
“Ada apa, Nyonya? Apa Anda masih menunggu seseorang?” tanya Wilson, asisten Chloe.
“Tidak. Aku hanya penasaran. Siapa gadis tadi?” ucap Chloe sambil membetulkan posisi duduknya. Matanya tak pernah jemu memerhatikan setiap pengunjung yang menikmati rangkaian acara.
“Oh, gadis cilik yang berseru pada Anda tadi, Nyonya? Menurut panitia, dia adalah salah satu peserta lomba design dari tingkat SMP,” jawab Wilson.
“Bukan dia. Tetapi gadis di sebelahnya. Yang mengenakan dress navy dan rambut di jalin satu,” jelas Chloe.
“Hmm…” Wilson saling berpandangan dengan para asisten lainnya. Ia tak tahu gadis mana yang disebut oleh majikannya.
“Begini Nyonya. Ada banyak sekali pengunjung hari ini. Jadi nanti kami akan meminta salinan dokumentasi video dan foto hari ini pada panitia. Kami akan selidiki gadis yang Anda maksud,” ucap Wilson hati-hati.
Ia tak tahu mengapa majikannya menanyakan perihal gadis itu. Tetapi yang pasti, gadis itu pasti penting bagi Chloe sampai membuatnya penasaran.
“Ya, baiklah. Aku tunggu hasilnya tiga hari ke depan. Kalian harus mengumpulkan data selengkap-lengkapnya,” ucap Chloe mengalah.
Dari sekian banyak pengunjung, tentu saja pandangan para asistennya tidak sama dengan dirinya. Mulanya ia juga tidak begitu memperhatikan setiap orang di sana. Sampai akhirnya seorang gadis cilik dengan berani menyerukan namanya.
Anehnya, hatinya justru terasa sakit saat melihat remaja yang berdiri di sebelah gadis kecil itu. Tiba-tiba ia merasakan rindu yang sangat mendalam. Di sisi lain, ia juga seperti melihat sekelebat bayangan ibu dan neneknya di wajah remaja cantik itu. Siapa gerangan dirinya? Apakah ada hubungan darah dengannya? Atau hanya pengunjung biasa yang kebetulan menyentuh ingatannya?
*****
“Kakak tidak apa-apa? Kenapa kakak terus menangis? Aku kan khawatir sekali,” ujar Livy cemas. Beberapa petugas keamanan menghampiri mereka.
“Ada yang bisa kami bantu, Dik?”
“Tidak apa-apa, Pak. Kami hanya kelelahan, karena berdesakan dengan para pengunjung tadi, tetapi sekarang sudah aman,” ujar Livy.
“Oh, baiklah. Jika kalian butuh bantuan, kami ada di pos depan sana,” ujar lelaki itu sambil menunjuk pos keamanan yang tidak jauh dari temat mereka.
“Baik, Pak. Terima kasih,” ujar Livy.
Ah, Rania mau sekali. Kenapa Livy justru lebih dewasa dari pada dirinya? Tetapi ia tidak menyangka jika hatinya akan merasa sesakit ini. Ia sudah beberapa langkah di hadapan mamanya, tetapi rupanya wanita itu benar-benar tidak mengenalinya lagi.
“Duh, udah dong nangisnya. Malu, nih. Sampai didatangi petugas keamanan,” bisik Livy.
Rania mengusap air matanya. Ia memaksa untuk tersenyum. Tentu saja ia tak boleh membuat semua orang khawatir.
__ADS_1
“Kakak cengeng banget, sih. Aku yang tidak menang lomba saja tidak menangis,” ujar Livy cemberut.
“Hahaha… Iya, ya. Kakak terlalu cengeng,” ujar Rania merasa bersalah. “Maaf, Livy. Kamu jadi tidak bisa mengikuti acara dan melihat pameran agi gara-gara kakak,” ucap Rania.
Ketika menangis tadi, Rania menjadi pusat perhatian. Spontan ia menarik lengan Livy untuk meninggalkan tempat itu.
“Tidak apa-apa. Sebelum lomba kan aku sempat melihat pameran batik dan karya seni lainnya. Aku juga jadi dapat banyak inspirasi baru. Aku akan berlatih sungguh-sungguh untuk mengikuti lomba selanjutnya,” ujar Livy sambil tersenyum.
Rania memandang Livy dengan kagum. Semangat remaja empat belas tahun itu memang tiada duanya.
“Sebagai permintaan maaf, kakak traktir makan yuk. Kamu pilih saja apa yang mau kamu makan hari ini,” kata Rania.
“Mana bisa begitu. Kalau uang jajan kakak habis, gimana?” ucap Livy.
“Jangan khawatir, kakak tinggal cari uang lagi,” ujar Rania sambil mengedipkan mata.
Duh, Livy malah semakin khawatir. Rencana aneh apa lagi yang dikipikrkan kakaknya? Tetapi menolak traktiran itu juga hal yang buruk, kan?
“Oke, deh. Aku mau minta sesuatu yang mahal. Kakak jangan menolak nanti, ya,” tantang Livy. “Sambil berkeliling, kita juga bisa sambil memikirkan cara lain untuk menarik perhatian Nyonya Chloe,” lanjutnya.
“Kakak menangis karena kita tidak bisa berjumpa langsung dengannya, kan? Jadi kita harus mencari cara lain untuk mendekatinya,” kata Livy. Remaja ini benar-benar tidak mudah menyerah. Rania tersenyum haru melihatnya.
Setelah berkeliling hampir tiga puluh menit, akhirnya Livy hanya meminta belikan pempek dan es kacang merah khas Palembang.
“Tidak mau yang lebih mahal dari ini?” tanya Rania.
“Tenang, Kak. Ini baru permulaan. Masih ada ronde selanjutnya,” kata Livy sambil tersenyum jahil.
Diam-diam Rania memeriksa isi dompetnya, jangan sampai mereka pulang jaan kaki nanti. Livy semakin tersenyum jahil melihat gelagat kakaknya.
“Oh, iya! Bagaimana kalau kita juga membelikan kebab dan es boba untuk ayah, ibu dan abang,” lanjut Livy dengan sengaja.
*****
Puas makan dan mengelilinggi mall, mereka pun beranjak pulang. Keadaan mall mewah itu sudah mulai lengang, tidak terlihat lagi penjagaan ketat. Meski acara hiburan masih berlanjut, tetapi sang bintang utama hari ini telah meninggalkan tempat.
“Kak, aku ada ide,” seru Livy ketika melewati toko buku.
__ADS_1
“Ide apa?” tanya Rania tidak mengerti.
“Ide untuk menyampaikan isi hati kita secara langsung pada idola Kakak,” ujar Livy dengan berbinar. “Ayo, masuk. Akan aku jelaskan di dalam.” Livy menarik lengan Rania. Mengajaknya masuk ke dalam toko buku.
"Apa hubungannya mama dengan toko buku?" pikir Rania.
Kedua remaja itu menyusuri setiap sudut toko buku yang menyebarkan aroma khas buku baru. Livy pun mengajaknya membaca buku komik dan novel remaja yang kemasannya telah terbuka, hingga melihat-lihat pernak pernik alat tulis lucu.
Ah, sudah berapa lama ya Rania tidak berjalan bebas di toko buku seperti ini? Biasanya jika ia akan pergi berbelanja, para pengawal akan melakukan netralisasi keadaan terlebih dahulu, tidak sembarangan orang yang boleh berbelanja ketika ia berada di sana. Jangan bayangkan Rania membaca komik seperti tadi, tak akan pernah ada.
“Nih, Kak,” Livy menunjuk ke sebuah rak yang berkilauan dan warna warni.
“Ini kan kertas surat?” tanya Rania bingung.
“Benar, kita akan membuat surat. Menuliskan semua curahan hati kita dengan tulus dan mengirimnya kepada masing-masing idola,” jelas Livy.
“Ada cara seperti ini ya rupanya?” tanya Rania.
Rania sudah beberapa kali mengirim pesan langsung ke media social mamanya. Namun balasan yang ia terima itu-itu saja, balasan formal dari idola kepada fansnya. Lalu apa cara kuno ini bisa berhasil?
“Yuk, kita pilih kertas surat yang paling menarik. Kita pilih pena yang tintanya indah juga,” ajak Livy. “Tapi pilih yang agak murah, ya,” bisiknya kemudian.
Rania tergelak mendengarnya. Tetapi beberapa detik kemudian, mereka sibuk mencari kertas dan pena favorit masing-masing. Tak menunda-nunda waktu lagi, setelah membayar di kasir, mereka langsung mencari tempat untuk menulis surat. Agar bisa langsung dikirim sebelum pulang ke rumah.
“Kamu menulis surat untuk siapa? Untuk Nyonya Chloe?” tanya Rania.
“Tidak, dong. AKu menulis surat untuk pendamping masa depanku, CHA – EN – WUU,” kata Livy.
“Oh, my… ternyata adikku ketulara demam Korea juga…” pikir Rania frustrasi.
Gak apa deh, uang lima puluh ribu melayang untuk kertas surat, yang penting dia bisa menulis surat kepada mamanya dan adiknya pun senang.
(Bersambung)
Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1