Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 123 - Hacker


__ADS_3

"Sudahlah, Nona. Jangan terlalu sedih. Mungkin saja Nona Rania sedang banyak pikiran, makanya lebih sensitif," hibur Wilbert ketika mengantar Qiandra pulang sekolah.


"Uh.." Qiandra masih memasang wajah kesal.


Wajar saja. Dulu Rania yang selalu mendesaknya untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Tapi sekarang, malah Rania pula yang berbalik menyerangnya.


"Tapi, apa benar Nona mau membiarkan Tuan Felix berkeliaran di kota? Para petugas memang selalu memantaunya. Tapi bagaimana kalau ia mendapatkan celah untuk kabur?" ujar Wilbert.


"Iya. Untuk sementara biarkan saja dulu seperti itu. Aku penasaran dengan anak yang ia cari. Kalau segitu pentingnya keberadaan anak itu, kenapa ia bisa melupakannya?" ujar Qiandra.


"Lagi pula, melihatnya frustrasi seperti itu menjadi kepuasan tersendiri bagiku. Ia terlihat begitu tersiksa. Lumayan setimpal dengan apa yang telah dilakukannya pada kita," lanjut Qiandra.


Wilbert menghembuskan napas sambil mendengarkan celotehan Nona muda tersebut. Ia sangat bingung menghadapi sikapnya yang mudah berubah-ubah, dan pikirannya yang sulit untuk ditebak.


"Hei, Wilbert. Apa benar kalian sudah mencari data diriku ke seluruh panti asuhan dan yayasan di kota ini?" tanya Qiandra.


"Benar, Nona. Dan dari data kependudukan pun, tidak ada data resmi terkait kelahiran Nona maupun keluarga yang memiliki nama Qiandra," ujar Wilbert.


"Huh... begitu, ya?"


"Jangan bersedih dulu, Nona. Mungkin saja Nona tidak berasal dari kota ini. Atau mungkin saja nama asli Nona bukan Qiandra. Kami pasti akan membantu menemukan keluarga asli Nona," ujar Wilbert.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Dua pria dan satu wanita itu duduk melingkar memperhatikan benda indah berkilauan tersebut di tengah taman Tuan Ganendra.


"Jadi ini gelang milikmu?" ucap Arka.


"Benar. Sangat mirip dengan gelang milik Rania Putri, kan?" ujar Rania.


"Hmm... Iya. Sangat mirip. Kecuali hiasan batu-baru permata ini dan juga detail ukiran di sebaliknya," kata Mikko pula.


"Jadi gimana? Aneh kan, tidak ada terjadi apa pun? Padahal kita sudah menemukan kedua gelang ini dan menerjemahkan simbol-simbolnya," kata Rania.


"Hmm... Kalau menurutku sih wajar aja, karena sihir itu memang tidak bisa diterima nalar," gumam Mikko.


"Duh, apa kamu nggak bisa ngomong yang bisa menenangkan hatiku?" ucap Rania sebal.


"Loh, tadi kan kamu bertanya? Ya itu kan pendapatku saja," balas Mikko.

__ADS_1


Puk! Arka menepuk jidatnya sendiri melihat kedua remaja itu bertengkar.


"Lalu aku apa? Aku ini bukti nyata dari keberadaan sihir itu sendiri. Kamu juga pernah masuk ke ruang bawah tanah, kan? Di sana ada jasad nenek yang dilindungi benda-benda bermantra agar ilmu sihir hitamnya tidak mencelakai orang lain," kata Rania.


"Apa? Jadi dalam peti itu memang ada isinya?" seru Mikko bergidik ngeri.


"Begini saja, bagaimana kalau kita ke hutan menemui nenek yang kamu ceritakan itu. Dia teman kecil nenekmu, kan?" usul Bang Arka


"Maksud Abang, nenek Ester?" tanya Rania.


"Iya. Barangkali kita bisa minta petunjuk darinya," jawab Arka.


"Kalau menurutku, itu cukup berbahaya. Gimana nanti kalau Rania hilang lagi? Om Geffie saja tak mampu mencegah Rania waktu itu, kan?" kata Mikko.


"Hei, siapa yang kamu sebut Om?" seru Rania.


"Calon mertuaku," jawab Mikko singkat.


"Hei, bocil-bocil ini," seru Arka yang menyandang gelar jomblo sejak lahir.


"Tapi setelah dipikir lagi, betul juga kata Arka. Apalagi kita tidak tahu lokasi yang tepat, di mana rumah Nenek Ester," lanjut Arka.


"Aku masih mengingatnya sedikit, tapi ya jalannya memang semak," kata Rania.


"Aaah... Terus gimana, dong? Apa nggak bisa minta tolong pada papamu saja?" keluh Rania.


"Nggak bisa dong, Rania. Kita mungkin bisa aja meminta sedikit informasi dari papaku. Tapi kita nggak bisa asal interupsi aja. Apalagi polisi kan tahunya yang ditabrak itu Qiandra, bukan Rania Putri," jelas Mikko lagi.


"Huh...Iya sih. Tapi tetap aja, kan..?"


"Gini aja. Gimana kalau abang dan Mikko meretas data sekolah kamu, untuk mendapatkan data konkret tentang kamu, Rania Putri dan Qiandra," usul Arka.


"Ide gila apa lagi itu? Aku nggak mau. Kalau ketahuan gimana?" tolak Rania mentah-mentah.


"Menurutku, itu ide yang sangat bagus. Kita juga bisa meretas data kependudukan kota ini untuk mendapat informasi lebih lengkap," sambut Mikjo dengan mata berbinar.


"Hei... tunggu dulu. Ini bukan film James Bond. Kalau ketahuan, riwayat kita bisa habis." Rania masih terus menolak.


"Ya kalau begitu jangan sampai ketahuan," seru Mikko dan Arka kompak.

__ADS_1


"Duh! Dasar cowok," ujar Rania pasrah.


"Jadi gimana? Kapan kita lakukan?" tanya Mikko.


"Malam ini saja. Lebih cepat, lebih baik," kata Arka bersemangat.


Tubuh Rania merinding melihat tingkah kedua cowok di depannya, "Semoga aja gak terjadi apa-apa," doa Rania dalam hati.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Gimana hasilnya?"


"Astaga, Rania! Kamu sudah menungguku dari jam berapa? Terus kenapa itu matamu?" kata Mikko.


Cowok tampan itu terkejut melihat Rania berdiri di gerbang sekolah dengan sekeliling mata menghitam dan rambut agak kusut.


"Menurutmu aku bisa tidur, di saat kalian melakukan hal berbahaya? Lagian aku juga baru datang, kok," jawab Rania.


"Duh... kamu ini...! Ini kan bukan menghacker Bank Dunia atau gedung putih. Santai saja. Kamu penasaran hasilnya?" kata Mikko.


Rania mengangguk, "Jadi aman, kan?" ujarnya.


"Tentu. Kami sudah mendapatkan data kalian bertiga. Tapi kita jangan cerita di sini," ujar Mikko.


Jam istirahat pertama. Rania bersama Alvi dan Anjani menuju ke perpustakaan, tempat janjiannya dengan Mikko.


"Jadi, data tentang "Edlyn Rania Austeen" sengaja di hidden. Aku nggak tahu, itu sengaja atau gimana. Dan data tentang "Rania Putri", masih berada dalam status "Sudah meninggal dunia" sejak satu tahun yang lalu," ucap Mikko membeberkan hasil temuannya.


"Astaga! Jadi itu semua benar? Kalau Rania Putri udah meninggal?" Alvi merinding ketakukan.


"Gak bisa dipastikan, sampai kita menemukan keberadaannya," jawab Mikko.


"Tapi di data itu memang disebutkan, kalau "Edlyn Rania Austeen" merupakan putri dari Geffie Austeen dan Chloe Eilaria Austeen. Sementara "Rania Putri" merupakan anak dari Jennia Putri dan Gelfara Abarua. Tanggal lahir kalian juga hanya selisih satu hari, kamu satu Oktober dan Rania Putri dua Oktober," lanjut Mikko lagi.


"Astaga! Kok bisa pas banget sih kebetulannya. Kalian yakin bukan anak kembar? Mirip banget, lho," komentar Anjani.


"Nggak. Kami bukan anak kembar. Bang Arka sudah menceritakan tentang kelahiran Rania Putri, dan kakekku juga. Aku juga masih tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi pada kami," kata Rania.


"Terus, gimana dengan data pribadi Qiandra. Kamu bilang tadi sudah mendapatkan ketiga data, kan?" tanya Alvi.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2