Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 72 - Audrey dan Jalan Berliku


__ADS_3

"Aku tak percaya ini Rania yang ku kenal. Ku pikir dia telah tewas malam itu..." Audrey membalas pesan Rania.


"Hah, akhirnya di balas." Rania melonjak kaget di tempat tidur.


"Jadi kamu mengakui, kalau malam itu kamu hendak membunuhku?" tanya Rania.


"Katakan dulu ini siapa? Jangan coba-coba menipuku," tulis Audrey lagi.


"Jadi dia beneran mengira aku udah tewas?" pikir Rania.


Cekrek! Rania mengirimkan selfienya pada Audrey.


"Sudah yakin sekarang? Aku masih hidup."


Satu jam...


Dua jam...


Belum juga di balas oleh Audrey.


"Ke mana sih dia? Apa dia mengerjaiku?" Rania lelah menunggu.


Drrttt... Suara ponsel membangunkan Rania.


"Duh, aku tertidur sejak kapan?" Rania mengambil ponselnya yang terselip di bawah bantal.


"Aku masih tidak percaya. Foto saja tidak bisa jadi bukti. Jangan coba-coba mengerjaiku," balas Audrey.


"Ah, dasar! Menyusahkan saja!" gerutu Rania.


"Tapi kalau dipikir-pikir, wajar aja sih dia nggak percaya. Rania Putri menghilang waktu kami kelas satu. Dan aku bertukar tempat pada saat kelas dua. Apa yang terjadi hampir satu tahun itu?" pikir Rania.


"Ayo video call. Katakan, kapan aku bisa meneleponmu." Rania menantang Audrey.


Tak butuh lama, Audrey langsung menelepon Rania. Padahal saat ini di tempat Rania sudah pukul dua malam. Kira-kira di Denmark sekarang pukul berapa, ya?


"Kau benar-benar masih hidup?" tanya Audrey ketika menelepon Rania.


"Wah... Kamu pikir saat ini bicara dengan siapa? Hantu?" sindir Rania.


"Emm... Itu..."


"Kenapa kamu meninggalkanku sendirian malam itu?" tanya Rania.


"Apa maksudmu? Kami menghentikan pencarian karena cuaca begitu buruk," balas Audrey.


"Jadi maksudmu, nggak apa-apa kehilangan satu nyawa yang nggak berharga ini dari pada mengorbankan banyak nyawa? Gitu?" Rania mulai panas.


"Bukan begitu... Aku tanya padamu, deh. Siapa yang mengajak keluar tenda? Kamu pasti lebih dulu berniat membunuhku, kan? Karena usahamu waktu itu gagal," sahut Audrey.


"Harusnya kamu berterima kasih, karena aku tak melaporkan orang yang hampir membunuhku dua kali," balas Audrey lagi.

__ADS_1


"Memangnya kapan aku hendak membunuhmu?" pancing Rania.


"Wah, nggak ada rasa bersalah sama sekali, ya? Emang sih kelakuan orang tua dan anak itu nggak jauh beda. Gak berpendidikan."


Rania emosi membaca balasan dari Audrey, " Jadi dia merendahkan orang tuaku karena kami miskin dan gak lulusan sekolah tinggi? Apa memang seperti ini hidup jadi orang biasa? Diinjak-injak tanpa harga diri?"


Dahulu Rania tak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Setiap orang selalu menyayangi dan memujanya. Ia tak pernah tahu bagaimana rasanya berada di bawah. Semua perhatian selalu berlimpah padanya.


Dia juga tak pernah tahu, apakah orang-orang itu benar-benar menyayanginya, atau sekedar ambil kesempatan untuk mendekati keluarganya yang kaya?


Meski demikian, Rania tetap tumbuh menjadi gadis yang hangat dan penuh kasih sayang pada orang lain. Ia selalu membalas kebaikan hati orang-orang dengan tulus.


Dan saat ini, ia menyadari hal baru. Tidak semua orang mendapat perhatian lebih, terutama yang berada di kalangan bawah. Bahkan tak jarang, mereka harus menerima hinaan yang tak pantas, seperti keluarganya saat ini.


Dunia ini, sama sekai berbeda dengan dongeng yang selalu ia baca.


"Ah, apa karena itu Mikko pernah mengatakan, kalau aku yang dulu -maksudku Rania Putri- tak pernah suka dengan cerita dongeng? Aku baru mengerti sekarang."


"Lihat aja, aku akan buktikan kalau dia bersalah. Dan aku tak pernah mencoba membunuh siapa pun," tekad Rania.


"Kenapa diam aja? Udah, kan? Aku nggak mau lama-lama berurusan denganmu. Kalau kamu terua mengusikkku, siap-siap aja berurusan dengan pengacaraku." Audrey hendak menutup telepon.


"Tunggu dulu. Katakan padaku, kapan aku berniat membunuhmu? Kenapa?" Rasa penasaran Rania masih sangat tinggi.


Audrey mengerutkan dahinya.


"Kamu bukan Rania Putri, kan? Siapa kamu? Rania Putri pasti tak akan lupa alasannya untuk membunuhku."


"Alasan?" batin Rania.


Gadis cantik itu berusaha meyakinkan Audrey bahwa dialah Rania Putri, agar bisa menggali semua infor.asi darinya.


"I-itu nggak mungkin." Wajah Audrey berubah seketika, sepertinya ia ketakutan.


Tlik! Audrey memutuskan telepon.


"Haih, dimatiin. Aku kan belum selesai ngomong. Gak sopan banget sih," gerutu Rania.


Brak! Tiba-tiba pintu kamar Rania terbuka.


"Ibu?"


Rania menyimpan ponselnya, "Ibu nggak mensengar teleponku tadi, kan?" batinnya.


"Kamu belum tidur?" tanya Ibu.


"Belum, Bu. Ini baru mau tidur."


"Habis menelepon temanmu? Siapa? Audrey?" Ibu duduk di tepi tempat tidur.


"Ah, ternyata Ibu mendengarnya," batin Rania lagi.

__ADS_1


"Iya, Bu," jawab Rania jujur.


"Kalian sudah berteman lagi?" tanya ibu lagi.


Rania menggeleng, "Kenapa Ayah dan Ibu tak pernah bercerita, kalau mereka menghentikan pencarian setelah Audrey ditemukan?"


"Untuk apa? Kamu udah selamat dan berkumpul lagi di sini. Itu yang paling penting." Ibu mengelus rambut putrinya dengan lembut.


Rania menundukkan kepala, "Ibu salah. Rania Putri masih belum ditemukan. Dan tak ada yang tahu, ia sekarang ada di mana." Rania menahan air matanya di depan ibu.


"Bu, apa benar dulu aku hampir membunuh Audrey?" Rania memberanikan diri untuk bertanya.


"Kamu juga lupa soal itu?"


"Jadi benar, aku hampir membunuhnya?" ulang Rania.


"Besok akan Ibu ceritakan. Sekarang kita tidur, yuk. Lihat tuh, udah jam dua malam. Besok kamu sekolah," elak ibu.


"Yah... Ibu... Aku kan penasaran..." Rania sedikit merajuk.


"Ibu janji, besok Ibu ceritakan. Sekarang kita istirahat dulu. Apa mau Ibu temani? Kata Arka kamu sering bermimpi buruk," bujuk ibu.


Rania berpikir sebentar, "Boleh, deh. Aku udah lama nggak tidur sama Ibu."


Rania memeluk ibu erat-erat. Diam-diam air matanya mengalir.


"Bagaimana Ayah dan Ibu nanti, jika mengetahui fakta kalau aku bukanlah Rania Putri?"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Pagi harinya ibu menetapi janji. Sambil memasak, ibu bercerita bagaimana Rania dituduh mencoba membunuh Audrey.


Sepuluh tahun lalu, saat itu Rania dan Audrey masih berusia tujuh tahun. Mereka merupakan teman akrab, meskipun Rania hanyalah seorang anak asisten rumah tangga.


Suatu hari sepulang sekolah, Rania membeli dua susu kotak dan salah satunya diberikan pada Audrey. Tapi entah mengapa, Rania memintanya menukar lagi.


Tak lama setelah meminum susu itu, Audrey pun keracunan. Ia ternyata telah meminum susu yang hampir kedaluarsa.


Kedua orang tua Audrey pun menuduh Rania sengaja meminta tukar pada Audrey, karena ia telah mengetahui susu tersebut hampir kedaluarsa.


Belakangan tuduhan pun meningkat, bahwa Rania sengaja membeli susu yang hampir kedaluarsa itu agar Audrey gagal menjadi wakil sekolah dalam lomba bulu tangkis yang seharusnya diwakili oleh Rania Putri.


"Apa masuk akal, anak sekecil itu berencana untuk membunuh?" komentar Rania setelah ibu selesai bercerita.


"Yah... Itu juga yang dikatakan ayahmu dulu. Tapi mereka lebih kuat, ada beberapa pengacara di belakang mereka. Ayahmu hanya bisa pasrah dan merelakan dirinya dipecat dari tempat itu," jawab ibu.


"Dasar orang kaya. Aneh-aneh aja kelakuannya. Kalau menurutku, justru lebih bejat mereka, yang meninggalkanku sendirian di hutan," marah Rania.


Ibu hanya terdiam mendengarnya.


"Eh, tapi aku dulu juga orang kaya... Apa sifatku dulu juga begitu, ya?" pikir Rania.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2