Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 136 - Membongkar Kasus Tabrak Lari


__ADS_3

"Saudara Darrent, apakah Anda mengakui bahwa Anda telah menyelundupkan narkotika ke China dan Amerika Serikat?" tanya Hakim Ketua.


"Benar yang mulia, Hakim," jawab Darrent dengan tenang.


"Apakah benar, Anda memiliki perkebunan Opium di tengah ladang kapas di Nusa Tenggara Timur?" tanya Hakim lagi.


"Tidak yang mulia. Sepengetahuan saya, perkebunan Opium telah ada di sana sebelum kami melakukan kerja sama dengan penghasil kapas dan benang tersebut," jawab Darrent.


"Apa Saudara bisa membuktikannya?" tanya Hakim Anggota.


"Kuasa Hukum saya telah membawa beberapa surat kerja sama dan identitas perusahaan sebelum kami melakukan kontrak kerja sama, Yang Mulia. Kami juga membawa saksi penandatanganan kontrak," jawab Darrent.


Salah seorang tim kuasa hukum pun menyerahkan beberapa berkas ke depan.


"Baiklah, akan kami pelajari bukti-bukti ini. Tapi bagaimana pun juga, Anda terbukti melakukan praktek ilegal dengan memproduksi dan menjual narkotika," jawab hakim anggota.


"Kemudian, beralih ke masalah berikutnya. Apakah kegiatan produksi ini benar-benar dilakukan, tanpa sepengetahuan Saudara Geffie Austeen dan Saudari Chloe Eilaria Austeen sebagai pemilik perusahaan dan pemilik rumah?" tanya Hakin ketua.


Semua terdiam. Tidak ada yang menjawab, baik pihak tergugat maupun penggugat.


"Bagaimana?" Hakim Ketua masih menunggu jawaban.


Hampir satu menit berlalu, masih tidak ada yang menjawab pertanyaan tersebut.


"Baik, saya ganti pertanyaannya. Apakah Saudara Geffie Austeen dan Saudari Chloe Eilaria Austeen terlibat dalam produksi dan pengedaran narkotika ini, atau pernah mendengarnya?" ucap Hakim Ketua.


"Tidak pernah Yang Mulia," jawab Geffie ragu.


"Maaf menyela, izinkan saya untuk memberi kesaksian," sela Wilda.


"Silakan," sahut Hakim Ketua.


"Itu tidak benar yang dikatakan Tuan Malfoy, Yang Mulia. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah bekerja di laboratorium CL cosmetics, dan pernah menemukan bahan berbahaya dan bahan narkotika di komposisi bedak padat dan bedak tabur," Wilda memberikan kesaksian.


"Lalu, saya menyampaikan ini kepada pimpinan, dan beberapa minggu kemudian saya menerima surat PHK sekaligus tuduhan kalau menderita penyakit jiwa," lanjut Wilda lagi.


"Jadi, dari keterangan saudari Wilda Ningsih, terdapat indikasi bahwa Saudara Geffie beserta istri lalai mengawasi perusahaan dan tidak menindaklanjuti keluhan pegawai," sahut Hakim Anggota.


"Benar, Yang Mulia," jawab Wilda.

__ADS_1


Geffie dan Chloe tidak bisa mengelak. Semua bukti sudah jelas, kalau yang dikatakan Wilda itu benar.


"Lalu, bagaimana dengan ruang bawah tanah yang digunakan sebagai area produksi dan kantor untuk perdagangan narkotika ini?" tanya Hakim Ketua.


Chloe dan Geffie lagi-lagi bungkam.


"Yang Mulia Hakim, izinkan saya menjawabnya."


"Hmm... Saudari Rania Austeen, Silakan."


Deg! Rania terkejut dengan tanggapan Hakim dan timnya. Mengapa mereka menyebutnya Rania Austeen? Padahal ia mendaftarkan diri sebagai saksi dengan nama Rania Putri.


"Ruang bawah tanah itu dibangun jauh sekali, sebelum kasus perdagangan narkoba ini terjadi. Keluarga Austeen membangunnya demi menjaga peninggalan keluarga Radmila dari Rumania. Tidak ada benda berbahaya apalagi untuk perdaganan narkoba di sana," jelas Rania.


"Dan ruang bawah tanah di bawah Apartemen Zumstein itu adalah jalan keluar untuk keadaan darurat seperti kebakaran dan gempa bumi. Cuma sepertiny disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu yang diberi wewenang, jawab Rania sambil menatap tajam Sania, asisten pribadinya.


"Hmm... Kalau begitu yang sangat dicurigai di sini adalah Saudari Fania Ansley dan juga Sania," komentar Hakim Ketua.


"Fania, apakah kamu mengetahui kegiatan produksi dan perdagangan ini?"


"Tidak, Yang Mulia Hakim. Saya hanya fokus pada kegiatan fashion show. Dan saya memang bolak balik ke ruang bawah tanah untuk riset bahan dan model produk," jawab Fania tegas.


"Tetapi kenapa Anda memalsukan identitas diri saat mengajukan lamaran kontrak kerja sama?" tanya Hakim.


"Dari berbagai informasi yang kami terima, Anda telah bersuami dan memiliki anak. Suami Anda adalah Malfoy Ansley. Benar?"


Bibir Fania bergetar. Ia seakan ingin menyembunyikan fakta ini dari publik.


"Saudara Fania?" tanya Hakim lagi


"Be-benar, Yang Mulia. Malfoy Ansley adalah suami saya."


"Kalau begitu, di mana anak kalian?" tanya Hakim Anggota.


"Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan di luar konteks kasus sidang kali ini," tolak Fania.


Rania melirik Qiandra yang duduk di sebelahnya. Remaja berambut pirang itu sudah banjir air mata sejak tadi. Ia pasti merasa sangat sedih tidak diakui oleh ibunya sendiri.


"Baiklah, ini akan kita bahas lain waktu. Lalu, Apa Saudari bisa menjelaskan kegiatan Anda bersama Tuan Malfoy belakangan ini?" tanya Hakim.

__ADS_1


"Kami telah pisah rumah sejak setahun yang lalu. Jadi saya tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang. Mungkin saja ia menjebak saya karena sakit hati," jawab Fania tergagap.


"Setahun yang lalu? Apakah itu sejak tabrak lari yang kalian lakukan?" tanya Hakim Ketua.


"I-itu... Kami tidak membunuh siapa pun," elak Fania. Kedua tangannya mengepal erat.


"Kami tidak menuduh Anda membunuh, tapi Anda langsung berpikir ke sana. Artinya tanpa sengaja kamu mengakui kasus itu," sela Hakim Anggota.


Mata Fania terbuka lebar. Ia baru menyadari kesalahannya barusan.


"Maaf Saudari Fania, Anda tidak bisa mengelak lagi. Dalam black box kendaraan kalian, bisa terdengar dengan jelas kalau kalian bertengkar saat menyusun rencana untuk menjatuhkan bisnis Geffie," jelas Hakim Anggota.


"Dan beberapa menit berikutnya, kalian melihat seorang remaja berseragam pramuka melintas di depan kalian, yang kalian sebut sebagai putri runggal dari Saudara Geffie dan sang istri."


"Rencana kalian mendadak berubah, dan menabrak siswi tersebut. Tapi dari berbagai bukti dan laporan yang kami terima baru-baru ini, kalian salah menabrak orang dan menghilang hingga saat ini."


Hakim memaparkan semua perkara tabrak lari di ruang sidang tersebut. Fania hanya bisa menundukkan kepala dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat.


"Katakan, di mana Rania Putri yang kalian tabrak malam itu," ucap Hakim Ketua dengan lantang.


"Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya..." Fania tidak melanjutkan kalimatnya.


"Hanya apa? Bisa dilanjutkan?" pinta Hakim Anggota.


"Saya hanya tanpa sengaja terlibat kasus ini. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya."


"Tapi di rekaman itu dengan jelas, Anda yang meminta Malfoy untuk menabrak remaja itu," balas Hakim Anggota.


Tubuh Fania semakin gemetaran. Ia tidak menjawab apa pun.


"Izinkan saya untuk memberi kesaksian, Yang Mulia." Rania mengajukan diri.


"Silakan."


"Saya tahu keberadaan Rania Putri. Dia ada di dasar terdalam Danau kota ini," ucap Rania.


Semua orang di ruangan itu tercengang mendengar kalimat Rania, termasuk Qiandra.


"Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, izinkan saya bertanya. Apakah semua orang di ruangan ini mengetahui identitas sebenarnya dari saya dan rekan saya Qiandra?" ucap Rania lagi.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2