Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 127 - Tak Pernah Menyukaiku


__ADS_3

"Mikko, gimana ini? Rania pasti akan berprasangka buruk padaku. Padahal kami baru saja kembali baikan," keluh Qiandra.


"Aku selalu berusaha untuk berubah. Aku berusaha membantunya menyelesaikan semua masalah ini," lanjut Qiandra hampir menangis.


"Qian, tenanglah. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau semua yang terjadi bukanlah keinginan kamu. Bahkan kamu nggak bisa mengontrol dirimu sendiri, kan?" sahut Mikko.


"Iya, sih. Tapi..."


"Sudahlah. Jangan terlalu bersedih. Aku siap membantumu. Kalau niatmu memang tulus dan baik, pasti akan ada jalan keluar dari masalah ini," hibur Mikko.


Pemuda tampan itu mengelus rambut pirang Qiandra yang lembut. Ia berharap, hati sahabatnya itu segera membaik.


Saat itu masih pukul 06.30. Kelas masih sangat sepi. Hanya ada mereka berdua.


Qiandra berangkat sangat pagi, untuk menemui Rania yang telah pulang ke rumah sebelum ia bangun.


Qiandra ingin menjelaskan banyak hal, sebelum Rania berpikiran buruk padanya.


Sayangnya, saat Qiandra sampai di sekolah Rania masih belum datang. Sebaliknya, ia malah berpapasan dengan Mikko.


Suasana sekolah yang masih sepi, membuat kedua remaja itu leluasa berbicara, tanpa diketahui orang lain.


Tapi siapa yang tahu, ternyata Rania justru melihat kedekatan mereka berdua.


"Dasar wanita ular. Sekali jahat, tetap saja jahat."


Rania merasa sangat marah, melihat Mikko mengelus rambut Qiandra.


"Dia menyatakan suka padaku, tapi malaj Qiandda yang selalu ia dekati," gumam Rania lagi.


Tap... Tap... Tap...


"Ran-"


"Hei, aku melihat kemesraan kalian berdua. Dasar ular gak tahu diri," Rania membanting kursi.


"Hei, Rania! Kamu kenapa?" Mikko berusaha menenangkan Rania.


"Masih bertanya aku kenapa? Kau bermesraan dengan rubah gak tahu diri ini. Dasar gak tahu malu," seru Rania.


"Aku tak melakukan apa-apa pada Qiandra. Aku hanya menghiburnya, setelah mendengar cerita kejadian yang kalian alami tadi malam," ucap Mikko.


"Lagian kita juga bukan siapa-siapa selain hubungan teman. Kamu nggak bisa mengaturku seperti ini," lanjut Mikko lagi.


Hati Rania sangat malu mendegar kalimat Mikko yang terakhir.


"Memangnya apa yang dia ceritakan? Kau percaya padanya? Dia hanya membual. Playing victim. Sudah jelas dia yang merencanakan semuanya," ucap Rania.


"Sumpah! Bukan aku yang merencanakannya. Semua itu di luar kendaliku," kata Qiandra membela diri.


"Halah, bullshit," balas Rania kesal.

__ADS_1


"Ehem! Girls, sepertinya kalian harus menunda pertengkaran ini, kalau nggak mau jadi objek tontonan teman-teman." Mikko menunjuk para siswa yang mulai berdatangan.


"Baiklah, kita berdua bicara nanti di tempat biasa jam istirahat," bisik Rania di telinga Mikko.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Bisa kamu jelaskan apa yang terjadi di antara kalian tadi pagi?" tanya Rania pada Mikko.


"Sudah kubilang, kan, kalau Qiandra cerita yang kalian alami tadi malam," jawab Mikko.


"Tapi cerita dia pasti berbeda denganku," ucap Rania ngotot.


"Hadeh... Nih rekamannya. Tadi pagi untung aku rekam. Dengerin aja sendiri," kata Mikko


Selama hampir lima menit, Rania mendengarkan rekaman itu. Memang, yang diceritakan Qiandra tidak ada yang berbeda dengan yang ia alami. Tetapi hati Rania masih tidak puas.


"Rania, kamu boleh merasa kesal atau tidak suka kalau aku dekat dengan Qian. Itu hak kamu. Tapi jangan sakiti hatinya seperti tadi," kata Mikko.


"Aku yakin semua itu rencana dia. Kamu kan lihat sendiri, dia membaca buku-buku mantra itu," kata Rania masih mempertahankan pendapatnya.


"Itu semua kan dilakukannya untuk membantumu. Lihatlah, kalau kalian bertengkar seperti ini terus, kapan masalah ini akan selesai," ucap Mikko.


"Kamu terus saja membelanya. Padahal sudsh jelas dia itu dari dulu jahat," balas Rania.


"Setiap orang bisa saja berubah, kalau ada niat baik di hatinya. Malah sekarang, kamu yang lebih terlihat seperti tokoh antagonis," ucap Mikko jujur.


Rania semakin kesal mendengarnya.


"Sekarang, ada satu hal yang aku inginkan darimu. Aku ingin mendengar cerita tentang ibumu secara lengkap," kata Rania mengalihkan cerita.


"Ya ingin tahu saja... Kalau dulu kan aku hanya pura-pura ingat, saat berperan sebagai Rania Putri."


Mikko menyipitkan matanya, "Aku nggak mau cerita," kata Mikko.


"Uh, tinggal cerita aja apa susahnya sih?" desak Rania.


Bruk!


Mikko menempelkan tubuh Rania ke dinding. Jarak mereka kini nggak lebih dari tiga sentimeter. Rania bahkan bisa mencium bau shampo Mikko.


Deg! Deg! Deg!


"Duh, kok malah deg-degan sih Rania? Dia itu pria brengsek," batin Rania.


"Katakan dengan jujur! Kamu pasti mendemgar sesuatu tentang mamaku, kan?" bisik Mikko di telinga Rania.


"U-uh..."


"Hah! Kenapa detak jantungmu semakin cepat? Kau mengharapkan apa di posisi itu?" bisik Mikko lagi.


"A-aku nggak mengharap apa-apa. Tapi, aku memang mendengar sesuatu tentang ibumu," kata Rania.

__ADS_1


"Katakan!" pinta Mikko.


"Audrey bilang, ibumu dulu sangat mengerti dunia mistis dan sihir," ucap Rania.


"Sudah kuduga Audrey akan mengatakannya," gumam Mikko. "Tapi aku tak yakin, menceritakan hal ini dapat menyelesaikan masalah kalian," lanjutnya.


"Ceritakan saja," pinta Rania.


"Aku akan mengabulkan permintaanmu, asal kau bisa memenuhi syarat dariku."


"Apa syaratnya?" tanya Rania.


"Aku ingin kau dan Qiandra segera berbaikan," ucap Mikko.


"Cihhh!"


"Aku nggak menyuruhmu meminta maaf padanya. Tapi aku cuma nggak mau lihat Qiandra terus bersedih. Dia sudah banyak berkorban agar kalian bisa kembali ke posisi semula."


"Lihat! Kau dulu menyukai Rania Putri, lalu sekarang yang kau sukai itu Qiandra. Bukan diriku," ucap Rania hampir menangis.


"Bukan begitu, Rania," sahut Mikko dengan sabar. "Kalian berdua saat ini sama-sama membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat. Kalian harus saling memahami dan bekerja sama, agar bisa menyelesaikan masalah ini," kata Mikko.


"Yah..." Rania berpura-pura mengalah, agar bisa mendengar cerita tentang ibunda Mikko.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Ting!


"Mikko, maafkan aku. Gara-gara aku, kau dan Rania menjadi bertengkar," tulis Qiandra.


^^^"Nggak apa-apa. Itu bukan salahmu," balas Mikko.^^^


"Tapi tetap saja, aku merasa sangat bersalah. Padahal aku yang dulu mengatakan padamu, kalau kau harus menyatakan perasaan pada Rania," tulis Qiandra lagi.


^^^"Tenanglah. Kami tak apa-apa 😊" tulis Mikko.^^^


Drrttt.. Layar Smartphone Qiandra memunculkan sebuah panggilan masuk.


"Halo?"


"Nona. Ini Felix. Ada perkembangan baru dari kasus ini. Darrent mengakui, kalau ia dan beberapa orang pegawai memodifikasi seluruh dinding kapal untuk membawa narkoba tanpa terdeteksi alat detektor di pelabuhan.


"Nggak cuma itu, ruang bawah tanah di bawah parkiran apartemen Zumstein adalah kantor utama mereka. Sementara tempat produksi narkotika adalah laboratorium utama CL cosmetic. Wilda dan beberapa pegawai laboratorium lainnya bersaksi tentang itu."


Felix memberi laporan pada Qiandra.


"Ah... Syukurlah. Dengan begitu, hukuman mama dan papa bisa berkurang, kan?"


"Sayangnya tidak, Nona," jawab Felix.


"Lho, kenapa?"

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2