Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 101 - Terpuruk


__ADS_3

"Ini denah asli rumahmu pada saat di bangun. Arsiteknya orang Belanda, tetapi yang mendesain secara umumnya adalah Tuan Geffie, ayahmu."


Qiandra membuka lipatan kertas ukuran A0 dan mengamati gambar yang tercetak di sana dengan teliti.


Cukup lama bagi Qiandra untuk dapat memahaminya. Design rumah itu setiap lantainya cukup rumit.


Kamar rahasia dan ruang bawah tanah yang ia temukan kemarin hanyalah sebagian kecil dari keunikan rumah yang di desain langsung oleh papanya.


Setiap lantai rumah mewah tersenut dihubungkan dengan tangga-tangga rahasia. Salah satu ujung tangga tersebut ada di sebelah kamarnya, yang terhubung langsung dengan kamarnya menggunakan pintu rahasia.


Apa itu sebabnya, sering tiba-tiba muncul seseorang di kamarnya? Tapi kenapa sosoknya mirip hantu semua?


Kemudian ruang bawah tanah terbagi atas lima belas ruangan kecil yang berbentuk labirin. Dan dua ruangan besar yang sama persis.


Kata Pak Yahya, kedua ruangan besar itu memiliki tata ruang yang sama persis, untuk mengelabui penyusup yang masuk. Letak perbedaannya, satu ruangan terdapat makam sang nenek dan satunya lagi tidak.


Bulu kuduk Qiandra berdiri seketika. Jantungnya berdetak lebih cepat. Memori tentang ruang bawah tanah muncul di kepalanya.


"Ruang yang aku datangi kemarin itu, ada makamnya atau tidak ya?"


Keterkejutan Qiandra tidak hanya sampai di situ. Ia mendapati sebuah lorong bawah tanah yang sangat panjang, dan berakhir di sebuah tanah kosong yang sangat dikenalnya.


"Ini bukannya halaman belakang apartemen Zumstein, ya?" tanya Qiandra.


"Ah, sekarang tempat itu sudah menjadi apartemen, ya? Dulu tempat itu hanya sebuah kebun kosong yang ditanami pohon pisang dan kelapa," ucap Pak Yahya.


"Aku ingat sekali, karena dulu sering bermain di sini. Hei tapi kenapa aku bermain di apartemen itu, ya?" Qiandra tiba-tiba menjadi pusing sendiri dengan ingatannya.


"Apa mungkin, ini yang menjadi jalan keluar masuk bagi penyusup?" pikir Qiandra.


"Rasanya tidak mungkin. Karena jalan itu memiliki pintu yang hanya bisa dibuka satu arah," bantah Pak Yahya.


"Begitu, ya. Artinya, jika struktur rumah ini telah diketahui orang lain yang bekerja di rumahku, bisa saja kan pintu ini dibuka. Selama ini yang telah masuk ke dalam adalah Felix."


"Kenapa papa menciptakan rumah serumit ini? Aku yakin pasti sudah ada orang lain yang mengetahuinya. Aku takut di rumah sendirian," ucap Qiandra pada dirinya sendiri.


Mirip seperti lubang tikus, rumah tersebut memiliki banyak lorong dan pintu keluar rahasia.

__ADS_1


Pak Yahya dan Bu Rohaya sedih melihat gadis sekecil itu menanggung beban seberat ini seorang diri.


"Nak, kalau ada apa-apa kamu boleh datang ke sini lagi, untuk meminta bantuan atau sekedar curhat," ucap Bu Rohaya.


"Terima kasih, Bu. Tetapi saya sepertinya harus segera pulang. Sudah larut malam," ucap Qiandra.


"Ah, baiklah. Itu para bodyguardmu nggak minum dulu?" tanya Pak Yahya.


"Jupri, Wilbert, Hendra, kemarilah. Cicipi hidangan Bu Rohaya. Setelah itu kita pulang," ujar Qiandra.


"Oh iya, Bu. Apa saya boleh membawa kue ini. Rasanya enak sekali," lanjut remaja itu.


"Tentu saja, Nak. Itu hanya ubi jalar goreng, kok. Kue sederhana. Kalau kamu mau, kapan-kapan Ibu buatkan lagi," jawab Bu Rohaya senang.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Wilbert, apa kamu tahu latar belakang keluarga Felix?" tanya Qiandra pada supir pribadinya tersebut.


"Hmm? Maaf, kenapa Nona tiba-tiba tanyakan hal itu?"


"Aku hanya penasaran. Alat pelacak yang diletakkan Jupri dan Hendra tempo hari selalu berakhir di rumahku. Artinya, pelaku berada sangat dekat denganku. Selain itu, dia juga mengatur sistem IT dan keamanan dirumah," ujar Qiandra blak-blakan.


"Bukan cuma itu, Wilbert. Dia juga pernah masuk ke ruang bawah tanah. Entah sampai mana saja yang dia ketahui," lanjut Qiandra dalam hati.


"Saya tidak terlalu tahu tentang dia, Nona. Yang saya ingat, Tuan merekrut dia enam tahun lalu karena kecerdasannya. Di umurnya yang sangat muda, dia begitu pintar dan bijaksana untuk mengemban tugas dari Tuan," cerita Wilbert.


"Tetapi latar belakang tentang dirinya, tak ada yang tahu. Beberapa rumor mengatakan kalau dia anak haram yang dibuang orang tuanya dan kemudian di rawat oleh Tuan dan Nyonya di luar negeri," lanjut Wilbert.


"Ada juga yang mengatakan, dia anak dari keluarga pas-pasan yang kemudian mendapatkan beasiswa dari perusahaan."


"Tetapi sampai sekarang, tidak ada yang tahu cerita pastinya. Ia juga tidak pernah membuka diri tentang keluarganya."


"Wilbert, kamu sendiri memihak ke mana? Keluargaku atau para pemberontak itu?" tanya Qiandra terang-terangan.


"Ah... Nona kenapa bertanya seperti itu? Saya jadi tidak enak," sahut Wilbert.


Pria bertubuh besar itu menurunkan kecepatan mobil, sebelum masuk ke underpass untuk menghindari kemacetan.

__ADS_1


"Ya, aku kan ingin tahu. Kalau kamu ternyata memihak mereka jujur saja. Aku kasih kamu kesempatan untuk memperbaiki diri. Malam ini juga aku akan mengizinkanmu pergi meninggalkan pulau atau bahkan negara ini, tanpa ada tuntutan hukum." Qiandra memberikan tawaran.


"Lho, kenapa begitu Nona?"


"Karena di mataku, kamu seperti sosok paman yang baik. Walau pun kamu nggak pernah banyak bicara, tetapi dengan diammu itu selalu melindungiku dan membantuku. Aku bisa memaafkanmu, jika kamu bersalah."


"Tetapi kalau kamu ternyata memihak pada kami, aku akan sangat bersyukur. Karena orang kepercayaanku ternyata adalah pendukungku," lanjut Qiandra lagi.


"Selama saya bekerja dengan Tuan Geffie, saya hanya berada di pihaknya. Dia orang baik, yang mau membawa saya mantan preman pasar ini ke arah yang lebih baik," jelas Wilbert.


"Jika bukan karena Tuan dan Nyonya, mungkin saya masih hidup di jalanan, atau berakhir di penjara."


"Nona jangan khawatir, meski saat ini Tuan tidak bersama kita, saya tetap menjalankan tugas untuk menjaga Nona."


"Begitu, ya? Syukurlah kalau begitu."


Suara Qiandra terdengar gemetar. Wilbert menghentikan mobilnya di tepi jalan, sangat dekat dengan para pedagang jajanan kaki lima.


"Nona nggak apa-apa? Mau jajan dulu?"


"Wilbert, aku takut sekali. Dalam waktu sekejab mama dan papa dinyatakan sebagai tersangka, dan sekarang dituntut hukuman mati."


"Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku harus mengadu pada siapa? Aku tak tahu siapa lawan dan siapa kawan. Semua tampak sama. Bahkan orang kepercayaanku saja ternyata bermain di belakangku."


"Aku sangat terkejut, setelah mengetahui fakta, bahwa enam puluh lima persen orang di perusahaan ternyata berkhianat dari papa dan mama. Selebihnya? Entahlah?"


"Wilbert, aku harus bagaimana? Apakah nasibku akan sama seperti orang tuaku? Aku sendirian Wilbert. Aku sendirian."


"Nona tidak sendirian. Masih ada kakek Nona, saya, Jupri dan Hendra. Saya tidak tahu lagi siapa yang berada di pihak Nona. Tapi jangan menyerah. Nona orang yang kuat. Nona pasti bisa membantu Tuan dan Nyonya untuk keluar dari masalah ini."


Wilbert bingung, bagaimana cara menenangkan Nona mudanya yang tampak sangat frustrasi ini.


"Di luar aku memang terlihat tegas dan kuat. Tetapi sebenarnya aku orang yang rapuh dan penakut, Wilbert. Apa yang harus aku lakukan lagi?" Qiandra terus meracau.


"Nona, tenanglah. Semua pasti ada jalan keluarnya. Saya akan bantu semampu saya."


(Bersambung)

__ADS_1


(Yang penasaran dengan apartemen Zumstein, coba baca lagi episode 14 😊 )


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2