandra.


Remaja itu melemparkan sebuah tali kapal yang ia temukan di atas salah satu peti mati.


"Jebakan apa lagi yang mau kamu berikan padaku?" balas Rania dengan wajah kesal.


"Jebakan?" Qiandra berpikir sejenak. "Ah, bukan aku yang menjebakmu di situ. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan 'awas, hati-hati' padamu tadi" seru Qiandra.


Rania mengalihkan pandangannya.


"Cepatlah pegang tali ini. Terserah kau mau keluar dari sana atau tidak," seru Qiandra lagi.


Meski hatinya masih diliputi keraguan, Rania tidak punya pilihan lain. Ia memegang erat tali itu.


Hingga beberapa detik kemudian, tali itu tidak juga bergeser satu milimeter pun.


"Berratt.." batin Qiandra. Ia menarik tali itu sekuat tenaga.


"Ah, bodohnya aku. Berat badan Rania yang hampir sama denganku, bagaimana aku bisa menariknya keluar?" pikir Qiandra. Ia lalu melepaskan tali itu.


"Lho, kok?" Rania mengernyit heran, melihat tali yang dipengangnya kendor.


Tiba-tiba...


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2